NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kota Tapal Perbatasan

Perjalanan dua hari itu terasa seperti mimpi yang tak kunjung usai bagi Ji Ming — bukan karena jaraknya, tapi karena setiap langkah membawanya semakin jauh dari satu-satunya dunia yang ia kenal seumur hidup.

Yun Xia berjalan di depan dengan langkah santai yang menyembunyikan kewaspadaan tajam, sesekali berhenti untuk memeriksa jejak atau mendengarkan suara hutan yang mencurigakan. Ia tak banyak bicara, tapi setiap kali mereka istirahat, ia selalu memastikan kaki Ji Ming yang terkilir dibalut ulang dengan daun obat yang ia kenali dari hutan sekitar.

"Kau tidak bertanya banyak," Ji Ming akhirnya berkata di malam kedua, saat mereka duduk mengelilingi api unggun kecil yang sengaja dibuat rendah agar tak terlihat dari kejauhan.

"Aku sudah dengar cukup di jurang itu," Yun Xia menjawab, matanya menatap api. "Sisanya, kau ceritakan kalau kau sudah siap. Aku tidak suka memaksa orang membuka luka yang masih segar."

Xiao Mu, yang sejak insiden di jurang tak pernah jauh dari sisi Ji Ming, kini duduk di atas sebongkah batu dekat api, cahaya matanya meredup jadi kelap-kelip lembut — seperti sedang tidur, meski Ji Ming tak yakin apakah boneka kayu benar-benar butuh istirahat atau itu hanya caranya menunjukkan rasa nyaman.

"Bagaimana caranya kau mengenal seni pengukiran jiwa?" Ji Ming bertanya, mengalihkan topik dari dirinya sendiri. "Kau bilang itu cerita yang semua orang tahu, tapi kau tahu detail yang bahkan tak diajarkan di sekteku."

Untuk pertama kalinya, sesuatu di wajah Yun Xia berubah — sekilas, tapi cukup untuk Ji Ming tangkap. "Aku pernah mengembara ke reruntuhan bekas sekte pengukir jiwa, bertahun-tahun lalu. Tempat itu... berbeda dari yang diceritakan legenda. Bukan sarang monster jahat seperti yang diajarkan anak-anak di setiap sekte. Hanya reruntuhan sunyi, dengan ukiran-ukiran yang bahkan setelah tiga ratus tahun masih terasa seperti tempat yang pernah dicintai seseorang."

"Kau percaya mereka tidak sepenuhnya jahat?"

"Aku percaya sejarah selalu ditulis oleh yang menang, dan yang kalah jarang punya kesempatan membela diri." Yun Xia menatapnya lurus-lurus. "Tapi aku juga tidak naif. Ada kebenaran dalam cerita tentang jiwa-jiwa yang dicuri paksa. Pertanyaannya bukan apakah dosa itu nyata, tapi apakah dosa satu generasi harus mewarisi kutukan ke generasi berikutnya yang bahkan belum lahir saat itu terjadi."

Kata-kata itu menggantung di udara malam, dan Ji Ming mendapati dirinya memikirkannya lama setelah Yun Xia akhirnya memejamkan mata untuk tidur.

Kota Tapal Perbatasan muncul di kejauhan pada siang hari ketiga — lebih besar dari yang Ji Ming bayangkan, dengan tembok rendah mengelilingi ratusan bangunan kayu dan batu, gerbang utama ramai oleh pedagang, pengembara, dan kultivator lepas dari berbagai latar belakang. Tak ada lambang sekte tunggal yang mendominasi di sini — justru itulah yang membuatnya aman, kata Yun Xia, karena kota netral seperti ini hidup dari prinsip tidak banyak bertanya asal tidak membuat onar.

"Tabib Hong di sisi timur bisa dipercaya," Yun Xia menjelaskan sambil menuntunnya melewati kerumunan. "Dia tidak peduli siapa yang datang selama mereka membayar dan tidak membawa masalah ke pintunya."

Tabib Hong ternyata seorang wanita paruh baya bertubuh kecil dengan mata tajam yang menilai Ji Ming dari ujung kaki hingga ujung kepala begitu ia masuk. Setelah memeriksa pergelangan kaki yang bengkak, ia mendecak.

"Terkilir parah, bukan patah, untung kalian tidak menunggu lebih lama." Ia mulai meracik salep dari beberapa toples herbal di rak. "Butuh istirahat lima hari, jangan dipaksa jalan jauh."

Saat Tabib Hong membalut kakinya, matanya sempat tertuju pada Xiao Mu yang duduk diam di pangkuan Ji Ming, dan sesuatu berkelebat di wajahnya — bukan ketakutan seperti murid-murid sekte, melainkan semacam pengenalan yang cepat ia sembunyikan.

"Boneka kayu yang bagus," katanya datar, terlalu datar untuk terdengar biasa saja. "Buatan sendiri?"

"Warisan," Ji Ming menjawab hati-hati.

Tabib Hong tak mengejar topik itu lebih jauh, tapi Ji Ming menangkap Yun Xia melirik tajam ke arah tabib itu — tanda bahwa reaksi itu tak luput dari perhatiannya juga.

Mereka menyewa kamar kecil di penginapan dekat gerbang barat, cukup jauh dari keramaian pasar utama agar tak menarik perhatian. Malam itu, setelah Ji Ming beristirahat sejenak, Yun Xia duduk di seberangnya dengan wajah serius yang belum pernah ia tunjukkan sepanjang perjalanan.

"Kau perlu tahu sesuatu," katanya. "Kota ini aman untuk sementara, tapi tidak selamanya. Sektemu punya jaringan informan di kota-kota perbatasan seperti ini — bukan resmi, tapi cukup untuk membuat kabar tentang buronan bermeridian kosong dengan boneka jiwa menyebar dalam hitungan minggu."

"Jadi apa yang harus kulakukan?"

"Belajar." Yun Xia menyandarkan punggung ke dinding kayu. "Kau punya warisan yang luar biasa langka di tanganmu, tapi kau bahkan belum tahu cara menggunakannya dengan benar — insting di jurang itu beruntung, bukan kemampuan. Kalau kau ingin bertahan, kau perlu menguasai seni itu lebih cepat daripada sektemu menemukanmu lagi."

"Kau akan mengajariku?"

Yun Xia tertawa kecil, suara yang terdengar jarang keluar dari mulutnya. "Aku bukan pengukir jiwa, aku hanya kultivator pedang biasa. Tapi aku tahu satu dua orang di dunia ini yang mungkin, mungkin saja, masih menyimpan pengetahuan tentang seni yang katanya sudah punah." Ia menatap Xiao Mu yang kini terjaga kembali, cahaya matanya berpendar pelan mengikuti percakapan mereka seolah mengerti setiap kata. "Tapi untuk sekarang, kau harus belajar dari yang kau punya sendiri — manual itu, dan boneka yang bahkan mungkin tahu lebih banyak daripada yang bisa ia katakan."

Ji Ming membuka gulungan Manual Sang Pengukir Pertama yang sejak Bab pelariannya belum sempat ia baca dengan tenang. Aksara-aksara kuno di dalamnya perlahan mulai masuk akal saat matanya menelusuri baris demi baris — bukan sekadar teori, tapi tahapan nyata: bagaimana membentuk ikatan jiwa pertama, bagaimana mengukir wadah baru, bagaimana merasakan kekuatan jiwa mengalir melalui ruang kosong di dadanya yang selama ini dianggap kutukan.

Di luar jendela penginapan, malam Kota Tapal Perbatasan terus berjalan tanpa peduli pada rahasia yang baru saja mulai tumbuh di kamar kecil itu — seorang buronan, seorang kultivator lepas dengan masa lalunya sendiri, dan seni yang dunia kira sudah lama mati.

Tapi jauh di sisi lain kota, di sebuah kedai teh sunyi tak jauh dari gerbang timur, seorang pria berjubah hitam polos tanpa lambang menerima selembar kertas dari burung pos kecil — pesan singkat dari Puncak Elang Hitam, memuat sketsa wajah seorang pemuda dan satu kalimat pendek yang membuat matanya menyipit tajam:

Cari Meridian Kosong. Hidup atau mati, bayaran ganda kalau boneka kayunya utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!