Bobby seorang pelajar SMA, umur 18 tahun. Jatuh cinta dengan Nia, 32 tahun. Sahabat dari Tante nya Bobby yang bernama Farah.
Tante Nia yang cantik, cuek,dan konyol mampu membuat Bobby jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sayangnya Bobby harus bersaing dengan lelaki bernama Roy, yang juga menyukai Tante Nia.
Bagaimana Bobby bisa menaklukkan hati Tante Nia?
Ikuti kisahnya ya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24# Tidak ada damai..!
Nia tergesa-gesa berjalan menuju lift, disusul oleh Farah. Saat pintu lift terbuka, mereka langsung masuk ke dalam lift dan langsung menutup pintu lift. Nia dan Farah sengaja menghindari bertemu dengan Roy.
"Lu nggak pulang dulu Nia?" Tanya Farah, saat mereka berada didalam lift.
"Gue langsung saja ke rumah lu ya." Ucap Nia sambil beranjak keluar dari dalam lift. Saat pintu lift baru saja terbuka.
"Oke kalau begitu." Ucap Farah.
Mereka berdua bergegas menuju parkiran kantor. Nia mengendarai mobil yang baru saja dibeli nya. Ia pun mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, menuju rumah Farah. Sedangkan Farah mengendarai mobilnya tepat di depan mobil Nia.
Nia sengaja mematikan ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh Roy. Sebenarnya Roy cukup menarik perhatian Nia. Tetapi, karena Roy yang terlalu obsesi kepada dirinya, membuat Nia agak sedikit ilfeel dengan lelaki itu.
Satu jam kemudian, mereka pun sampai di rumah Farah. Saat mereka tiba, terlihat sebuah mobil sedan keluaran terbaru sudah terparkir di halaman rumah Farah.
Mobil itu adalah mobil Naya, yang sudah terlebih dahulu sampai di rumah Farah.
"Mobil siapa?" Tanya Nia kepada Farah.
"Gak tau gue, mungkin keluarga tersangka." Ucap Farah sambil berjalan menuju pintu rumah nya.
Saat mereka masuk ke dalam rumah, terlihat Naya yang sedang duduk berbincang bersama Bobby.
"Naya..!" Ucap Nia saat melihat Naya di sana.
"Nia.!" Naya pun beranjak dari duduknya. Lalu, ia menghampiri dan memeluk erat tubuh Nia.
"Ya ampun, gua kangen sama lu..!" Ucap Naya. Nia hanya tersenyum dan membalas pelukan Naya.
"Apa kabar lu?" Tanya Naya kepada Nia.
"Baik, lu apa kabar?" Tanya Nia.
"Baik Nia, ya ampun lu gak berubah sama sekali. Wajah lu awet muda sumpah..!" Ucap Naya yang terkagum-kagum memandang Nia.
"Bisa saja lu." Ucap Nia sambil tersipu malu.
"Hai Tante." Sapa Bobby sambil mengangkat kedua alisnya dan menatap Nia.
"Hai." Sahut Nia, dengan wajah malasnya.
"Bobby kangen Tante." Ucap Bobby berterus terang.
Nia, Farah dan Naya hanya bisa saling berpandangan.
"Cuekin saja bocah itu, otaknya kena pukul. Jadi, agak-agak gimana gitu." Ucap Farah sambil memutar-mutar kan telunjuknya di kepalanya.
Bobby terlihat memanyunkan bibirnya saat mendengar perkataan Farah.
"Gimana Nay, mereka jadi kesini?" Tanya Farah.
"Jadi, mungkin setengah jam lagi. Saat ini mereka sedang ada di jalan." Ucap Naya.
"Oh, Ya sudah. Gue buat kan minuman dulu ya, sekalian mau lihat anak gue dulu." Ucap Farah. Naya dan Nia pun mengangguk mempersilahkan Farah.
"Queen..! saya Bunda..!" Ucap Farah, saat ia baru saja membuka pintu kamar Queen yang sedang asik menggambar bersama pengasuh nya.
"Bunda...! Queen kangen." Ucap Queen sambil berlari ke pelukan Bundanya.
"Sama, Bunda juga kangen sama Queen. Sedang menggambar apa nak?" Tanya Farah sambil memperhatikan gambar yang di buat oleh Queen.
"Gambar Bunda, Ayah dan Queen." Ucap Queen sambil tersenyum manis.
"Oh begitu, ini kok wajah Ayahnya tidak ada?" Tanya Farah sambil menunjuk gambar Ayah yang dibuat oleh Queen.
"Kan Queen tidak pernah melihat Ayah. Jadi, Queen tidak tahu harus menggambar bagaimana wajah Ayah." Ucap Queen dengan polos.
Mendengar ucapan Queen, Farah pun terdiam. Ia memandangi wajah Queen yang sangat mirip dengan Ayahnya. Farah menggigit sudut bibirnya dan menahan tangisannya.
"Sayang, tidak masalah gambar saja mata hidung dan bibir Ayah nya, walaupun Queen belum bertemu dengan Ayah." Ucap Farah, dengan suara yang tercekat.
"Baiklah Bunda. Semoga setelah Queen menggambar wajah Ayah, Queen bisa bertemu dengan Ayah."
"Aamiin." Ucap Farah sambil menahan tangisnya.
"Ya sudah, Bunda mau menyuruh Bibi untuk membuatkan minum buat tamu-tamu Bunda ya."
"Iya Bunda." Sahut Queen, yang sedang asyik menggambar wajah Ayah nya.
Farah pun beranjak dari kamar Queen menuju dapur. Lalu, ia menyuruh asisten rumah tangga nya untuk membuatkan minuman untuk para tamu. Setelah itu, Farah menuju ke kamarnya untuk membilas badan nya dan mengganti baju.
Beberapa menit kemudian, terdengar deru mesin mobil di halaman rumah Farah. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Farah. Bapak Gunawan, istrinya dan juga Siska beserta pengacaranya pun turun dari mobil tersebut.
Mereka berempat pun melangkah menuju depan pintu rumah Farah. Kedatangan mereka pun disambut oleh Naya, selaku pengacara Bobby. Naya dan Nia, sempat terkejut saat melihat siapa sebenarnya Ayah Siska.
Setelah berbasa-basi, Naya pun mempersilahkan keluarga Siska untuk duduk bersama dengan mereka di sofa.
"Sebentar ya Bapak, Ibu. Kita tunggu walinya Bobby terlebih dahulu sebelum membahas persoalan ini." Ucap Naya yang menyuruh keluarga Siska untuk bersabar menunggu Farah yang sedang berada di kamarnya.
Keluarga Siska pun hanya mengangguk lalu menatap Bobby dengan seksama.
"Bagaimana keadaanmu Nak?" Tanya Bapak Gunawan kepada Bobby.
"Sudah lebih baik." Ucap Bobby sambil menatap Siska yang tidak berani menatap dirinya.
Tok..tok..tok..!
Nia mengetuk pintu kamar Farah, lalu ia pun membuka pintu kamar sahabatnya itu.
"Far, keluarga Siska sudah datang." Ucap Nia kepada Farah yang sedang memoleskan lipstik di bibir nya yang tipis.
"Oh, sudah ya? Ya sudah, yuk kedepan." Ucap Farah.
Mereka pun menuju ke ruang tamu bersama-sama.
"Nah, itu Ibu Farah walinya Bobby sudah datang." Ucap Naya.
Farah dan Bapak Gunawan sama-sama terkejut, saat mata mereka bertemu pandang.
"Mas Gunawan..!" Ucap Farah, tak percaya dengan apa yang dilihat olehnya.
Bapak Gunawan terlihat sangat salah tingkah, saat ia mengetahui bahwa walinya Bobby adalah Farah.
Farah pun menatap Siska yang duduk di apit oleh Bapak Gunawan dan istrinya.
"Jadi... Siska..anak nya Mas Gunawan?" Gumam Farah.
Semua orang yang berada di ruangan itu mendadak terdiam dan suasana pun terasa sangat tegang.
"Mas mengenal walinya Bobby.?" Tanya istri Bapak Gunawan.
"I...iya, Farah adalah mantan sekretaris ku dulu." Ucap Bapak Gunawan dengan terbata-bata.
"Bunda, ini gambar Ayah." Queen berlari ke arah Farah sambil memamerkan gambar keluarga yang ia buat.
Bapak Gunawan terlihat sangat terkejut saat melihat Queen.
Naya dan Nia hanya diam saja melihat situasi tegang seperti ini. Mereka pun tidak menyangka bila Ayah Siska adalah Bapak Gunawan. Lelaki yang telah menghamili Farah dan meninggalkan Farah dan anak nya begitu saja.
Farah langsung menggendong dan memeluk erat putrinya tersebut.
"Ok, langsung saja kita mulai pertemuan kedua keluarga ini. Saya dan keluarga Bapak Gunawan, selaku pihak yang bersalah. Ingin menyampaikan niat kami yang meminta kemurahan hati pihak keluarga Bobby untuk membicarakan permasalahan ini dan menyelesaikan masalah ini dengan secara kekeluargaan." Ucap pengacara keluarga Bapak Gunawan.
"Bagaimana Ibu Farah?" Tanya Naya kepada Farah.
Farah menatap Bapak Gunawan dengan tatapan yang tajam.
"Kekeluargaan? Keponakan saya sampai babak belur begitu. Rasanya, Siska harus menebus semua kesalahannya." Ucap Farah dengan Ekspresi wajah yang dingin.
Bapak Gunawan beserta keluarga nya terlihat sangat terkejut dengan jawaban Farah.
"Maaf Ibu Farah, apakah tidak di pikirkan lagi?" Tanya pengacara Bapak Gunawan.
"Tidak ada damai." Ucap Farah.
Ucapan Farah juga terdorong rasa sakit hati nya kepada Bapak Gunawan, karena sudah berkali-kali ia memohon kepada Bapak Gunawan agar bersedia untuk menemui Queen. Tetapi permintaan nya di tolak mentah-mentah oleh Bapak Gunawan. Dengan alasan takut nama baik nya tercoreng.
Hubungan Farah dan Bapak Gunawan tersimpan rapat-rapat dengan alasan yang sama, nama baik Bapak Gunawan. Selama ini Farah sudah sangat bersabar. Tetapi Farah menjadi sakit hati karena Bapak Gunawan tidak berminat sama sekali untuk menemui Queen.
Di kesempatan ini lah, Farah baru bisa meluapkan emosi nya yang terpendam kepada Bapak Gunawan.
Gunawan, lelaki berusia empat puluh lima tahun tersebut tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia takut sekali bila skandal nya dengan Farah di bongkar oleh Farah di depan anak dan istrinya.