Vanessa seorang mahasiswi penyuka novel horor yang bertemu dengan Pria dingin di sebuah rumah kosong.
Vanessa terkejut saat mengetahui Nathan yang dia temui itu ternyata bukan seorang manusia.
Nathan meminta bantuan pada Vanessa untuk mencari seseorang yang sudah berani menusuknya.
Vanessa sudah jatuh cinta pada Nathan, setelah Vanessa menemukan orang yang menusuk Nathan, tiba-tiba arwah Nathan menghilang lenyap bagai di telan bumi.
Bagaimana di dunia nyata Vanessa bisa melihat manusia yang persis seperti Nathan apakah itu Nathan, atau hanya kebetulan mirip saja ?
Yuk baca dan ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 (di Kursi Depan)
Setelah menghabiskan sarapan paginya Vanessa dan Putri kembali ke kosan, membawa barang-barang Vanessa.
“Yakin lo cuma ini aja?” tanya Putri sambil menenteng tas keci milik Vanessa.
“Lo kira gue mau pindahan apa, ini penuh tau tas yang gue bawa berat!” keluh Vanessa.
“Kalau gue ikut kayanya, bukan membantu tapi gue malah ngerepotin elo bawa barang-barang gue,” Vanessa ingat betul saat mengantar Putri pulang kampung sampai ke terminal, barang bawaan Putri tuh banyak banget sampe 5 tas, padahal dia Cuma mau pulang seminggu tapi kaya yang mau pindahan.
“Iya sih, tapi kan gue jadi ada temennya.”
“Ya kan lo ada si Nathan jadi gak usah sedih, ada doi di samping lo,” Putri menaik-naikan sebelah alisnya menggoda Vanessa.
“Kampret banget sih lo!” kesal Vanessa dan berjalan meninggalkan Putri.
“Tunggu sebentar dong Nes, masa kaya gitu aja marah,” Putri berlari mengejar Vanessa dan mensejajarkan langkahnya.
Vanessa dan Putri dengan sabar menunggu taxi online yang akan menjemput mereka, “Masih lama gak?” tanya Putri.
“Sebentar lagi nih liat!” Vanessa menunjukan layar ponselnya pada Putri.
Putri hanya mangut-mangut saja saat melihat layar ponsel Vanessa, tidak lama sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka.
Kaca mobil terbuka dan Nampak supir yang tersenyum ramah ke arah Vanessa dan Putri, “Atas nama nona Vanessa?”
“Iya,” jawab Vanessa dengan senyum ramah yang tampak dibibirnya.
Putri yang lebih dulu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, di susul Vanessa yang duduk disampingnya.
Mobil mulai melaju perlahan, sopir melirik ke belekang sebentar, “Sudah betul ya tujuannya ke bandara?”
“Iya Pak.”
Vanessa melihat Nathan yang duduk di kursi tepat di depannya sambil tersenyum menatap Vanessa, “Kenapa Lo senyum-senyum gitu?” tanya Putri penasaran melihat Vanessa yang tersenyum dengan pipi merahnya.
“Emm itu ada Nathan,” Vanessa mengalihkan perhatiannya dan menatap Putri dengan wajah gembira.
“Di mana?”
“Itu di kursi depan, “ tunjuk Vanessa.
Vanessa melihat supir yang bergidik ngeri mengusap lehernya, “Kenapa pak?” tanya Vanessa.
“Ah gak papa neng,” jawab sang supir dengan perasaan canggung.
“Awas loh Pak, di samping Bapak itu ada arwah penasaran,” ucap Putri serius mencoba menakut-nakuti.
“Serius arwah penasaran neng?” tanya Bapak supir, Vanessa tersenyum melihat wajah tegang supirnya.
“Iya Pak, dia itu korban pembunuhan, lagi cari tumbal.”
Vanessa menahan tawanya melihat ekspresi supir yang ketakutan karena ulah jahil Putri.
“Jangan becanda non.”
“Eh ini serius Pak, kayanya dia pengen jadiin Bapak tumbalnya.”
“Waduh non, saya belum siap mati.”
Nathan melirik Vanessa, “Kelakuan teman lo tuh!”
Vanessa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Teman saya bencanda Pak, dia emang tukang halu orangnya,” ujar Vanessa.
“Eh ini beneran apa bohong non?” tanya Supir.
“Yaelah si Bapak serius amat,” ucap Putri sambil tertawa terbahak, karena berhasil membuat supirnya ketakutan.
“Waduh non nakut-nakutin saja aja,” ucap Supir sedikit kesal.
“Maafin saya ya Pak,” ucap Putri tulus.
“Iya non gak papa,” supir menerima permintaan maaf Putri, padahal di hatinya dia sangat jengkel pada Putri, yang berani menjahilinya.
Sesampainya di tempat parkir bandara Putri dan Vanessa turun dari mobil setelah memberikan ongkosnya.
Putri melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, “Gue anter sampe sini gak papa?”
“Kenapa Put?” Vanessa malah balik bertanya melihat tingkah Putri yang terlihat gelisah.
“Ini tiba-tiba ada dosen kiler yang minta jadwal jam sebelas,” ucap Putri sedikit kesal.
“Yaudah lo ke kampus aja, gue gak papa ko sendiri,” Vanessa mengerti dari bandara ke kampus bukan jarak yang dekat, cukum memakan waktu untuk sampai di sana.
“Lo hati-hati ya, gue duluan,” pamit Putri.
“Iya lo juga hati-hati, makasih udah mau nganter gue,” Vanessa tersenyum tulus pada Putri.
“Ah lo kayak ke siapa aja,” Putri menepuk pundak Vanessa dan berjalan meninggalkan Vanessa.