Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Gedung pencakar langit Ashford Enterprises berdiri megah di pusat bisnis Los Angeles, memancarkan dominasi mutlak keluarga penguasa pantai barat tersebut.
Di lantai tertinggi, di dalam ruang kerja presiden direktur yang serba mewah dengan lantai marmer hitam dan dinding kaca raksasa, atmosfer terasa begitu dingin dan tegang.
Jameson Baxter Ashford duduk di balik meja kerjanya yang luas. Pria itu baru saja tiba dari kampus usai panggilan darurat dari Louis.
Kemeja putihnya yang sedikit tergulung hingga siku memperlihatkan otot matangnya, sementara sepasang mata hazel-nya menatap tajam sosok Louis yang berdiri di depan meja.
prak!
Louis melempar sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tua ke atas meja kaca tepat di hadapan JB.
JB menerima map itu, jemari panjangnya mengusap permukaan sampulnya sebelum sebuah senyuman tipis dan dingin terukir di wajah tampannya.
"Aku suka cara kerja timmu, Louis. Benar-benar cepat. Kuharap semua berkas penyelidikan ini sudah tertera lengkap, bahkan hingga ke masalah internalnya selama berada di Inggris."
Louis menyunggingkan senyum miring, merapikan kerah jasnya. "Kuharap itu pujian murni, Brother. Tapi saranku... jangan kaget dengan apa yang tertera di dalam sana. Wanita bertato kupu-kupu milikmu itu jauh lebih dari sekadar mahasiswi biasa."
Tanpa menambah rentetan kalimat menggoda lainnya, Louis menepuk bahu JB pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan—meninggalkan sang dosen muda dalam kesunyian mewah kantornya.
JB menarik napas dalam-dalam, mengambil pembuka surat perak, lalu memotong segel rahasia pada map tersebut.
Sepasang matanya yang setajam elang mulai meneliti lembar demi lembar lembaran laporan intelijen yang disusun sangat rapi oleh tim peretas dan penyelidik terbaik keluarga Ashford.
NAMA: Hazel Rosemary Brooks
USIA: 22 Tahun
ASAL: London, Inggris
JB menyusuri baris-baris informasi pribadi tersebut.
Hazel dibesarkan dalam lingkungan bangsawan Inggris yang sangat tertutup dan teratur. Pendidikan akademisnya sempurna, reputasinya di sekolah seni murni di London diakui sebagai salah satu jenius muda berbakat.
Namun, pandangan JB terhenti pada bagian riwayat kepindahannya.
Pindah ke New York sebagai mahasiswi seni transfer satu tahun lalu.
"Pembohong..." lirih JB dengan suara serak yang berat.
Sebuah senyuman mengejek diri sendiri terukir di bibirnya. Ia teringat jelas bagaimana dengan tenang dan anggunnya Hazel berbohong di ruang kerjanya kemarin sore—mengklaim bahwa dirinya tidak pernah singgah di New York dan meminta JB memeriksa seluruh pendatang di California jika ingin menuduhnya.
Ternyata wanita berwajah bagai malaikat porselen itu adalah seorang pembohong kelas kakap yang sanggup menatap mata musuhnya tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
JB membalik halaman berikutnya, dan seketika itu pula, sepasang matanya menyipit tajam.
Pendar kecurigaan di dalam dadanya berubah menjadi desiran bahaya yang membakar darahnya saat membaca bagian Laporan Rahasia Kepolisian New York yang berhasil diretas oleh tim Louis.
Sebuah kasus menggemparkan meledak di lingkungan galeri elit New York beberapa bulan lalu.
Kasus tersebut bermula dari sebuah skandal pameran seni mewah, di mana seorang mentor dan kurator seni terkenal di New York membeli sebuah lukisan eksklusif dengan harga fantastis dari pameran independen.
Namun, petaka terjadi saat lukisan itu hendak dirawat dan dikonservasi.
Pihak laboratorium menemukan keanehan pada struktur bahan lukisan tersebut.
Di dalam lapisan cat minyak yang mengering tebal, polisi dan tim forensik menemukan miniatur organ dan jaringan asli manusia yang telah diawetkan secara presisi.
Tidak hanya itu, berdasarkan uji pada warna merah pekat yang digunakan dalam lukisan mahakarya tersebut, teridentifikasi bahwa cat minyak itu dicampur menggunakan darah asli manusia yang telah diberi zat pengawet kimia tingkat tinggi.
Kasus horor itu seketika menjadi penyelidikan rahasia tingkat tinggi oleh kepolisian federal.
Dan nama Hazel Rosemary Brooks berada di barisan teratas daftar tersangka utama.
Polisi sempat mencurigainya habis-habisan dan menahannya untuk interogasi intensif.
Namun, pengaruh dan koneksi politik keluarga bangsawan Brooks yang sangat kuat di Inggris mendesak otoritas setempat.
Kasus itu akhirnya ditutup secara paksa oleh tekanan diplomatik, terlebih lagi kepolisian tidak sanggup menemukan satu pun bukti fisik, sidik jari, atau alat bukti langsung yang mengarah pada Hazel di tempat kejadian perkara.
Meskipun kasusnya dibekukan, Hazel sendiri saat interogasi secara terbuka mengakui fakta yang mencengangkan: Lukisan itu memang milik dan hasil karyanya.
Namun, Hazel membela diri dengan sangat dingin dan terstruktur. Ia menyatakan bahwa cat minyak merah dengan bahan pengawet aneh itu ia beli secara tidak sengaja dari seorang pedagang bahan seni langka di pasar gelap Inggris, dan ia sama sekali tidak tahu-menahu jika pigmen tersebut mengandung komponen darah manusia.
Polisi terpaksa membebaskannya karena tidak punya celah hukum untuk menahannya lebih lama.
Apalagi, saksi kunci—teman satu apartemennya di New York—memberikan kesaksian yang sangat kuat dan konsisten.
Dalam laporannya, sang teman menyatakan bahwa tidak ada yang aneh dari perilaku Hazel selama mereka tinggal bersama:
Hazel selalu pergi ke kampus dan pulang bersamaku. Dia hanya pergi ke studio melukis resminya dan tidak pernah menyimpan barang-barang aneh atau bahan kimia mencurigakan di apartemen kami.
JB mengusap rahang tegasnya, membaca detail alibi tersebut dengan kecerdasan analisisnya.
Pola yang sangat identik.
Karena posisinya yang mulai dicurigai di New York, Hazel memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut dan melakukan transfer akademis ke Los Angeles.
Dan di LA, wanita itu menerapkan pola manipulasi yang persis sama: tinggal bersama temannya—Seraphina, di sebuah apartemen umum dekat kampus.
Padahal dengan kekayaan bangsawan dan uang hasil penjualan lukisannya, Hazel sangat mampu menyewa penthouse atau rumah pribadi super mewah di kawasan perbukitan.
Tinggal bersama teman adalah dalih perlindungan yang sempurna.
Itu adalah tameng alibi yang sengaja ia ciptakan agar jika ada pembunuhan atau kasus misterius terjadi di LA, sang teman apartemen akan memberikan kesaksian polos yang sama seperti di New York:
Hazel selalu bersamaku, dia gadis baik-baik yang hanya fokus kuliah dan melukis.
Napas JB makin memburu saat ia membalik ke halaman paling akhir dari laporan tersebut.
Di sana terlampir hasil uji silang laboratorium rahasia yang baru saja diselesaikan oleh tim forensik Ashford satu jam yang lalu.
Hasil uji laboratorium membongkar fakta paling mengerikan:
Jasad mahasiswa laki-laki yang ditemukan tewas kaku di belakang gedung Seni Rupa kampus mereka kemarin memiliki pola kematian yang 100 persen identik dengan 3 korban pembunuhan berantai di New York.
Dan dari hasil analisis pembanding sampel darah... darah yang dicampurkan ke dalam cat minyak pada lukisan Hazel di New York merupakan darah murni milik salah satu dari 3 korban pria yang tewas mengenaskan tersebut!
Sret!
JB menggenggam pinggiran lembaran kertas itu hingga remuk di dalam tangannya. Pendar mata hazel-nya meledak oleh kombinasi amarah, kejutan luar biasa, dan kepuasan dominasi yang membakar seluruh dadanya.
Gadis berwajah malaikat itu... wanita bertato kupu-kupu yang menidurinya, melemparinya uang tunai, dan bersikap begitu polos di kelasnya... adalah seorang pembunuh berantai berdarah dingin yang menjadikan darah korbannya sebagai bahan utama untuk mahakarya lukisannya!
Sudut bibir Jameson Baxter Ashford terangkat tinggi, membentuk sebuah senyuman miring yang sangat tajam, berbahaya, dan sarat akan aura kemenangan yang mematikan.
"Kena kau...!" desis JB pelan dengan suara berat yang menggelegar di dalam ruangan sunyi itu.
"Kena kau, Hazel Rosemary Brooks..."
Kini, seluruh teka-teki itu telah terkelupas di tangan sang penguasa Ashford.
Permainan kucing dan tikus di antara mereka bukan lagi sekadar urusan dosen dan asisten atau dendam malam di kamar hotel—melainkan sebuah perburuan berbahaya antara seorang hakim berdarah dingin dan pria yang siap mengurungnya dalam sangkar kekuasaan.
...----------------...
...Happy reading 🦋...
up up up 🤣