NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — RAMAINYA TOKO DAN SISIK HITAM

Enam bulan berlalu sejak malam penetapan sajen kambing kendit di puncak bukit.

Toko kelontong kami yang dulunya kecil kini telah berubah menjadi toko grosir terbesar di desa.

Halaman depan rumah panggung kami kini setiap hari dipadati puluhan mobil bak distributor kota.

Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk tetap menyengat pekat dari sela-sela tumpukan karung beras.

Aku membongkar papan kayu penutup toko dengan tangan kiri yang memegang selot besi.

Lengan tangan kananku sengaja kututupi rapat memakai kemeja lengan panjang dan balutan perban tebal.

Sreeek!

Suara pintu pagar bambu depan toko digeser kasar oleh rombongan pembeli pertama pagi ini.

Pak Karso dan puluhan warga dari desa tetangga melangkah masuk mendekati meja kasir kayu.

“Pagi sekali sudah datang belanja grosir ke toko saya, Pak Karso?” sapaku tersenum ramah.

“Saya mau beli beras seratus kilo sama minyak goreng lima dus, Surya,” kata Pak Karso datar.

“Suara bicaramu kok terdengar sangat lesu dan kaku sekali pagi ini, Pak Karso?” tanyaku heran.

“Entah kenapa kalau sehari tidak belanja ke tokomu ini, badanku rasanya gatal dan gemetar, Surya,” jawabnya.

“Padahal uang di dompetku sudah habis bersih, tapi kakiku melangkah sendiri ke sini,” lanjut Pak Karso.

“Mungkin ini karena barang-barang di toko saya selalu segar dan murah, Pak Karso,” kelitku berbohong.

Aku segera menyendok beras dari karung goni besar ke dalam kantong plastik tebal.

Namun betapa terkejutnya aku saat melihat butiran beras di dalam karung itu memancarkan pendar keabu-abuan.

“Ada apa dengan warna beras di karung itu, Surya?” tanya Pak Karso memperhatikan gerak-gerikku.

“Tidak ada apa-apa, Pak Karso, ini cuma beras jenis baru distributor kota,” kelitku berbohong cepat.

Pak Karso menyerahkan tumpukan uang kertas lima puluh ribuan ke atas meja kasir kayu.

Begitu jemari tangan kiriku tersenggol uang kertas itu, rasa dingin menusuk tulang membekukan kulit.

Noda hitam berbentuk batu nisan di bawah kuku ibu jari tangan kananku berdenyut-denyut kencang.

Hawa dingin merambat naik dari jempol tangan kanan menembus pergelangan hingga ke bahu dadaku.

“Terima kasih banyak ya, Pak Karso,” ucapku sambil menahan rasa menggigil hebat di dada.

“Sama-sama, Surya, besok pagi saya pasti datang belanja borongan lagi ke tokomu ini,” sahutnya kaku.

Pak Karso dan warga desa tetangga membawa belanjaan mereka, berbalik pergi meninggalkan toko.

Ningsih melangkah keluar dari dalam rumah panggung membawa gelang emas tebal di pergelangan tangannya.

Istriku kini memakai perhiasan emas dan pakaian bagus hasil keuntungan melimpah toko grosir kami.

Namun raut wajah Ningsih tetap terlihat sangat cemas setiap kali menatap lengan kanan kemejaku.

“Mas... kenapa lengan tangan kananmu selalu kamu balut kain perban tebal sepanjang hari?” tanya Ningsih.

“Tangan kananku cuma terkena gatal-gatal kulit akibat debu goni karung beras, Ningsih,” jawabku berbohong.

“Coba aku buka balutan perban di lenganmu itu, Mas, biar aku olesi salep obat,” tawar Ningsih.

“Tidak usah, Ningsih, salep obatnya sudah kuoleskan sendiri tadi subuh di kamar,” kelitku menolak.

Aku sengaja melangkah mundur menghindari raihan tangan istriku yang hendak memeriksa lengan kananku.

Ningsih menatapku dengan mata penuh rasa curiga dan ketakutan yang sangat dalam.

“Uang hasil toko grosir kita sekarang melimpah puluhan juta rupiah setiap minggu, Mas,” kata Ningsih.

“Tapi kenapa aura rumah dan toko kita makin hari makin dingin seperti kamar mayat?” bisiknya menangis.

“Jangan terlalu banyak berpikir buruk, Ningsih, yang penting keluarga kita tidak kekurangan lagi,” hiburku.

“Tolong bantu aku merapikan tumpukan kardus minyak goreng di sudut rak itu, Ningsih,” pintaku.

Ningsih menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati deretan kardus minyak goreng di rak kayu.

Namun baru melangkah tiga pijakan, Ningsih memekik kaget sambil menutup hidungnya erat-erat.

“Mas! Kenapa minyak goreng di dalam botol ini baunya seperti wangi bunga kamboja busuk?” jerit Ningsih.

Aku bergegas mendekati Ningsih, melihat cairan minyak goreng kuning emas di dalam botol kaca.

Cairan minyak goreng itu tampak agak keruh dan memancarkan pendar kebiruan redup di dalam botol.

“Ini cuma aroma minyak goreng kelapa asli distributor kota, Ningsih,” jawabku berbohong menenangkan.

“Tapi pembeli tidak ada yang komplain masalah bau minyak ini kan, Ningsih?” lanjutku membujuk.

“Pembeli memang seperti orang terhipnotis yang memborong tanpa mencium baunya, Mas!” amuk Ningsih.

“Tapi aku takut uang melimpah ini memakan raga dan keselamatan keluarga kita!” jerit Ningsih terisak.

Aku diam membisu, tidak sanggup memberikan jawaban atas kemarahan dan kecemasan jujur istriku.

Kotak kasir kayu di atas meja penuh sesak oleh tumpukan uang kertas pecahan seratus ribu rupiah.

Setiap minggunya, keuntungan toko grosir kami mencapai puluhan juta rupiah tanpa pernah surut.

Namun di balik kejayaan uang melimpah itu, penderitaan ragaku kian menyiksa batin dan jiwa.

Srik!

Suara gersak dedaunan kering di samping teras toko membuatku terkejut setengah mati dan berdiri.

Ujang melangkah keluar dari balik rimbunan pohon pisang liar dengan raut wajah sangat tegang.

“Surya! Apakah kamu merasai perkembangan noda nisan di lengan tangan kananmu hari ini?” tanya Ujang.

“Noda nisan di kuku jempolku makin berdenyut dingin menyengat sampai ke bahu, Jang,” jawabku pelan.

Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke meja kasir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan sepi.

“Kamu harus berhati-hati, Mas, pendar nisan itu tanda kalau penunggu makam menagih janji!” bisik Ujang.

“Janji sajen apa lagi yang ditagih oleh penunggu Makam Keramat Panjang, Jang?” tanyaku tegang.

“Toko grosirmu sekarang sudah menjadi yang terbesar di lima desa tetangga, Mas,” jelas Ujang.

“Karena keuntungan tokomu makin melimpah, sajen Selasa Kliwon lusa ditingkatkan tingkatnya!” tambah Ujang.

Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penetapan sajen baru yang disampaikan oleh Ujang.

“Sajen apa lagi yang wajib kubawa ke bukit makam keramat Selasa Kliwon lusa, Jang?” tanyaku.

“Kamu wajib membawa satu ekor kerbau hitam mulus dan empat puluh sembilan bunga kantil!” tegas Ujang.

“Kerbau hitam mulus dan empat puluh sembilan bunga kantil?” tanyaku dengan suara tercekat.

“Iya, Mas! Sajen kerbau hitam itu adalah bukti pengikat kejayaan toko grosirmu tahap tiga!”

“Di mana aku bisa mendapatkan kerbau hitam mulus dalam waktu dua hari, Jang?” tanyaku panik.

“Simbah sudah menyiapkan kerbau hitam itu di rumah panggungnya di hutan bambu, Mas,” jawab Ujang.

“Kamu cuma perlu menyerahkan uang sepuluh juta rupiah buat biaya pembelian kerbau itu,” tambahnya.

“Apakah uang hasil penjualan toko grosir ini boleh dipakai buat membayar kerbau itu, Jang?” tanyaku.

“Tentu saja boleh, Mas, uang itu memang hasil pemberian tuah Makam Keramat Panjang!” tegas Ujang.

“Ingat baik-baik, jangan pernah mencoba menunda atau membatalkan sajen kerbau ini!” ancam Ujang.

“Kalau kamu alpa... sisik hitam di lenganmu akan menjalar menembus jantung dadamu!” ancamnya keras.

Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan ancaman Ujang.

“Baiklah, Jang, aku pasti akan menyerahkan uang sepuluh juta rupiah itu sore ini,” janji pasrahku.

“Baguslah kalau kamu paham, siapkan uangnya dan temui Simbah sore ini di hutan bambu!” pesan Ujang.

Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah jalan menuju kendaraan sepeda motornya.

Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.

Aku berjalan masuk ke dalam kamar tidur, melepaskan gulungan perban kain di lengan tangan kananku.

Di bawah pendar redup lampu minyak, pemandangan mengerikan pada tangan kananku terlihat jelas.

Seluruh permukaan kulit lengan kanan saya dari jempol hingga ke siku telah tertutup sisik hitam.

Sisik hitam itu tebal dan keras bagaikan kulit bangkai ular mati, memancarkan pendar kebiruan redup.

Ujung-ujung sisik hitam itu menancap dalam ke dalam jaringan dagingku, terasa sangat dingin membekukan.

“Astagfirullahaladzim... lengan tanganku benar-benar sudah berubah menjadi sisik bangkai...” bisikku menangis.

Aku mengusap lelehan air mata di pipiku menggunakan tangan kiri yang masih berkulit normal.

Rasa nyeri dingin dari sisik hitam itu menyengat hebat setiap kali dadaku membayangkan masa depan.

Aku terikat abadi dalam perangkap pesugihan gaib yang perlahan-lahan menggerogoti raga manusia milikku.

Sore harinya pukul lima tepat, aku memacu sepeda motor tua menuju rumah panggung Simbah di hutan bambu.

Aku membawa kantong goni berisi sepuluh juta rupiah tunai hasil penjualan toko grosir kami.

Suara raungan mesin motor tua saya memecah keheningan hutan bambu yang gelap dan lembap.

Setibanya di halaman rumah panggung Simbah, aroma bau kemenyan dan melati busuk menyengat pekat.

Simbah duduk bersila di atas lantai kayu teras rumah panggungnya, menghisap rokok klembak menyan.

“Kamu datang membawa uang sepuluh juta rupiah buat sajen kerbau hitam itu, Surya?” tanya Simbah.

Suara bicara Simbah terdengar sangat serak berat, bagaikan gesekan dua batu nisan tua di pekuburan.

“Saya datang membawa uang sepuluh juta rupiah utuh buat biaya sajen kerbau, Mbah,” sahutku menunduk.

Aku menyerahkan kantong goni berisi tumpukan uang kertas merah ke atas lantai kayu teras.

Simbah merogoh tumpukan uang kertas dingin itu dengan jemarinya yang keriput dan berkuku hitam.

“Uang hasil tuah Makam Keramat Panjang ini sangat melimpah memadati tokomu, Surya,” kata Simbah.

“Tapi sisik hitam di lengan kananmu sudah merambat mendekati siku lenganmu kan?” tebak Simbah.

Aku terperanjat kaget, tidak sanggup membantah tebakan tepat yang keluar dari bibir Simbah.

“Apakah sisik hitam di lengan saya ini akan terus menyebar ke seluruh tubuh, Mbah?” tanyaku gemetar.

Simbah terkekeh pelan, sebuah tawa serak mengerikan yang mengeluarkan asap menyan dari mulutnya.

“Sisik hitam itu adalah baju keabadianmu sebagai abdi penunggu Makam Keramat Panjang, Surya!” kata Simbah.

“Makin kaya tokomu... makin tebal sisik hitam yang membungkus raga dan dagingmu!” tegasnya.

Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penegasan syarat gaib dari mulut juru kunci tua itu.

“Apakah tidak ada cara buat menghentikan penyebaran sisik hitam ini di ragaku, Mbah?” tanyaku memohon.

Simbah menggelengkan kepalanya perlahan, menatap mataku lurus-lurus dengan pandangan dingin kosong.

“Perjanjian gaib modal pesugihan ini tidak bisa dibatalkan atau dihentikan, Surya!” jawab Simbah.

“Kamu sudah menikmati harta melimpah, sekarang ragamu yang harus membayar cicilan abadi!” tegasnya.

“Tugasmu Selasa Kliwon lusa adalah menuntaskan penyembelihan kerbau hitam di atas nisan!” perintah Simbah.

“Bawalah empat puluh sembilan bunga kantil putih dan sembelih kerbau itu tepat tengah malam!” tambahnya.

“Kalau kamu alpa satu detik saja... sisik hitam itu merambat menembus jantung dadamu!” ancam Simbah.

Aku menundukkan kepala dalam-dalam, menerima takdir pahit yang kini telah mencengkeram ragaku.

“Saya janji akan datang menuntaskan penyembelihan kerbau hitam itu Selasa Kliwon lusa, Mbah,” pasrahku.

“Baguslah kalau kamu paham, pulanglah sekarang sebelum kegelapan hutan menelan jiwamu!” perintah Simbah.

Aku berdiri melangkah turun meniti tangga kayu rumah panggung Simbah dengan tubuh gemetar lemas.

Aku memacu sepeda motor tua menyusuri jalanan tanah hutan bambu menuju rumah panggung kami.

Sesampainya di rumah, aku memarkir motor di bawah pohon mangga dan melangkah masuk ke teras.

Ningsih dan Dedek sedang duduk makan malam di atas tikar pandan ruang tengah rumah panggung.

Dedek berlari gembira menyambut kedatanganku, merangkul pinggangku dengan senyuman manis polosnya.

“Bapak! Tadi di sekolah Dedek ditanya sama ibu guru tentang toko grosir kita!” seru Dedek gembira.

“Ibu guru bilang toko grosir Bapak adalah toko paling kaya dan besar di desa ini!” lanjut Dedek.

Aku tersenum kaku, mengelus lembut rambut anakku menggunakan telapak tangan kiri yang normal.

“Yang penting Dedek rajin belajar dan selalu rendah hati sama teman-teman sekolah ya,” bujukku pelan.

“Iya, Pak, Dedek janji bakal rajin belajar dan tidak pernah sombong!” seru Dedek tertawa bahagia.

Ningsih memandangi interaksi kami berdua dengan mata yang sembap, menyimpan duka yang sangat dalam.

Istriku tahu betul bahwa di balik kekayaan melimpah toko grosir kami, raga suaminya sedang membusuk.

Malam harinya, angin dingin bertiup sangat kencang menggoyangkan pelepah pohon pisang di samping rumah.

Gumpalan awan hitam pekat menutup rapat pendar sinar rembulan di atas atap rumah panggung kami.

Dedek dan Ningsih telah tertidur lelap di dalam kamar tidur dengan lampu minyak yang dimatikan.

Aku duduk sendirian di atas kursi kayu teras depan, membuka ikatan perban di lengan tangan kananku.

Di dalam kegelapan malam, sisik hitam di lengan kanan saya memancarkan pendar cahaya kebiruan redup.

Aroma bau tanah kuburan basah dan kamboja busuk menguar pekat dari pori-pori sisik hitam di tanganku.

Garis-garis hitam kebiruan berbentuk akar pohon tua merambat naik satu sentimeter mendekati ketiak dada.

Rasa nyeri membekukan menusuk-nusuk persendian lenganku, seolah ada jarum-jarum es yang menancap abadi.

Suara bisikan gaib mendesis halus mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga kiriku.

“Selasa Kliwon... kerbau hitammu sudah menunggu di nisanku, Surya...” bisik suara gaib itu.

“Sembelih leher kerbau itu... atau sisik hitamku menelan jantung dadamu malam nanti...” ancam suara itu.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, memeluk lengan kanan bersisik hitamku dengan jemari tangan kiri.

Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah merayap masuk membungkus separuh ragaku.

Hari Selasa Kliwon penetapan sajen kerbau hitam di puncak bukit kini tinggal menghitung jam.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!