Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Hari-hari yang Manis
Pagi pertama sebagai suami istri terasa begitu berbeda — bukan karena dunia berubah seketika, melainkan karena hati mereka yang kini terasa penuh dan tenang. Lin Muchen bangun lebih awal, menyeduh teh hangat, lalu berdiri sejenak di ambang pintu kamar, menatap Gu Shiyu yang masih terlelap. Cahaya matahari pagi menyentuh wajahnya, membuatnya tampak damai, seolah beban masa lalu akhirnya benar-benar hilang.
Ia mendekat perlahan, mengecup keningnya lembut. Gu Shiyu membuka mata perlahan, tersenyum begitu melihatnya.
“Selamat pagi, Istriku,” ucapnya pelan, lembut dan bangga.
Wajah Gu Shiyu memerah samar. “Selamat pagi, Suamiku.” Kata itu terdengar asing namun begitu indah di telinganya. Ia duduk, meraih tangan pria itu, meremasnya erat. “Rasanya masih seperti mimpi.”
Lin Muchen tersenyum, duduk di sampingnya. “Bukan mimpi. Ini nyata. Dan setiap hari ke depan akan seperti ini — kita bangun bersama, menjalani hari bersama, tidur bersama.”
Hari-hari berikutnya tidak berubah menjadi sesuatu yang luar biasa megah — justru keindahannya terletak pada hal-hal kecil yang sederhana. Mereka bangun pagi bersama, menyiapkan sarapan di dapur yang hangat, bercerita sambil memotong sayuran, tertawa saat salah satu tumpah sedikit bumbu ke lantai. Tidak ada lagi yang harus menjaga jarak, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan bahwa kapan saja mereka akan berpisah.
Pagi itu di meja makan, Gu Shiyu menatap kalender di dinding, lalu menoleh ke arah suaminya. “Minggu depan ada kunjungan ke desa sebelah. Mereka meminta bantuan membangun klinik kecil.”
Lin Muchen mengangguk sambil menyuap nasi. “Kita berangkat bersama?”
“Tentu saja,” jawabnya tersenyum. “Kita ke mana pun bersama, ingat?”
Perjalanan ke desa itu memakan waktu setengah hari. Jalanannya berkelok, kadang berbatu, namun mereka menikmatinya — menyanyi pelan, bercerita tentang masa kecil, tentang mimpi-mimpi yang dulu mereka simpan sendiri. Warga desa menyambut mereka dengan hangat, seolah mereka adalah kerabat jauh yang pulang ke kampung halaman.
Malam itu, mereka menginap di rumah warga. Duduk di beranda kayu yang sederhana, memandang langit yang penuh bintang. Gu Shiyu menyandarkan kepala di bahu suaminya, membiarkan angin malam menyapu lembut rambutnya.
“Dulu aku takut tidur di tempat asing…” bisiknya. “Takut ada bahaya, takut sendirian.”
Lin Muchen mengusap punggung tangannya pelan. “Sekarang tidak lagi. Kau tidak pernah sendirian. Di mana pun kita berada, kita bersama.”
Ia mengangkat tangan Gu Shiyu, mencium cincin di jari manisnya. “Janji itu tidak hanya untuk hari pernikahan. Setiap pagi saat aku bangun melihatmu, aku mengucapkannya kembali di dalam hati. Setiap malam sebelum tidur, aku bersyukur kau ada di sisiku.”
Gu Shiyu tersenyum, matanya berbinar di bawah cahaya bintang. “Aku juga. Dulu aku berpikir dicintai itu saat dilindungi dari bahaya. Ternyata lebih dari itu — dicintai adalah didengarkan, dipahami, diberi tempat untuk menjadi diriku sendiri sepenuhnya.”
Kehidupan mereka sederhana namun penuh makna. Pagi bekerja bersama di kantor atau di lokasi proyek, siang berbagi makan siang sambil berdiskusi, sore pulang beriringan, malam duduk bersama di beranda atau membaca buku di ruang tengah. Kadang mereka berbeda pendapat — tentang cara mengelola dana, tentang prioritas proyek, tentang keputusan yang sulit. Namun perdebatan mereka tidak lagi penuh amarah atau keraguan. Mereka belajar berbicara dengan tenang, mendengarkan tanpa memotong, mencari jalan tengah yang baik untuk semua pihak.
Suatu sore, saat mereka sedang menyusun rencana perluasan sekolah, perbedaan pandangan muncul. Gu Shiyu ingin segera membuka dua ruang kelas baru, sementara Lin Muchen mengusulkan memperkuat pondasi dan pelatihan guru terlebih dahulu.
“Anak-anak butuh tempat belajar sekarang,” ucap Gu Shiyu lembut namun tegas. “Jangan menunda.”
“Dan mereka butuh tempat yang aman dan pengajaran yang baik,” jawab Lin Muchen dengan tenang. “Jangan terburu-buru, Sayang. Kita lakukan dengan kokoh.”
Gu Shiyu terdiam sejenak, menyadari kecemasannya — ia ingin semua orang terbantu secepatnya, takut ada yang menunggu terlalu lama. Ia menarik napas panjang, lalu menatap suaminya dengan senyum malu. “Kau benar. Aku terlalu ingin memberi, sampai lupa memastikan pemberian itu kokoh.”
Lin Muchen tersenyum, merangkul bahunya. “Kita berdua punya kelebihan yang berbeda. Hatimu mendorong ke depan, akal sehatku menjaga agar tidak tergelincir. Bersama kita seimbang.”
Akhirnya mereka menyusun rencana gabungan — memperbaiki gedung yang ada sekaligus membuka satu ruang baru, mengatur jadwal pelatihan guru beriringan dengan pembangunan. Hasilnya lebih baik daripada rencana masing-masing.
Suatu hari, Rian datang membawa kabar bahagia — ia akan menikah, dan ia meminta mereka berdua meresmikan ikatannya. “Kalian yang mengajarkan arti kesetiaan dan kebersamaan,” ucapnya tulus. “Tanpa kalian, aku tidak akan berani melangkah ke sini.”
Saat mereka meresmikannya, Lin Muchen melihat Gu Shiyu meneteskan air mata bahagia. Setelah upacara selesai, mereka berjalan berdampingan pulang ke rumah.
“Dulu kita hanya berdua…” ucap Gu Shiyu pelan. “Sekarang keluarga kita semakin luas. Rian, Bu Lina, Pak Surya, warga desa… semuanya bagian dari hidup kita.”
“Karena cinta itu tumbuh saat dibagikan,” jawab Lin Muchen lembut. “Semakin banyak kita berbagi, semakin kaya hati kita.”
Malam itu, di rumah yang tenang, mereka duduk di bawah pohon yang mereka tanam dulu. Daun-daunnya bergoyang ditiup angin, menciptakan bayangan lembut di tanah.
“Muchen…” panggil Gu Shiyu pelan. “Apakah kau pernah membayangkan hari-hari seperti ini?”
Lin Muchen berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Jujur, dulu aku hanya berharap kau selamat. Tidak berani memimpikan lebih dari itu. Ternyata Tuhan memberi jauh lebih indah daripada yang bisa kubayangkan.” Ia menatap istrinya lekat-lekat. “Kau adalah keajaiban terbesarku.”
Gu Shiyu tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Dan kau adalah rumahku. Di mana pun kau berada, di situlah rumahku.”
Mereka duduk berpelukan dalam diam, menikmati kehangatan satu sama lain. Tidak ada janji besar yang diucapkan malam itu — mereka sudah mengucapkannya berkali-kali, dengan tindakan, dengan kesetiaan, dengan setiap hari yang mereka jalani bersama.
Masa depan masih menyimpan hal-hal yang belum diketahui — mungkin ada tantangan, mungkin ada kesedihan, mungkin ada perubahan. Namun mereka tidak takut. Karena apa pun yang terjadi, mereka menghadapinya berdua — tangan saling menggenggam, hati saling menguatkan, selamanya.