Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24.
Setelah membaca berulang kali, lalu ia membalas pelan: Siap, Mas. Jam tujuh aku tunggu di rumah.
Ia meletakkan ponsel di meja, mematikan lampu, dan berbaring di kasur tipisnya. Matanya terpejam, tapi pikirannya justru terjaga. Tentang tempat baru. Tentang tanggung jawab. Tentang kepercayaan yang terasa begitu besar.
Dan tanpa ia sadari, wajah Rizky muncul lagi di benaknya.. tenang, yakin, dan seolah selalu tahu apa yang ia lakukan.
Di luar, malam semakin sunyi hanya suara jangkrik dan binatang malam lainnya. Sesekali ditimpa suara ranting ranting tertiup oleh angin. Kemarin kemarin, Aurely sangat benci dengan suara itu. Suara yang membikin hatinya semakin gelisah. Entah kenapa kini suara itu menjadi melodi indah di telinga Aurely..
Keesokan paginya, Aurely bangun dan ia merasa tubuhnya lebih segar. Udara pagi menyelinap lewat celah jendela, membawa aroma tanah basah sisa embun malam.
Ia duduk sejenak di tepi kasur, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum kecil. Hari ini bukan hari biasa. Ia segera keluar kamar untuk pergi mandi.
Di ruang tengah terdengar suara Ibunya dan Ayahnya. Aurely menyusul setelah selesai mandi.
Di meja makan, Ayahnya sudah duduk rapi dengan kemeja sederhana berwarna biru. Wajahnya terlihat cerah, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya yang sering kali dibalut kelelahan. Di hadapannya tersaji menu sarapan sederhana, nasi, sayur urap dan tahu tempe goreng. Tapi suasana pagi itu terasa istimewa.
“Nah, ini dia calon pegawai cabang baru,” canda Ayahnya begitu melihat Aurely masuk ruang tengah.
Aurely tersenyum. “Iya Yah, nanti Mas Rizky jemput aku.” Ucap Aurely yang tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
Ayah Ibunya menatap Aurely sambil tersenyum..
”Baiklah, Ayah berangkat ke pasar sendiri,” ucap Pak Baskoro penuh pengertian, “hati hati ya..”
Ibunya meletakkan piring di depan Aurely. “Sarapan yang banyak. Hari pertama biasanya bikin capek, tapi juga bikin deg-degan.”
Ayahnya mengangguk setuju. “Betul. Pasti rasanya campur aduk. Takut, senang, tapi juga bangga. Kamu pasti bisa, Rel.”
Ucapan itu membuat Aurely berhenti sejenak menyuap. Ia menatap Ayahnya, lalu mengangguk pelan. “Terima kasih, Yah. Doain ya.”
“Pasti,” jawab Ayahnya mantap. “Ayah sama Bunda selalu di belakang kamu.”
Ibunya tersenyum sambil menatap mereka berdua. “Yang penting jaga diri, jaga sikap, dan tetap rendah hati.”
Aurely mengangguk lagi. Ada kehangatan yang mengalir di dadanya, hangat yang membuat keberaniannya tumbuh perlahan.
Tak lama kemudian, ia kembali ke kamar untuk bersiap. Ayahnya sudah lebih dulu berangkat.
Tangan Aurely sedikit gemetar saat mengancingkan kemeja, tapi kali ini bukan karena takut. Lebih seperti gugup yang menyenangkan. Ia menyisir rambutnya sederhana, lalu menatap cermin sekali lagi.
“Semangat, Aurely,” gumamnya lirih.
Namun sebelum pukul tujuh. Terdengar suara seorang perempuan memanggil manggil namanya..
“Aurely...” teriak suara perempuan itu
“Rel, kamu sudah siap belum?” suara itu lagi dari arah depan rumah Aurely.
Aurely menoleh, “Santi?” gumamnya lirih, “Apa dia akan menjemput aku.” Lanjutnya. Dan ia segera melangkah keluar kamar, sambil menyambar tas kerjanya.
Aurely melangkah cepat menuju ruang tamu. Dari balik pintu, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan ceria.
“Ayo Rel.”
Saat Aurely hendak melangkah ke beranda, ia tiba-tiba berhenti.
“Bunda…” gumamnya pelan.
Ia berbalik cepat ke dapur. Ibunya sedang membilas piring, menoleh ketika mendengar langkah kaki.
“Rel, sudah dijemput ya?” tanyanya lembut.
Aurely mengangguk, lalu menghampiri dan mencium tangan Ibunya. “Mas Rizky belum datang Bun.. Tapi Santi sudah di depan. Doain ya... Bun...”
Ibunya mengusap punggung Aurely sebentar, matanya hangat. “Bunda doakan dari rumah. Kerja yang baik, jangan sungkan bertanya. Dan… jaga hati.”
Aurely tersenyum kecil. “Iya, Bun.”
Ibunya lalu, mencium kening Aurely dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu barulah ia melangkah keluar rumah, hatinya terasa lebih tenang. Di depan, Santi sudah menunggu sambil tersenyum sabar.
“Rel, ayo dong! Nanti telat,” seru Santi sambil tertawa kecil.
Aurely membuka pintu. Di depannya berdiri Santi dengan jaket tipis warna krem dan tas selempang di bahu. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya segar seperti pagi itu sendiri.
“Kamu… mau berangkat sama aku?” tanya Aurely sedikit terkejut.
Santi mengangguk santai. “Iya. Mas Rizky suruh aku ke sini dulu. Katanya kita berangkat bareng dari rumah Aurely.”
“Oh…” Aurely tersenyum, entah kenapa dadanya terasa hangat. Ia tak menyangka Rizky mengatur hal-hal kecil seperti itu. “Masuk dulu, San.”
“Nggak usah, nanti keburu Mas Rizky datang. Aku juga sudah pamit ,” jawab Santi sambil melirik jam di ponselnya.
Aurely mengangguk, lalu menutup pintu rumah dengan hati-hati. Ia menoleh sebentar ke arah rumah, memastikan segalanya aman, lalu berjalan di samping Santi menuju jalan depan.
“Deg-degan ya hari pertama?” tanya Santi memecah keheningan.
Aurely tertawa kecil. “Banget. Rasanya campur aduk. Takut salah, takut nggak bisa… tapi juga senang.”
“Itu wajar,” kata Santi ringan. “Aku juga gitu dulu. Tapi tenang aja, Mas Rizky orangnya sabar. Kelihatan dingin, tapi sebenarnya perhatian.”
Aurely menoleh cepat. “Kamu kenal Mas Rizky sudah lama?”
“Lumayan,” jawab Santi sambil tersenyum samar. “Dia yang ngajarin aku banyak hal soal kerja. Makanya dia juga percaya sama kamu.”
Kata percaya itu kembali bergaung di kepala Aurely. Ia menunduk sebentar, lalu mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Dan saat pintu depan mobil terbuka..
Aurely sangat kaget namun sangat bahagia..
Elin dan Elang langsung meloncat dari dalam mobil sambil berteriak ..
“Mbak Aurely.... aku kangen banget!” teriak mereka berdua sambil berlari menubruk Aurely..
“Mbak Aurely, juga kangen sama kalian berdua. “ ucap Aurely sambil memeluk tubuh mungil Elin dan Elang.
“Kalian tidak ke sekolah?” tanya Aurely karena kedua bocil itu tidak mengenakan seragam sekolah.
“Hehe.. hari ini tanggal merah Mbak.” Jawab Elang sambil tertawa kecil.
“Ooo iya, Mbak Aurely sampai lupa.”
“Hi... hi.. iya Mbak di pasar dan di kios tidak ada tanggal merah kata Mama.” Ucap Elin sambil tertawa kecil lalu berlari lagi masuk ke dalam mobil.
Di saat Aurely akan masuk ke dalam mobil, menyusul Santi dan Elin yang sudah duduk di jok belakang kemudi..
Tangannya ditarik oleh Elang..
“Mbak Aurely duduk depan, samping Mas Rizky,“ ucap Elang dan tubuh mungil nya segera masuk ke dalam mobil duduk di samping Elin.
Aurely tampak masih berdiri ragu ragu. Menatap Rizky.. namun sebelum Rizky berbicara, Elin sudah memotong, “Mas Rizky katanya mau bicara serius pada Mbak Aurely.”
Jantung Aurely kembali berdebar debar dan suara Rizky semakin membuat semakin gemetar, “Ayo cepat masuk keburu siang.“
Tanpa membantah Aurely segera masuk ke dalam mobil duduk di samping Rizky..
Mobil berjalan pelan pelan.. Beberapa saat kemudian, Rizky menoleh. Pandangan Rizky sempat tertahan sejenak pada wajah Aurely. “Siap?” ucapnya pelan lalu kembali fokus pada jalan.
Aurely menarik napas, lalu mengangguk mantap. “Siap, Mas.”
Aurely sadar, ini bukan hanya tentang hari pertama resmi bekerja. Ada sesuatu yang sedang dimulai. Sesuatu yang perlahan, tapi pasti, mengubah arah hidupnya.
Di belakang Elin dan Elang terus saja berceloteh. Cerita tentang adiknya yang masih di rumah sakit. Dan mereka berdua tidak boleh ikut ke rumah sakit.
“Sebel dech, aku kan jadi kangen dik Embul dan Mama.” Ucap mereka berdua dengan bibir mengerucut.
“Kita doakan dik Rembulan cepat sembuh ya..” ucap Aurely dan Santi.
Setelah mobil sudah berjalan beberapa menit Rizky kembali menoleh ke arah Aurely, “Bagaimana kemarin waktu kerja dengan Mama ku?” tanya nya pelan. Lalu kembali lagi fokus ke arah depan, “Galak ya?” tanyanya lagi.
Sebelum menjawab pertanyaan Rizky, Aurely menoleh ke belakang menatap Santi.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting