Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Aturan yang Rapi
Hari pertama sebagai murid dalam dimulai tanpa seremoni apa pun.
Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada pengumuman di aula utama. Tidak ada simbol kehormatan. Ren Tao hanya menerima satu set pakaian baru jubah murid dalam berwarna hitam dengan garis perak tipis serta sebuah batu giok identitas yang dingin di telapak tangannya.
Jubah itu terasa lebih ringan dari milik murid luar.
Namun maknanya jauh lebih berat.
Ren Tao berjalan melewati koridor batu sekte dengan langkah tenang. Tatapan-tatapan mengikuti pergerakannya. Tidak ada yang terang-terangan menunjukkan permusuhan, tetapi jarak selalu dijaga dengan sadar.
Ia bukan bagian dari mereka.
Belum.
Di aula pembelajaran dasar, seorang pengawas berdiri dengan wajah datar. Suaranya dingin dan formal.
“Hari ini, pembagian tugas.”
Ren Tao mendengarkan tanpa ekspresi.
Daftar tugas dibacakan satu per satu: pembersihan area formasi rusak, pengumpulan bahan qi tingkat rendah, penjagaan wilayah malam.
Semua terdengar normal.
Sampai namanya dipanggil.
“Ren Tao,” kata pengawas itu, menatap gulungan di tangannya. “Kau bertanggung jawab di tiga area.”
Beberapa murid dalam langsung menoleh.
Tiga tugas dalam satu hari.
Berat. Tapi masih berada di dalam batas aturan sekte.
Ren Tao mengangguk pelan. “Dimengerti.”
Tidak ada protes. Tidak ada keluhan. Tidak ada pertanyaan.
Keheningan itu justru membuat pengawas mengernyit tipis, seolah ia berharap ada perlawanan kecil.
Di luar aula, seorang murid dalam mendekat dengan nada sinis.
“Kau sengaja diam saja?”
Ren Tao menatapnya sekilas, lalu berjalan melewati.
“Aku dibayar untuk patuh,” katanya datar. “Bukan untuk bicara.”
Murid itu terdiam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
Di area formasi rusak, Ren Tao bekerja dengan gerakan pelan namun teliti. Tangannya membersihkan puing batu giok, matanya mencermati alur qi yang terputus. Pola kerusakan itu terasa ganjil.
Formasi ini tidak runtuh karena ujian.
Ada perubahan setelahnya.
Seseorang sengaja mengutak-atik.
Wei Kang, pikirnya.
Menjelang sore, tubuh Ren Tao terasa lelah, tetapi pikirannya justru semakin tajam. Ia menyelesaikan tugas pengumpulan bahan qi tanpa kesalahan, mencatat jalur tercepat dan lokasi yang diawasi lebih longgar.
Ia tidak meninggalkan celah.
Malam pun tiba.
Penjagaan dimulai di wilayah yang sunyi, jauh dari pusat sekte. Lampu qi menyala redup, angin dingin berdesir di sela batu. Ren Tao duduk bersila, punggungnya tegak.
Ia tidak bermeditasi penuh.
Ia menunggu.
Langkah kaki terdengar dari bayangan.
Tiga murid dalam muncul perlahan, aura mereka ditekan, tapi niatnya jelas.
“Ren Tao,” ujar salah satu dengan suara rendah. “Kau terlalu mencolok.”
Ren Tao membuka mata. “Kalian datang tanpa izin wilayah.”
“Itu bukan masalah,” balas yang lain.
Ren Tao tersenyum tipis.
“Bagi kalian.”
Ia berdiri dan mengangkat batu giok identitasnya. Cahaya lembut menyebar ke tanah. Formasi penjaga langsung aktif. Tekanan qi turun perlahan, menekan udara di sekitar mereka.
Ketiga murid itu membeku.
“Wilayah ini,” kata Ren Tao tenang, “berada di bawah tanggung jawabku malam ini. Setiap pelanggaran tercatat otomatis.”
Wajah mereka berubah pucat.
“Pergi sekarang,” lanjutnya, “atau laporan masuk ke aula disiplin. Bukan dari aku.”
Mereka mundur dengan geram, tanpa berani menoleh lagi.
Ren Tao duduk kembali.
Ia tahu besok laporan itu akan sampai ke telinga Wei Kang.
Dan ia tahu satu hal dengan pasti
Wei Kang tidak bisa menghukumnya.
Karena Ren Tao tidak melanggar satu aturan pun.
Di kediaman pengawas, Wei Kang membaca laporan malam itu. Tidak ada tuduhan. Tidak ada konflik terbuka. Hanya satu catatan singkat.
“Murid dalam melanggar wilayah tugas.”
Wei Kang tertawa kecil.
“Licik.”
Ia menutup laporan dan berdiri. “Kalau begitu… kita naikkan levelnya.”
Di kamarnya, Ren Tao membuka mata dari meditasi. Qi di tubuhnya stabil, mengalir rapi. Namun tekanan dari luar mulai terasa jelas.
Ia tersenyum kecil.
Bagus, pikirnya. Berarti aku sudah masuk radar resmi.
Hari pertama sebagai murid dalam berakhir.
Dan Ren Tao tahu
Mulai sekarang, setiap langkah adalah perang tanpa darah.
Dan ia sangat ahli bermain di medan seperti itu.
semangat terus ya...