NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 34: Malam Makan Malam yang Penuh Rencana

Menghadapi tekanan aura yang mengerikan dari Peng Ying, Yao Linger sama sekali tidak bergeming. Bahkan di matanya terpancar tatapan menghina yang jelas.

Reaksi ini membuat Peng Ying semakin ragu dan gelisah.

“Kenapa... kenapa kau tidak takut?” tanya Peng Ying dengan suara bergetar. “Aku seorang Kultivator! Kau hanya manusia biasa. Apa kau tidak takut aku akan membunuhmu?”

“Memang lalu kenapa kalau kau Kultivator?” jawab Yao Linger santai sambil tersenyum miring. “Silakan saja, coba bunuh aku kalau kau mampu.”

Provokasi itu memicu amarah Peng Ying meluap-luap. Ia mengayunkan pedangnya langsung ke arah dada Yao Linger.

Namun di mata orang-orang yang menyaksikan, hanya terdengar suara *ting!* pelan.

Pedang itu terlempar keluar dari genggaman Peng Ying dan melayang jatuh ke dalam sungai. Tak ada yang melihat gerakan apa pun dari Yao Linger. Hanya Peng Ying yang tahu persis—wanita itu hanya menjentikkan satu jarinya ke bilah pedang itu, dan kekuatan yang terpancar begitu dahsyat hingga membuat seluruh lengannya kini terasa mati rasa.

Wajah Peng Ying seketika pucat pasi.

“Kau... kau sebenarnya apa?!” seru Peng Ying terbata-bata, mundur selangkah demi selangkah.

Yao Linger melangkah mendekat, sorot matanya berubah tajam dan dingin.

“Kau hanya Seniman Bela Diri Tingkat Sembilan yang rendah. Dari mana kau dapat keberanian untuk bersikap sombong di depanku? Kau pikir dengan level sepertimu, kau pantas bersikap kasar pada Tuan Lin Qian?”

Setiap kata yang diucapkannya seperti palu godam yang menghantam dada Peng Ying. Bersamaan dengan itu, Yao Linger melepaskan sedikit saja tekanan kekuatan sejatinya. Peng Ying seketika terhuyung, lututnya lemas, dan rasa takut yang mendalam menjalar ke seluruh tulang sumsumnya.

Kesombongannya lenyap seketika.

Tanpa memberi kesempatan menjawab, Yao Linger mulai menampar wajah Peng Ying berulang kali, setiap tamparan disertai pertanyaan tajam.

“Kau terlalu menyombong diri !!! ,Mana hilangnya kesombongan mu tadi ?!”

Tak lama, wajah Peng Ying yang tadinya cantik dan bangga kini bengkak besar, memerah padam, dan air mata penyesalan mengalir deras.

“Maaf! Aku minta maaf! Aku tidak pantas!” jerit Peng Ying sambil menangis tersedu-sedu, menyerah total.

“Hmph, minggirlah!”

Satu tamparan terakhir mengirimkan tubuh Peng Ying terlempar ke samping masuk ke dalam sungai dengan cipratan air yang keras.

Setelah mengusir Peng Ying, ekspresi Yao Linger berubah drastis. Kembali menjadi anggun, lembut, dan penuh hormat, ia berbalik menghadap Lin Qian.

“Terima kasih atas bantuanmu, Nona,” ucap Lin Qian tenang.

“Tuan terlalu memuji. Perkenalkan, saya adalah—“

“Tak perlu,” potong Lin Qian sambil tersenyum tipis. “Kita sudah pernah bertemu sebelumnya.”

Kalimat itu membuat jantung Yao Linger berhenti berdetak sejenak. Keringat dingin seketika membasahi punggungnya.

*Dia tahu? Dia sudah tahu identitas asliku, penyamaranku, dan asal-usul ku sejak lama?*

Gugup dan panik, ia buru-buru hendak menjelaskan dan meminta maaf. Namun Lin Qian hanya melambaikan tangan santai, seolah itu hal yang sangat remeh dan tak berarti baginya.

Baginya, Sekte Xuanwu hanyalah sekte kecil yang tak layak diperhitungkan. Keberadaan wanita ini tak lebih dari semut yang berjalan di sampingnya—ia tak peduli selama tak mengganggunya.

Hati Yao Linger pun lega luar biasa, namun rasa hormat dan rasa takutnya semakin bertambah berkali-kali lipat. Kedalaman pria ini benar-benar tak terukur.

Lin Qian juga mengucapkan terima kasih pada Han Yuner yang masih terguncang. Sebagai tanda terima kasih, ia mengundang kedua wanita itu untuk makan malam bersamanya.

Kedua wanita itu menerimanya dengan wajah berseri-seri dan penuh harap, membuat siapa saja yang melihat merasa iri hati.

Setelah Lin Qian pergi, sosok berjas putih melesat turun ke tempat itu.

Yu Wujie yang baru bebas dari tahanan Sekte Lingxue. Ia datang khusus menemui Peng Ying.

“Ying’er, di mana kau?!”

Peng Ying yang baru saja naik dari sungai dan kuyup basah segera berlari menghampirinya sambil menangis, menutupi wajahnya yang bengkak.

“Kak Wujie... aku disakiti orang lain...”

“Siapa yang berani? Biar aku lihat!”

Yu Wujie marah besar dan segera menarik tangan yang menutupi wajah itu.

Seketika...

Mata Yu Wujie terbelalak nyaris copot. Wajah Peng Ying yang bengkak parah, memerah, dan berubah bentuk sama sekali tak lagi mirip wanita cantik yang ia kenal. Rasa jijik dan kaget meledak di kepalanya.

“ASTAGA! KAU INI APA SEBENARNYA?!”

Tanpa berpikir panjang, Yu Wujie langsung menendang dada Peng Ying sekuat tenaga. Peng Ying terlempar kembali ke tengah sungai. Yu Wujie tak menoleh lagi—ia lari pergi secepat mungkin seolah melihat momok mengerikan.

Di sungai, Peng Ying terbawa arus deras dan tersedot pusaran air, menghilang tanpa ada yang peduli.

Sementara itu, Lin Qian telah kembali ke aula bela diri.

Di halaman belakang, ia melihat Wangcai gemetar ketakutan sambil menatap tajam ke arah pintu kecil yang selalu tertutup itu.

“Ada apa lagi denganmu?” tanya Lin Qian bingung. “Ah, mungkin kau sedang ingin kawin ya? Sabar saja dulu, nanti kucari kan pasangan.”

Wangcai seolah mendengar kata-kata yang menyinggung nyawanya—menggonggong panik dan langsung kabur lari ke halaman depan. Ia lebih memilih menghadapi apa pun di sana daripada merasakan aura mengerikan yang menguar dari balik pintu itu.

Lin Qian tak terlalu memikirkannya.

Ia berjalan keluar, berpapasan dengan Han Yu.

“Aku mau ke Rumah Hiburan Yihong, mau main *Lawan Tuan Tanah* sama orang-orang di sana. Kau jaga tempat ini ya,” kata Lin Qian santai.

Han Yu menggaruk kepalanya, wajahnya memerah padam namun matanya berbinar penuh pengertian yang salah arah.

“Guru... saya rasa saya mengerti. Saya sering lewat sana dan melihat suasananya... Guru, kalau ke sana main *Lawan Tuan Tanah*, bolehkah saya ikut? Saya sudah bukan anak-anak lagi lho.”

Lin Qian tertawa tak berdaya.

*Dasar anak ini, dia kira apa yang kami mainkan? Padahal itu Cuma permainan kartu remi buatanku sendiri.*

“Kau benar-benar salah paham. Nanti saja, nanti saja ku ajarkan,” jawabnya sambil menepuk bahu muridnya yang polos itu, lalu berjalan pergi santai.

 

 

Di tempat lain, suasana hati dua wanita yang diundang Lin Qian sangatlah berat namun penuh harap.

 

Yao Linger mengirim pesan rahasia ke Sekte Xuanwu. Ning Xuanwu membalas dengan tegas:

 

*”Ini kesempatan emas. Apapun caranya, malam ini kau harus membuatnya jatuh hati. Nasib sekte ada di tanganmu.”*

 

Yao Linger melipat pesan itu pelan. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Beban berat di pundaknya terasa semakin nyata. Namun di balik beban itu, ada sesuatu yang lain—rasa penasaran yang tulus terhadap pria misterius yang bahkan kehadirannya saja sudah terasa berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui.

 

Di sisi lain, di kediaman Han Bojin, sang ayah menatap putrinya dengan wajah penuh tekanan.

 

“Yuner... malam ini adalah kesempatanmu. Tunjukkan pesona dan kemampuanmu. Bangunlah hubungan baik dengannya—demi masa depan keluarga kita.”

 

Han Yuner mengangguk pelan. Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

 

Bukan karena takut.

 

Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin terlihat baik bukan demi nama keluarga—melainkan demi dirinya sendiri, di hadapan seseorang yang membuatnya merasa kecil sekaligus kagum pada saat yang bersamaan.

 

Malam ini akan menjadi malam yang panjang.

1
Free Diskon
mantap tor
Azkiya Faiha
oke...
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ditunggu update terbaru nya thor 😀😀👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...lanjut Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!