Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Antara Cahaya dan Bayangan
Aula perjamuan yang tadi terlihat agung kini tak lebih dari sebuah jagal kelas atas. Jiangzhu merasakan suhu di sekitarnya menjadi gila; di sisi kiri, hawa dingin dari energi bayangan Kaisar Bayangan membekukan anggur di gelas, sementara di sisi kanan, api suci dari pedang Lu Tian membuat marmer lantai melepuh dan retak.
"Mati kau, monster!" Lu Tian berteriak, suaranya pecah oleh amarah yang tertahan selama berhari-hari.
Ia melesat, pedang putihnya membelah udara, meninggalkan jejak cahaya yang membakar oksigen di sekitarnya. Jiangzhu tidak mencoba menangkis secara langsung. Ia tahu, dengan tingkat kultivasinya sekarang, beradu kekuatan murni dengan Lu Tian yang berada di puncak Inti Bumi adalah tindakan bunuh diri.
ZING!
Jiangzhu melenting ke samping, gerakannya liar seperti kucing hutan yang terdesak. Ujung pedang Lu Tian menyambar jubahnya, menghanguskan kainnya hingga menjadi abu dalam sekejap.
"Penatua Mo, sekarang!" batin Jiangzhu berteriak.
Gunakan teknik 'Pusaran Trinitas'! Jangan lawan energinya, hisap saja sisa-sisa bentrokan mereka! suara Penatua Mo terdengar di tengah kebisingan ledakan.
Di saat yang sama, Kaisar Bayangan tidak tinggal diam. Ia tidak suka perjamuannya dikacaukan. Dengan satu lambaian tangan, bayangan di bawah kaki Lu Tian tiba-tiba memadat, berubah menjadi tangan-tangan hitam yang mencoba menarik pergelangan kaki sang ksatria cahaya.
"Jangan ikut campur, sampah kegelapan!" Lu Tian menghentakkan kakinya. Gelombang energi suci meledak dari sepatu botnya, menghancurkan tangan bayangan itu menjadi asap.
Jiangzhu melihat celah. Saat Lu Tian terdistraksi oleh serangan Kaisar Bayangan, Jiangzhu menusukkan pedang hitamnya ke lantai. Ia tidak menyerang Lu Tian, melainkan menyerang Dantian lantai aula tersebut.
"Seni Pemakan Bumi!"
Energi hitam mengalir dari pedang Jiangzhu, menyusup ke bawah lantai marmer. Seketika, getaran hebat mengguncang aula. Meja-meja perak terguling, makanan mewah berserakan di lantai yang kini berguncang seperti dilanda gempa.
"Apa yang kau lakukan, Bocah?!" Kaisar Bayangan berteriak, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Aku hanya meratakan arena!" balas Jiangzhu sambil menyeringai, memperlihatkan taringnya yang mulai memanjang.
Jiangzhu merasakan energi Li'er di dalam dirinya mendidih. Ia membiarkan hawa dingin itu merayap ke matanya, mengubah pandangannya menjadi deteksi energi murni. Ia bisa melihat aliran Qi Lu Tian yang berwarna emas terang dan Qi Kaisar Bayangan yang berwarna hitam pekat. Di titik di mana kedua energi itu bertabrakan, tercipta sebuah pusaran energi netral yang sangat padat.
Itulah sasarannya.
Dengan keberanian yang lahir dari kegilaan, Jiangzhu melompat tepat ke tengah-tengah bentrokan energi antara kedua penguasa tersebut.
"Dia mencari mati!" salah satu pengikut Sekte Bayangan Merah berseru.
Namun, Jiangzhu tidak meledak. Sebaliknya, tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya ungu yang aneh. Segel Tiga Dunia di dadanya berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mulai menghisap paksa energi dari kedua belah pihak.
"Ugh... Arghhh!" Jiangzhu mengerang hebat. Rasanya seperti ada dua ekor naga yang bertarung di dalam perutnya. Energi cahaya membakar nadinya, sementara energi bayangan mencoba membekukan jantungnya.
Peringatan: Kapasitas Energi Melampaui Batas!
Memulai Konversi Paksa...
"Kakak!" Awan yang bersembunyi di balik pilar berteriak ketakutan. Ia melihat tubuh Jiangzhu mulai retak, memancarkan cahaya ungu dari sela-sela kulitnya.
Lu Tian tertegun sejenak. "Kau... kau menghisap energiku? Kau benar-benar iblis!"
Lu Tian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya untuk satu serangan pamungkas. "Cahaya Penghancur Dunia!"
Sebuah pilar cahaya raksasa turun dari langit-langit menara, mengarah tepat ke kepala Jiangzhu.
Kaisar Bayangan juga tidak mau kalah. Ia menyadari bahwa jika Jiangzhu berhasil menyerap energi ini, dia akan menjadi ancaman bagi semua orang. "Tangan Kematian Bayangan!"
Sebuah cakar raksasa yang terbuat dari kegelapan murni muncul dari belakang Kaisar Bayangan, menerjang Jiangzhu dari sisi lain.
Jiangzhu terjepit. Cahaya di depan, kegelapan di belakang.
"Jika aku harus mati di sini, aku akan membawa kalian semua bersamaku!" Jiangzhu berteriak parau.
Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. Alih-alih menangkis, ia justru menarik kedua serangan itu masuk ke dalam dirinya. Di ruang jiwanya, Li'er berdiri dengan tenang di tengah badai. Ia mengangkat tangan kecilnya, membantu Jiangzhu menyeimbangkan energi yang berlawanan itu.
BUMMMMMM!
Ledakan dahsyat menghancurkan seluruh lantai enam belas. Tembok marmer runtuh, pilar-pilar raksasa hancur menjadi debu. Asap tebal menutupi segalanya.
Beberapa menit kemudian, saat debu mulai turun, pemandangan yang tersisa hanyalah kehancuran. Lu Tian tergeletak di pojok, pedangnya patah menjadi dua, napasnya tersengal. Kaisar Bayangan tampak masih berdiri, namun jubahnya compang-camping dan darah hitam mengalir dari mulutnya.
Dan di tengah-tengah reruntuhan, Jiangzhu berdiri diam. Rambutnya kini berubah menjadi putih perak, dan matanya tidak lagi merah atau ungu, melainkan berwarna abu-abu yang dalam dan jernih. Aura yang ia pancarkan bukan lagi aura iblis yang liar, tapi aura keagungan yang dingin.
Selamat. Anda telah menembus Tahap Inti Bumi Tingkat 9 - Puncak.
Jiangzhu berjalan perlahan menuju singgasana Kaisar Bayangan yang setengah hancur. Di bawahnya, sebuah lubang gelap dengan tangga menuju ke bawah terlihat.
"Terima kasih atas 'perjamuannya'," kata Jiangzhu dengan suara yang tenang namun berwibawa.
Ia menghampiri Awan yang gemetar di bawah reruntuhan meja. Jiangzhu mengangkat gadis itu dengan lembut. Sentuhan tangannya kini tidak lagi membakar atau membekukan; ia terasa sangat stabil.
"Ayo, Awan. Lantai tujuh belas sudah menunggu," ajak Jiangzhu.
Yue muncul dari balik reruntuhan, menatap Jiangzhu dengan rasa takut yang tak tersamarkan. "Kau... kau bukan lagi manusia yang kubawa dari bawah."
"Manusia yang kau kenal sudah mati dalam ledakan tadi, Yue," jawab Jiangzhu tanpa menoleh. "Sekarang, hanya ada Penghubung."
Mereka melangkah masuk ke dalam lubang di bawah singgasana, meninggalkan dua penguasa yang terhina di belakang mereka. Perang besar di Menara Kegelapan baru saja dimulai, dan Jiangzhu baru saja mengubah dirinya menjadi pemain utama yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun.
Jiangzhu terbatuk, mengeluarkan gumpalan darah hitam yang terasa berpasir di lidahnya. Setiap kali ia mencoba menghirup udara, paru-parunya terasa seperti diiris oleh ribuan pecahan kaca mikroskopis sisa-sisa energi cahaya Lu Tian yang belum sepenuhnya terasimilasi. Ia mengusap matanya yang perih; darah yang mengering di bulu matanya membuat pandangannya sedikit merah dan buram, tapi ia bisa merasakan kekuatan baru itu berdenyut di bawah kulitnya seperti aliran lava yang terkendali.
"Jangan hanya berdiri di sana dan menatapku seolah aku ini hantu," desis Jiangzhu ke arah Kaisar Bayangan yang masih berusaha mengatur napasnya yang pecah. Jiangzhu melangkah di atas pecahan piring perak yang hancur, bunyi kepingan logam yang terinjak terasa sangat nyaring di aula yang kini sunyi senyap. "Kau ingin aku menjadi kunci, bukan? Sekarang kau tahu bahwa kuncimu ini punya taring yang bisa merobek tangan pemiliknya."
Kaisar Bayangan mencoba berdiri tegak, namun lututnya bergetar. Jubah naga merahnya kini tak lebih dari kain pel yang kotor. "Kau... kau adalah anomali," gumamnya, suaranya parau karena pita suaranya baru saja terpanggang energi suci. "Tapi ingat, Jiangzhu, semakin tinggi kau memanjat menara ini, semakin tipis udara bagi mereka yang tidak punya sekutu. Kau tidak bisa melawan seluruh dunia sendirian."
"Aku sudah sendirian sejak lahir," balas Jiangzhu dingin. Ia memungut sebuah botol anggur yang belum pecah, meminum isinya yang terasa pahit untuk membasuh rasa besi di mulutnya. "Dunia tidak pernah memberiku sekutu, jadi kenapa aku harus repot-repot mencarinya sekarang?"
Ia menoleh ke arah Awan yang merangkak keluar dari bawah reruntuhan meja marmer. Gadis itu tertutup debu putih, membuatnya tampak seperti hantu kecil, tapi matanya yang biru masih berkilat jernih mungkin satu-satunya hal yang masih bersih di lantai yang penuh dosa ini. Jiangzhu mengulurkan tangannya yang kasar, membiarkan Awan mencengkeram jemarinya.
Bocah, rasakan itu... di bawah kakimu, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar penuh antisipasi. Lantai tujuh belas bukan lagi bagian dari menara yang dibangun manusia. Itu adalah bagian dari dasar bumi yang ditarik ke atas. Bersiaplah, karena di sana, hukum rimba adalah satu-satunya kitab suci yang berlaku.
Jiangzhu mengangguk pelan, tatapannya terkunci pada lubang gelap di bawah singgasana yang kini menganga seperti mulut monster yang lapar. Ia tidak lagi merasa takut; ia hanya merasa lapar akan jawaban. Dan jika ia harus membakar sisa menara ini untuk menemukannya, maka biarlah dunia ini berpesta dalam api.
"Ayo, Awan," bisik Jiangzhu, suaranya kini selembut desiran angin malam sebelum badai. "Kita punya dewa yang harus kita seret jatuh ke bumi."