Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Badai Pembalasan dan Formasi Terlarang
Melihat murid-muridnya hancur dalam ledakan pengorbanan diri, sesuatu di dalam dada Li Yuan seolah retak. Ia tidak lagi melihat Feng Gao sebagai musuh politik atau pencari pedang; ia melihatnya sebagai parasit yang harus dibasmi.
"Dong Dong! Laksanakan rencana kedua!" teriak Li Yuan sambil menahan aliran listrik yang masih menyengat bahunya.
"Sudah kutunggu dari tadi!" balas Dong Dong. Ia melompat mundur dari garis depan, mendekati Ketua Sekte Qing Feng yang sudah bersiap di atas menara pengawas.
Li Yuan tidak langsung menyerang Feng Gao. Dengan kecepatan Manifestasi Roh, ia justru melesat melewati sang Jenderal, mengincar barisan belakang musuh: para Penyihir Perang Elang. Merekalah yang sedari tadi memberikan perisai dan kutukan yang menyulitkan para murid.
"Cegat dia!" perintah Feng Gao, namun Li Yuan terlalu cepat.
"Jalan Pedang Langit: Tebasan Pemutus Sukma!"
Li Yuan mengayunkan pedangnya secara horizontal. Gelombang aura ungu yang pekat melesat, membelah barisan penyihir itu seperti sabit memotong gandum. Tanpa perlindungan fisik yang kuat, para penyihir itu tumbang seketika. Darah mereka terserap ke dalam Pedang Hitam Takdir, membuat luka di bahu Li Yuan menutup dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Beraninya kau mengabaikanku!" Feng Gao meraung, ia melesat mengejar Li Yuan dengan tombak petirnya yang membara.
Namun, sebelum Feng Gao mencapai Li Yuan, Ketua Sekte Qing Feng menghentakkan tongkat kebesarannya ke tanah. "Formasi Awan Pengunci Langit, AKTIFKAN!"
Tiba-tiba, dari delapan sudut sekte, pilar-pilar cahaya putih melesat ke langit, membentuk jaring energi raksasa yang mengurung Feng Gao di tengah medan perang. Ini adalah formasi kuno yang biasanya membutuhkan ratusan tahun untuk diisi energinya, namun dengan bantuan Dong Dong yang mengalirkan Qi melalui tongkat emasnya, formasi itu bangkit dalam sekejap.
"Sekarang, Li Yuan!" teriak Dong Dong, wajahnya memerah karena menahan tekanan energi yang luar biasa.
Feng Gao terperangkap. Ruang di sekitarnya menjadi berat, gerakannya melambat seolah-olah ia sedang bergerak di dalam lumpur. "Sekte sampah ini... punya formasi seperti ini?!"
Li Yuan berbalik. Matanya bersinar ungu tajam. Ia memegang Pedang Hitamnya dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi ke atas kepala. Manifestasi roh di belakangnya kini tidak lagi hanya berupa tangan, melainkan sosok utuh dewa perang yang memegang pedang raksasa yang sama.
"Kau bilang kami sampah," ucap Li Yuan, suaranya menggetarkan udara yang terkurung dalam formasi. "Maka bersiaplah ditelan oleh sampah yang kau remehkan."
Li Yuan memusatkan seluruh energi Manifestasi Roh Tingkat 2 miliknya ke ujung bilah pedang. Pedang hitam itu mulai bergetar, mengeluarkan suara dengingan yang memekakkan telinga.
"Tebasan Bintang Jatuh!"
Li Yuan menghantamkan pedangnya ke bawah. Secara bersamaan, manifestasi roh raksasa di belakangnya melakukan gerakan yang sama. Sebilah pedang energi raksasa jatuh dari langit, menghantam tepat ke arah Feng Gao yang terkurung.
BOOOOOOMM!
Ledakan energi yang dihasilkan begitu dahsyat hingga awan-awan di atas gunung Lingyun tersibak. Cahaya ungu dan putih menelan sosok Jenderal Feng Gao. Tanah di bawahnya ambles membentuk kawah sedalam sepuluh meter.
Pasukan Elang Hitam terdiam. Semangat mereka runtuh melihat Jenderal mereka dihantam serangan yang begitu mengerikan.
Namun, di tengah kawah yang berasap, sebuah aura biru elektrik yang lebih gelap mulai muncul. Suara tawa yang dingin dan menyeramkan terdengar dari balik debu.
"Bagus... sangat bagus..." suara Feng Gao terdengar, namun nadanya sudah berubah, lebih berat dan tidak manusiawi. "Kau memaksaku untuk melepas segel ini, Bocah."
Saat debu menipis, terlihat Feng Gao berdiri dengan zirah yang hancur sebagian, namun tubuhnya kini diselimuti oleh tato petir hitam yang menjalar hingga ke wajahnya. Ia telah memasuki ranah Jiwa sejati tingkat 1.
Li Yuan terengah-engah, tangannya gemetar karena telah mengeluarkan seluruh energinya. Ia tahu, babak paling mematikan dari perang ini baru saja dimulai.