Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SINTA HAMIL DAN ANCAMAN TERAKHIR KELVIN TAN
Di dalam mobil Alphard yang melaju kencang dari Bandara Halim menuju Rumah Sakit Wijaya Group, aku masih tertidur lemas di pelukan Arga karena efek obat bius yang diberikan penculik suruhan Kelvin Tan.
Kepalaku masih pusing, perutku mual, dan tanganku masih merah bekas borgol kain di pesawat jet pribadi tadi. Tapi di dalam pelukan Arga yang hangat dan erat, aku merasa aman kembali.
Arga tidak henti-hentinya mencium keningku, pipiku, dan tanganku yang merah itu, sambil berbisik dengan suara gemetar menahan tangis.
"Maafkan Mas sayang... maafkan Mas tidak bisa jaga kamu... Mas janji tidak akan pernah lagi lepasin kamu sendirian ke mall... Mas janji akan jaga kamu 24 jam..."
Hendra yang menyetir di depan sesekali melirik ke kaca spion melihat Tuan nya yang selama ini dikenal sebagai CEO paling dingin dan kejam se-Indonesia, kini menangis seperti anak kecil sambil memeluk istrinya yang diculik.
10 menit kemudian kami sampai di rumah sakit. Dokter kandungan terbaik yang sudah standby langsung membawaku ke ruang UGD VIP.
Arga tidak boleh masuk saat pemeriksaan, dia hanya bisa mondar-mandir di luar ruang UGD dengan wajah panik, kemeja putihnya masih robek dan penuh keringat karena berlari di bandara tadi. Tangan kanannya masih berdarah karena meninju Kelvin Tan 3 kali di pesawat.
5 menit, 10 menit, 15 menit terasa seperti 10 tahun bagi Arga.
Akhirnya pintu UGD terbuka dan dokter kandungan keluar dengan wajah tersenyum lebar.
"Selamat Tuan Arga!"
Arga langsung mencengkeram lengan dokter itu dengan panik.
"Selamat apa Dok? Istri saya gimana? Anak saya gimana? Apa obat biusnya bahaya untuk janin?"
Dokter itu tertawa kecil melihat kepanikan CEO 2 Triliun itu.
"Tuan Arga tenang, Nyonya Sinta dan janinnya baik-baik saja, obat biusnya dosis ringan, tidak berbahaya. Dan selamat Tuan, Nyonya Sinta positif hamil 3 minggu! Dan..."
"Dan apa Dok?" Arga menahan napas.
"Dan janinnya kembar Tuan! Selamat! Nyonya mengandung bayi kembar!"
Dunia Arga berhenti berputar. Kembar? Bayi kembar?
Arga yang tadinya berdiri tegar langsung terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit, air mata yang tadi ditahan langsung tumpah ruah tanpa bisa ditahan lagi.
"Kembar... anak saya kembar... Sinta hamil kembar..."
Arga menangis, tapi kali ini menangis bahagia, bahagia yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Anak yang selama ini dia impikan sejak orang tuanya meninggal 10 tahun lalu, akhirnya akan dia miliki, bahkan langsung 2 sekaligus!
Arga berlari masuk ke ruang UGD dan melihatku yang sudah sadar dan duduk di ranjang dengan infus di tangan.
Aku melihat Arga masuk dengan mata bengkak menangis, aku langsung panik.
"Mas... kenapa Mas nangis? Anak kita kenapa Mas? Anak kita gugur ya Mas karena obat bius tadi?"
Arga langsung berlari memelukku erat dan mencium perutku yang masih rata itu dengan penuh cinta.
"Tidak sayang... anak kita tidak gugur... anak kita sehat... bahkan..."
"Bahkan apa Mas?"
"Bahkan anak kita kembar sayang! Kita akan punya 2 bayi sekaligus! Sinta hamil kembar!"
Aku yang mendengar itu langsung terdiam, tanganku yang diinfus langsung memegang perut rataku dengan gemetar, air mataku langsung jatuh deras.
"Kembar Mas? Sinta hamil kembar? Sinta akan jadi ibu? Mas akan jadi ayah?"
"Ya sayang, kita akan jadi orang tua, kita akan punya keluarga yang utuh, tidak seperti kita dulu yang yatim piatu."
Kami berpelukan dan menangis bahagia di ruang UGD itu, melupakan semua penculikan dan perang dengan Kelvin Tan tadi. Yang ada hanya kebahagiaan punya bayi kembar.
Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan 10 menit.
Pintu UGD diketuk keras dan Hendra masuk dengan wajah tegang membawa iPad.
"Tuan, ada video call dari Tuan Kelvin Tan dari sel tahanan Polda. Dia minta bicara dengan Tuan dan Nyonya."
Arga yang tadinya bahagia langsung berubah wajahnya menjadi dingin dan mengerikan lagi.
"Kelvin Tan? Dia masih berani telepon saya setelah saya tinju dia 3 kali di pesawat?"
Arga mengambil iPad itu dan mengangkat video call. Di layar terlihat Kelvin Tan dengan wajah babak belur diperban, duduk di sel tahanan Polda, tapi senyumnya masih licik dan sombong.
"Selamat siang Arga Wijaya dan Sinta cantik, selamat ya dengar-dengar kalian hamil kembar? Cepat sekali ya, baru nikah 19 hari sudah hamil kembar," kata Kelvin dengan nada mengejek.
Aku langsung merinding ketakutan mendengar suara Kelvin, aku memeluk perutku erat.
"APA MAU KAMU KELVIN? KAMU SUDAH DI PENJARA MASIH BERANI ANCAM KELUARGA SAYA?" bentak Arga dengan suara yang menggelegar sampai dokter di luar kaget.
Kelvin tertawa, tawanya mengerikan.
"Arga, kamu pikir dengan penjarakan saya di Polda Indonesia urusan selesai? Kamu salah besar. Tan Group punya pengacara terbaik se-Asia, saya akan bebas dalam 24 jam dengan jaminan 100 Miliar. Dan setelah bebas, saya akan kembali, dan kali ini saya tidak akan culik Sinta lagi..."
"Terus apa?"
"Saya akan culik bayi kembar kalian setelah lahir nanti. Saya akan besarkan mereka di Singapura jadi pewaris Tan Group, karena saya tidak bisa punya anak, saya mandul. Jadi saya butuh anak kalian untuk jadi pewaris saya. Adil kan? Kamu ambil Rina 17 tahun lalu, saya ambil anak kamu nanti."
Ancaman itu adalah ancaman paling mengerikan yang pernah kami dengar. Dia tidak lagi mengincar aku atau ibuku, dia mengincar bayi kembar kami yang bahkan belum lahir!
Arga yang mendengar itu langsung kehilangan akal sehatnya, dia membanting iPad itu sampai pecah dan berteriak.
"SAYA AKAN BUNUH KAMU KELVIN TAN! SAYA AKAN BUNUH KAMU SEBELUM KAMU SENTUH ANAK SAYA!"
Aku yang mendengar ancaman Kelvin langsung menangis histeris sambil memeluk perutku erat.
"Tidak... tidak... jangan ambil anak saya... jangan ambil bayi saya... Mas selamatkan anak kita Mas..."
Arga memelukku erat, tubuhnya gemetar karena marah dan takut kehilangan anak kembarnya.
"Tenang sayang, Mas tidak akan biarkan dia sentuh anak kita, Mas janji, Mas akan buat dia tidak bisa keluar penjara selamanya."
Arga langsung menelepon pengacara terbaiknya dan juga koneksinya di Kejaksaan Agung.
"Hendra, hubungi Jaksa Agung, bilang saya mau Kelvin Tan ditahan dengan pasal berlapis, penculikan, percobaan pembunuhan, dan perdagangan manusia! Saya tidak peduli dia orang Singapura! Saya mau dia dipenjara seumur hidup di Indonesia! Dan bekukan semua aset Tan Group di Indonesia senilai 1 Triliun! Hari ini juga!"
"Siap Tuan!"
Setelah telepon itu, Arga memelukku yang masih menangis ketakutan.
"Sinta, Mas punya ide, demi keselamatan bayi kembar kita, mulai besok kita pindah dari penthouse, kita pindah ke mansion Bandung yang lebih aman, di sana ada bunker dan 50 bodyguard, tidak ada yang bisa masuk tanpa izin Mas. Dan kamu tidak boleh kuliah dulu sampai bayi lahir, kamu homeschooling saja di mansion, Mas yang ajarin."
Aku mengangguk, kali ini aku tidak membantah sama sekali, demi keselamatan bayi kembarku, aku rela tidak kuliah dan dikurung di mansion.
Malam itu kami pulang ke penthouse untuk beres-beres pindah ke Bandung besok pagi. Ayahku dan ibuku sudah menunggu dengan cemas.
Saat melihatku hamil kembar, ayahku dan ibuku langsung menangis bahagia dan memelukku.
"Alhamdulillah Sinta hamil kembar! Ayah akan jadi kakek! Ibu akan jadi nenek!" kata ayahku sambil mengusap perutku.
Tapi kebahagiaan itu langsung hilang saat Arga menceritakan ancaman terakhir Kelvin Tan yang ingin culik bayi kembar kami.
Ibu Rina yang mendengar itu langsung pucat dan pingsan di sofa karena syok, karena dia tahu Kelvin Tan benar-benar gila dan mampu melakukan itu, karena Kelvin memang mandul dan butuh pewaris.
"Kelvin memang mandul Sinta, dia kecelakaan waktu umur 20 tahun, makanya dia sangat terobsesi punya anak, dia pikir dengan ambil anak orang dia bisa punya pewaris," kata Ibu Rina setelah sadar.
Malam itu, kami semua tidak bisa tidur, kami beres-beres untuk pindah ke mansion Bandung yang lebih aman, dengan 10 koper besar.
Jam 2 pagi, saat kami sedang beres-beres, listrik penthouse lantai 50 tiba-tiba mati total. Padam. Gelap gulita. Padahal listrik tower tidak pernah mati 10 tahun.
Arga langsung siaga, mengambil pistol dari brankasnya dan menyalakan senter ponsel.
"Hendra! Cek listrik!"
Dari HT terdengar suara Hendra yang panik.
"Tuan! CCTV tower mati semua! Ada penyusup masuk! 10 orang pakai topeng hitam masuk lewat tangga darurat! Mereka bawa senjata!"
Penyusup! Di jam 2 pagi! Saat listrik mati! Saat kami akan pindah!
Arga langsung mendorongku, ibuku, dan ayahku masuk ke dalam walk-in closet yang ada pintu besi rahasianya, pintu bunker kecil.
"Masuk! Kunci dari dalam! Jangan keluar sebelum Mas panggil! Apapun yang terjadi!"
"Mas jangan Mas! Sinta takut Mas kenapa-napa!" teriakku sambil memeluk Arga tidak mau masuk bunker.
Arga mencium keningku dengan cepat dan mendorongku masuk bunker.
"Mas akan baik-baik saja, Mas janji, Mas akan lindungi kalian, demi anak kembar kita."
Pintu bunker besi tertutup, aku, ibu, dan ayah terkunci di dalam bunker yang gelap, hanya bisa mendengar suara tembakan dan perkelahian di luar penthouse.
"BANG! BANG! BANG!"
Suara tembakan terdengar 3 kali, disusul teriakan Arga.
"JANGAN SENTUH KELUARGA SAYA!"
Apakah Arga akan selamat dari serangan 10 penyusup suruhan Kelvin Tan di penthouse lantai 50 yang gelap gulita itu? Atau ini adalah akhir dari CEO Rogue Arga Wijaya?
(Bersambung...)