Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Aliansi yang Terbakar
Kabut tipis menyelimuti pelataran paviliun barat kediaman Duke Killian saat fajar menyingsing. Elena berdiri di dekat jendela besar, menatap keluar dengan tatapan kosong, meski pikirannya berputar begitu cepat. Di tangannya, selembar surat berkode rahasia dari informan setianya baru saja selesai dibakar, menyisakan abu hitam yang jatuh ke lantai marmer.
Informasi itu sangat tepat, sama persis dengan apa yang terjadi di kehidupan pertamanya. Gavin, pria yang saat ini masih berstatus sebagai tunangannya, tengah merencanakan sebuah pertemuan rahasia di sebuah rumah teh di pinggiran ibu kota. Pertemuan itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan awal dari jalinan perselingkuhannya dengan Misha, adik tiri Elena yang berhati ular.
Di kehidupan lalu, Elena adalah wanita naif yang menganggap pertemuan-pertemuan mencurigakan Gavin hanyalah urusan bisnis kekaisaran. Dia bahkan dengan sukarela mendanai segala pergerakan pria itu. Namun sekarang, setiap jengkal ingatan masa lalu adalah belati yang siap ia tancapkan kembali ke dada mereka yang telah mengkhianatinya.
"Anda bangun terlalu pagi, Nona Muda." Sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan kamar.
Elena tidak terkejut. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu yang sering kali muncul tanpa suara seperti bayangan maut. Elena membalikkan badannya perlahan, menatap sesosok pria tinggi dengan jubah hitam bersulam benang perak. Duke Killian berdiri di dekat pintu, sepasang mata merahnya yang tajam menatap Elena dengan ketertarikan yang tidak disembunyikan. Pria yang dijuluki sebagai tirani berdarah dingin kekaisaran itu melangkah maju, membiarkan bunyi sepatunya bergema pelan.
"Saya memiliki jadwal yang padat hari ini, Duke," jawab Elena tenang, tanpa ada nada gemetar sedikit pun di suaranya. Sifat inilah yang membuat Killian setuju untuk menjalin aliansi dengannya sejak awal. Kebanyakan wanita akan pingsan atau menangis ketakutan hanya dengan menatap mata sang Duke, namun Elena menatapnya seolah mereka adalah dua pemangsa yang sedang berbagi wilayah.
Killian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai predator. "Jadwal padat? Ataukah tikus-tikus kecil Anda akhirnya mulai bergerak?"
Elena berjalan menuju meja riasnya, mengambil sepasang anting permata rubi berwarna merah darah—warna yang sama dengan mata Killian. "Tikus-tikus itu tidak hanya bergerak, Your Grace. Mereka sedang bersiap untuk menggali lubang kubur mereka sendiri. Dan saya di sini hanya untuk memastikan mereka tidak salah memilih tanah."
Killian mendekat, mengambil anting-anting itu dari tangan Elena sebelum wanita itu sempat mengenakannya. Jemari Killian yang besar dan dingin menyentuh daun telinga Elena dengan kelembutan yang kontras dengan reputasinya yang kejam. Dia memasangkan anting itu dengan perlahan, sementara matanya tetap mengunci pandangan Elena.
"Katakan padaku, Elena," bisik Killian, suaranya rendah dan menggetarkan udara di antara mereka. "Apa yang ingin kau lakukan pada tunangan tercintamu itu? Apakah kau ingin aku memenggal kepalanya hari ini juga? Itu akan sangat mudah."
"Tidak," jawab Elena tegas, merasakan desiran dingin dari sentuhan Killian. "Kematian yang cepat adalah sebuah anugerah, Duke. Gavin tidak pantas mendapatkannya. Saya ingin dia naik setinggi mungkin, merasakan kepuasan sesaat di puncak dunia, sebelum saya menarik fondasinya dan membiarkannya hancur berkeping-keping hingga tidak ada yang tersisa."
Killian tertawa pelan, suara tawanya terdengar berbahaya namun penuh kepuasan. "Sungguh wanita yang kejam. Aliansi ini benar-benar keputusan terbaik yang pernah kuambil."
Beberapa jam kemudian, sebuah kereta kuda tanpa lambang keluarga berhenti di sudut jalan yang sepi, tidak jauh dari Rumah Teh Merpati Putih. Elena turun dengan mengenakan gaun beludru berwarna biru tua yang anggun, dilengkapi dengan jubah bertudung untuk menyembunyikan wajahnya. Di sampingnya, Killian mendampingi dengan pakaian penyamaran yang serupa, meski aura dominan yang dipancarkannya tetap sulit untuk disembunyikan.
Mereka memasuki rumah teh melalui pintu belakang yang telah diatur oleh pelayan yang telah disuap oleh Elena. Di kehidupan masa lalunya, tempat ini adalah saksi bisu di mana Gavin dan Misha menertawakan kebodohan Elena. Hari ini, tempat ini akan menjadi awal dari kejatuhan mereka.
Elena dan Killian berada di kamar sebelah, hanya dibatasi oleh sebuah dinding kayu yang memiliki celah kecil tersembunyi. Dari celah itu, Elena bisa melihat dengan jelas sosok Gavin yang duduk dengan tidak sabar. Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka, dan muncullah Misha dengan gaun sutra merah muda yang tampak polos namun memikat.
"Gavin..." suara Misha terdengar manja, langsung menghambur ke pelukan Gavin begitu pintu tertutup.
Elena mengepalkan tangannya di balik jubah. Melihat wajah kedua orang itu membuat darahnya mendidih. Rasa sakit saat putranya yang masih kecil dibantai dan tubuhnya sendiri dibakar hidup-hidup di sel bawah tanah seakan kembali berdenyut. Detak jantungnya berpacu cepat, dan napasnya memburu.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menggenggam tangan Elena yang terkepal. Elena menoleh dan mendapati Killian sedang menatapnya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut sang Duke, namun kekuatan dari genggaman tangannya seolah menyalurkan ketenangan yang luar biasa. Genggaman itu mengingatkan Elena bahwa dia tidak lagi sendirian, dan dia bukan lagi Elena yang lemah di masa lalu. Elena menarik napas dalam-dalam, menenangkan emosinya, dan kembali fokus pada targetnya.
Di kamar sebelah, Gavin membelai rambut Misha dengan mesra. "Sabar, Sayangku. Elena si bodoh itu masih sangat mempercayaiku. Dia baru saja memberikan hak pengelolaan beberapa tambang permata keluarganya kepadaku. Begitu aku mendapatkan seluruh pengaruh dan harta keluarganya untuk naik takhta menjadi Kaisar, aku akan menyingkirkannya dan menjadikanmu satu-satunya Permaisuriku."
Misha tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di dada Gavin. "Aku tahu kau bisa diandalkan, Gavin. Tapi bagaimana dengan Duke Killian? Kudengar Elena akhir-akhir ini sering terlihat berada di sekitar paviliunnya. Apakah wanita jalang itu mencoba mencari perlindungan lain?"
Gavin mendengus meremehkan. "Killian? Monster berdarah dingin itu tidak akan pernah tertarik pada wanita naif dan membosankan seperti Elena. Paling-paling, Elena hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat. Begitu urusan selesai, Killian pasti akan membuangnya seperti sampah. Kita tidak perlu mengkhawatirkan monster itu."
Mendengar ucapan Gavin, Killian yang berada di kamar sebelah menyipitkan matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sangat mengerikan. Aura membunuh yang pekat tiba-tiba memenuhi ruangan kecil tempat mereka bersembunyi.
Elena segera menyentuh lengan Killian, memberikan isyarat agar pria itu menahan diri. "Biarkan dia menggonggong sedikit lebih lama, Your Grace. Semakin tinggi kesombongannya, semakin sakit saat dia terjatuh nanti."
Killian menatap Elena, lalu aura membunuhnya perlahan mereda. "Kau beruntung memiliki kesabaran yang luar biasa, Elena. Jika bukan karena rencana yang kau susun, lidah pria itu sudah berada di lantai sekarang."
"Kesabaran adalah kunci dari balas dendam yang sempurna," bisik Elena dengan mata yang berkilat dingin.
Di kamar sebelah, Gavin dan Misha terus melanjutkan pembicaraan mereka, menyusun rencana untuk perlahan-lahan meracuni pikiran ayah Elena agar mengalihkan seluruh warisan keluarga kepada Misha. Mereka tidak pernah tahu bahwa setiap kata, setiap rencana, dan setiap pengkhianatan yang mereka ucapkan telah dicatat dengan rapi oleh informan Elena untuk digunakan di pengadilan kekaisaran kelak.
Sore harinya, setelah kembali ke kediaman Duke, Elena langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Peta politik kekaisaran terbentang luas di atas meja besar. Beberapa nama pejabat tinggi telah dicoret dengan tinta merah—tanda bahwa mereka adalah kaki tangan Gavin yang sudah berhasil disingkirkan atau dibeli oleh Elena dan Killian.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan, dan Killian masuk membawa dua gelas anggur merah. Dia meletakkan satu gelas di depan Elena, lalu bersandar pada tepi meja, menatap peta yang penuh dengan coretan tersebut.
"Pergerakanmu sangat cepat," komentar Killian sambil menyesap anggurnya. "Dalam waktu kurang dari satu bulan, kau telah memotong jalur pasokan dana Gavin dari tiga bangsawan wilayah selatan."