I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sirine darurat tingkat hitam bergema di sepanjang dinding pertahanan luar Kerajaan Sol-Vane. Cahaya neon biru yang biasanya menerangi menara-menara metropolis futuristik itu kini berganti menjadi pendar merah darah yang mencekam.
Di dataran gersang berjarak puluhan kilometer dari garis kota, tanah berguncang hebat. Sebuah bencana berjalan sedang melangkah mendekat.
Titans-Behemoth: Sang Pemakan Bintang.
Ukuran makhluk itu bukan lagi sekadar sebesar bukit, melainkan puncak gunung merapi melayang. Tubuhnya merupakan perpaduan antara daging purba dan kristal Mana-Core gelap yang memancarkan radiasi energi menghancurkan. Sekali kibasan buntutnya sanggup meratakan tiga kota kecil, dan napas apinya yang bersuhu ratusan ribu derajat Celsius mampu melelebkan baja magis dalam hitungan detik. Bagi angkatan militer biasa Sol-Vane, makhluk ini adalah vonis mati.
Namun, di hadapan monster yang tampak tak terkalahkan itu, hanya ada tiga orang yang berdiri tegak.
Mereka adalah bagian dari Sembilan Bintang Sol-Vane—orgaisasi sembilan pahlawan garda depan tertinggi yang posisinya berada di atas hukum kerajaan. Dari sembilan jajaran pahlawan tersebut, tiga sosok yang berdiri di lapangan saat ini adalah Divisi Penumpas Utama: tiga individu yang telah memecahkan batas Sovereign dan menyentuh ranah setengah dewa.
"Format pertahanan! Jangan biarkan radiasi energinya menyentuh perbatasan!" teriakan melengking dari Lyra, Sang Perisai Dimensi, memecah suara gemuruh.
Wanita itu menghentakkan tongkat peraknya ke tanah. Detik itu juga, sebuah perisai cahaya hard-light seluas puluhan kilometer terhampar mendadak, menahan semburan napas api sang Behemoth yang menghantam dengan daya hancur luar biasa. Udara di sekeliling Lyra melengkung, namun wanita itu bahkan tidak bergeming satu milimeter pun.
Di sampingnya, seorang pemuda berambut perak melayang ke udara tanpa alat bantu apa pun. Dialah Rayker, Sang Penghancur Bintang.
Rayker menarik pedang raksasa di punggungnya—sebuah pedang Magitech bernama Solaris-Core Greatsword yang intinya ditenun dari sisa-sisa ledakan bintang mati. Setiap kali Rayker mengayunkan pedangnya, garis tebasan energi berwarna emas melesat membelah awan dan menciptakan rekahan jurang baru di tanah.
"Cuma sebesar ini? Kecewa aku," gumam Rayker dengan tatapan dingin.
BUMMMM—!
Rayker melesat dengan kecepatan membelah udara, melepaskan gelombang kinetik tebasan yang memotong salah satu kaki raksasa sang Behemoth. Ledakan energi kinetik dan mana yang pekat membuat monster raksasa itu meraung kesakitan, terhuyung jatuh hingga mengguncang lempeng bumi.
Dunia mengenal jajaran Sembilan Bintang sebagai monster berwujud manusia. Namun, kekuatan melampaui batas yang mereka miliki hari ini tidak didapatkan dari keberuntungan.
Tiga Tahun Yang Lalu — Laboratorium Terlarang Inti Bintang Sol-Vane
Di dalam kedalaman fasilitas militer raksasa, tiga pemuda terpilih terbaring di atas altar eksperimen Proyek Apotheosis. Pada masa itu, Kerajaan Sol-Vane sedang berada di ambang kehancuran akibat invasi monster dari batas dimensi. Sistem tingkat kekuatan biasa tak lagi cukup untuk melindungi mereka.
"Jika kita tidak bisa menciptakan pahlawan dari hukum alam yang ada... maka kita harus mematahkan hukum itu," bisik Kepala Ilmuwan Sol-Vane saat menekan tombol penggabungan inti.
Di dalam tabung reaktor, Rayker, Lyra, dan pahlawan ketiga mereka, Caelum Sang Arsitek Kuantum, disuntikkan cairan inti energi dari Sisa Artefak Arsitek Dunia. Proses itu bukan sekadar pelatihan bela diri, melainkan pembongkaran ulang struktur jiwa dan tubuh mereka secara paksa.
Sembilan puluh sembilan kandidat lain tewas hancur menjadi debu karena tubuh mereka meleleh tak sanggup menampung kepadatan energi tersebut. Namun Rayker dan kelompoknya bertahan. Mereka melewati neraka di mana tulang mereka patah dan menyatu kembali jutaan kali, jiwa mereka dibakar oleh api kosmik, sampai akhirnya batas Sovereign di dalam tubuh mereka pecah berantakan.
Mereka tidak lagi terikat oleh batasan Mana manusia biasa. Tubuh mereka telah menjadi reaktor energi abadi yang sanggup memanipulasi hukum fisika lokal Sol-Vane:
Rayker: Menguasai Gravitational Pressure Zone yang memancarkan beban gravitasi raksasa dan tebasan kinetik berdaya hancur benua.
Lyra: Menguasai Spatial Isolation Barrier yang mampu mengisolasi dampak ledakan terbesar dan membengkokkan vektor serangan musuh.
Caelum: Menguasai Real-Time Tactical Hacking yang membaca serta mengurai struktur energi musuh dalam milidetik lewat matriks kuantum.
ROAAAAAAAAR—!
Raungan sang Titans-Behemoth membubarkan kenangan masa lalu itu, membawa mereka kembali ke medan pertempuran yang membara.
Monster raksasa yang terluka itu mendadak mengamuk gila-gilaan. Inti energi di dadanya memancar terang benderang. Makhluk itu memusatkan seluruh daya hancur kebangkitannya untuk mereduksi radius ratusan kilometer di sekitarnya menjadi padang pasir tanpa kehidupan.
"Dia mau meledakkan intinya!" teriak Lyra, menggertakkan giginya saat perisai dimensinya mulai retak menahan rambatan suhu panas.
Dari balik bayang-bayang, pahlawan ketiga mereka—Caelum—muncul sambil melipat tangannya santai. Di sekeliling kepalanya, melayang ribuan formula matematika magis yang bercahaya keemasan.
"Tenanglah, Lyra. Angka-angkanya sudah aku hitung," ujar Caelum dingin. Jemarinya menari di udara, meretas susunan energi di dalam tubuh sang monster. "Struktur energi makhluk ini memiliki batas toleransi kinetik. Rayker, tebas bagian inti dadanya tepat pada detik ketiga dari sekarang!"
"Sudah kutunggu dari tadi!" seru Rayker.
Ia memusatkan seluruh dorongan Magitech tingkat puncak ke dalam pedangnya. Aura emas yang berputar di sekeliling Rayker membumbung tinggi menembus atmosfer langit, menciptakan pusaran angin raksasa yang menggulung awan-awan hitam perbatasan.
Satu detik... dua detik...
"SEKARANG!"
Rayker menerjang turun bagai meteor jatuh. Tebasan pedangnya membelah gelombang panas sang monster, menembus tepat ke inti energi di dadanya.
KABBOOOOOOOOOOOOM—!
Ledakan cahaya silau memenuhi seluruh dataran luar Sol-Vane. Gelombang kejut dahsyat memporak-porandakan bentang alam, namun ditahan secara sempurna di balik benteng dimensi milik Lyra agar tidak menyentuh pemukiman warga kota.
Ketika debu dan asap ledakan perlahan menipis, sang Behemoth raksasa yang ditakuti seluruh benua itu telah roboh tak bernyawa, intinya hancur berkeping-keping.
Rayker mendarat dengan mulus, menyarungkan pedang raksasanya kembali ke punggung. Ia mengusap keringat di dahinya sambil menatap ke arah gerbang perbatasan Sol-Vane yang menjulang di kejauhan.
"Pertarungan yang cukup menguras tenaga," gumam Rayker pelan.
"Kerja bagus, kalian berdua," kata Caelum sambil menutup antarmuka holografiknya. Namun, alis Caelum mendadak berkerut saat matanya menatap sensor pemindai energi wilayah yang ada di pergelangan tangannya.
"Ada apa, Caelum?" tanya Lyra sambil berjalan mendekat.
Caelum menunjuk layar holografiknya yang tiba-tiba berkedip-kedip merah. "Aneh... Beberapa menit yang lalu, sensor perbatasan kita di The Void-Chasm mendeteksi adanya lonjakan energi kinetik yang sangat tidak masuk akal. Seseorang baru saja menghancurkan Golem Sentinel Aegis-Dreadnought milik kerajaan hanya dengan satu pukulan fisik murni."
Rayker menyunggingkan senyum tipis, matanya memancarkan pendar antusias. "Seseorang yang sanggup meremukkan Aegis-Dreadnought dengan tangan kosong? Menarik. Siapa dia?"
"Data identifikasinya tidak terbaca," jawab Caelum, menatap grafik yang menunjukkan lonjakan massa melompat dari 0 \rightarrow \text{ERROR: OVERFLOW}. "Tapi dari kamera pengawas perbatasan... dia adalah seorang pemuda berjubah putih robek yang baru saja melangkah masuk ke dalam kota kita."
Perspektif Kota Sol-Vane: Tamu Berjubah Robek
Sementara itu, di bawah kerlipan lampu neon jalanan utama Sol-Vane, Ren Vaelen sedang berjalan santai sambil mengunyah sosis daging magis yang baru dibelinya dari pedagang kaki lima.
Penampilannya yang memakai jubah sutra putih gading robek-robek di bagian bahu dan dada akibat bentrokan di ngarai membuat para pejalan kaki menatapnya dengan heran. Namun Ren sama sekali tidak peduli. Matanya sibuk memperhatikan kendaraan terbang dan papan iklan digital yang melayang di udara.
"Kota ini sangat ramai... tapi di mana toko baju yang bagus? Aku butuh penjahit secepatnya," gumam Ren pada diri sendiri.
BOOOOOOOM—!
Tanpa peringatan, tiga kilatan cahaya meluncur turun dari langit malam, mendarat tepat di tengah jalan raya utama ratusan meter di hadapan Ren.
Seketika, sirene barikade kota bergema. Warga kota di sekitar trotoar bersorak histeris begitu mengenali ketiga sosok yang baru saja mendarat:
"Lihat! Pahlawan dari Sembilan Bintang!"
"Rayker Sang Penghancur Bintang ada di sini!"
Lalulintas dihentikan seketika. Rayker melangkah maju dari balik asap pendaran energi, matanya langsung terkunci pada sosok pemuda berjubah putih robek yang masih berdiri santai memegang tusuk sosis.
"Kau..." suara Rayker bergema, dipenuhi dorongan energi kinetik yang membuat udara di sekitar trotoar bergetar. "Kau yang meremukkan Aegis-Dreadnought di perbatasan?"
Ren mengedipkan matanya, menunjuk dirinya sendiri. "Oh, ganjalan baja raksasa di ngarai tadi? Ya, dia menyerangku duluan dan merusak makan siangku, jadi aku membalasnya sedikit."
Membalasnya sedikit?
Lyra dan Caelum menatap Ren dengan tatapan tak percaya. Tidak ada seorang pun di kerajaan ini yang berani meremehkan benteng pertahanan Sol-Vane dengan kata-kata seperti itu.
"Siapa namamu, Asing?" tantang Rayker sambil menarik pedang raksasa Solaris-Core miliknya beberapa sentimeter dari sarungnya.
BZZZZZZT—!
Seketika, Gravitational Pressure Zone milik Rayker meledak! Udara di radius lima puluh meter melengkung berat. Lantai beton magis di bawah kaki mereka retak hebat di bawah tekanan puluhan ton gravitasi yang mendadak terkumpul.
Warga kota ketakutan dan mundur berhamburan. Namun di tengah badai tekanan gravitasi maut yang sanggup meremukkan tulang manusia biasa itu, Ren Vaelen hanya menghela napas panjang.
"Namaku Ren," jawab Ren santai. Dia melangkah maju satu langkah—menembus zona gravitasi Rayker seolah-olah tekanan itu hanyalah hembusan angin malam biasa. "Aku cuma mencari penjahit baju. Kenapa setiap kali aku ke kota baru, selalu ada yang mengajak berkelahi?"
Mata Rayker membelalak kagum sekaligus menantang. Senyum lebar terukir di wajah sang pahlawan saat ia memutar pedang raksasanya, siap melepaskan tebasan kinetik pertamanya!