NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: SERANGAN INSOMNIA DAN SISI GELAP ARSEN

Tangan Clara yang gemetar mendorong pintu kayu tebal kamar utama Arsen yang sedikit terbuka. Suasana di dalam kamar begitu gelap; hanya lampu tidur temaram di sudut ruangan yang menyala. Bau kayu cendana yang biasanya menenangkan kini tercium pekat bercampur hawa dingin yang menusuk.

"A-Arsen?" cicit Clara perlahan seraya melangkah masuk.

Di dekat sudut ranjang, sosok Arsen tampak terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding. Kemeja hitamnya berantakan dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan dadanya yang naik-turun cepat. Rambut hitamnya acak-acakan, dan kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan sangat erat.

"Arsen, kamu kenapa?" Clara meremas gaun tidurnya, ragu-ragu mendekat.

"Jangan... mendekat..." erang Arsen. Suaranya serak, penuh penderitaan yang tertahan. Mata hitamnya yang biasanya tajam kini memerah, diliputi kepanikan dan halusinasi akibat serangan insomnia parah yang menyiksanya.

Insomnia berat ini adalah siksaan fisik dan mental yang menggerogoti Arsen selama bertahun-tahun. Saat serangan ini datang, otaknya dipenuhi bayangan masa kecil yang kelam—suara bentak sang ayah, kekerasan, dan rasa sepi yang menekan. Tanpa obat penenang dosis tinggi, otaknya menolak untuk istirahat, membawanya ke ambang kegilaan.

"Pergi... sebelum aku menyakitimu, Clara!" bentak Arsen melempar gelas porselen di meja sampingnya hingga hancur berkeping-keping di lantai.

Prang!

Clara terlonjak kaget, melangkah mundur secara refleks. Rasa takut melingkupi dadanya. Bayangan cerita Bi Inah tentang pelayan terdahulu yang dihabisi Arsen berputar di otaknya. Pemuda di hadapannya saat ini tampak seperti monster yang hilang kendali.

Namun, saat Clara melihat jemari Arsen yang gemetar hebat hingga memucat dan keringat dingin merembes di pelipisnya, rasa kasihan mengalahkan rasa takutnya. Ia bisa melihat rasa sakit yang teramat sangat terukir di wajah Arsen—bukan sekadar kemarahan, melainkan jeritan kesakitan dari jiwa yang sangat terisolasi.

Memberanikan diri, Clara mengabaikan kepingan kaca di lantai dan perlahan berlutut di hadapan Arsen.

"Arsen, ini aku... Clara," bisik Clara lembut, memberanikan diri menjangkau tangan Arsen yang gemetar hebat.

Saat telapak tangan Clara yang hangat menyentuh jemari Arsen yang dingin, sebuah getaran aneh langsung merambat melalui kulit mereka.

Arsen terhenyak. Erangan di tenggorokannya mendadak terhenti.

Napas memburu Arsen perlahan-lahan mulai stabil seiring sentuhan fisik Clara. Kebisingan halusinasi di kepalanya seolah lenyap seketika, digantikan oleh gelombang ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa sakit di pelipisnya perlahan menguap, meninggalkan rasa kantuk yang sangat luar biasa namun begitu menenangkan.

Mata Arsen yang redup menatap wajah Clara yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Arsen menarik jemari Clara, menggenggamnya erat-erat seolah takut penawar itu hilang.

"Jangan lepas..." gumam Arsen sangat pelan, suaranya melemah saat matanya mulai berat memandangi Clara.

Clara terpaku, merasakan genggaman erat dan napas Arsen yang kini menjadi tenang dan teratur. Hanya dalam hitungan detik, Arsen menyandarkan kepalanya ke bahu Clara dan tertidur lelap di lantai cold itu—sebuah tidur nyenyak yang tak pernah didapatkannya selama bertahun-tahun tanpa bantuan obat.

Clara membeku di tempat, membiarkan tubuh tegap Arsen bersandar padanya, menyadari bahwa ia baru saja menyaksikan rahasia paling rentan dan gelap dari sosok Tuan Muda yang paling ditakuti itu.

Arsen menatap Clara yang mulai tertidur lelap dalam dekapannya. Napas teratur gadis itu berhembus lembut menyapu dada bidang Arsen. Perlahan, gumpalan stres dan benang-benang insomnia yang menyiksa kepala Arsen berangsur-angsur sirna, digantikan oleh rasa tenang yang amat ganjil.

Arsen mengulurkan tangannya, menyibak beberapa helai rambut yang menutupi kening pucat Clara dengan jemarinya yang hangat.

"Kenapa hanya kamu..." gumam Arsen sangat pelan, hampir berupa bisikan di tengah keheningan malam. "Kenapa hanya sentuhan dari tubuh rapuh ini yang sanggup menenangkan isi kepalaku?"

Namun, saat Arsen memiringkan tubuhnya dan hendak mengecup dahi Clara, dadanya mendadak terasa dihantam sensasi sesak dan penolakan batin yang sangat hebat—seolah ada hukum alam yang mengharamkannya melangkah lebih jauh. Arsen meringis pelan, memejamkan mata rapat-rapat seraya menahan gejolak aneh di dalam nadinya.

Ia mengurungkan niatnya, lalu kembali mempererat dekapannya di pinggang Clara, mengunci gadis itu erat-erat seolah takut akan menghilang jika ia melepaskannya.

Di saat yang sama, di atas meja kerja Arsen yang gelap, layar ponsel pintarnya mendadak menyala redup tanpa suara. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari nomor yang terenkripsi:

[Pesan Masuk - Baskara]:

"Aku mendengar kamu melunasi utang keluarga tak dikenal dan membawa gadis itu ke mansion. Jangan lupa siapa dirimu, Arsen. Jangan biarkan sampah masa lalu masuk ke dalam rumahku."

Pendar cahaya dari layar ponsel itu perlahan meredup, menyisakan kegelapan malam yang makin pekat di dalam kamar utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!