NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bandung — Darah, Warisan, dan Harga Sebuah Kebenaran

Hujan turun tipis, mengetuk atap gedung tua di pinggiran Bandung seperti detak jam kematian.

Elisabet berdiri di balik jendela pecah, punggungnya menempel pada dinding lembap. Napasnya tertahan. Tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang terlalu lama dipendam dan kini menuntut dilepaskan.

Di layar tablet kecil di genggamannya, berderet file terbuka:

— Rekaman suara percakapan rahasia.

— Transaksi keuangan gelap yang mengalir ke rekening bayangan.

— Foto-foto pertemuan diam-diam di hotel dan gudang.

— Dan satu file audio… suara tembakan, jeritan pendek, lalu bunyi tubuh ambruk menghantam lantai.

Ayahnya.

Rahang Elisabet mengeras sampai terasa nyeri. Dadanya naik turun cepat.

“Semua ini… akhirnya lengkap,” bisiknya, nyaris tak terdengar di antara suara hujan.

Matanya basah, namun api di dalam dadanya jauh lebih panas dari air mata. Ia menggenggam tablet itu erat seolah sedang memegang leher orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.

“Aku akan menghancurkan kalian semua.”

Kalimat itu belum sempat mengendap…

Takdir bergerak lebih cepat.

PERANGKAP

BRAK!

Pintu besi dihantam keras.

Elisabet refleks menoleh terlambat.

Beberapa pria bersenjata menerobos dari berbagai arah. Cahaya senter menyilaukan mata. Sebuah pukulan menghantam pelipisnya. Dunia berputar, suara menjadi dengung panjang sebelum segalanya gelap.

Ketika kesadarannya kembali, bau logam dan minyak menusuk hidung.

Tangannya terikat kuat pada kursi besi dingin. Pergelangan tangannya terasa nyeri, kulitnya tergores kasar.

Di hadapannya duduk seorang wanita elegan dengan gaun hitam berpotongan rapi. Rambutnya tersanggul sempurna, riasannya tanpa cela. Senyum tipis di bibirnya memancarkan racun yang halus dan mematikan.

Marceliina.

Ibu tirinya.

“Sayang…” suara Marceliina lembut, hampir terdengar penuh kasih.

“Kau selalu keras kepala sejak kecil.”

Elisabet menatapnya tajam, lalu meludah ke lantai.

“Kau pembunuh.”

Marceliina terkekeh kecil, seolah mendengar lelucon.

“Dan kau terlalu bodoh untuk hidup lama.”

Seorang pria meletakkan map tebal di atas meja logam.

Marceliina mendorongnya perlahan ke arah Elisabet.

“Surat peralihan seluruh harta warisan. Tanda tangani.”

Elisabet melirik kertas itu, tertawa kecil penuh sinis.

“Kalau tidak?”

Marceliina mengangkat satu jari.

Layar di dinding menyala.

Wajah seorang wanita tua muncul—duduk di teras rumah mereka, tampak tenang, tak menyadari bahwa beberapa benda kecil tertanam di sekitar kursinya. Kabel tipis menjalar ke sudut-sudut gelap.

Bom.

Menunggu waktu untuk meledak.

Ibu kandung Elisabet.

“Kalau tidak,” kata Marceliina pelan, dingin, nyaris berbisik, “ibumu mati.”

Jantung Elisabet menghantam dadanya seperti palu godam. Napasnya tercekat sesaat.

Namun wajahnya tetap dingin.

“Kau pikir aku akan percaya?”

Marceliina tersenyum semakin puas.

“Kau selalu rasional. Tapi tidak saat menyangkut ibu.”

Tawa kecil anak buah Marceliina memenuhi ruangan. Mereka yakin permainan telah dimenangkan.

Namun tak satu pun menyadari…

Tangan Elisabet bergerak.

Perlahan.

Sangat pelan.

Jarinya menggesek sisi logam kursi, mengikis ikatan plastik keras sedikit demi sedikit. Kulitnya terasa perih, namun ia menahan ekspresi.

Ia menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

MENIPU UNTUK HIDUP

Elisabet menghela napas panjang, bahunya sedikit turun seolah menyerah.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Aku tanda tangani.”

Marceliina menyeringai puas.

“Akhirnya kau belajar patuh.”

Pulpen disodorkan.

Elisabet menggenggamnya.

Dan pada detik yang sama—

Ia menghantam wajah pria terdekat dengan siku sekuat tenaga.

Brak!

Kursi terjungkal. Ikatan terlepas sebagian. Elisabet menyambar pistol dari pinggang penjaga lain, memutar tubuhnya.

Dor! Dor!

Dua tubuh ambruk bersamaan.

Jeritan pecah. Alarm meraung memekakkan telinga.

“Kejar dia!” teriak Marceliina histeris.

“Jangan biarkan dia lolos!”

Elisabet berlari menerobos koridor sempit, darah mengalir dari pelipisnya. Pintu-pintu terbanting terbuka dan tertutup. Suara langkah mengejar bergema di belakang.

Ia melompat ke dalam mobilnya.

Mesin menyala.

Ban menjerit panjang.

...----------------...

KEJARAN MAUT

Mobil melesat menembus jalan sempit Bandung. Lampu-lampu kota memanjang menjadi garis kabur. Motor-motor mengejar dari belakang. Sorot lampu menyilaukan kaca spion.

Tembakan memecah udara.

BRAK!

Peluru menghantam pintu mobil, meninggalkan lubang panas.

Elisabet menggertakkan gigi, memutar setir tajam, nyaris menghantam pembatas jalan.

“Kalian tidak akan mendapatkan aku!” teriaknya, suara pecah oleh adrenalin.

Motor semakin mendekat. Seorang penembak membidik ban.

DOR!

Ban belakang pecah.

Mobil oleng hebat.

Di depan—jurang menganga gelap.

Napas Elisabet tercekat. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Tak ada pilihan.

Dengan sisa tenaga, ia membuka pintu dan melompat keluar tepat sebelum mobil menghantam pembatas.

BOOOOM!

Ledakan mengguncang malam. Api membumbung tinggi.

Tubuh Elisabet terguling di aspal dan tanah, menghantam batu dan akar. Rasa sakit menembus tulang. Darah mengalir deras dari bahu dan perutnya.

Ia merangkak tertatih, menyelinap ke semak-semak gelap, menahan jeritan yang hampir meledak dari tenggorokannya.

Di atas jalan, para pengejar berhenti.

“Mobilnya jatuh ke jurang!”

“Sial… tidak mungkin selamat.”

Salah satu dari mereka menghubungi.

“Bu Marceliina… target kemungkinan besar tewas dalam kecelakaan. Kami akan pastikan jasadnya.”

Di balik semak, Elisabet mendengar semuanya.

Matanya terbuka penuh api.

“Kalian… belum menang…” bisiknya lirih.

Namun tubuhnya mulai menyerah.

Darah terlalu banyak.

Pandangannya mengabur.

Dalam kabut kesadaran, wajah Safira muncul.

Clarissa tertawa kecil.

Adrian tersenyum polos.

Anak-anaknya.

“Elisabet… bertahan…” bisiknya pada dirinya sendiri.

Senyum tipis terlukis di bibirnya.

Lalu gelap menelan segalanya.

TANGAN YANG MENYELAMATKAN

Suara mesin mendekat samar.

Rem mendecit.

Pintu terbuka cepat.

Langkah berat mendekat.

Sosok besar berlutut di samping tubuh Elisabet yang berlumuran darah.

Wajah pria tua itu basah oleh air mata yang tertahan.

“Bodoh sekali kau…” suaranya bergetar.

“Aku sudah bilang… aku tak akan membiarkanmu bergerak sendirian.”

Ia mengangkat tubuh Elisabet dengan hati-hati, menahannya seolah takut tulangnya hancur di tangannya.

“Bertahan, Elisabet. Aku masih di sini.”

Leo.

Mesin meraung.

Mobil melesat menjauh dari lokasi ledakan, menelan malam, sebelum anak buah Marceliina sempat kembali.

Di belakang mereka, api masih menyala.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!