"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Johan dan Devan keluar dari ruangan, bertemu Bagus di Lobby.
"Mereka sudah pergi?" tanya Johan.
"Sudah Johan, minggu depan sudah bisa mulai program. Kamu temani istri istrimu, mereka butuh dukungan moril dari suami." jelas Bagus.
Aku kemari hanya mau melihat istri kecilku, karena di rumah tidak bisa leluasa.
Batin Johan, "baiklah Bagus, terima kasih kami pulang dulu." ucap Johan melangkahkan kakinya menuju parkiran.
Bagus mengantar tamunya satu kali lagi setelah tadi mengantar Dewi, Karunia dan Shopie.
"Devan, kamu kapan nikahnya?" tanya Bagus berjalan di sisi Devan.
"Nunggu Johan menceraikan Karunia." jawab Devan santai.
Johan langsung memutar tubuhnya mencengkeram kerah Devan. "Kamu jangan mimpi, aku tidak akan menceraikan nya!" Johan merah padam.
"Argh, lepas Johan! Maaf aku hanya bercanda." ucap Devan merasa tercekik.
"Kamu mau aku kenalkan dengan teman tunangan ku, Devan?" Bagus memandang Devan antara geli dan kasihan.
"Tidak terimakasih." ucap Devan mengusap lehernya yang perih.
"Hais dasar, abege tua."
Gerutu Devan masuk mobil duduk di bangku kemudi, Johan masuk di jok belakang tertawa senang melihat penderitaan Devan.
~
Di dalam mobil, Karunia melihat jam di dashboard.
Masih ada waktu dua jam menuju bandara.
Batinnya, memikirkan Johan yang terobsesi padanya hanya karena wajahnya mirip Ibu lalu melirik pada dua orang penumpang nya yang terdiam.
Dewi menarik nafas berat sebelum bicara. "Shopie, datanglah malam ini. Aku akan menikahkan kamu dengan Johan. Tidak usah dandan apalagi bawa pakaian satu lemari. Nanti kalau proses transfer berhasil, saat itu kamu baru akan pindah ke rumahku." Dewi suara tegas.
Hm, minggu ini dua kali kau menikahkan Johan, Dewi.
Batin Dewi menarik nafas pelan.
"Baiklah Dewi." jawab Shopie.
Setelah masuk jangan harap aku mau keluar lagi, kamulah yang akan aku singkirkan Dewi.
Batin Shopie, menampilkan senyum terpaksa ikhlas nya pada Dewi.
Perjalanan lebih cepat setelah Karunia mengerti rute, pertama mengantar Shopie ke kantor kemudian membawa Dewi kembali ke rumah.
*
Di dapur Karunia duduk bersandar di sofa mencoba memesan mobil online.
"Bi, Niah keluar sebentar mau ke bandara ngantar Tari." ujar Karunia.
"Tari mau ke mana?" tanya mbok Senah.
"Kembali ke rumah majikan nya." jawab Karunia.
Oh, desah mbok Senah terdiam memandang Dewi masuk ke dapur membawa keranjang baju kotor, Niah menerima keranjang tanpa suara membawa nya ke ruangan loundry.
"Mbok, bilang bapak jadi saksi nikah Shopie malam ini." ujar Dewi pada mbok Senah.
"Baik, Nyonya. Apa perlu saya siapkan kamar?" tanya mbok Senah.
"Tidak perlu mbok, nanti saya kabari kalau sudah waktunya." jawab Dewi berlalu dari hadapan mbok Senah.
Di ruang loundry, Karunia memeriksa satu persatu baju kotor mencari cari kemungkinan ada yang bisa dijadikan sampel. Tatapannya terkunci pada sehelai rambut pirang keriting, yang nemplok di segitiga milik Johan.
Akhirnya berhasil aku mendapatkan sampel, yes.
Karunia menyeringai menyimpan rambut di cover ponselnya daripada tercecer.
Tapi aku gak punya rambut bawah gimana mencocokkan nya, bisakah dengan sampel berbeda. Baiklah, coba saja tapi rumah sakit terdekat yang menerima layanan tes DNA di Jkt Rumah sakit besar Sibolon...
Rumah sakit Bagus juga bisa, apa sebaiknya aku minta tolong dokter Bagus, udah kenal jadi bisa diajak kerja sama menyimpan rahasia. Oke lah kalau begitu nanti waktu ngantar Nyonya aku sekalian bawa sampelnya.
Batin Karunia berjalan ke dapur mencari plastik kecil, menyimpan rambut junior Johan.
"Niah, mobil online kamu datang tuh." suara mbok Senah memanggil Karunia, Karunia keluar dari dapur setelah menyimpan sampelnya di kantong celananya.
"Bi, Niah pergi." Karunia pamit pada mbok Senah.
"Hati hati Niah."
"Iya, Bi." jawab Karunia berjalan ke ruang depan, menuju gerbang di mana mobil online telah menunggu nya.
*
Di ruangan kantornya Johan menerima laporan dari sekuriti.
Karena tadi Johan kecolongan waktu Karunia nyupirin Dewi ke rumah sakit, segera Johan menghubungi satpam rumahnya itu agar melapor padanya setiap kali Karunia keluar rumah.
"Kemana dia naik mobil online." gumam Johan mengepal tangan, gak sabar menunggu hasil Devan melacak nomor plat mobil yang membawa Karunia.
Tidak berapa lama Devan masuk ke ruangan Johan.
"Gimana?" tanya nya.
"Mobil menuju bandara." jawab Devan.
"Apa, Niah kabur! Ayo Devan cepat susul dia!"
Johan melompat keluar dari ruangannya berlari menuju mobilnya di parkiran.
Aduh kalang kabut hari ini, bolak balik nyusul Karunia.
Gerutu Devan mengejar langkah Johan.
~
Arghhh!
Johan membanting stir saat ada motor yang menghalangi jalannya.
"Johan, kalau kamu nyetir cara begini. Kita gak akan sampai bandara tapi ruang gawat darurat sebagai korban kecelakaan." seru Devan memegang kuat handle di atas kepala nya.
"Devan kalau Niah kabur, kamu bayangkan apa aku masih bisa hidup." jawab johan.
"Baru kemarin bertemu sudah se lebay itu kamu menyukai nya?"
"Sudah, diamlah! Kamu sih, gak pernah jatuh cinta. Dasar jomblo abadi." sergah Johan.
******♥️ Jumpa lagi.
Jangan lupa like nya ya guys, 👍
kemana sofinya Thor