Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur Lagi
Malam pertama di Mansion Elson Rafandra sudah berbaring di samping istrinya. Jantungnya berdebar cepat. Ia menunggu, setidaknya ucapan selamat tidur, atau kecupan kecil yang manis.
Tapi wanita di sebelahnya langsung berbaring membelakanginya. Tanpa sepatah kata.
Perlahan, Rafandra mengulurkan tangan, ingin memeluk pinggang itu dari belakang. Belum sempat menyentuh, tangannya ditepis dengan kasar lagi.
PLAK!
"Jangan peluk-peluk. Aku sesak kalau dipeluk waktu tidur, Mas," cetus si putri palsu, dingin.
Rafandra membatu. Tangannya menggantung di udara, lalu ia tarik kembali pelan.
Di balik selimut, si putri palsu mengepalkan tangan, mengumpat dalam hati.
"Cih, disentuh keluarga Elson saja aku sudah muak. Apalagi dipeluk!"
Rafandra hanya tersenyum kecut. Malam pertama yang ia tunggu-tunggu, ternyata sedingin ini.
"Mungkin dia memang kelelahan..." batin Rafa sabar.
__
Keesokan paginya di rumah Rakanza. Nasihat Julian semalam beri dia rasa aman diterjemahkan Rakanza dengan cara dia sendiri.
CKLEK.
Pintu kamar istrinya ia kunci rapat dari luar.
Gavin yang melihatnya kebingungan. "Bos... kenapa Nyonya Muda dikunci?"
"Supaya tidak kabur lagi seperti kemarin," jawab sang Bos Mafia itu datar. Baginya, mengunci Istrinya berarti melindungi. Logika bos mafia.
Dari dalam, suara gedoran membabi buta.
BAM!
BAM!
BAM!
"TUAN RAKA! BUKA PINTUNYA! SAYA BUKAN TAHANAN! KENAPA DIKURUNG?!" teriak Luviana lantang, memukul pintu kayu itu dengan frustrasi.
Rakanza tidak bergeming. Tepat saat itu, seorang anak buah berlari.
"Bos, Tuan Besar dan Nyonya Besar sudah di ruang tamu."
Rakanza melirik Gavin tajam. "Jaga kamar ini. Jangan biarkan siapapun buka," perintah Rakanza sebelum ke ruang tamu.
Gavin berdiri canggung di depan pintu, keringat dingin mendengar teriakan Luviana. Tiba-tiba perutnya melilit hebat.
"Aduh... mulesnya datang di jam yang salah!" Gavin panik, lari terbirit-birit ke toilet.
Begitu Gavin hilang di ujung koridor, dua kepala mungil muncul.
Lily dan Elio. Mereka memang sengaja menginap karena enggan pulang kemarin. Mereka kasihan pada Luviana yang kesepian.
"Aunty? Kenapa Aunty dikulung? Aunty nakal?" tanya Lily polos, menempelkan telinga ke pintu.
Luviana mendekat ke celah pintu. "Lily, Elio... tolongin Aunty. Aunty dikunci, padahal Aunty mau ketemu Kakak Aunty sebentar saja..."
Elio tidak banyak bicara. Dengan ketenangan yang sangat mirip Rakanza, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan pencongkel kunci kecil mainannya.
CKLEK.
Pintu berhasil dibuka. Luviana terperangah, langsung berlutut memeluk keduanya. "Terima kasih... terima kasih ya Allah..."
"Lily ikut ya, Aunty! Di lumah bosan," rengek Lily manja.
Luviana ragu, tapi melihat mata antusias mereka, ia tak tega. Sebelum Gavin kembali, ia menuntun si kembar kabur lewat jalur semak belakang yang tak dijaga.
___
Di ruang tamu, Rayden dan Cecilia menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Pulanglah ke Mansion Elson, Raka. Bawa istrimu juga. Kami sudah merestui pernikahan kalian," ujar Rayden tenang.
Rakanza tertegun. "Kenapa tiba-tiba? Apa yang kalian rencanakan pada istriku?"
"Tidak ada rencana, Nak. Kami hanya ingin keluarga kita berkumpul. Rafa terus menanyakanmu. Apa kamu tidak mau kasih selamat pada adikmu dan istrinya, Luviana?" ujar Cecilia lembut.
Nama Luviana itu menusuk dada Rakanza. Harus tinggal serumah dengan wanita yang diam-diam ia cintai, yang kini jadi istri adiknya, itu siksaan. Tapi akhirnya ia mengangguk. "Aku akan pikirkan."
"Kalau begitu, di mana menantu Mami?" tanya Cecilia.
Baru saja Rakanza mau menjawab, Gavin berlari ngos-ngosan dengan wajah pucat.
"BOS! GAWAT! NYONYA MUDA KABUR LAGI! BAWA NONA LILY SAMA TUAN ELIO!"
"APA?!" Urat leher Rakanza menegang.
Rayden dan Cecilia saling pandang bingung.
Pasangan suami istri macam apa ini, main kabur-kaburan?
Tanpa menunggu, Rakanza menyambar kunci mobil.
"Papi sama Mami tunggu di sini, aku mau keluar sebentar!" pamit Rakanza berlalu pergi.
Di mobil, ia membuka pelacak di jam tangan si kembar. Titik merah berkedip di kawasan Winston Group.
Tanpa pikir panjang, Luviana membawa si kembar ke kantor Lucian. Ia berharap Abang sulungnya itu dapat mengenalinya.
Namun di gerbang Winston Group, mereka dihadang.
"Pergi! Pengemis dan anak kecil dilarang masuk!" bentak satpam.
"Aunty bukan pengemis! Satpam jelek! Jangan suka malak-malak!" balas Lily lebih galak.
Elio berdiri di depan Luviana, tatapannya menajam.
Satpam yang emosi menyambar ember berisi air pel di sebelahnya.
"Rasakan ini!"
BYURRR!
Luviana refleks menarik tubuh Lily dan Elio ke dalam pelukannya, membelakangi satpam. Seluruh air limbah bau itu langsung tumpah di punggung dan abayanya. Basah, kotor, bau pesing.
"Aunty! Baju Aunty basah..." Lily membelalak.
Di saat itulah, sebuah sedan hitam berhenti di lobi.
Lucian Winston keluar dengan jas rapi, aura CEO yang dingin. Mata Luviana berbinar. Harapannya itu akhirnya muncul.
"ABANG! BANG LUCIAN!"
Lucian menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mata mereka bertemu beberapa detik.
Luviana terus melambai dengan cara khasnya sejak kecil, lambaian dengan dua jari yang hanya Lucian yang tahu artinya.
"Kenali aku, Bang... Please!"
Namun Lucian menatapnya datar, dingin dan tanpa ekspresi. Seperti melihat orang asing yang merusak pemandangan. Lalu ia berbalik dan masuk ke gedung tanpa sepatah kata.
Tangan Luviana yang melambai itu terkulai lemas di udara. Dinginnya tatapan itu lebih menyakitkan daripada air comberan di punggungnya. Empat tahun ia bertahan di lab neraka demi bisa pulang, dan abangnya sendiri tidak mengenalnya.
Air matanya hampir tumpah, tapi ia tahan. Ia tidak boleh menangis di depan Lily dan Elio. Dengan sisa tenaga, ia membawa si kembar ke studio musik milik Lucky.
Dan di sana, ia kembali diperlakukan dengan buruk.
"Dasar perempuan gila! Ngaku-ngaku adiknya Tuan Lucky? Adiknya Tuan Lucky itu Nona Luvia yang sudah menikah dengan Rafandra Elson! Bukan gembel kayak kamu!"
Mereka bertiga didorong keluar dengan kejam.
BRUK!
AUNTY!!!
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡