NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pendekar Desa Sunyi

Bangkitnya Pendekar Desa Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Action
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. ​Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMATIAN TIGA DETIK

​Gerbang kayu raksasa Kota Perunggu berdiri megah di balik rerimbunan pohon pinus tua. Sebagai kota dagang utama di bawah naungan Sekte Pedang Suci, tempat ini seharusnya menjadi pusat keramaian yang bising oleh derap kaki kuda dan teriakan para pedagang. Namun, sore itu, Kota Perunggu diselimuti oleh kabut hitam tebal yang tidak alami. Udara terasa sangat dingin, meresap hingga ke dalam tulang, sementara bau seperti busuknya daging terbakar mengambang tipis di atmosfer.

​Tidak ada suara burung. Tidak ada anjing jalanan yang menggonggong. Bahkan pepohonan di sepanjang jalan menuju gerbang tampak meranggas, daun-daunnya berubah hitam dan gugur menjadi debu saat disentuh angin.

​Dari dalam kabut tebal itu, sesosok pemuda melangkah perlahan.

​Ryu Jin berjalan dengan ritme yang konstan. Jubah kelabunya yang kusam melambai pelan. Di punggungnya, Pedang Tulang Hitam terikat erat, terbungkus kain tebal yang terus bergetar samar. Setiap kali telapak kaki Ryu Jin menyentuh tanah, rumput liar di sekitarnya seketika layu dan membeku, meninggalkan jejak telapak kaki berwarna hitam keabu-abuan.

​Ryu Jin mendongak tipis, menatap langit Kota Perunggu melalui celah rambut hitamnya. Matanya yang merah menyala berkilat dingin di balik kegelapan.

​"Formasi Penjaring Jiwa..." gumam Ryu Jin pelan. Suaranya serak dan membekukan udara di sekitarnya.

​Ia bisa merasakan susunan tenaga dalam yang terdistorsi di atas langit kota ini. Sekte Pedang Suci tidak hanya menggunakan kota ini sebagai pusat pemerintahan luar, tetapi juga sebagai ladang pembantaian terselubung. Sebuah formasi terlarang telah ditanam di bawah pondasi kota, menyerap energi vital dan jiwa para warga secara perlahan setiap harinya tanpa mereka sadari, demi mematangkan ritual Sepuluh Ribu Jiwa Murni.

​Bagi orang awam, warga kota ini hanya tampak pucat dan mudah sakit. Namun di mata Ryu Jin, mereka adalah mayat berjalan yang jiwanya sedang digerogoti secara perlahan oleh sekte yang mereka agungkan.

​Ryu Jin melangkah melewati pintu gerbang kota yang tak dijaga. Para prajurit penjaga di pos depan tampak terduduk kaku di kursi kayu mereka, mata mereka melotot hampa dengan kulit yang mengering seperti mumi. Jiwa mereka telah dihisap habis oleh formasi kota beberapa jam yang lalu.

​Ia menyusuri jalanan batu yang lengang hingga menemukan sebuah kedai tua berlantai dua dengan papan nama terombang-ambing ditiup angin: Kedai Anggur Rembulan.

​Suara dentingan gelas dan bisik-bisik tegang terdengar dari dalam. Ryu Jin mendorong pintu kayu kedai tersebut.

​KRIEEET...

​Suara engsel pintu yang berderit memotong seluruh percakapan di dalam kedai secara instan. Puluhan pasang mata—para pendekar bayaran, pedagang nekat, dan beberapa murid luar Sekte Pedang Suci—sekadarnya menoleh ke arah pintu.

​Suasana kedai yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es.

​Lilin-lilin yang menyala di setiap meja mendadak mengecil, apinya berubah warna menjadi biru kehitaman sebelum akhirnya padam bersamaan. Udara begitu pekat hingga mangkuk-mangkuk sup panas di atas meja para pengunjung mendadak membeku, mengeluarkan lapisan es tipis di permukaannya.

​Ryu Jin tidak mengindahkan tatapan terkejut dan ketakutan itu. Ia berjalan menuju meja kosong di sudut paling gelap, lalu duduk dengan tenang.

​"A-Apa-apaan ini..." bisik seorang pendekar bertubuh kekar di meja tengah, dadanya naik turun menahan gelombang tekanan jiwa yang mendadak mencekik lehernya. "Pemuda itu... kenapa auranya begitu mengerikan?"

​"Lihat pedang di punggungnya..." bisik pendekar lain dengan wajah pucat pasi. "Kain pembungkusnya... seperti bernapas!"

​Di sudut lain kedai, tiga orang murid luar Sekte Pedang Suci berbisik-bisik tegang sambil mengepalkan tangan pada gagang pedang mereka.

​"Apakah kau sudah mendengar desas-desus dari perbatasan?" bisik murid berpakaian biru. "Pasukan Tetua Zhao Kang di Desa Sunyi... semuanya tewas. Dua ratus orang dibantai tanpa sisa hanya dalam hitungan menit!"

​"Jangan bicara sembarangan!" sergah rekannya. "Satu desa penuh orang cacat tidak mungkin bisa menumbangkan pasukan Tetua Zhao! Pimpinan sekte mengatakan ada iblis zaman purba yang lepas dari segel!"

​"Tapi cermin pengintai yang tersisa memperlihatkan seorang pemuda bertangan dingin... dia membawa pedang hitam dan mata merah pembunuh..."

​Mendengar bisikan itu, Ryu Jin yang duduk di sudut gelap hanya menuangkan air dingin ke dalam cangkirnya. Bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat dingin.

​Tiba-tiba, pintu kedai ditendang terbuka dari luar dengan keras!

​DUAARR!

​Belasan prajurit berseragam zirah besi hitam melangkah masuk dengan senjata terhunus. Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan jubah bermotif elang emas. Dialah Kapten Bao, pimpinan penjaga keamanan Kota Perunggu dari Sekte Pedang Suci, seorang praktisi Pembentukan Inti tingkat menengah.

​"Tutup seluruh pintu dan jendela!" teriak Kapten Bao dengan suara menggelegar. Matanya yang tajam menyapu seluruh isi kedai. "Ada penyusup iblis yang memasuki kota! Siapa pun yang mencurigakan harus diperiksa jiwanya!"

​Para pengunjung kedai panik dan mulai berdiri, namun tekanan dari para penjaga membuat mereka tak berani bergerak.

​Kapten Bao melangkah maju, dan pandangannya langsung tertuju pada sudut paling gelap—tempat Ryu Jin duduk sendirian. Pengalaman bertarungnya puluhan tahun membuat insting Kapten Bao berteriak histeris saat menatap pemuda berpakaian kelabu itu.

​"Kau!" Kapten Bao menunjuk Ryu Jin dengan pedang besarnya. "Buka kain penutup pedangmu dan tunjukkan papan identitasmu! Dari mana asalmu?!"

​Ryu Jin tidak mendongak. Ia mengangkat cangkirnya, meneguk air dingin itu perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan bunyi denting halus.

​TUK.

​"Kau tidak cukup bermutu untuk bertanya dari mana aku berasal," jawab Ryu Jin datar. Suaranya pelan, tetapi bergema di dalam rongga dada setiap orang yang ada di sana.

​Muka Kapten Bao merah padam karena dihina di depan anak buahnya. "Kepala batu! Di Kota Perunggu, kata-kataku adalah hukum! Prajurit, tangkap dia hidup-hidup! Jika dia melawan, cincang tubuhnya!"

​"Tunggu, Kapten!" bisik salah satu murid sekte di sampingnya dengan keringat dingin mengucur deras. "Aura pemuda itu... mirip dengan deskripsi iblis pembantai Desa Sunyi!"

​Mata Kapten Bao membelalak seketika. Ketakutan menyergap jantungnya, namun kesombongan dan gengsi sekte besar menutupi akal sehatnya. Ia menyadari jika pemuda di depannya benar-benar iblis itu, maka menangkapnya akan menjadi tiket emas bagi kariernya di pimpinan pusat.

​"Lakukan Formasi Penjaring Jiwa tingkat darurat!" jerit Kapten Bao histeris seraya merogoh sebuah jimat merah dari balik zirahnya. "Korbarkan darah orang-orang di kedai ini untuk mengunci gerakannya!"

​SSSTTT!

​Jimat merah itu meledak di udara, memicu ukiran-ukiran mistik di lantai kedai menyala merah darah.

​"Aaargh!"

​Jeritan histeris pecah dari para pengunjung kedai! Rantai-rantai bayangan berwarna merah mencuat keluar dari lantai, menancap ke dada para pendekar dan pedagang yang tak berdosa, menyerap darah dan daya hidup mereka secara paksa untuk membentuk jaring energi raksasa di atas kepala Ryu Jin.

​"Mati kau, Iblis!" teriak Kapten Bao dengan tawa gila, menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam jaring energi tersebut.

​Ryu Jin menatap jaring energi darah itu dengan pandangan bosan. Ia tidak berdiri dari kursinya. Ia bahkan tidak memegang gagang pedangnya dengan penuh.

​Ryu Jin hanya menggeser ibu jari tangan kirinya, mendorong pelindung gagang Pedang Tulang Hitam keluar dari sarungnya... hanya sedalam satu sentimeter.

​KLIK.

​Suara dentang halus itu begitu pelan, namun dampaknya bagaikan petir menyambar di tengah malam gelap.

​Gelombang kegelapan murni meledak dari celah satu sentimeter itu!

​WUUUUUSH!

​Api merah dari jaring energi darah Kapten Bao seketika padam, hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya yang meredup. Cahaya di dalam kedai lenyap sepenuhnya. Kegelapan mutlak merajai selama tiga detik yang terasa seperti keabadian.

​Dalam kegelapan total itu, hanya ada satu suara yang terdengar.

​CRAAK! CRAAK! CRAAK!

​Suara retakan tulang yang halus, bersahut-sahutan dengan sangat cepat, diikuti oleh bisikan ribuan suara gaib yang mendengung riang karena mendapat santapan segar.

​Tiga detik kemudian, cahaya sore kembali masuk menerobos jendela kedai.

​Seluruh pengunjung kedai ternganga dengan mata melotot lebar, tubuh mereka gemetar hebat hingga tak sanggup berdiri.

​Kapten Bao dan belasan prajurit zirahnya masih berdiri tegak di tempat mereka masing-masing dalam posisi siap menyerang. Namun, zirah besi mereka mendadak berubah warna menjadi hitam legam dan berkarat hebat.

​Kulit, daging, dan organ dalam Kapten Bao beserta seluruh prajuritnya telah hilang tanpa sisa! Yang tersisa di balik zirah mereka hanyalah tengkorak dan tulang-belulang kering berwarna hitam yang telah kehabisan seluruh sumsum dan darahnya!

​TUK.

​Ryu Jin mengetuk mejanya sekali lagi.

​BRUGH! BRUGH! BRUGH!

​Dalam seketika, belasan patung tulang prajurit Sekte Pedang Suci itu roboh bersamaan, hancur menjadi tumpukan debu tulang halus yang berhamburan di lantai kayu kedai. Zirah besi mereka remuk menjadi kepingan tak berguna.

​Hanya dalam waktu tiga detik, tanpa perlu mencabut pedangnya dari sarung, Ryu Jin telah menghabisi seluruh pasukan keamanan kota hingga menjadi abu!

​Pedang Tulang Hitam di punggung Ryu Jin mengeluarkan desihan puas, menyerap sisa-sisa energi jiwa Kapten Bao sebelum kembali tenang sepenuhnya.

​Seluruh ruangan kedai menjadi sunyi senyap. Para pendekar yang selamat dari cengkeraman Formasi Penjaring Jiwa berlutut di tanah, menundukkan kepala mereka rapat-rapat ke lantai. Mereka bahkan tak berani bernapas keras, takut jika gerakan sekecil apa pun akan membuat pemuda iblis itu menoleh ke arah mereka.

​Ryu Jin berdiri dari kursinya perlahan. Ia melangkah melewati tumpukan debu tulang tempat Kapten Bao berdiri tadi. Dengan gerakan santai, Ryu Jin membungkuk dan mengambil sebuah Token Emas Akses Benteng yang tergeletak di atas tumpukan debu.

​Ia membersihkan debu halus di token itu dengan ujung jarinya, lalu menatap ke luar jendela kedai—menatap lurus ke arah puncak bukit di mana Benteng Utama Kota Perunggu berdiri megah.

​"Satu lagi tetua yang bersembunyi di balik benteng..." gumam Ryu Jin dingin.

​Di puncak bukit, di dalam ruang meditasi Benteng Utama Kota Perunggu.

​Seorang pria tua berambut putih dengan jubah kebesaran Sekte Pedang Suci—Tetua Inti Lu Cien—mendadak membuka matanya lebar-lebar dari meditasinya.

​PRANG!

​Seluruh cermin kaca dan cermin mistik yang menghiasi dinding ruang meditasinya pecah serentak! Dari balik retakan kaca-kaca tersebut, merembes cairan darah segar bernoda hitam yang membasahi lantai karpet mewahnya.

​Tetua Lu Cien berdiri dengan wajah pucat pasi. Dada dan jantungnya berdetak begitu kencang hingga napasnya memburu. Sebagai seorang praktisi ranah Jiwa Kuno tingkat awal, ia merasakan gelombang hawa pembunuh yang sangat pekat dan dingin telah mengunci keberadaannya dari dalam kota.

​Aura itu bukan berasal dari seorang pendekar aliran benar, bukan pula dari iblis biasa. Itu adalah aura kematian mutlak dari sosok yang datang hanya untuk mencabut jiwanya.

​Tetua Lu Cien melangkah mundur hingga punggungnya menempel di dinding, matanya melotot menatap pintu gerbang bentengnya yang terkunci rapat.

​"Dia... dia sudah berada di dalam kotaku..." bisik Tetua Lu Cien dengan suara gemetar ketakutan. "Iblis Desa Sunyi... telah datang memburu kepalaku!"

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
saling support yo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!