NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Takdir

Pagi itu, aroma minyak goreng panas dan bumbu tumis menelusuri selasar gang padat pemukiman di kawasan Tebet. Di sebuah rumah bercat hijau pudar dengan teras sempit, Ayu sedang menyusun beberapa lembar modul pelajaran matematika dasar dan buku cerita anak ke dalam tas kainnya.

"Ayu, kamu yakin nak mau berangkat kerja hari ini?" tanya ibunya yang bernama Bu Rahma, sembari membawa seangkring teh hangat dan diletakkan di atas meja kayu yang sudah mengelupas catnya.

Ayu menoleh, lalu mengukir senyum menenangkan. Wajahnya yang lembut berbingkai jilbab segi empat sederhana tampak bersinar alami tanpa polesan riasan tebal. "Yakin, Bu. Moana ada ujian membaca minggu depan. Ayu gak enak kalau diliburkan hanya karena pikiran Ayu lagi acak-acakan."

Bu Rahma menghela napas panjang, lalu mendudukkan diri di bangku kayu bertumpu lutut. "Ibu tahu kamu kuat, Ayu. Tapi omongan tetangga di luar sana... Ibu yang dengar rasanya nyeri di dada. Mba Yayuk tadi pagi di warung bilang kamu silau harta, mau-mauan dipersunting duda anak tiga."

Ayu menghentikan jemarinya yang sedang merapikan tali tas. Ia mendekati ibunya, dan menggenggam jemari tua yang kasar itu dengan penuh kehangatan.

"Bu, biarkan orang berkata apa," bisik Ayu. "Ayu yang menjalani. Ayu tahu betul Pak Yoga itu pria seperti apa. Dia tidak pernah memandang Ayu sebelah mata, dia menghormati Ayah dan Ibu. Kalau Ayu cuma incar hartanya, dari dulu Ayu sudah berhenti jadi guru privat dan minta aneh-aneh. Tapi ini bukan soal uang, Bu."

"Soal apa, Nak?" tanya Bu Rahma menatap dalam-dalam mata anak gadisnya.

"Soal rasa aman. Dan... rasa sayang Ayu sama Moana," jawab Ayu jujur.

Memang benar. Bisik-bisik tetangga yang menyudutkannya seolah-olah Ayu adalah wanita pemburu harta sudah menjadi makanan sehari-hari sejak kabar rencana pernikahannya mencuat dua minggu lalu.

"Masa iya Ayu mau jadi istri Pak Yoga, dia kan duda dengan tiga anak sedangkan Ayu masih gadis."

"Zaman sekarang status tuh gak penting, yang penting kan banyak uangnya."

Kalimat-kalimat tajam seperti itu menghujam tanpa henti. Namun bagi Ayu, dunia mereka dan dunianya adalah dua hal yang berbeda. Orang luar hanya melihat Yoga sebagai seorang kontraktor sukses yang kaya raya, pemilik rumah dua lantai dengan mobil mewah.

Mereka tidak melihat Yoga sebagai seorang ayah tunggal yang lelah namun pantang menyerah, yang berjuang membagi waktu antara tumpukan cetak biru bangunan dan tumbuh kembang anak-anaknya sejak istrinya meninggal lima tahun lalu.

Kini, langkah kaki Ayu membawanya menelusuri pelataran rumah megah berpagar besi tinggi di kawasan elite Jakarta Selatan. Sudah satu tahun Ayu bekerja sebagai guru privat di rumah ini.

Tugas utamanya sederhana, mengajar membaca, berhitung, dan mendampingi Moana, putri bungsu Yoga yang baru berusia enam tahun.

Kring!

Ayu menekan bel di samping gerbang. Tak lama kemudian, pintu samping dibuka oleh Bibi Minah, asisten rumah tangga senior di sana.

"Eh, Bu Ayu... Silakan masuk, Bu," sapa Bibi Minah hangat. Senyum wanita paruh baya itu selalu menjadi Oase bagi Ayu.

"Pagi, Bi. Moana sudah siap?" tanya Ayu ramah seraya melangkah masuk ke halaman yang asri.

"Neng Moana sudah nungguin dari tadi di ruang keluarga, Bu. Tapi..." Bibi Minah menggantungkan kalimatnya, matanya melirik canggung ke arah lantai atas. "...masa Pak Yoga juga belum berangkat kantor jam segini. Katanya sengaja mau nunggu Bu Ayu."

Jantung Ayu berdesir pelan. Sejak peristiwa lamaran resmi dua minggu lalu, di mana Yoga secara gentleman datang bersama ibu kandungnya ke rumah orang tua Ayu, suasana pertemuan mereka memang selalu diliputi kehangatan yang canggung namun terasa manis.

Ayu melangkah menuju ruang keluarga. Di atas karpet bulu yang empuk, Moana sedang sibuk menyusun balok-balok kayu. Begitu menyadari kehadiran Ayu, mata bulat gadis kecil itu langsung berbinar cerah.

"Kak Ayu!" Moana berlari kecil dan langsung memeluk pinggang Ayu erat-erat.

Ayu pun terkekeh dan berlutut membalas pelukan hangat itu. "Halo, Sayang... Semangat banget hari ini. Sudah sarapan belum?"

"Sudah! Mamin manis sama telur dadar!" seru Moana polos. "Kak Ayu, kata Papa sebentar lagi Kak Ayu gak boleh dipanggil 'Kakak' lagi ya?"

Ayu terpaku sejenak. Wajahnya merona halus. Belum sempat ia menjawab, sebuah suara berat yang familiar terdengar dari arah tangga.

"Moana... kan Papa bilang, tunggu Papa yang jelaskan pelan-pelan," ujar Yoga yang berjalan turun dari tangga.

Pria berusia empat puluh tahun itu tampil rapi dengan kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana kain gelap. Wajahnya tegas, dengan sedikit uban di pelipis yang justru menambah kesan matang dan berwibawa. Matanya yang teduh menatap Ayu, seraya melukiskan senyum tipis yang tulus.

"Pagi, Ayu," sapa Yoga.

"Pagi, Pak—eh, Mas Yoga," sahut Ayu gugup, karena masih belum terbiasa memanggil calon suaminya dengan panggilan akrab.

Yoga terkekeh pelan melihat kecanggungan Ayu. Ia lantas mendekat dan berdiri tidak jauh dari tempat Ayu berlutut bersama Moana.

"Ayu, terima kasih ya sudah mau datang hari ini. Padahal saya sudah bilang, kamu boleh libur dulu sampai hari H pernikahan kita," kata Yoga dengan perhatian yang jujur.

"Tidak apa-apa, Mas. Saya malah senang bisa ketemu Moana. Lagipula di rumah juga tidak ada kegiatan penting," jawab Ayu pelan.

"Papa! Kak Ayu mau jadi Mama Moana kan?" potong Moana tiba-tiba sambil memegang kedua tangan Ayu. "Soalnya Moana mau punya Mama yang pinter mendongeng kayak Kak Ayu. Biar Moana gak iri sama teman-teman di sekolah!"

Kata-kata polos dari anak berusia enam tahun itu memukul sudut hati Ayu yang paling dalam. Moana kehilangan ibu kandungnya ketika ia baru berusia satu tahun akibat penyakit kanker.

Sepanjang hidupnya, Moana tidak pernah merasakan hangatnya belaian seorang ibu. Rasa kasih sayang yang tumbuh alami di hati Ayu untuk Moana inilah yang menjadi alasan terbesarnya menerima lamaran Yoga.

Yoga menatap Ayu dengan tatapan sarat makna, seolah memohon pengertian. "Moana sangat menyukaimu, Ayu. Sejak kamu mengajar di sini, dia jadi jauh lebih ceria. Kamu membawa kehangatan yang sudah lama hilang di rumah ini."

"Saya juga sangat sayang sama Moana, Mas," balas Ayu tulus, menatap balik mata pria itu. "Saya janji akan menjaga dan menyayanginya seperti anak saya sendiri."

Namun, kehangatan momen itu mendadak menguap saat langkah kaki yang berat dan kasar terdengar menuruni tangga.

Dua sosok remaja berdiri di bordes tangga lantai dua, sambil menatap ke arah ruang keluarga.

Yang pertama adalah Kenzo, remaja laki-laki berusia enam belas tahun dengan gaya cuek, mengenakan seragam SMA yang dikeluarkan dan tas punggung tercangklong di satu bahu.

Di sampingnya berdiri Lea, anak kedua Yoga, seorang gadis remaja berusia empat belas tahun dengan seragam SMP, rambut dikuncir kuda, dan wajah yang ditekuk masam.

Lea menatap Ayu dari atas tangga dengan tatapan dingin yang penuh rasa permusuhan.

"Pa, Lea berangkat sekolah dulu. Udah dijemput Pak Maman di depan," cetus Lea tanpa mau menginjakkan kaki lebih dekat ke ruang keluarga.

Yoga menoleh ke arah anak perempuannya. "Lea, Kenzo, bersalaman dulu sama calon Ibu kalian."

Lea terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang sangat kentara. "Ibu? Pa, dia itu cuma guru privat yang usianya cuma beda berapa tahun dari Bang Kenzo. Jangan paksa kita buat panggil dia 'Ibu'."

"Lea! Jaga sopan santunmu!" tegur Yoga dengan suara menajam.

"Kenapa? Memang kenyataan kan?" timpal Kenzo santai tanpa beban, sambil merapikan tali tasnya. "Papa kalau mau cari istri baru ya terserah Papa. Tapi gak usah berharap kita bakal menganggap dia sebagai pengganti Mama."

Tanpa menunggu balasan dari ayahnya, Kenzo dan Lea berbalik melangkah keluar menuju pintu depan, meninggalkan hembusan angin dingin yang menusuk. Pintu depan pun tertutup dengan dentuman yang cukup keras.

Ruang keluarga itu mendadak hening seketika.

Yoga memijat pangkal hidungnya, sembari menghela napas panjang yang sarat akan kelelahan batin. Ia lalu menatap Ayu dengan raut wajah yang penuh penyesalan dan rasa malu.

"Ayu... Maafkan anak-anak. Kenzo dan Lea... mereka masih sangat terikat dengan kenangan almarhumah ibunya. Apalagi Lea, dia sangat sensitif sejak kehilangan sosok ibu di usia muda," bisik Yoga dengan suara bergetar.

Ayu mengusap lembut bahu Moana yang tampak bingung, lalu berdiri menatap Yoga. Meski dadanya terasa sedikit sesak menyaksikan penolakan terbuka dari dua remaja itu, Ayu berusaha menguatkan hatinya. Ia tersenyum tipis, dan mencoba mengikis keraguan di wajah calon suaminya.

"Tidak apa-apa, Mas Yoga. Saya mengerti," ujar Ayu dengan ketenangan yang luar biasa. "Anak-anak butuh waktu. Saya tidak datang ke rumah ini untuk menghapus kenangan ibu mereka. Saya hanya ingin menjadi bagian dari keluarga ini dan merawat kalian."

Yoga menatap Ayu dengan pendar kekaguman yang makin dalam. Di dalam hati pria itu, ia makin yakin bahwa keputusannya memilih Ayu sebagai pendamping hidup adalah keputusan yang paling tepat, meski ia tahu jalan yang akan mereka tempuh tidak akan pernah mudah.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!