Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.
Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.
Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.
Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.
Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.
Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter-004
Bab 4: Tanpa Wajah
Kirana berhenti di depan pintu taman. Ia butuh sebuah cerita, dan sebuah raut wajah yang bisa membuat pria itu percaya.
Ia naik ke atas.
Ditutupinya bayangan gelap di bawah matanya, lalu ditambahkannya sedikit pemerah pipi. Riasan berlebihan akan terlihat disengaja. Ia harus tampak malu, bukan seolah sudah bersiap untuk bertengkar.
Kirana mencondongkan tubuh ke arah cermin.
"Kamu lihat sesuatu yang menjijikkan di internet," katanya kepada bayangannya sendiri. "Kamu kirim tanpa sengaja. Kamu malu. Sudah, itu saja."
Ia mengulanginya sekali lagi. Kali kedua terdengar lebih meyakinkan.
Sejak kecil ia sudah belajar cara terlihat menyesal tanpa mengaku terlalu banyak.
Dulu, waktu Gunawan pertama kali membawa Wanda dan Kirana yang baru berusia sepuluh tahun ke kediaman Adiwijaya, Tante Yohana membungkuk sejajar dengan tinggi Kirana dan bicara dengan kelembutan yang luar biasa.
Kamu boleh tinggal di sini. Kamu boleh memakai nama keluarga ini. Tapi ini berat buat Rosalia. Jangan kamu bikin semakin berat untuknya.
Tante Yohana mengucapkannya sambil menaruh tangan di bahu Kirana. Tak seorang pun membantah.
Kirana mengingat nada bicara itu sama cermatnya seperti ia mengingat kata-katanya.
Ketika ia turun, Bram sedang bermain catur dengan Kakek, dan Gunawan berada di ruang kerjanya. Krisna masih di taman belakang. Kirana menemukannya di dekat pagar tanaman, sendirian.
Ia menunggu di dekat pintu kaca. Krisna tampak tak terburu-buru pergi ke mana pun. Kirana sudah cemas sepanjang pagi, sementara pria itu seolah lupa Kirana pernah ada.
Kirana melangkah keluar.
"Pak Krisna."
Krisna melirik lewat bahunya. "Kirana."
Suaranya persis seperti semalam.
"Ada waktu sebentar?"
"Untuk apa?"
Kirana sudah melatih permintaan maaf. Sekarang ia harus mulai dari hal yang menjadi alasan ia datang meminta maaf. "Soal semalam."
"Ada apa dengan semalam?"
Jadi Krisna sudah melihatnya. Atau ia menunggu Kirana mengaku sendiri apa yang telah diperbuatnya.
Kirana berhenti di sisi pagar batu. Lewat jendela perpustakaan, ia bisa melihat Bram membungkuk di atas papan catur. Ia merendahkan suaranya.
"Foto itu bukan fotoku."
Krisna tak berkata apa-apa.
Pria itu berniat memaksanya menjelaskan semuanya.
Kirana tertawa gugup. "Ini memalukan. Aku sedang buka situs dewasa dan lihat seorang model yang agak mirip aku. Kupikir lucu, jadi kusimpan fotonya buat dikirim ke Bram. Lalu malah terkirim ke kamu. Ya jelas begitu."
Satu alis gelap Krisna terangkat mendengar kata jelas.
"Wajahnya bahkan tak kelihatan," Kirana menambahkan. "Bisa siapa saja."
Perhatian Krisna sejenak jatuh ke kerah tinggi blus Kirana.
Kirana ingin memeriksa kancing atasnya. Ia menahan kedua tangannya di sisi tubuh.
"Maaf kamu sampai lihat itu," katanya. "Tapi aku akan berterima kasih kalau kamu menghapusnya."
Krisna diam.
Kirana membiarkan dirinya tampak terluka. Biasanya itu membuat orang enggan mendesaknya. Ia mengamati wajah pria itu, siap mengubah ceritanya begitu ia tahu bagian mana yang diragukan Krisna.
"Modelnya," ujar Krisna akhirnya.
Kirana menunggu.
"Dia juga punya empat tahi lalat di sepanjang tulang selangkanya?"
Setiap cerita yang telah ia siapkan lenyap.
Kirana menyilangkan lengan menutupi dadanya. Mata Krisna mengikuti gerakan itu, dan Kirana pun sadar apa yang baru saja ia lakukan.
Empat tahi lalat. Ia mengkhawatirkan wajahnya, kamar, apa pun yang bisa mengenali dirinya. Ia tak pernah terpikir soal tahi lalat itu.
Namun Krisna memperhatikannya. Ia melihat sedetail itu.
Blus Kirana terkancing rapat sampai ke leher, tapi ia tak sanggup menurunkan lengannya. Di balik kaca, Bram menggeser satu bidak catur.
"Kamu—" Suaranya tercekat. Ia mencoba lagi. "Kamu memeriksanya?"
"Kamu yang mengirimnya kepadaku."
"Tanpa sengaja."
"Begitu katamu."
Bagian itu pun tak dipercayainya.
Dengan susah payah Kirana menurunkan lengannya. "Kamu berencana memberitahu Kak Rosa?"
"Tidak."
Kirana mencari-cari di wajah pria itu. Krisna tampak sungguh-sungguh.
"Bram?"
"Tidak."
"Kalau begitu hapus."
"Kalau kamu tak keluar ke sini hari ini, aku tak akan mempermalukanmu dengan menunjuk kebohonganmu," kata Krisna. "Apa pun maksudmu, akan kuanggap seolah ini tak pernah terjadi."
"Itu tak sama dengan menghapusnya."
Krisna berbalik menuju rumah tanpa menjawab.
Kirana tetap berdiri di dekat pagar batu sampai Krisna hilang ke dalam.
Bram tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan Kakek. Beberapa menit lagi ia akan mencari Kirana, dan Kirana harus berpura-pura baru saja melewati pagi yang biasa.
Ia menyentuh kerah blusnya. Selama ini Krisna tahu ia berdiri di sana mempermalukan diri sendiri.
Kirana geram pada pria itu. Namun ia terus kembali pada satu kenyataan: Krisna mengingat sebuah detail yang tak pernah sekali pun disebut oleh Bram.
Kirana membuka kunci ponselnya. Kalau ia tak bisa memperoleh jawaban jujur di sini, ia akan mengatur pertemuan di tempat lain.