Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Dimas masih sulit mempercayai apa yang ada di tangannya. Setumpuk uang seratus ribuan rupiah berjejer rapi, terikat bersama slip pembayaran berwarna putih.
Ia menarik napas panjang, membuka lipatan uang itu satu per satu, memastikan semuanya asli. Slip pembayaran menunjukkan bahwa dari total pendapatan Rp30.000.000, ia membayar Rp6.000.000 untuk pajak dan potongan lainnya.
“Pajak memang kejam,” gumamnya pelan, “tapi setidaknya pendapatanku kali ini lumayan besar.”
Senyum kecil muncul di wajah Dimas. Ia mengangkat setumpuk uang itu, menghirup bau khas kertas baru yang masih segar. Rasanya aneh bahkan setelah semua yang terjadi, ia masih harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa uang itu nyata, bahwa sistem itu benar-benar memberinya imbalan sebesar ini.
Sekarang… harus diapakan uang ini? pikirnya. Investasi? Bantu keluarga di Yogya? Atau beli buku buat semester depan? Hm, kenapa tidak ketiganya saja?
Setelah berpikir sejenak, Dimas memutuskan: Rp5.000.000 untuk keluarganya, Rp5.000.000 lagi untuk membeli buku dan perlengkapan kuliah, dan sisanya, Rp14.000.000, akan ia investasikan perlahan.
“Nanti kalau ada rezeki lebih, baru beli baju,” ujarnya pelan sambil tersenyum sendiri. “Sistem ini memang luar biasa, tapi aku nggak boleh cuma puas di sini. Pengetahuan jauh lebih penting.”
Dimas kemudian berdiri, meregangkan lehernya, menyelipkan uang itu di bawah bantal, lalu keluar kamar dan mengunci pintu.
“Permisi, Mas, ruang makannya di mana, ya?” tanya Dimas kepada seorang mahasiswa yang baru saja keluar dari lapangan basket, kausnya masih basah oleh keringat.
Mahasiswa itu menoleh, sambil mengunyah permen karet. “Kamu anak baru, ya?” tanyanya, sedikit heran.
“Iya,” jawab Dimas sopan. “Saya baru pindahan, belum tahu tempat-tempatnya.”
“Oh, kalau gitu kamu turun aja ke lantai bawah. Lagi ada orientasi mahasiswa baru. Biasanya, setelah acara itu, langsung makan siang bareng di aula.”
“Terima kasih, Mas,” jawab Dimas ramah. Ia tersenyum lalu berjalan menuruni tangga asrama.
Rambut Dimas hitam legam, matanya coklat tua wajahnya biasa saja, tidak terlalu mencolok. Ia mengenakan jeans biru dan kaus hitam sederhana baju yang dibelikan ibunya sebelum ia berangkat ke Depok.
---
“Lihat ke sini, ini salah satu gedung bersejarah di Universitas Indonesia…”
Dimas mendengar suara seorang dosen yang sedang memandu kelompok mahasiswa baru. Ia pun bergabung diam-diam ke barisan paling belakang.
Beberapa mahasiswa tampak memegang buku panduan ekonomi dan keuangan. Dimas mengikutinya dengan tenang, memperhatikan sekitar.
“Eh, kamu juga ambil jurusan ekonomi, ya?” tanya seorang mahasiswa di sebelahnya, suaranya santai.
“Iya, betul. Saya nggak telat, kan?” jawab Dimas sambil tersenyum canggung.
“Enggak kok. Cuma dosennya aja yang kebanyakan cerita. Rasanya kayak denger radio yang nggak bisa dimatiin,” kelakar mahasiswa itu sambil terkekeh.
Dimas ikut tertawa kecil. Hari pertamanya di kampus ternyata tak seburuk yang ia bayangkan.
“Aku lapar, kamu tinggal di lantai berapa?” tanya Dimas sambil berjalan pelan. Ia hanya ingin memulai percakapan ringan.
“Lantai tiga, kamar nomor tiga puluh empat. Kamu sendiri?” jawab mahasiswa itu sambil tersenyum ramah.
“Lantai dua, kamar tujuh,” kata Dimas. Mereka lalu berjalan bersama mengikuti rombongan orientasi mahasiswa baru dari belakang.
Setengah jam kemudian.
“Eh, jadi siapa namamu? Aku Raka, Raka Wibowo,” kata anak itu yang sejak tadi tak berhenti mengoceh sepanjang kegiatan.
Dimas tersenyum kecil. “Aku Dimas. Dimas Martin. Jadi… dosennya bakal ngajak kita makan nggak, ya?”
“Kayaknya sih iya, aku juga udah lapar banget,” kata Raka sambil mengelus perutnya. “Ayo, kelihatannya udah mau selesai.”
Raka menepuk lengan Dimas, mengajaknya menuju aula makan bersama. Dimas hanya menghela napas dan mengikuti dari belakang.
Ruang makan mahasiswa UI itu luas dan terang, dengan deretan meja panjang dan aroma makanan yang menggugah selera. Ada banyak pilihan lauk: ayam goreng, sayur asem, tahu tempe, bahkan buah potong segar. Semuanya gratis untuk mahasiswa baru hari itu.
Dimas dan Raka mengambil nampan, lalu memilih makanan mereka masing-masing. Raka tampak kurang puas dengan pilihan yang ada.
“Aduh, aku harus nyuruh ayah kirim uang lagi nih,” keluhnya sambil menatap nasinya. “Biar bisa makan di kafe luar kampus, makanannya lebih enak.”
Dimas hanya tersenyum tipis. Ia menikmati makanannya tanpa banyak komentar. Nasi, sayur, dan ayam goreng kampus itu terasa sederhana tapi hangat cukup baginya.
Setelah makan siang, kegiatan bebas dimulai. Sebagian mahasiswa pergi ke unit kegiatan mahasiswa, sebagian lagi nongkrong di kafe sekitar kampus.
Dimas memilih kembali ke kamarnya. Ia mengambil kartu identitas mahasiswa, slip pembayaran yang didapat dari “sistem,” dan uang tunai Rp24.000.000.
Setelah memastikan semua dokumen lengkap, ia berangkat keluar asrama, menyusuri jalan Margonda yang ramai menuju bank terdekat di Depok. Tujuannya: membuka rekening baru.
Ia memilih Bank Mandiri, karena ada cabangnya di dalam kampus UI juga. Di perjalanan, ia memperhatikan suasana sekitar mahasiswa lalu-lalang, beberapa sibuk dengan ponsel dan earphone, ada yang duduk santai di taman sambil membaca buku.
Dimas tidak iri. Ia justru merasa bersemangat. Aku sedang menyiapkan masa depan, pikirnya.
Ia bisa saja membeli barang-barang mahal dengan uang itu, tapi ia menahan diri. Kekayaan tanpa arah hanya sementara. Yang penting sekarang adalah stabilitas dan pengetahuan.
Begitu sampai di bank, proses pembukaan rekening berjalan cepat karena ada layanan khusus untuk mahasiswa UI. Ia langsung menyetorkan Rp14.000.000 ke rekening barunya, dan mengirim Rp5.000.000 ke rekening ayahnya di Yogyakarta sebagai bentuk bakti. Sisanya, Rp5.000.000, ia simpan tunai untuk keperluan pribadi.
Petugas bank memberitahu bahwa kartu ATM dan buku tabungan bisa diambil dua hari lagi. Setelah semua urusan selesai, Dimas meninggalkan bank dengan perasaan lega.
Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke toko buku dekat fakultas ekonomi. Ia membeli enam buku kuliah dan beberapa perlengkapan tambahan pulpen, catatan, dan stabilo warna-warni.
Sesampainya di asrama, Dimas langsung menata semua barang di mejanya, menyiapkan jadwal belajar, lalu makan malam di kantin kampus. Malam itu, ia tidur dengan pikiran tenang.
Keesokan paginya.
Pukul lima subuh. Udara Depok masih sejuk dan segar. Dimas mengenakan kaus olahraga dan celana training, lalu keluar kamar untuk jogging di sekitar danau UI.
Saat baru memulai langkah pertama, tiba-tiba suara notifikasi terdengar di kepalanya:
[Ding!! Misi: Jogging selama sepuluh menit. Hadiah minimum: Rp5.000.000.]
Senyum perlahan muncul di wajah Dimas. “Jadi sistemnya masih aktif, ya…” gumamnya pelan. Ia menatap langit pagi yang mulai terang.