"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sumpah Darah
Gemeletuk gigi Hayam Vira terdengar lebih keras dari tetesan air di dinding gua.
Demam itu sudah pecah sebelum tengah malam lewat. Keringat yang tadi membanjiri tubuhnya kini mengering di kulit, meninggalkan lapisan dingin yang lengket. Dan udara gua kapur, yang siang tadi pasti terasa sejuk di tengah kemarau, kini merayap masuk ke dalam tulang.
Dyah Ayu menyentuh dadanya. Dingin. Ia menyentuh lehernya. Lebih dingin lagi.
Jemari Raja itu kaku dan pucat di ujung-ujungnya. Bibirnya, yang tadi mulai kembali berwarna, kini membiru lagi. Bukan karena racun. Karena tubuhnya yang kehilangan terlalu banyak darah sudah tidak sanggup menghangatkan dirinya sendiri.
Orang yang selamat dari racun bisa mati karena dingin sebelum subuh, kata ibunya. Tubuhnya sudah lupa cara menyalakan api di dalam.
Tidak ada kayu bakar kering di dalam gua. Dan nyala api sekecil apa pun akan terlihat dari bibir tebing.
***
Di dekat mulut gua, di antara juntaian akar, Dyah Ayu tadi melihat sekelompok tanaman berdaun lanset panjang tumbuh di tanah lembap. Ia merangkak ke sana dalam gelap, meraba-raba, menggali dengan jari. Rimpang kecil yang keras dan berkerut.
Ia mematahkan satu. Bau tajam dan pedas langsung menyengat hidungnya.
Jahe hutan.
Ia mengunyahnya sendiri lebih dulu, sampai rimpang itu hancur menjadi serat-serat basah di mulutnya dan lidahnya terasa terbakar. Lalu ia kembali ke sisi Hayam Vira, menyangga kepalanya, dan menyuapkan kunyahan itu ke mulutnya dengan ujung jari.
"Telan."
Raja itu menelan dengan susah payah. Ia terbatuk, mengernyit oleh rasa pedasnya.
Itu tidak cukup.
Dyah Ayu menatap tubuh yang menggigil di lantai batu itu. Lalu ia melepas kain jarik luarnya yang setengah basah. Ia membentangkan selendang perak dan sisa kain itu di atas tubuh Raja, lalu menyusup ke bawahnya. Ke sisi Hayam Vira yang tidak terluka.
Ia menempelkan tubuhnya ke tubuh lelaki itu.
Kulit lengannya menyentuh kulit dada yang dingin dan lengket. Bahunya merapat ke ketiak Raja itu, menyesuaikan diri dengan lekuk tubuh yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Ia melingkarkan satu lengan di atas perut Hayam Vira, menghindari balutan di bahunya, dan menyelipkan kakinya yang telanjang di antara kaki lelaki itu yang dingin seperti batu kali.
Gigilan Raja itu merambat ke tubuhnya sendiri. Setiap guncangan. Setiap gemeletuk gigi.
Dyah Ayu memejamkan mata dan bernapas pelan. Ia membiarkan panas tubuhnya mengalir.
***
Butuh waktu lama.
Ia tidak tahu berapa lama. Bulan sudah menghilang dari celah langit-langit gua. Kegelapan menjadi begitu pekat sampai ia hanya bisa mengenali tubuh di sebelahnya dari sentuhan, dari bau cendana yang hampir hilang di bawah bau darah dan tanah basah.
Gigilan itu perlahan mereda. Dari guncangan keras, menjadi getaran halus, lalu hanya sesekali, seperti sisa-sisa ombak.
Lalu Dyah Ayu merasakan dada di bawah telapak tangannya mulai hangat. Napas Raja itu memanjang, lebih dalam. Detak jantungnya kembali menemukan irama.
Dan ia merasakan sesuatu yang lain. Kepala Hayam Vira bergerak, menoleh ke arahnya. Napasnya kini menyapu dahi Dyah Ayu. Hangat, berbau jahe.
"Kau masih di sini," gumamnya.
Suaranya serak, tetapi jernih. Tidak lagi meracau.
"Gusti hampir mati karena kedinginan."
"Aku tahu." Jeda panjang. "Aku bisa merasakan setiap tulang rusukmu menekan tubuhku. Kau terlalu kurus, Selirku. Seseorang di Keputren tidak memberimu makan dengan benar."
"Seseorang di Keputren memberi hamba sup Sembilu."
Dada di bawah telinganya bergetar. Tawa yang ditahan, yang berakhir dengan desisan karena bahunya yang terluka.
Lalu sunyi lagi. Hanya tetesan air dari dinding.
"Apa yang kukatakan tadi?" tanya Hayam Vira pelan. "Saat demam."
Dyah Ayu menatap kegelapan. Jemarinya yang melingkar di perut lelaki itu tidak bergerak.
Aku melihat siapa yang membawanya setiap malam.
"Gusti memberi perintah pada sayap kiri," ucapnya. "Dan melarang seseorang membakar lumbung."
Hayam Vira tidak menjawab. Tetapi Dyah Ayu merasakan otot di perutnya menegang, lalu perlahan mengendur. Ia tahu Raja itu tidak sepenuhnya percaya.
Ia juga tahu Raja itu memilih untuk tidak bertanya lagi.
***
Cahaya pertama yang masuk ke dalam gua bukanlah cahaya fajar.
Itu cahaya kelabu yang sangat samar, yang membuat bentuk-bentuk mulai muncul dari kegelapan. Garis rahang. Lekuk bahu. Mata hitam yang ternyata sudah terbuka sejak tadi, menatapnya dari jarak sejengkal.
Hayam Vira menggerakkan tangannya yang tidak terluka. Meraba-raba di lantai batu di samping mereka, sampai jemarinya menemukan gagang naga emas.
Dyah Ayu tidak bergerak. Ia memperhatikan belati itu terangkat, bilahnya berkilau samar dalam cahaya kelabu.
Raja itu membalik telapak tangan kirinya sendiri. Lalu menarik bilah belati melintang di atasnya. Pelan. Tidak dalam. Garis tipis merah muncul, lalu menggenang di cekungan telapak tangan.
"Ulurkan tanganmu."
Dyah Ayu mengulurkan tangan kanannya. Telapak menghadap ke atas.
Hayam Vira menyerahkan belati itu kepadanya. Gagangnya hangat oleh genggamannya.
Ia menatap Raja itu. Lalu menorehkan bilah itu di telapak tangannya sendiri. Perihnya tajam dan bersih, jauh lebih ringan daripada luka-luka di kakinya dan lengannya yang melepuh oleh sutra.
Hayam Vira menyatukan telapak tangan mereka.
Darahnya hangat. Lebih hangat dari kulitnya. Dyah Ayu merasakannya bercampur dengan darahnya sendiri, licin di antara jemari mereka yang kini terkunci erat.
"Dengarkan aku, Dyah Ayu dari Watugaluh."
Suaranya pelan, tetapi tidak lagi suara orang sakit. Suara yang sama yang memerintahkan barisan tombak dan memenggal kepala di depan leluhur.
"Mulai fajar ini, kau tidak boleh mengkhianatiku. Dan kau tidak boleh mati di tangan siapa pun selain tanganmu sendiri, atau tanganku." Jemarinya mengencang. "Sebagai gantinya, setiap pedang di Kagendra adalah perisaimu. Setiap pedang. Adikmu tidak akan disentuh. Orang-orang Watugaluh tidak akan lagi tidur di kandang. Dan siapa pun yang mengangkat tangan ke arahmu, mengangkat tangan ke arah takhtaku."
Dyah Ayu menatap matanya. Ia tidak menemukan kebohongan di sana. Ia juga tidak menemukan kelembutan. Hanya sesuatu yang keras dan pasti, seperti batu kapur di bawah tubuh mereka.
"Dan kalau hamba melanggarnya?"
"Maka aku sendiri yang akan menagihnya." Ibu jarinya bergerak di atas punggung tangan Dyah Ayu. "Dengan cara yang sama kau menagih utangku pada Watugaluh."
Dyah Ayu menarik napas.
"Hamba bersumpah," ucapnya. "Demi darah ayah hamba. Demi abu ibu hamba." Ia menekan telapak tangannya lebih erat ke telapak tangan Raja itu, sampai ia bisa merasakan denyut nadi mereka berdua berdetak di sana. "Demi nama yang terukir di belati ini."
Hayam Vira menatap belati di lantai batu. Aksara Kawi itu basah oleh darah mereka.
Sesuatu bergerak di wajahnya. Sangat sebentar, lalu hilang.
***
Ia tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.
Mungkin Hayam Vira mengangkat kepalanya sedikit dari lantai batu. Mungkin dirinya sendiri, yang tidak mundur ketika napas lelaki itu menyentuh bibirnya. Jarak sejengkal menjadi sejari. Lalu tidak ada jarak sama sekali.
Ciuman itu tidak lembut.
Bibir Raja itu pecah-pecah dan kering, berbau darah dan jahe hutan. Bibirnya sendiri masih sedikit kebas di sudut kanan, masih menyimpan sisa pahit racun Seta yang tidak mau hilang. Rasa itu bercampur di antara mereka. Asin. Pedas. Pahit. Besi.
Tangan Hayam Vira yang tidak terluka naik ke tengkuknya, jari-jarinya menyusup ke rambutnya yang kusut. Tidak menekan. Tidak memaksa. Hanya menahan, seolah takut ia akan menghilang ke dalam gelap gua.
Dyah Ayu mencengkeram sisa kain di dada Raja itu. Tangannya yang masih bertaut dengan tangan Hayam Vira mengencang. Darah di antara telapak mereka sudah mulai lengket dan mengering.
Untuk pertama kalinya sejak pedati tawanan melewati gerbang ibu kota, ia tidak menghitung napasnya.
Ketika akhirnya mereka berhenti, dahinya bersandar di dagu lelaki itu. Napas mereka berdua tersengal, berbaur, hangat di udara gua yang dingin.
Belati naga emas tergeletak di lantai batu. Sejengkal dari tangan Dyah Ayu. Sejengkal dari tangan Hayam Vira.
Tidak ada yang meraihnya.
"Tidurlah," gumam Raja itu ke dalam rambutnya. "Satu jam saja. Aku sudah tidak bisa mati malam ini. Kau sudah melarangku."
Dyah Ayu ingin membantah. Tetapi tubuhnya yang sudah tidak tidur dua malam, yang sudah muntah darah, yang sudah menyeret seorang lelaki berzirah menuruni tebing, akhirnya menyerah.
Ia memejamkan mata dengan kepala di dada Raja yang membakar rumahnya.
***
Yang membangunkannya adalah bunyi logam.
Dentang sepatu besi di atas batu. Bukan satu. Puluhan. Berderap di sepanjang bibir tebing di atas mereka, lalu mulai menuruni jalan setapak kambing. Kerikil-kerikil berjatuhan, melewati mulut gua, menggema ke dalam jurang.
Suara-suara. Teriakan dalam bahasa Kagendra, bersahut-sahutan.
"Di sini! Ada darah di batu!"
"Sinuwun! Gusti Prabu!"
Cahaya fajar kini sudah masuk melalui celah langit-langit gua, jatuh dalam garis-garis keemasan di atas lantai batu. Di atas tangan mereka yang masih bertaut. Di atas belati yang berlumur darah kering.
Dyah Ayu mengangkat kepalanya. Hayam Vira juga sudah terjaga. Lengannya masih melingkari punggung Dyah Ayu, dan tidak melepaskannya.
Bunyi langkah itu berhenti tepat di luar gua.
Seseorang menyibak juntaian akar di mulut gua dengan ujung tombak. Cahaya fajar yang tadi mengalir masuk tiba-tiba terputus, terhalang oleh sesosok tubuh tinggi yang berdiri membelakangi matahari.
Dyah Ayu mengenali bentuk kepala itu sebelum mengenali yang lainnya.
Topeng kayu hitam. Ukiran wajah raksasa bertaring.
Sosok itu berdiri membeku di ambang gua. Ia tidak bergerak. Ia tidak memanggil yang lain. Ia hanya menatap ke dalam, ke arah lantai batu, ke arah dua tubuh yang saling mendekap di bawah selendang perak, dengan telapak tangan yang masih bertaut dalam darah.
Tangan yang memegang tombak itu gemetar.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..