NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Matahari siang itu bersinar terik, memantul di kaca-kaca besar gedung perkantoran elit tempat kantor Wedding Organizer (WO) ternama itu berada.

Langit dan Bumi melangkah masuk beriringan.

Perbedaan keduanya langsung terlihat mencolok. Langit, wanita karier sukses pemilik penthouse mewah, tampil anggun dengan blazer formal rapi dan rambut panjang yang digulung modern.

Sementara Bumi, dengan gayanya yang kasual dan pembawaan dingin yang khas, berjalan santai di sampingnya dengan tangan tenggelam di saku celana.

Mereka disambut oleh tim WO yang dipimpin oleh seorang perencana pernikahan bernama Naura.

Begitu duduk di sofa VIP, Naura langsung memaparkan brosur digital mengenai konsep pernikahan megah di sebuah ballroom gedung mewah bintang lima.

"Untuk konsep grand wedding di Ballroom Royal, kita bisa menggunakan dekorasi floating kristal dengan pencahayaan sinematik, Mbak Langit, Mas Bumi. Kesannya akan sangat agung, seperti melangkah di atas awan," jelas Naura dengan semangat berapi-api.

Langit mengangguk-angguk serius, membaca detail proposal. "Saya rasa itu bagus. Untuk gaunnya nanti—"

"Tunggu sebentar," potong Bumi datar, wajahnya sedingin es. "Kalau pakai konsep melangkah di atas awan, tamu-tamunya dipinjami parasut tidak?"

Seketika keheningan melanda ruangan. Naura pingsan sesaat dalam senyuman kakunya, sementara staf WO yang membawa tab hampir menjatuhkan perangkatnya.

"Bumi, ini konsep estetika, bukan simulasi terjun payung," bisik Langit, menyikut lengan Bumi dengan wajah merona menahan malu sekaligus gemas.

"Saya cuma memastikan, Langit. Kalau ada konsep megah yang membuat orang merasa di atas awan, saya takut tamu saya dari kampung pusing karena fobia ketinggian," sahut Bumi tanpa dosa, wajahnya tetap lempeng tanpa ekspresi.

Langit tidak bisa menahan tawa kecilnya. Suara tawa yang renyah itu memecah ketegangan.

"Lalu, kamu maunya bagaimana? Jangan bilang kamu mau dekorasi janur kuning berjejer di sepanjang jalan tol?"

"Kalau boleh, saya mau ada stan wedang ronde di samping altar kristal itu. Jadi kalau khotbah nikahnya kepanjangan, tamu bisa sekalian ronda," balas Bumi ketus namun ada binar jail di matanya yang tajam.

Pembahasan yang harusnya berjalan formal dan kaku berubah menjadi panggung komedi dadakan.

Bumi dengan gaya bicaranya yang dingin kerap melontarkan komentar konyol yang membumi, sementara Langit dengan sabar meladeni, sesekali tertawa lepas hingga bahunya terguncang.

Tanpa mereka sadari, interaksi itu memperlihatkan kemesraan yang begitu nyata.

Cara Bumi yang diam-diam menggeser segelas air putih lebih dekat ke tangan Langit saat wanita itu mulai sering berdehem, atau bagaimana Langit tanpa ragu merapikan kerah jaket Bumi yang terlipat berantakan sambil terus mendengarkan penjelasan Naura.

Semua orang di ruangan itu, dari penata dekorasi hingga Naura sendiri, ikut tersenyum.

Mereka merasakan kehangatan yang tulus. Ternyata, perbedaan calon pengantin yang bagai bumi dan langit itu bisa menyatu juga dalam canda yang sederhana dan mesra.

Perbedaan kelas sosial seolah menguap begitu saja, digantikan oleh jembatan tawa yang mereka bangun bersama.

Malam harinya, setelah lelah berkutat dengan rincian vendor dan dekorasi, mobil mereka membelah jalanan kota yang mulai padat.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Bumi melambatkan laju kendaraan di daerah pinggiran jalan yang ramai.

Bumi melirik Langit yang bersandar di kursi penumpang, tampak sedikit lelah. "Langit," panggil Bumi pelan.

"Ya?"

"Mau makan malam di kedai ramen kecil di pinggir jalan itu?, tapi kalau kamu tidak mau, kita bisa ke restoran hotel tempat biasa kamu makan,"

Ujar Bumi, meminta izin terlebih dahulu dengan nada yang melembut.

Langit menoleh ke arah luar jendela, melihat sebuah kedai ramen sederhana dengan tenda kain bertuliskan huruf Jepang, kepulan asapnya membubung tinggi mengeluarkan aroma kaldu yang gurih. Langit tersenyum senang, matanya berbinar. "Mau. Ayo kita coba."

Namun, begitu mereka turun dan melangkah mendekati kedai yang ramai dengan bangku-bangku kayu panjang, langkah Langit melambat.

Lagi-lagi, Langit masih nampak takut dan canggung.

Ini adalah kali pertama baginya mendatangi tempat seperti ini di malam hari, persis seperti kejadian membeli nasi uduk tadi pagi di pinggir jalan, di mana dia sempat bingung bagaimana cara memesan dan duduk di antara kerumunan orang asing.

Bumi yang menyadari kegugupan itu tidak berkata apa-apa.

Dia hanya mengambil posisi berjalan sedikit di depan Langit, membuka jalan dan melindunginya dari senggolan orang-orang yang mengantre.

Bumi memesan dua porsi ramen dengan cekatan lalu mengajak Langit duduk di sudut yang agak tenang.

Saat semangkuk ramen panas dengan kuah kental yang mengepul dihidangkan di depan mereka, aroma gurihnya langsung menggugah selera.

Langit tersenyum, bersiap untuk makan. Namun, saat dia menunduk, rambut panjangnya yang indah menjuntai ke depan, hampir menyentuh kuah ramen.

Tanpa bicara satu kata pun, Bumi meletakkan sumpitnya. Pria itu bangkit sedikit dari duduknya, lalu mengulurkan tangan ke belakang kepala Langit.

Dengan gerakan yang terkesan tak acuh namun penuh kehati-hatian, Bumi mengumpulkan helaian rambut Langit dengan jemarinya yang kasar karena pekerja keras, namun terasa begitu hangat di tengkuk Langit.

"Bumi?" bisik Langit tertahan.

"Diam sebentar, atau rambutmu mau ikut matang di dalam kuah?" sahut Bumi dingin.

Bumi menoleh ke arah pelayan yang lewat. "Mbak, boleh minta karet gelang bersih satu?"

Pelayan itu tersenyum ramah dan segera menyerahkan seutas karet gelang kuning yang bersih.

Dengan telaten, Bumi melilitkan karet gelang itu pada rambut Langit, menyatukannya menjadi kuncir kuda yang rapi.

Selama proses itu, kulit jemari Bumi berulang kali bersentuhan dengan kulit leher dan telinga Langit.

Sentuhan fisik yang intim itu memicu desir aneh yang mendadak menjalar ke seluruh tubuh Langit.

Di bawah temaram lampu kedai pinggir jalan, jantung Langit berdegup dua kali lebih cepat, bergemuruh mengalahkan bisingnya suara kendaraan di luar tenda.

"Sudah. Makanlah," kata Bumi pelan, kembali duduk di bangkunya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mulai menyumpit ramennya sendiri.

Langit menyentuh ikat rambutnya dengan pipi yang mendadak terasa panas, menyembunyikan senyum bahagianya di balik mangkuk ramen yang hangat.

Malam semakin larut ketika mereka akhirnya tiba di koridor lantai atas gedung apartemen mewah tempat mereka tinggal.

Mereka berjalan menyusuri lorong sunyi menuju pintu kamar masing-masing. Kebetulan yang unik, kamar Penthouse milik Langit berada tepat di sebelah unit apartemen milik Bumi.

Langkah kaki Bumi berhenti tepat di ujung cerita malam itu, ketika mereka berdiri di depan pintu megah kamar Penthouse milik Langit.

Langit berbalik, menatap Bumi yang menanti dirinya masuk terlebih dahulu.

"Bumi, besok seharian dan mungkin sampai malam, kita akan fitting baju pernikahan di sebuah butik terkenal di pusat kota."

Bumi mengangguk paham, wajahnya kembali ke setelan ekspresi datar yang dingin.

Langit membalikkan badan, memegang gagang pintu digitalnya dan hendak melangkah masuk.

Namun, tiba-tiba saja gerakan tangannya tertahan. Bumi melangkah maju satu tapak, mengikis jarak di antara mereka, lalu mengulurkan tangannya menyentuh wajah Langit.

Langit tersentak kaget. Tubuhnya membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak menatap dada bidang Bumi yang begitu dekat. Namun, Langit sama sekali tidak menolak sentuhan itu.

Rupanya, ada sedikit debu hitam yang menempel di tulang pipi Langit, mungkin berasal dari asap kendaraan saat mereka makan di pinggir jalan tadi.

Bumi memajukan wajahnya tepat di depan wajah Langit. Jarak mereka begitu dekat hingga Langit bisa merasakan hembusan napas Bumi di keningnya dan melihat pantulan dirinya di manik mata hitam pria itu.

Dengan ibu jarinya yang besar, Bumi mengusap lembut debu di pipi mulus Langit. Gerakannya sangat perlahan, berbanding terbalik dengan sikapnya yang biasanya kaku.

"Maaf," ucap Bumi lirih, suaranya yang berat terdengar begitu dekat di telinga Langit. "Membuat wajahmu jadi berdebu malam ini karena kuajak makan di pinggir jalan."

Langit masih terpaku, kehilangan kata-kata, terpesona oleh kedekatan dan kelembutan tersembunyi dari pria di hadapannya.

Setelah memastikan pipi Langit bersih, Bumi menarik kembali tangannya, memberikan satu usapan lembut terakhir di sisi wajah Langit yang membuat hati wanita itu meleleh seketika.

Bumi memundurkan langkahnya, memberikan jarak aman kembali.

"Selamat malam, Langit. Istirahatlah," ujar Bumi datar, lalu berbalik dan melangkah menuju pintunya sendiri tanpa menoleh lagi, meninggalkan Langit yang masih berdiri mematung di depan pintunya dengan jantung yang berdebar tak karuan dan senyum yang masih tersimpan.

1
Siti Aisah
semoga mereka berdua kebablasan cinlok🤣🤣😜
Sinho: Amin, makasih komennya kak
total 1 replies
Siti Aisah
curiga deh sm bumi??? sindiran nya kenak banget 😁
Siti Aisah
lanjut aku baca maraton ni kak author soalny makin keseni makin penasaran bumi""😜
Siti Aisah
ternyata langit masih punya kakek kukira cuman punya paman satu"nya yg jahat🤭
Siti Aisah
semoga itu langit ''karena hawatir takut bumi di apa"in🤭
Siti Aisah
thor kata kumah bumi ceo menyamar deh soalnya biarpun dia bercanda kata"nya ada benernya hehe
Siti Aisah
ngelucu trus bang bumi biar langit ceria selalu😁
Siti Aisah
dasar bumi bisa aja bikin orang senyum " lanjutkan...
Siti Aisah
bumi mah bisa"nya bikin anak perawan merona dan dedekan😜
Siti Aisah
thor katakumah ya kayanya ci bumi ini pria yg punya pengaruh deh bukan tukang bengkel biasa... pasti cuman lgi menyamar🤣🤣
Siti Aisah
benerkah yang di cerita kan bumi tetang hidupnya se menyedihkan itu, atau hanya cerita karangan untuk menghibur langit supaya bisa terus tertawa dan tersenyum, hanya author yg tahu penasaran ih🤭
Siti Aisah
aku jdi ikut gila tersenyum sendiri😜lanjut thor
Siti Aisah
udah makan garam asin nya hidup ni mah bumi, jdi udah mental baja dan besi, seru thor jdi tertawa sendiri sekalian sedih🤗🥲
Siti Aisah
pokoknya langit tebayang" ga bisa bobo🤣🤣
Siti Aisah
langit 'bumi pura" menjadi nyata 😁
Siti Aisah
apa bumi adalah mafia thor bikin penasaran aja??
Siti Aisah
macho pastinya ci bumi, pokonya bumi bukan tukang bengkel biasa iyakan ...pasti ada kejutan dri author
Siti Aisah
pasti ada rahasia bumi yg di sembunyikan, bumi bukan orang biasakan thor??? mungkin asal tebak😜
Siti Aisah
wah untung bumi tidak mempersulit langit, ayo semangat langit hancurkan paman mu dan sekutunya, seperti bumi bukan montir biasa yakan thor🤗
Mundri Astuti
dah jadi beneran aja langit sama bumi, bumi ke nya bisa ngimbangin dan ngga keberatan 🤭
Sinho: makasih komennya kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!