Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Sayap Yang Dipatahkan
Hujan turun semakin deras. Air menghantam atap rumah tua itu tanpa henti, menciptakan suara berisik yang memenuhi seluruh ruangan. Sesekali kilat menyambar dari balik jendela, disusul suara gemuruh yang membuat rumah tua itu bergetar halus.
Dante dan Ara memutuskan menunggu sampai hujan sedikit reda sebelum kembali ke mansion.
Setelah selesai menguyah potongan terakhir rotinya, Ara pergi ke dapur. Di dalam wastafel sudah menumpuk piring-piring kotor.
Dante mendekat. "Aku bantu," katanya setengah berbisik. Ia mengambil sebagian piring kotor dan mulai membasahinya dengan air.
"Sebenarnya kau tak perlu melakukan ini." Ara menoleh. Wajah mereka cukup dekat. Ia bisa melihat lebih jelas pori-pori kulit pria itu.
Dante tidak menjawab. Ia tetap membasahi satu demi satu piring-piring yang ada di wastafel.
"Kau yang beri sabun, aku yang bilas," ujarnya, lagi-lagi dengan nada memerintah.
Ara mendengus dua kali. Tapi pada akhirnya ia mengikuti kata-kata Dante. Berulangkali ia melirik Dante yang cukup telaten membilas piring bersabun itu. Ia setengah tidak percaya Dante bos mafia ini bisa membantunya mencuci piring.
Ia masih tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Ia bahkan ingin mencubit pipinya sendiri dan menyadarkan dirinya ini bukan mimpi. Pria itu benar-benar sedang berdiri di sampingnya dan mencuci piring. Pria yang sama yang selalu memiliki orang untuk membukakan pintu mobilnya, kini berdiri di depan wastafel, menggulung lengan kemejanya dan membilas piring satu per satu.
Ara menatapnya cukup lama. "Aku terkejut kau ternyata bisa mencuci piring?"
Dante meliriknya. "Kenapa? Apakah kau berpikir aku tidak akan bisa?"
"Entahlah." Ara mengangkat bahu.
Ini hal baru bagi Ara, meski terasa aneh. Mungkin karena ia belum terbiasa melihat Dante yang seperti ini. Lagipula di rumah tua ini hanya ada mereka berdua yang sekarang sedang berdiri berdampingan di dapur sambil mendengarkan hujan.
Setelah semua cucian selesai, mereka kembali duduk di meja makan. Ara mengemas sisa roti ke dalam sebuah kotak bekal. Dante memperhatikannya diam-diam.
"Roti buatanmu enak," puji Dante buka suara.
Tangan Ara berhenti. Ia mengangkat kepala dan bertanya, "Lebih enak dari kopi yang ku buat?"
Dante berdeham. "Itu dua kasus yang berbeda."
"Apa bedanya?" Ara menatapnya meminta penjelasan. "Bukankah keduanya sama-sama buatanku?" protesnya sedikit tak terima. Apa susahnya mengatakan aku buruk dalam membuat kopi. Aku tokh tak akan mengelak karena aku memang seburuk itu. Bahkan sebelumnya aku tidak paham apa beda americano, latte dan robusta.
Dante terdiam beberapa detik. "Memang keduanya sama-sama buatanmu." Ia menghentikan kalimatnya dan melihat mata Ara, ia sedang mencoba membaca mata itu.
"Hanya saja kau tidak berbakat dalam segala bidang," akunya terus terang. Ia berusaha menyampaikan apa yang ia pikirkan dengan kata-kata yang tepat.
Ara mendengus. "Itu aku juga tahu." Ia menutup kotak bekalnya sedikit lebih keras.
"Dari kecil aku jarang minum kopi. Bahkan masih bisa dihitung dengan jari kapan aku pernah minum kopi. Apalagi setelah aku punya sakit maag."
Dante yang tadinya melonggarkan tatapannya pada Ara, kembali menatap istrinya itu lebih lekat.
"Aku baru tahu kau punya maag." Suara Dante tidak dibuat-buat. Ia memang baru tahu Ara memiliki sakit yang berhubungan dengan lambung.
Ara mengangkat kepala. "Tidak semua orang harus tahu aku pernah sakit apa."
"Aku sungguh tidak tahu. Itu tidak tercatat dalam informasi yang Luca cari." Ada sekelumit penyesalan dalam nada suara Dante. Dan justru hal itu yang membuat Ara bingung. Tapi yang membuatnya marah, Dante mengumpulkan informasi tentang dirinya.
Kedua Alis Ara bertaut. "Kau menyelidiki ku?"
"Bagaimanapun kau istriku." Dante menjawab Ara dengan tenang. "Jadi wajar kalau aku mencari tahu tentangmu," imbuhnya memberi alasan.
Ara menatap wajah Dante, mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi dari ekspresinya. Pria itu selalu punya alasan. Selalu punya jawaban. Dan yang paling menyebalkan, jawabannya sering kali terdengar masuk akal.
"Aku bisa minum teh mulai sekarang," kata Dante melunak. "Kau tidak perlu membuat kopi kalau tidak ingin."
Ara menggeleng kecil. "Aku tidak mengatakan aku tidak ingin membuatkan mu kopi." Ia menatap pria itu sedikit lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu malam ini. Dante tidak menyinggung hukuman. Bahkan ketika mengetahui Ara memiliki maag, pria itu langsung menawarkan alternatif. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkannya?Apakah Dante mulai melunak? Ataukah ini hanya bagian dari rencana lain untuk menaklukkannya?
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada yang berbicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya Ara memecah keheningan.
"Kau tidak menghukumku kali ini?"
Dante mengangkat alis. "Menurutmu?"
"Aku tidak tahu. Makanya aku bertanya," ujar Ara to the point.
Jemari Dante mengetuk-ketuk permukaan meja perlahan. "Aku tidak perlu menghukum mu."
Ara mengernyit. "Aku masih tidak percaya."
Dante bersandar dan tatapan nya meneliti Ara dari atas ke bawah.
Ara memutar bola mata.
Beberapa detik kemudian Dante mengulurkan tangannya. "Berikan ponselmu."
Ara berkedip. "Aku tidak membawanya."
"Aku tidak akan mengulanginya! Berikan!" Nada suara Dante mendominasi. Ia kembali menjadi Dante yang Ara kenal selama ini.
"Ponsel itu aku tinggal di mansion. Kau mungkin sudah menemukannya," beber Ara berharap Dante telah melihat ponsel yang memang ia tinggalkan di laci sebelah ranjangnya.
Dante menatap dingin. "Ayolah, Ara." Nada suaranya berubah sedikit. "Jangan berbohong padaku."
"Aku tidak berbohong," bantah Ara tegas. Ia tetap tak mau mengaku. Ia sebenarnya memang memiliki dua ponsel. Satu ponsel memang ia sengaja tinggal di mansion. Itu ponsel sama yang setiap pagi selalu dimatikan alarmnya oleh Dante. Sedangkan yang ia bawa sekarang, ponsel lamanya, ponsel yang ia beli sendiri saat masih duduk di bangku SMA. Bahkan ayah ibunya pun tidak tahu keberadaan ponsel ini. Bagaimana Dante bisa tahu.
"Aku mengatakan kebenarannya." Ara bersikeras.
Dante menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau memelintir kebenarannya." Ia menghela napas. Ia mengamati perubahan ekspresi wajah Ara.
Ara mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Dante tidak menjawab. Ia hanya menatap Ara beberapa saat. Kemudian ia bangkit berdiri. Tubuhnya yang jangkung menjulang tinggi. Sangat mendominasi.
Ara mengikuti pergerakannya dengan mata.
"Teruskanlah berpura-pura bodoh dan aku akan—" Dante menghentikan kalimatnya sendiri. Ia berjalan mendekati Ara.
Refleks, Ara menegakkan tubuh. Kewaspadaannya meningkat. Namun ia tetap tidak mengantisipasi apa yang dilakukan Dante berikutnya.
Dalam satu gerakan cepat, Dante membungkuk dari belakang kursi dan meraih kedua tangan Ara.
Ara tersentak. "Dante!" teriaknya spontan.
Satu tangan Dante menahan kedua tangan Ara agar tidak bergerak. Tangan lainnya masuk ke saku celana Ara. Mata Ara langsung membesar.
"Heh! Apa yang kau lakukan?!" ronta Ara setengah berteriak.
Dante menarik sesuatu dari sana. Ponsel lama Ara. Ia mengangkat ponsel itu di depan wajah Ara. Tatapannya datar.
"Ponsel ini kusita." Dante mengucapkannya tanpa perasaan.
"Kembalikan!" ujar Ara meronta.
Namun Dante sudah memasukkan ponsel itu ke saku celananya sendiri.
"Berikan!" Ara berusaha meraih saku Dante.
Dante menahan kedua tangan Ara lagi. Ia mendekat, sedikit mendekap Ara. Suaranya turun menjadi bisikan di dekat telinga Ara.
"Bukankah ponselmu ada di mansion?" Dante menyeringai kecil.
Ara membeku. Beberapa detik kemudian wajahnya memerah karena kesal.
"Dante!" Seruan Ara terdengar sedikit lebih kasar.
Dante akhirnya melepaskan kedua tangan Ara. Ia berjalan kembali ke kursinya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia duduk santai di seberang Ara.
Ara segera menarik diri dan mengatur napas. Ia menatap murka ke pria itu. Baru setelah emosinya sedikit mereda, ia berkata lebih pelan. "Aku mohon. Kembalikan ponselku."
Dante mengangkat alis. "Aku tidak mengerti."
"Kau..." Ara menunjuknya dengan jari gemetar. "Kau benar-benar menyebalkan."
Dante justru tersenyum tipis. "Bukankah kau sudah sering mengatakan betapa menyebalkannya aku?!"
Ara mengembuskan napas panjang. Dante masih mengendalikannya.
"Kau sengaja. Kau sudah tahu tentang ponsel itu. Kau hanya mencari kesempatan untuk mengambilnya dariku," celoteh Ara mengeluarkan uneg-uneg nya.
Dante menyeringai sedikit lebih lebar.
"Kau memang mungkin 'kelihatan' tidak menghukum ku, tapi kau mematahkan sayap ku." Ara masih mengomel meluapkan amarahnya.
"Kau bisa mengatakan apapun yang kau mau istriku." Suara Dante terdengar jauh lebih ringan tapi ada intensitas dingin dan menusuk.
"Bagaimana kau tahu?" tuntut Ara masih belum menyerah.
"Akun belanja anonim," sahut Dante menghentikan penasaran Ara.
Ara terkesiap. Ia menyadari kebodohannya. Ia tanpa sadar telah meninggalkan jejak yang bisa dilacak Dante. Sekali lagi ia kalah telak dari suaminya sendiri. Dan kini ia jauh lebih buruk lagi. Ia sudah terikat pada janji. Tidak cerai. Tidak mencoba kabur lagi.
***