Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Panggilan dari Aliansi
Meski ancaman rekaman telah berhasil dinetralisir, konsekuensi dari apa yang telah terungkap malam di dermaga tetap tidak bisa sepenuhnya dihindari. Beberapa kapten yang hadir malam itu, meski setia pada Gerald, tidak bisa sepenuhnya menutup mulut mereka dari desas-desus yang mulai menyebar di kalangan internal keluarga.
Sebuah undangan resmi tiba di mansion Moretti seminggu kemudian — sebuah panggilan dari Aliansi Lima Keluarga Besar Italia, meminta Gerald hadir dalam pertemuan darurat di Roma untuk "mengklarifikasi rumor mengenai warisan kepemimpinan keluarga Moretti."
"Mereka sudah dengar sesuatu," kata Gerald tegang, membaca surat undangan formal itu dengan raut wajah serius, bahunya masih dibalut perban meski sudah mulai membaik. "Pertanyaannya, seberapa banyak yang mereka ketahui."
"Apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian menghadapi ini," kata Yao, berdiri di sisinya dengan tekad yang tidak tergoyahkan.
"Yao," kata Gerald pelan, menatapnya serius. "Jika aku pergi ke Roma dan mengungkapkan kebenaran penuh tentang ayahku, itu bisa berarti akhir dari kepemimpinanku — mungkin bahkan akhir dari keberadaan keluarga Moretti sebagai kekuatan yang dihormati di Italia. Tapi jika aku menyembunyikannya dan mereka mengetahuinya kemudian, konsekuensinya akan jauh lebih mengerikan."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Yao, meski jauh di dalam hatinya, ia sudah menduga jawaban yang akan diberikan pria yang ia cintai.
Gerald menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke luar jendela mansion yang menghadap kebun anggur keluarga — kebun yang sama yang pernah dikunjungi ayahnya bersama Enzo bertahun-tahun lalu, sebelum semua kebohongan ini dimulai.
"Kebenaran," katanya akhirnya, tegas meski suaranya bergetar sedikit karena bobot keputusan yang ia buat. "Aku akan menghadapi Aliansi dengan kebenaran penuh, apa pun konsekuensinya. Aku sudah lelah mewarisi kebohongan ayahku, Yao. Sudah waktunya keluarga ini memulai sesuatu yang baru — dengan integritas, bukan rahasia berdarah."
Yao meraih tangannya, menggenggamnya erat sebagai tanda dukungan. "Maka aku akan berdiri di sisimu di Roma," katanya tegas. "Sebagai Yao Conti, bukan Yao Lindqvist. Sudah waktunya dunia tahu kebenaran penuh tentang apa yang terjadi pada keluargaku — dan tentang bagaimana kita berdua memilih untuk tidak mewarisi dendam orang tua kita."
Malam itu, saat mereka bersiap untuk perjalanan yang akan menentukan masa depan mereka berdua, tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa di Roma, seseorang dari Aliansi Lima Keluarga telah lama menunggu kesempatan sempurna ini — seseorang dengan agenda tersembunyi yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah dibayangkan Enzo Bastiani sekalipun.
Sofia membantu Yao mengemas pakaian untuk perjalanan itu, tangannya yang mulai keriput karena usia bergerak dengan kelembutan yang sama seperti saat ia membantu Yao kecil berpakaian bertahun-tahun lalu.
"Kau siap untuk ini?" tanya Sofia, menatap Yao lewat cermin ruang ganti mereka.
"Tidak sepenuhnya," jawab Yao jujur, "tapi aku sudah lelah menyembunyikan siapa diriku yang sebenarnya. Sudah waktunya dunia tahu kebenaran — tentang Ferdinand Conti, tentang apa yang terjadi pada keluarga kita, dan tentang wanita yang menyelamatkan putrinya dengan mengorbankan segalanya."
Sofia tersenyum, matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan itu. "Aku bangga padamu, Yao. Apa pun yang terjadi di Roma."
Roma menyambut mereka dengan langit kelabu dan hujan rintik yang turun perlahan, seolah kota itu sendiri berduka untuk kebenaran berat yang akan diungkapkan hari itu. Villa tempat pertemuan Aliansi Lima Keluarga Besar diadakan berdiri megah di pinggiran kota, dikelilingi kebun zaitun tua yang telah menyaksikan berabad-abad rahasia mafia Italia terungkap dan terkubur kembali.
Gerald mengenakan setelan hitam terbaiknya, bahunya masih sedikit kaku karena luka yang belum sepenuhnya sembuh, tapi punggungnya tegak dengan keberanian yang telah ia kumpulkan selama perjalanan panjang minggu-minggu terakhir. Yao berjalan di sisinya, mengenakan gaun hitam elegan, wajahnya tenang meski hatinya berdegup kencang menghadapi momen yang akan menentukan masa depan mereka berdua.
Kelima kepala keluarga besar — Don Ricci dari Roma, Donna Alessandra dari Venesia, Don Ferraro dari Napoli, Don Bianchi dari Torino, dan seorang perwakilan dari Sisilia yang duduk di kursi kosong keluarga Moretti sendiri — menunggu di ruang pertemuan mewah yang dipenuhi lukisan-lukisan klasik dan furnitur antik bernilai jutaan euro.
"Gerald Moretti," sapa Don Ricci, seorang pria tua berusia tujuh puluhan dengan mata tajam yang telah menyaksikan puluhan tahun politik mafia Italia yang rumit. "Kami mendengar rumor yang sangat mengkhawatirkan tentang mendiang ayahmu. Kami harap kau di sini untuk membantah rumor tersebut."
"Aku di sini untuk mengonfirmasinya," jawab Gerald tegas, tidak gentar meski seluruh ruangan langsung dipenuhi bisikan terkejut. "Ayah saya, Salvatore Moretti, memerintahkan pembantaian keluarga Conti tujuh belas tahun lalu untuk menutupi kejahatan finansialnya sendiri terhadap dana bersama aliansi kita."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu, sebelum meledak menjadi kekacauan bisikan dan tuduhan yang saling bersahutan.
"Bukti macam apa yang kau miliki untuk klaim seberat ini?" tanya Donna Alessandra tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan.
Gerald mengeluarkan flashdisk yang telah mereka simpan dengan aman, memutar rekaman suara ayahnya yang memerintahkan pembantaian itu — bukti yang tidak bisa dibantah siapa pun di ruangan itu.
Di sudut ruangan, tersembunyi di balik penampilan tenangnya, Don Ricci menyaksikan pengakuan itu dengan mata berkilat penuh perhitungan tersembunyi. Karena tidak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri, bahwa ia telah menantikan momen kelemahan keluarga Moretti seperti ini selama bertahun-tahun — kesempatan sempurna untuk akhirnya merebut kendali penuh atas rute perdagangan pelabuhan yang telah lama ia inginkan.
"Bukti ini sangat memberatkan," kata Don Ferraro dari Napoli, seorang pria gemuk dengan cincin-cincin emas di setiap jarinya, suaranya berat dan penuh pertimbangan. "Tapi pertanyaannya sekarang adalah, apa yang harus dilakukan Aliansi terhadap kebenaran ini? Salvatore sudah lama meninggal — kita tidak bisa menghukum orang mati."
"Tapi kita bisa menghukum keluarganya," sela Donna Alessandra tajam, matanya menyipit menatap Gerald dengan campuran rasa hormat dan kecurigaan. "Pertanyaannya, seberapa jauh dosa ayah menular pada anak?"
Gerald berdiri tegak, menghadapi tatapan kelima kepala keluarga itu tanpa gentar. "Aku tidak meminta pengampunan atas dosa ayahku," katanya tegas. "Aku hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bukan dia — bahwa keluarga Moretti di bawah kepemimpinanku akan menjadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang dibangun di atas kejujuran, bukan kebohongan berdarah."
Perwakilan dari Sisilia, seorang wanita muda bernama Donna Bianchi yang baru saja mewarisi kepemimpinan dari ayahnya, mengangguk pelan. "Kata-kata yang berani," katanya. "Tapi Aliansi membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata untuk memutuskan nasibmu, Gerald Moretti."