Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diskusi Senja di Kereta Eksekutif
Langit sore di atas ibu kota meredupkan pendar jingganya, berganti dengan sapuan warna lembayung pekat yang membingkai megahnya deretan gedung-gedung pencakar langit di sekitar kawasan Medan Merdeka. Di peron jalur tiga Stasiun Gambir, kesibukan para pelaju dan penumpang malam terlihat begitu dinamis. Suara pengumuman keberangkatan kereta api melalui pengeras suara berdengung bersahut-sahutan dengan deru roda besi gerbong yang bergesekan pelan di atas rel.
Rian melangkah tenang di atas lantai peron, mengenakan jaket kain berwarna gelap sederhana dengan tas ransel hitam tersampir di bahu kirinya. Di sebelah kanannya, Maya berjalan agak cepat sambil menyeret koper kabin kecil berwarna perak, sesekali merapikan letak syal rajut biru muda di lehernya untuk menahan angin malam stasiun yang mulai berhembus dingin.
"Wah, aku tidak menyangka pihak Kusuma Group benar-benar memesankan tiket kelas eksekutif khusus untuk keberangkatan delegasi kita ke ibu kota," bisik Maya kagum sambil memandangi nomor gerbong yang tertera di tiket elektronik ponselnya. Ia menoleh ke arah Rian dengan mata berbinar. "Biasanya kalau sekolah mengadakan lomba ke luar kota, kita paling banter diangkut menggunakan bus pariwisata ber-AC yang sudah tua."
Rian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, menoleh sekilas ke arah deretan gerbong kereta eksekutif Argo Dwipangga yang berbaris rapi di samping peron. "Fasilitas transportasi hanyalah sarana logistik pendukung perpindahan fisik, Maya. Yang menentukan kualitas perjalanan tetaplah kesiapan mental kita menghadapi babak grand final di universitas pusat besok pagi."
Maya tertawa kecil, menggelengkan kepalanya mendengar respons realistis sekaligus filosofis dari teman sekelompoknya itu. "Kau ini ya... di saat orang lain merasa gugup atau bersemangat menyambut kompetisi tingkat nasional di ibu kota, kau justru terdengar seperti seorang pengamat senior yang sedang mengevaluasi jadwal perjalanan kereta pos."
"Gugup adalah bentuk pemborosan energi psikologis," balas Rian ringan, melangkah mendekati pintu masuk gerbong eksekutif nomor empat saat kondektur berseragam rapi membukakan pintu dan mempersilakan penumpang naik. "Jika persiapan telah dilakukan dengan presisi penuh, hasil akhir hanyalah konsekuensi logis dari hukum sebab-akibat."
Keduanya naik ke dalam gerbong berpendingin udara yang bersih dan tenang. Karpet tebal meredam suara langkah kaki mereka, sementara kursi-kursi penumpang berbalut kulit sintetis berwarna cokelat gelap tampak nyaman dengan ruang kaki yang sangat longgar. Maya memilih kursi di sisi jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah rel luar, sementara Rian duduk di sebelah lorong, langsung meletakkan tas ranselnya di rak bagasi atas dengan gerakan yang terukur.
Tidak lama setelah mereka duduk, rangkaian kereta bergerak perlahan meninggalkan peron Stasiun Gambir, meluncur mulus membelah malam kota Jakarta menuju arah timur.
Sementara itu, ribuan kilometer di luar hiruk-pikuk gerbong kereta yang melaju, di ruang kerja pribadi lantai sepuluh Kusuma Tower, suasana malam terasa sangat kontras dalam keheningan yang tegang.
Hartawan Kusuma duduk di balik meja kerja mahoninya, menatap layar monitor komputer yang menampilkan siaran langsung laporan audit keuangan terbaru bersama Wijaya, kepala divisi pengembangan teknologi. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya berjas rapi—yang tidak lain adalah Profesor Wiratman dari dewan pengawas riset nasional—berdiri melipat tangan di depan dinding kaca panorama kota.
"Informasi yang kau sampaikan barusan cukup mengejutkan, Hartawan," ucap Profesor Wiratman dengan nada serius, membalikkan badannya menghadap meja kerja Hartawan. "Apakah kelompok hukum bayaran di bawah pimpinan Bramasta itu benar-benar masih mencoba mencari celah untuk mendiskreditkan proyek riset Rian?"
Hartawan mengembuskan napas berat, merapikan beberapa berkas dokumen di hadapannya. "Meskipun jaringan utama Viktor Tan telah runtuh dan sebagian besar aset mereka disita negara, orang-orang seperti Bramasta adalah sisa-sisa faksi lama yang tidak mudah menyerah. Mereka tahu bahwa jika laboratorium independen Rian resmi beroperasi penuh di bawah payung Kusuma Group minggu depan, seluruh monopoli proyek energi kotor mereka di daerah akan musnah selamanya."
Wijaya merapatkan letak kacamatanya, menambahkan dengan nada prihatin. "Tim keamanan siber kita tadi sore mendeteksi adanya upaya peretasan berulang terhadap server data enkripsi milik Rian yang terhubung ke sistem pusat. Untungnya, protokol keamanan berlapis yang dirancang sendiri oleh Rian berhasil memblokir serangan itu tanpa celah."
Profesor Wiratman mengerutkan keningnya, menggelengkan kepala takjub bercampur geram. "Anak itu memiliki kecerdasan setingkat jenius abadi, tapi mereka memperlakukannya seolah-olah dia adalah ancaman kriminal biasa. Apa langkah pengamanan yang sudah kita siapkan untuk esok hari di pusat konvensi universitas nasional?"
Hartawan berdiri dari kursinya, sorot matanya memancarkan ketegasan mutlak seorang pemimpin korporasi besar. "Aku telah mengerahkan unit pengamanan khusus privat untuk mengawal Rian dan Maya selama berada di arena grand final nasional. Tidak seorang pun, termasuk kelompok Bramasta, yang diizinkan mendekati area presentasi tanpa verifikasi biometrik tingkat tinggi."
Profesor Wiratman mengangguk pelan, merasa sedikit tenang mendengar langkah antisipasi tersebut. "Bagus. Kita harus memastikan bahwa masa depan dunia sains negeri ini tidak dirusak oleh tangan-tangan serakah para spekulan politik."
Kembali ke dalam gerbong kereta eksekutif Argo Dwipangga yang melaju stabil menembus kegelapan malam di antara kebun-kebun dan pedesaan Jawa Barat, suasana di dalam kabin terasa sangat tenang. Sebagian besar penumpang di kursi sekitar mereka telah memejamkan mata, terlelap dalam perjalanan panjang menuju pagi hari.
Maya menutup laptop di pangkuannya, lalu menoleh ke arah Rian yang duduk di sebelah lorong. Cahaya lampu baca kecil di atas kursi memantul lembut di wajah pemuda itu, yang sedang membaca dokumen ringkasan materi presentasi final tanpa suara.
"Rian," panggil Maya pelan, memastikan suaranya tidak mengganggu penumpang lain di barisan depan.
Rian mengalihkan pandangannya dari lembar dokumen, menatap Maya dengan tenang. "Ada yang mengganggumu, Maya?"
Maya merapikan rambutnya sebentar, menghela napas ringan. "Jujur saja... semakin dekat kita dengan lokasi grand final di ibu kota besok pagi, rasa cemas di dadaku semakin besar. Bukan karena aku meragukan materi presentasi kita, tapi... kau tahu sendiri betapa ketatnya persaingan di tingkat nasional. Tim-tim dari universitas top dan sekolah elit ibu kota memiliki fasilitas laboratorium yang jauh lebih canggih daripada apa yang kita miliki di SMA Bina Bangsa."
Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selalu mampu menularkan ketenangan bagi siapa pun yang melihatnya. Ia meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja lipat kecil di hadapannya.
"Fasilitas laboratorium yang mahal dan megah tidak pernah bisa menggantikan ketajaman pemahaman konseptual seseorang terhadap hukum alam, Maya," ujar Rian dengan nada suara yang jernih dan berwibawa. "Tim-tim dari sekolah elit mungkin terbiasa menghafal teori dari buku teks tebal dan merakit perangkat menggunakan komponen impor yang mahal. Namun, mereka tidak pernah benar-benar memahami esensi di balik setiap rumus yang mereka ketik di layar."
Maya mendengarkan penjelasan itu dengan saksama, merasakan beban kecemasan di pundaknya perlahan-lahan menguap. "Kau selalu tahu cara meredakan kepanikanku dengan kalimat-kalimat filosofismu itu, Rian."
"Itu bukan sekadar kalimat penenang, Maya, itu adalah hukum realitas," balas Rian ringan. Ia menoleh ke arah jendela kaca kereta yang memantulkan bayangan gelap malam di luar sana.
Melalui Mata Dewa Pengamat, kesadaran Rian menembus batas kaca jendela, merasakan aliran gelombang energi kosmik dan getaran elektromagnetik rel kereta yang berpadu selaras dalam harmoni alam semesta. Di dalam tubuhnya, inti energi Qi berputar stabil pada tingkat transisi ketujuh, memberikan ketajaman batin yang mampu membaca dinamika energi di sekelilingnya hingga radius ratusan meter.
"Besok pagi, di hadapan para dewan juri nasional," lanjut Rian dengan suara tenang namun penuh keyakinan mutlak, "kita tidak sedang bertanding untuk mencari pengakuan sosial atau pujian institusi. Kita hadir untuk membuktikan bahwa kebenaran sains murni berdiri di atas fondasi yang tidak bisa digoyahkan oleh kepentingan apa pun."
Maya menatap lurus ke dalam manik mata Rian yang tampak sangat dalam dan memancarkan wibawa luar biasa. Rasa hormat dan kekaguman yang mendalam bergemuruh di dalam dadanya; ia sadar bahwa berada satu tim dengan pemuda misterius ini adalah babak paling berharga dalam seluruh perjalanan hidup masa sekolahnya.
"Baiklah, Rian," ucap Maya mantap, menegakkan punggungnya dengan senyuman cerah di wajahnya. "Aku akan berdiri di sampingmu sebagai partner tim yang setara, dan kita akan tunjukkan kepada dewan juri nasional hasil karya terbaik yang pernah ada di negeri ini."
"Bagus," jawab Rian singkat, kembali merapikan dokumen di mejanya. "Sekarang, istirahatkan dirimu. Perjalanan masih panjang, dan energi fisik yang prima adalah syarat mutlak menghadapi penjurian esok hari."
Maya mengangguk patuh, menyandarkan kepalanya ke kursi, lalu memejamkan mata perlahan diiringi deru ritmis roda kereta yang terus melaju menembus malam menuju ibu kota. Di dalam keheningan gerbong yang berjalan, Rian kembali menutup matanya, membiarkan aliran energi spiritual menyatu sempurna dengan keheningan kosmik, bersiap menyambut panggung terbesar dalam perjalanan fana dan kultivasinya.