NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Dih...

Omaygat! Thanks guys! Udah baca cerita ku😗Muach! Cium jauh *Jangan jijik.

HAPPY READING! 🥸

Akhirnya, dua jam sandiwara itu telah berakhir.

Begitu tombol merah di layar dimatikan, kehangatan yang baru saja mereka ciptakan menguap begitu saja, terpendar entah ke mana.

Tangan Arkan menjauh dengan cepat, tak lagi menyisakan jejak eratan di pinggang Aluna.

Tatapan romantisnya tak lagi ditunjukkan, berganti dengan sorot mata dingin yang biasa dia berikan.

​"Akhirnya selesai juga. Kau lihat sendiri, kan? Kakek sangat cerewet." gumam Arkan tanpa menatap Aluna.

​"Dia susah dikendalikan kalau sudah banyak bicara. Membahas ini dan itu tanpa henti." lanjutnya sambil beranjak berdiri.

​Aluna tak menjawab. Ia hanya mampu meneguk ludah, sementara benaknya masih terjebak pada sensasi kecupan yang baru saja mendarat di dahinya untuk pertama kali.

Tanpa sadar, sebuah senyum tipis yang tak jelas maknanya tersungging di bibirnya.

​Namun, pemandangan berikutnya membuat senyum Aluna membeku.

Tanpa diduga, Arkan merogoh saku dan mengeluarkan sehelai sapu tangan katun Hermès—benda mewah seharga jutaan rupiah yang di jemarinya kokohnya.

Dengan gerakan presisi, pria itu mengusapkan sapu tangan tersebut ke bibirnya yang memiliki bentuk garis defined cupid’s bow, seolah ingin menghapus sisa-sisa yang dirasa pria itu sangat menjijikkan.

Aluna mematung.

Tubuhnya seolah mati rasa melihat Arkan melempar sapu tangan mahal itu ke tempat sampah dengan gerakan jijik, seolah kain itu baru saja menyentuh sesuatu yang beracun.

Jantungnya yang sempat berdebar kini terasa mencelos sampai ke dalam dasar lambung.

​"Kau kira itu asli, Aluna? Jangan pernah berani bermimpi hal itu nyata. Lihat, rasanya saya ingin muntah hanya karena memikirkannya," desis Arkan tajam.

​Deg— Aluna tertunduk dalam, mencoba menelan bulat-bulat cercaan yang keluar dari bibir indah pria itu. Kata-katanya lebih tajam dari sembilu.

​"Tadi itu hanya akting. Ingat ini!" Arkan menekan telunjuknya ke dahi Aluna dengan kasar.

Mendorongnya hingga tubuh mungil itu terpental ke sandaran kursi.

​"Aku tahu, Mas... kenapa harus diperjelas begitu?" sahut Aluna dengan suara bergetar.

"Kau pikir aku akan benar-benar menyukaimu?" Kalimat terakhirnya diucapkan pelan, entah untuk meyakinkan Arkan yang sedikit denial atau membohongi dirinya sendiri.

​Arkan mendengus sinis.

"Bagus. Aku juga berharap sandiwara ini hanya untuk menyenangkan Kakek, itu saja. Begitu kontrak ini selesai, menjauhlah dari hidupku selamanya. Jangan pernah perlihatkan wajah jalangmu itu lagi di depanku, mengerti?!"

​Kesal bersamaan dengan terhina, Aluna membuang muka, menolak menatap pria arogan itu. Namun, Arkan yang merasa otoritasnya diabaikan, tiba-tiba mencengkeram dagu Aluna dengan paksa dan menyentaknya ke atas.

Aluna tersentak, napasnya tertahan saat mata mereka saling beradu dalam jarak yang sangat dekat.

"Mau nangis lagi? Ck, dasar lebay," cibir Arkan pelan.

​Aluna terhenyak, baru menyadari setetes air mata telah jatuh di pipinya. Ia mengusapnya dengan gerakan kacau.

Setelah dipaksa mendongak, kini pria itu membalikkan badan dengan angkuh, seolah kondisi mental Aluna hanyalah gangguan kecil yang tidak penting.

​"Maaf kalau aku lebay... maaf kalau aku bukan wanita kuat. Maaf—" Aluna menatap punggung tegap itu dengan pandangan kabur.

​Tanpa berbalik, Arkan bergumam pelan. Alisnya yang tadinya bertaut tajam, sedikit mengendur.

"Jangan biasakan kebiasaan 'maaf'-mu itu. Itu yang malah membuatmu terlihat mudah ditindas. Coba lebih kuat sedikit, kau itu manusia atau hewan?"

​Jleb—

​Kata-kata itu terasa seperti pisau yang mengiris tepat di jantungnya. Aluna memaksakan diri berdiri, melangkah hingga berhadapan langsung dengan Arkan.

"Mungkin sekarang aku masih cengeng, Mas. Kamu pasti tidak nyaman denganku. Tapi... kenapa perkataanmu sangat kejam? Setiap kali aku mencoba menahan tangis, aku sudah berusaha! Tapi setiap kali kau menghinaku seperti itu, hatiku sakit—"

​Belum sempat kalimat itu tuntas, Arkan memotongnya dengan tawa nyaring.

"Memang itu urusan saya? Jangan berani-berani bicara soal hatimu padaku. Itu sudah melanggar aturan kontrak. Paham atau tidak?!"

​Aluna seketika membeku. Ia mengepal tangannya erat-erat.

Karena tak sanggup membalas, ia menggigit bibir bawahnya dengan sangat keras guna menahan isakan, sampai ia tak menyadari bahwa rasa anyir darah mulai merembes—bibirnya terluka karena ulahnya sendiri.

Arkan sempat tertegun.

Secara naluriah, tangan kanannya terangkat, hendak menyeka darah yang merembes di bibir Aluna.

Namun, seolah tersengat listrik, tangan kirinya segera mencengkeram pergelangan tangannya sendiri—menahan tindakan ceroboh yang hampir menunjukkan setitik rasa iba.

​"Sama sekali tidak mencerminkan istri seorang CEO. Lihat sikapmu, Aluna. Jangan memancing saya," ucapnya dingin sebelum berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

​Aluna sudah terlalu lelah untuk melawan. Ia mengembuskan napas kasar, membiarkan pintu ditutup.

Tanpa tenaga untuk sekadar mengganti pakaiannya dengan baju tidur, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king-size.

Saat ia menutupi matanya dengan telapak tangan, ia merasakan perih yang berdenyut darah dari bibir simetrisnya.

​'Ya Tuhan... aku ingin berhenti. Sepertinya aku tak akan sanggup bertahan sampai akhir kontrak,' batinnya pilu.

​Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponselnya. Ia mencari satu nama yang selalu menjadi tempatnya pulang setelah kerja lembur, sang Ayah yang masih ia harapkan dia peduli dengannya.

Aluna duduk kembali di tepi ranjang, menggigit kuku dengan cemas sementara kedua kakinya bergoyang-goyang gelisah menunggu nada sambung di ujung telepon.

Tit—

​"Aluna! Kukira siapa yang menelepon, rupanya kau. Hei, dengar Ayah! Utang Ayah yang sepuluh miliar itu sudah lunas!" suara Keldo terdengar begitu bersemangat di ujung telepon, tanpa sedikit pun menanyakan kabar putrinya.

​"Kamu tenang saja di sana sama suamimu. Puaskan dia agar kau diberi uang banyak. Ingat ini ya, Nak—Ayah ini satu-satunya keluargamu. Kalau pulang nanti, belikan sesuatu untuk Ayah."

​Aluna menatap lantai dengan mata kosong.

Harapan yang sempat ia bangun seketika runtuh menjadi abu. Selama tiga puluh menit, ia hanya menjadi pendengar pasif bagi celotehan ayahnya yang terasa begitu basi dan memuakkan.

​"Nanti kalau cucu Ayah sudah lahir, dia bisa jadi pewaris suamimu! Untung, kan, Aluna!" pungkas Keldo dengan tawa serakah.

​Aluna meremas dadanya yang terasa dihantam beban ribuan ton. Ia mengusap air mata yang terus luruh membasahi pipinya. "Iya... iya, Ayah," jawabnya parau, hanya itu kata yang mampu ia keluarkan.

​"Oke, sudah ya, Ayah mau tidur."

​Tit—

​Panggilan diputus sepihak. Ia merasa seperti manekin yang sedang dipajang di etalase, siap dijual kepada penawar tertinggi.

'Anak? Ayah mengharapkan anak dari kami? Kenapa tidak Ayah saja yang membuatnya dengan pacarmu itu... kenapa harus aku yang kau korbankan?'

​Di tengah lamunan pahitnya, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu.

Tok! Tok! Tok!

Aluna menarik napas panjang sebelum membuka pintu.

Matanya yang sembap dan memerah tak bisa disembunyikan.

Di hadapannya, seorang pelayan berdiri dengan sikap formal, membawa sebuah kotak besar dan gantungan baju berisi perhiasan serta gaun yang luar biasa megah.

​"Nyonya, ini untuk Anda," ucap pelayan itu dengan suara rendah.

​Aluna tertegun sejenak sebelum menyambutnya dengan tangan gemetar.

"Ah... terima kasih."

​Begitu pintu kembali tertutup, Aluna menatap barang-barang itu dengan perasaan tidak nyaman.

Baginya, kemewahan yang terlalu glamour ini sangatlah berlebihan.

Ia menghela napas lelah, tak punya pilihan selain menerima nasibnya sebagai barang Arkan.

​Saat ia mengangkat gaun yang terasa berat, dingin, dan licin itu ke atas ranjang, selembar kertas kecil terjatuh dari lipatannya.

Aluna menaruh gaun perpaduan warna putih dan pink pucat itu, lalu menunduk untuk memungut kertas tersebut sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya yang masih panas karena tangis.

​Di sana, tertulis kalimat dalam tulisan tangan latin yang sangat indah,

...​"Pakai ini, untuk saya. Besok ada perjamuan besar, jaga sikapmu. Pakailah ini, agar kau terlihat pantas berada di sampingku."...

​Aluna menyeka sisa keringat dan air mata di pipinya dengan punggung tangan.

Ia membalik kertas yang dihiasi dekorasi bunga-bunga estetik.

​"Menyuruhku lagi..." gumamnya perih.

"Kenapa harus lewat pelayan? Kita baru saja bertemu tadi, kenapa tidak memberikannya langsung saja agar lebih mudah?"

​Aluna membalik gaun itu dan menemukan label harga yang masih tergantung di sana. Ia memejamkan mata erat, dadanya sesak.

'Lagi-lagi barang mahal. Seratus lima puluh juta... Ya Tuhan, Arkan selalu begini, bertindak tanpa pernah bertanya bagaimana pendapatku.'

​Raut wajahnya seketika lesu. Angka fantastis itu membuatnya tak berkutik—setiap barang di mansion ini memiliki harga yang melampaui logika daripada hidupnya yang dulu. Di tengah helaan napasnya, sebuah notifikasi pesan masuk dari Arkan.

​08765xxx234512

Coba dulu gaunnya. Kalau kekecilan, langsung bilang ke pembantu agar segera dicarikan yang baru.

​Aluna hanya menatap layar tanpa niat membalas.

Ia ingin tidur.

Namun pastinya perintah Arkan adalah mutlak.

Dengan gerakan malas, ia mulai berganti pakaian.

​Begitu gaun itu melekat di tubuhnya, Aluna berjalan pelan menuju cermin besar. Ia memutar tubuh, menatap pantulan dirinya dengan perasaan tak percaya. Gaun itu membalutnya dengan

sempurna.

​"Ini... cantik," bisiknya pelan. "Entah gaunnya atau diriku. Ah, pasti karena gaunnya, bukan aku," gumamnya tak percaya diri.

​Lamunannya pecah saat ponselnya berdering nyaring.

Nama 'Arkan' tertera di layar.

Jantung Aluna berdegup kencang. Ia ragu sesaat, tak menyadari bahwa keterlambatannya menjawab adalah sebuah kesalahan besar.

Begitu ia menempelkan ponsel di telinga, suara guntur menyambar gendang telinga.

​"ALUNA! KENAPA TIDAK JAWAB PESAN SAYASAMA SEKALI?! WALAU KITA SERUMAH, TETAP JAWAB PESAN SAYA! MENGERTI?! KAU SUDAH DIBANTU TAPI SAMA SEKALI TIDAK BISA DIANDALKAN! KAU TIDUR, KAN?! SUDAH DICOBA BELUM GAUNNYA? JAWAB!"

​Terkejut oleh teriakan yang menggelegar itu, tangan Aluna gemetar hingga ponselnya nyaris terlepas.

Dalam kepanikannya, jemarinya tanpa sengaja menekan tombol putus.

Titt. Sambungan terputus.

​Aluna membeku, menutup bibirnya dengan telapak tangan. Ia tahu Arkan akan semakin mengamuk.

Dengan sisa keberanian yang ada, ia segera mencari cara untuk meredakan amarah pria itu.

​Di depan cermin, dengan wajah pucat tanpa senyum sedikit pun, ia memotret dirinya yang tengah mengenakan gaun putih-pink tersebut.

Foto itu segera ia kirimkan.

@Aluna lebay.

Ini, cocok kok mas. Makasih☺

Di ruang kerjanya, Arkan tengah fokus pada tumpukan pekerjaan di depan laptop.

Namun, sebuah notifikasi pesan dari Aluna membuat konsentrasinya hancur seketika. Begitu membuka foto yang dikirimkan, Arkan tersedak hingga menyemburkan kopi yang sedang diminumnya tepat ke arah layar laptop mahal itu.

​Ia menatap layar iPhone di genggamannya.

"Bodoh, kenapa malah mengirim foto dirinya sendiri? Siapa juga yang mau lihat, sialan," umpatnya kasar.

1 pesan masuk.

​@Mas Arkan

"Hapus! Bikin jijik saja melihatnya."

​Di seberang sana, Aluna sudah jatuh tidur terlelap.

​Arkan menunggu balasan dengan perasaan berkecamuk. Saat melihat status Aluna sudah offline, ia berdecak kesal dan kembali mengumpat.

Namun, entah tarikan magnet apa yang menariknya, matanya terus tertarik menatap foto Aluna yang terlihat begitu anggun dalam balutan gaun putih-pink tersebut.

Foto itu seolah menjadi magnet bagi netra emasnya.

​"Stop! Aku saja yang hapus pesannya, apa susahnya!" serunya pada diri sendiri. Dengan gerakan cepat dan sedikit gusar, ia mulai menekan opsi untuk menghapus foto tersebut dari galeri dan riwayat pesannya.

...****************...

Esok harinya, tim penata rias profesional tiba di mansion atas perintah mutlak Arkan.

Tiga orang bekerja serentak, mengubah Aluna yang semula tampak polosan menjadi sosok yang menakjubkan.

Make-up tipis yang elegan menonjolkan kecantikan alaminya, rambutnya disanggul rapi dengan jepitan mutiara yang berkilau lembut.

​Dua jam berlalu, Aluna diminta membuka mata. Ia terkesiap, nyaris tak mengenali bayangannya sendiri di cermin.

'Ini... siapa? Apa ini benar-benar aku?' batinnya tak percaya.

Dengan bantuan para pelayan, ia berdiri dan mulai melangkah keluar, setiap gerakannya kini terasa anggun layaknya wanita kalangan atas.

​Di lantai bawah, Arkan berkali-kali melirik arloji mewah di pergelangan tangannya. Langkah kakinya bergerak tak tenang, menunjukkan ketidaksabaran yang mulai memuncak.

"Lama sekali," gerutunya.

​Namun, suara ketukan high heels yang berirama dari arah tangga seketika menghentikan gerutuannya.

Arkan menoleh dengan gerakan malas, bermaksud untuk kembali mencerca keterlambatan Aluna.

Namun, saat sosok itu muncul di puncak tangga, kalimatnya tertahan di kerongkongan.

​Pupil mata Arkan yang berwarna keemasan melebar perlahan. Ia terpaku melihat Aluna yang menuruni tangga dengan gaun putih-pink semalam, tampak begitu bercahaya dan sangat jauh dari kesan "jalang" yang ia lontarkan kemarin. Untuk pertama kalinya, Arkan merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis.

​"Mas... Mas?" Panggilan lembut Aluna membuyarkan lamunan Arkan.

​Pria itu memalingkan wajah dengan cepat, berusaha menyembunyikan semu merah yang sempat merayap di tulang pipinya.

'Sialan kau, Arkan!' umpatnya dalam hati, merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya terpaku hanya karena melihat wanita itu.

​"Ini lebih baik daripada pakaian kumuhmu yang lalu," ucapnya ketus.

"Cepat keluar, tunggu saya di sana."

​Aluna hanya mengangguk patuh. Namun, berjalan dengan gaun semahal itu ternyata tidak mudah— berat kain gaunnya membuat setiap langkah Aluna terasa lambat.

​Di dalam mobil limusin yang mewah dan panjang, suasana terasa canggung meski mereka duduk bersisihan.

Arkan menatap lurus ke depan sambil memperbaiki letak jasnya.

"Jangan dekat-dekat dengan Sinta. Jangan sampai kalian bertengkar lagi di sana. Mengerti?"

​Aluna mengangguk pelan tanpa suara. Mendengar nama Sinta membuatnya tak mood.

Ia merasa tidak adil karena selalu ia yang diperingatkan, seolah dialah sang pembuat onar, padahal Sinta-lah yang memulainya.

​Perjalanan singkat selama dua puluh lima menit itu berakhir di depan sebuah hotel bintang lima yang megah.

Begitu mobil berhenti, kilatan cahaya kamera dari puluhan wartawan langsung menyambar, menciptakan suasana gila yang menyilaukan mata.

​Arkan turun lebih dulu, lalu dengan gerakan yang tampak sangat gentleman di depan publik, ia membukakan pintu untuk Aluna dengan mengulurkan tangannya.

Aluna ragu sejenak, menatap telapak tangan lebar itu.

Namun, tatapan tajam dari Arkan membuatnya tak punya pilihan. Ia segera menyambut uluran tangannya.

​Cklik! Cklik! Cklik!

Bersambung...

Free Diary! For ML and FL!

ARKANA SEO DIRGANTARA

Fact! Real! Fun Fact For FL

Aluna Inatura Kaleo

DIBALIK LAYAR. (BTS/BEHIND THE SCENE)

Vera: Kak Aluna kenapa ga marah kak dibentak terus 🥲

Aluna: Ya gimana, kan sudah sesuai cerita.

Aluna: Tapi sebenarnya Arkan baik kok, ya kan?

(Arkan menghampiri Aluna)

(Mengelus kepalanya lembut)

Arkan: ayo kita pergi selagi break nih, katanya mau beli seblak.

(Aluna senyum manis)

Aluna: Naik apa?

Arkan: Naik motor aja ya, soalnya capek pake mobil.

Vera: wkwkwk, sok gaya banget!

(Aluna angguk kepala, ada yang ingin disampaikan ke pembaca)

Aluna: Teman-teman, terimakasih sudah setia mengawasi kami dari jauh. Aku sangat berterimakasih atas dukungan kalian semua, cium jauh—Terima ya...😘

(Arkan menangkap love terbang dilangit dengan tangannya)

Arkan: Eits, tak bisa kamu berikan ke pembaca soalnya sudah kutangkap.

(Vera di belakang nangis sendiri karena masih jomblay, ngelihat mereka berdua tambah ngenes. )

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!