NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Darah di Atas Garis Khatulistiwa

Mesin kapal penyelamat milik The Outsiders menderu halus, sangat kontras dengan mesin kapal nelayan mereka yang tadi terbatuk-batuk sebelum akhirnya tenggelam ditelan Laut Jawa. Di dalam kabin medis yang serba putih dan steril, aroma amis laut perlahan digantikan oleh bau tajam alkohol dan antiseptik. Maya duduk mematung di kursi plastik di samping ranjang darurat, matanya tak lepas dari wajah Arlan yang tertutup masker oksigen.

Pria itu tampak sangat rapuh. Arlan yang biasanya berdiri tegak layaknya pilar beton bangunan rancangannya, kini terkulai lemas dengan selang infus yang menusuk kulit pucatnya. Luka di bahunya sudah dibersihkan, namun perban putih itu dengan cepat berubah warna menjadi merah tua.

"Pendarahannya sulit berhenti karena peluru itu pecah di dalam jaringan ototnya," ucap seorang petugas medis wanita bernama dr. Lin, yang berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Singapura yang kental. "Kami harus melakukan tindakan bedah kecil untuk mengeluarkan serpihan logamnya sekarang, atau dia akan mengalami sepsis."

Maya menggenggam tangan Arlan yang dingin. "Lakukan apa pun. Tolong, selamatkan dia."

"Kami butuh tambahan darah. Stok golongan darah O-negatif kami menipis setelah serangan di dermaga tadi," dr. Lin menatap Maya dengan tatapan menyelidik. "Golongan darah Anda apa, Nyonya?"

"O-negatif," jawab Maya tanpa ragu. Ia segera menyingsingkan lengan gaun pengantinnya yang compang-camping, memperlihatkan kulit lengannya yang putih namun penuh goresan ranting hutan Dago.

"Nyonya, Anda sedang hamil. Memberikan darah dalam kondisi trauma fisik seperti ini sangat berisiko bagi janin Anda," dr. Lin memperingatkan.

Maya menatap perutnya sendiri, lalu kembali menatap wajah Arlan. "Bayi ini tidak akan punya masa depan jika ayahnya tidak selamat malam ini. Ambil darahku seperlunya. Aku kuat."

Proses transfusi pun dimulai. Maya berbaring di ranjang sebelah Arlan, dipisahkan oleh mesin monitor jantung yang berbunyi tit... tit... tit... secara teratur. Ia bisa merasakan darahnya mengalir keluar, melewati selang plastik menuju tubuh suaminya. Rasanya aneh—seolah ada ikatan mistis yang kembali terjalin. Mereka pernah menjadi asing, pernah saling membenci karena rahasia, namun kini darah mereka mengalir dalam satu sirkulasi yang sama demi sebuah nyawa.

Dua jam kemudian, kapal merapat di sebuah dermaga pribadi di kawasan Tuas, Singapura. Yudha muncul di ambang pintu kabin dengan wajah yang sangat tegang. Ia memegang sebuah tablet yang menampilkan titik-titik radar di sekitar perairan Singapura.

"Mbak Maya, kita sudah masuk wilayah daratan. Tapi ada masalah. Richard Dirgantara baru saja merilis pernyataan di media internasional bahwa Arlan adalah buronan yang membawa kabur aset perusahaan dan menculik Anda. Dia menggunakan pengaruh politiknya untuk menutup setiap pintu masuk legal."

Maya duduk perlahan, kepalanya sedikit pening karena donor darah tadi, namun ia segera memaksakan diri untuk berdiri. "Richard ingin memojokkan kita. Dia ingin kita tidak punya tempat untuk berpaling selain kembali kepadanya."

"Untungnya, Eleanor—Ibu Arlan—sudah menyiapkan jalur tikus," Yudha membantu Maya berdiri. "Kita tidak akan lewat imigrasi. Kita akan dibawa ke sebuah apartemen aman di Orchard Road. Di sana, peralatan medisnya lebih lengkap."

Arlan dipindahkan ke dalam ambulans hitam tanpa logo yang sudah menunggu di dermaga. Selama perjalanan melewati jalanan Singapura yang mulus dan terang benderang, Maya mendekap koper hitam di pangkuannya. Singapura di luar jendela tampak begitu damai, kontras dengan badai peluru yang baru saja mereka lalui. Orang-orang berjalan santai di trotoar, tidak tahu bahwa di dalam ambulans yang lewat, ada sepasang suami istri yang sedang membawa rahasia yang bisa menghancurkan ekonomi dunia.

Apartemen safe house di Orchard Road itu berada di lantai tertinggi, sebuah penthouse yang aksesnya hanya bisa dibuka dengan biometrik khusus. Begitu sampai, Arlan segera dibawa ke ruang perawatan khusus, sementara Maya diarahkan menuju sebuah ruangan luas yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, memperlihatkan kerlip lampu kota yang indah.

Di tengah ruangan itu, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam yang sangat elegan. Eleanor. Wanita yang sebelumnya muncul di Dago itu kini tampak lebih tenang, namun matanya tetap waspada.

"Duduklah, Maya. Kamu tampak seperti baru saja keluar dari neraka," ucap Eleanor dingin namun ada nada kepedulian yang samar.

"Aku memang baru saja keluar dari sana, dan itu karena keluarga Anda," balas Maya tajam. Ia duduk di sofa beludru, namun tangannya tetap memegang koper hitam itu. "Sekarang jelaskan padaku, Eleanor. Apa sebenarnya isi data di koper ini sampai Richard harus membunuh cucunya sendiri?"

Eleanor menghela napas, ia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen dan menyerahkannya pada Maya. "Data itu disebut 'Argus Protocol'. Ini adalah sistem algoritma yang mampu meretas satelit komunikasi mana pun di dunia. Richard mengembangkannya selama dua puluh tahun. Tapi ada satu celah yang sengaja dibuat oleh Ayah Arlan sebelum dia dibunuh."

Maya menyeruput tehnya, merasakan kehangatan yang sedikit menenangkan sarafnya. "Celah apa?"

"Sistem itu hanya bisa diaktifkan secara penuh jika dipicu oleh kode biometrik yang unik. Kode itu bukan sidik jari atau retina, melainkan frekuensi genetik yang hanya muncul saat seorang keturunan Dirgantara berada di dalam rahim ibunya. Itulah kenapa Richard sangat menginginkan anakmu, Maya. Dia butuh janin itu untuk mengekstrak 'Kunci Utama' dari Proyek Merapi."

Maya merasa seluruh tubuhnya mendingin. Gelas teh di tangannya bergetar. "Dia... dia ingin menjadikan anakku sebagai kunci mesin perang?"

"Lebih dari itu. Jika Richard berhasil, dia akan memegang kendali atas seluruh arus informasi dunia. Dia bisa menjatuhkan pemerintahan, menghancurkan bank, atau memicu perang hanya dengan satu klik," Eleanor menatap Maya dalam-dalam. "Tapi dia melakukan kesalahan besar. Dia tidak menyangka bahwa kamu akan memiliki keberanian untuk melawan."

Tiba-tiba, suara erangan dari arah kamar sebelah terdengar. Arlan telah siuman. Maya segera berlari menuju kamar tersebut, mengabaikan rasa lemas di tubuhnya.

Arlan membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Maya yang sembab namun penuh tekad. Ia mencoba bicara, namun masker oksigennya menghalangi. Arlan menarik masker itu sedikit dengan tangan yang bergetar.

"May... kopernya..." bisiknya parau.

"Ada di sini, Lan. Aman bersamaku," Maya menggenggam tangan Arlan. "Richard kalah di dermaga semalam. Tapi Eleanor bilang, dia tidak akan berhenti."

Arlan memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Argus... kita harus menghancurkannya, May. Bukan cuma menyembunyikannya. Selama sistem itu ada, anak kita tidak akan pernah aman."

"Bagaimana cara menghancurkannya?"

"Kita harus pergi ke Swiss. Markas server utamanya ada di sana. Richard berpikir kita akan bersembunyi di Singapura selamanya. Dia tidak akan menyangka kalau kita justru akan mendatangi jantung pertahanannya," Arlan menatap Maya dengan tatapan yang sangat intens. "Apakah kamu siap menjadi 'asing' sekali lagi untuk perjalanan terakhir ini?"

Maya mengusap perutnya, lalu menatap Arlan dengan senyum yang penuh dengan keberanian yang baru lahir. "Aku tidak takut menjadi asing, Lan. Selama kamu ada di sampingku, setiap tempat di dunia ini adalah rumah kita. Mari kita hancurkan iblis itu."

Di luar, petir menyambar langit Singapura, menandakan hujan besar akan segera turun. Namun di dalam ruangan itu, dua jiwa yang pernah terpisah kini telah menyatu sepenuhnya dalam sebuah rencana besar yang akan menentukan nasib mereka selamanya. Perang baru saja berpindah ke daratan, dan kali ini, Maya tidak akan membiarkan siapa pun menarik pelatuk sebelum ia melakukannya terlebih dahulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!