NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemburuan yang Diam-diam

Tidak semua kecemburuan terlihat dengan teriakan atau pertengkaran. Ada kecemburuan yang tidak bersuara — yang tumbuh diam-diam, di sudut-sudut hati yang tak terlihat, yang menyusup di antara senyum dan sapaan, yang memakan perlahan tanpa ada yang menyadarinya hingga terlambat. Itulah kecemburuan yang kurasakan — bukan yang keras, melainkan yang sunyi, yang tertahan di kerongkongan, yang tersembunyi di balik senyum yang dipaksakan.

Ia bermula dari hal-hal kecil — hal-hal yang seharusnya tidak berarti apa-apa, namun menjadi besar karena keraguan yang sudah ada sejak lama. Saat Arga menyebut nama Rania, nada bicaranya tidak berubah, namun telingaku mendengar sesuatu yang lain — keakraban, kenangan, kedekatan yang tak bisa kucapai. Saat ia berhenti sejenak sebelum menjawab pertanyaannya, aku membaca keraguannya di sana, meski tidak ada keraguan sedikit pun. Saat ia tersenyum mendengar ceritanya, aku berpikir senyum itu sama dengan senyum yang ia berikan padaku — padahal tidak, senyum itu lebih ringan, lebih biasa, lebih seperti menyapa kenangan lama, bukan menyapa orang yang dicintai.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak bertanya, tidak menuduh, tidak menunjukkan bahwa hatiku sedang berdenyut perih. Aku hanya tersenyum, mengangguk, berbicara dengan nada yang biasa, seakan tidak ada yang berubah. Di luar, aku tetap tenang. Di dalam, ada sesuatu yang perlahan retak — keyakinanku, ketenanganku, kepercayaanku yang baru tumbuh.

Kecemburuan dalam diam-diam itu adalah yang paling menyakitkan. Ia tidak punya wajah untuk dimarahi, tidak punya suara untuk dilawan. Ia hanya ada — di saat Arga sibuk berbicara dengan Rania, di saat ia terlambat datang ke makan malam kami karena masih menemaninya, di saat ia menyebutkan sesuatu yang mereka lakukan bersama dulu dan menatap ke kejauhan seakan melihat kembali masa itu.

Setiap kali hal itu terjadi, aku menarik diri perlahan — bukan karena marah, tapi karena terluka. Aku pergi ke halaman kecilku lebih sering, duduk diam di sana, menatap tanah, menahan air mata agar tidak jatuh. Aku tidak menceritakannya pada siapa pun — tidak pada Arga, tidak pada Bibi Ratih, tidak pada siapa pun. Aku berpikir jika aku mengatakannya, aku akan terlihat kekanak-kanakan, tidak percaya, tidak pantas. Aku berpikir jika aku diam saja, perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

Namun kecemburuan yang disembunyikan tidak akan hilang. Ia tumbuh.

Suatu sore, mereka berbicara di ruang kerja Arga, pintunya tertutup sebagian. Aku lewat, dan kata-kata Rania terdengar jelas.

"Kau tidak bahagia bersamanya, Arga. Kau tidak pernah tertawa seperti dulu. Kau terlihat terbebani."

Suara Arga terdengar tenang, namun tegas. "Kau salah. Aku lebih bahagia dari sebelumnya."

"Apakah kau yakin? Atau kau hanya berpikir seharusnya bahagia?"

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku berbalik dan pergi, langkah kakiku cepat, menuju tempat paling sepi yang kukenal — halaman kecil di belakang kebun, tempat tidak ada orang yang lewat. Di sana, di antara semak-semak yang rimbun, aku akhirnya menangis. Bukan karena Rania berkata begitu, tapi karena bagian dari diriku — bagian yang tak ingin kuakui — setuju dengannya. Bagaimana jika ia benar? Bagaimana jika Arga hanya berusaha mencintaiku, padahal hatinya masih di tempat lain?

Malam itu, Arga datang ke kamarku. Ia melihat mataku yang bengkak, wajahku yang pucat, dan ekspresinya berubah menjadi cemas.

"Ada apa, Lia?" tanyanya pelan, mendekat.

Aku menggeleng, menunduk. "Tidak ada apa-apa."

Ia berhenti di depanku, menatapku lekat-lekat. "Ada sesuatu. Kau diam lebih dari biasanya. Kau tidak menatapku. Kau menghindariku. Sudah berhari-hari seperti ini."

Aku menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di suaraku. "Aku hanya lelah."

"Lia," suaranya lembut namun tegas. "Jangan berbohong padaku. Bukan kau yang berbohong."

Kata-katanya menyentuh tempat yang paling sakit. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. "Aku takut," akuku, suaraku pecah. "Aku takut kau menyadari bahwa dia benar. Bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa kau lebih bahagia bersamanya."

Arga terdiam sejenak, seakan memahami apa yang selama ini kusembunyikan. Ia duduk di depanku, menatapku hingga aku terpaksa menatapnya kembali.

"Dan kau menyimpan ini sendirian... sepanjang waktu?" tanyanya pelan, penuh rasa sedih.

"Aku tidak ingin terlihat cemburu," jawabku. "Aku tidak ingin kau berpikir aku tidak percaya padamu. Aku tidak ingin menjadi beban."

Ia menggeleng perlahan, menggenggam tanganku erat. "Kecemburuan bukan tanda ketidakpercayaan, Lia. Itu tanda kau peduli. Itu tanda kau takut kehilangan. Dan itu bukan hal yang harus kau sembunyikan dariku."

"Tapi aku tidak ingin melarangmu berteman dengannya," kataku. "Aku tahu kalian sudah kenal lama. Aku tidak ingin menjadi istri yang mengekang."

Ia mengusap air mata di pipiku dengan lembut. "Kau tidak melarangku apa-apa. Kau hanya memintaku hadir di sini, bersamamu, sepenuhnya. Dan itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini."

Ia berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sampingku, lebih dekat. "Dengarkan aku. Rania adalah bagian dari masa laluku. Aku menghormati persahabatan kami, tapi itu saja. Hatiku tidak terbagi. Ia utuh, dan ia milikmu sepenuhnya. Jika aku pernah membuatmu merasa sebaliknya, itu salahku — bukan salahmu. Aku seharusnya lebih menjaga perasaanmu."

"Kau tidak menyadari..." bisikku. "Saat kau berbicara dengannya, aku merasa tidak ada di sana. Aku merasa seperti orang asing."

"Maafkan aku," ucapnya tulus, menatapku dengan mata yang penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya terbiasa dengan kehadirannya, dan aku lupa — lupa bahwa kehadirannya membuatmu merasa tidak aman. Dan itu tidak seharusnya terjadi."

Malam itu, kami berbicara panjang lebar — bukan tentang Rania, tapi tentang perasaanku sendiri. Tentang bagaimana kecemburuan itu tumbuh bukan karena apa yang ia lakukan, tapi karena apa yang kurasakan tentang diriku sendiri — rasa tidak cukup, rasa tidak pantas, rasa takut ditinggalkan. Arga mendengarkan semuanya tanpa memotong, tanpa menyangkal, tanpa membela dirinya. Ia hanya mendengarkan, lalu memelukku erat saat aku selesai.

"Kau tidak perlu bersaing dengan siapa pun, Lia," katanya lembut di telingaku. "Tidak dengan Rania, tidak dengan siapa pun di masa laluku. Kau tidak perlu membuktikan apa-apa. Cukup menjadi dirimu sendiri — gadis yang tulus, yang hangat, yang mencintaiku apa adanya. Itu sudah lebih dari segalanya."

Ia tidak berjanji tidak akan pernah bertemu Rania lagi. Tapi ia berjanji akan lebih menjaga perasaanku. Ia berjanji akan menempatkanku di tempat yang paling utama, di mana aku bisa melihat, bisa mendengar, bisa merasa aman. Dan ia menepatinya.

Pertemuan mereka masih terjadi, namun tidak lagi tertutup, tidak lagi menyisakan aku sendirian. Arga memperkenalkanku dalam setiap percakapan, menatapku saat berbicara, menggenggam tanganku saat kami berdiri berdampingan. Ia tidak menyembunyikan kehadiranku — justru ia menunjukkannya dengan bangga.

Dan perlahan, kecemburuan yang diam-diam itu mulai pudar. Bukan karena Rania pergi, tapi karena aku akhirnya belajar sesuatu yang penting: cinta yang sejati tidak berarti tidak pernah merasa cemburu. Ia berarti berani mengatakannya. Berani berbicara. Berani mempercayai bahwa orang yang dicintai akan menjaga hatimu sebaik ia menjaga hatinya sendiri.

Suatu sore, saat kami berjalan berdua di taman, aku berkata padanya, "Dulu aku berpikir kecemburuan itu memalukan."

Arga merangkul pinggangku, menarikku lebih dekat. "Ia hanya memalukan jika kau menyimpannya sendirian. Jika kau membaginya... ia menjadi sesuatu yang lain — sesuatu yang menunjukkan betapa berartinya seseorang bagimu."

Aku menyandarkan kepala di bahunya. "Terima kasih tidak pergi saat aku menyakitkan."

Ia mencium puncak kepalaku. "Ke mana aku akan pergi? Ke mana pun aku pergi, hatiku tetap di sini — bersamamu."

Dan di saat itulah kecemburuan itu benar-benar hilang. Ia tidak hilang karena tidak ada lagi alasan untuk cemburu. Ia hilang karena aku akhirnya tahu — aku tidak lagi berdiri di luar. Aku ada di dalam. Di tempat yang paling aman, paling hangat, paling milikku: di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!