Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat peninggalan
Hani membuka surat tersebut dengan penuh tanda tanya, ia sendiri tidak pernah meletakkan sebuah surat dalam kotak penyimpanan barang nya, yang berarti surat tersebut sengaja di letakkan oleh orang lain, kemungkinan besar adalah ayah nya.
Isi suratnya.
Hani putriku, ayah membuat surat ini untuk menyampaikan sebuah pesan, mungkin saat kamu membuka surat ini ayah dan ibumu sudah tiada.
Saat kamu membuka surat ini, ayah yakin bahwa kamu akan kembali ke dunia bayangan mu, ayah berharap dengan kamu kembali ke dunia itu kamu bisa menggunakan nya untuk menegakkan keadilan.
Jaga dirimu nak, ayah tidak bisa selalu berada disisi mu, ayah percaya bahwa kamu bisa menjadi lebih hebat dibandingkan ayah. Ayah berharap kamu bisa membalas ketidakadilan dalam hidup kita, terutama pada orang yang telah memfitnah dan memecat ayah secara tidak terhormat.
Jika ayah dan ibu telah tiada, ayah titip rumah yang selama ini kita tinggali jangan kamu berikan pada siapapun ya nak, termasuk paman mu, sejak terjadi konflik keluarga dulu hubungan ayah dan paman mu semakin renggang bahkan paman mu sering kali mendatangi rumah kita hanya untuk meminjam uang bulanan yang kamu berikan, sampai sekarang uang uang yang ayah pinjamkan belum dikembalikan.
Suatu saat jika kamu akan menikah ayah harap kamu selalu ingat dengan ayah dan ibu, ayah ingin kamu membawa calon suami mu mengunjungi ayah.
...-----------...
Hani membaca surat tersebut dengan mata yang berkaca kaca, ia tidak pernah menyangka bahwa ayah nya telah ber firasat bahwa ia akan kembali ke dunia bayangan ketika kedua orang tua nya telah tiada.
Mutia yang sedari tadi sedikit menjauh untuk memberikan ruang pada Hani karena takut isi surat tersebut bersifat privasi hanya menatap Hani dari kejauhan dengan rasa penasaran 'Ih apa ya isi surat nya, kok Hani jadi nangis lagi sih, percuma nih gue ngehibur dia dari tadi' Gerutu Mutia dalam hati.
'Ayah ibu aku janji akan segera menuntaskan semua ini, aku janji akan menjaga rumah ini, dan aku janji untuk membalas perbuatan orang yang telah menabrak kalian, aku janji darah akan dibalas dengan darah.' janji Hani dalam hati setelah membaca surat tersebut.
"Emm Hani, itu isi suratnya apaan? kok lu nangis lagi sih, gua jadi penasaran." Mutia memberanikan diri untuk bertanya, walaupun belum pasti dijawab oleh Hani.
"Gaada apa apa mut, cuma sedikit pesan dari ayahku. Jadi sekarang mendingan kita lanjutin misi balas dendam nya." jawab Hani seraya menghapus air mata nya, lalu menyimpan surat tersebut dan mulai mengecek laptop kebanggaan nya.
"Misi balas dendam? bukannya tadi kamu bilang misi buat cari orang yang udah nabrak ortu mu, kenapa jadi ke balas dendam sih, emangnya lu dendam ke siapa? " balas Mutia dengan heran.
"Ya orang yang udah nabrak kedua ortu ku itu yang ku maksud, coba aja dia mau bertanggung jawab waktu itu pasti dia ga akan masuk ke permainan ini, sial nya dia belum tau siapa yang diajak bermain" ucap Hani dengan seringai senyum tipis penuh strategi.
"Hmm, jadi sekarang langkah pertama yang kamu lakuin apa? " tanya Mutia, ia memang tidak tau langkah-langkah yang akan digunakan Hani.
"Setelah ku cek lagi laptop ku, ternyata ada beberapa fitur yang sudah ketinggalan zaman, dan ga efektif untuk penyelundupan. Jadi langkah pertama aku telepon asisten perusahaan ku yang ada di Jerman. " ucap Hani, dia mengembangkan beberapa perusahaan teknologi dalam pembangunan chip yang berada di Jepang. laptop dan juga komputer yang berada di Jerman. Kendali global, keamanan dan juga strategi yang berada di Singapura. dan server tersembunyi dunia yang berada di Islandia. Semua perusahaan tersebut dipegang kendali oleh orang-orang kepercayaan Hani yang dulunya merupakan sahabat Hani semasa kuliah di luar negeri.
"H-hah perusahaan di Jerman? buset itu lu bangun perusahaan jauh bener sampe ke negara Jerman, perusahaan apaan emang? " tanya Mutia dengan antusias namun sedikit kaget, ia tidak habis fikir oleh teman nya itu, selama ini menyembunyikan kekayaan nya dengan bekerja disebuah perusahaan kota demi tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Tetapi hasil perusahaan luar negeri nya ia simpan, dan hanya ia berikan untuk kedua orang tua nya.
"Biasa aja kali mut, itu perusahaan laptop sama komputer yang dipegang kendali sama tangan kanan sekaligus temen aku namanya Sophia." jawab Hani.
"Jadi orang-orang disana gatau kalo kamu yang punya perusahaan itu?"
"Ga ada yang tau aku pemilik perusahaan itu, kalo aku berkunjung juga pake kacamata sama masker jadi ga keliatan muka nya, alhasil ya mereka gatau muka asli ku" Jawab Hani santai.
"Gila gila, ini bener-bener LUAR BIASA SUMPAH, aku jadi semangat banget mau bantuin." ucap Mutia antusias.
Hani hanya geleng-geleng dengan ucapan sahabat nya itu, sikap nya memang sangat bar bar dan itulah yang membuat Hani suka berteman dengan nya. Hani segera menghubungi Sophia karena ia memerlukan laptop keluaran terbaru dengan fitur yang lengkap, di desain sendiri oleh Hani setelah ia pulang dari bekerja kantoran di apartemen nya.
Tak lama kemudian panggilan terhubung, dengan Sophia yang berbahasa Jerman dan sedikit formal, meskipun dulu Hani dan Sophia berteman tetapi sekarang Hani sudah menjadi bos nya.
Percakapan telepon
Sophia: Guten Tag, meine Dame. Gibt es etwas, das Sie benötigen?
(Halo selamat siang miss, apa ada yang anda perlukan?)
Hani: Sophia, ich benötige den neuesten, voll ausgestatteten Laptop, den ich vor einigen Monaten entworfen habe. Bitte senden Sie ihn so schnell wie möglich nach Indonesien.
(Sophia, saya perlu laptop keluaran terbaru dengan fitur lengkap yang saya desain beberapa bulan lalu. Tolong proses pengiriman nya ke Indonesia, secepatnya.)
Sophia: Okay, Miss, ich kümmere mich so schnell wie möglich darum.
(Baik miss, akan saya urus secepatnya.)
Hani: Okay Sophia, ich beende das Gespräch jetzt.
(Baiklah Sophia, saya akhiri dulu panggilan nya.)
....................
Tutt
Hani menutup sambungan telepon tersebut, Mutia tampak syok dan melongo, ia tidak mengerti akan bahasa yang digunakan oleh sahabat nya itu. Ia kira Hani hanya lancar berbahasa Inggris semasa kuliah di Amerika Serikat, rupanya lebih dari itu.
"Wah, sumpah gila, itu bahasa Jerman? seriusan kamu bisa bahasa Jerman selancar itu kaya jalan tol? " tanya Mutia dengan kagum.
"Hahaha kamu baru tau ya mut? aku bisa beberapa bahasa tapi ya ga lancar lancar banget" jawab Hani dengan sombong namun hanya sekedar candaan.
"Ga lancar kata mu? orang kaya jalan tol gitu kalo ngomong bahasa luar, ini anak emang bener-bener ya" ucap Mutia dengan keheranan. "Emang kamu bisa bahasa apa aja sih? aku curiga kamu bisa semua bahasa didunia." tanya mutia.
"Aku cuma bisa beberapa aja mut. Kaya bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Singapore English, Islandia, Korea, Mandarin, Turki, Italia, sama bahasa Rusia. Tapi ya ada beberapa yang ga lancar." jawab Hani.
"HAH SEBANYAK ITU?" Mutia melongo akan jawaban Hani, sahabatnya itu memang benar-benar luar biasa yang bisa menguasai 10 bahasa luar negeri.
"Itu ga terlalu banyak mut, udahlah mendingan sekarang kamu potongin rambut aku di teras depan rumah." pinta Hani, dari dulu memang ia tidak pernah pergi ke salon hanya untuk potong rambut ataupun perawatan, ia lebih memilih untuk potong rambut dirumah dengan meminta bantuan pada mendiang ibu nya ataupun Mutia bahkan Sinta juga.
"Kenapa harus potong rambut juga sih, itu udah bagus tau panjangnya sepinggang kamu, gaperlu dipotong-potong." protes Mutia.
Hani pun tak mau menghiraukan protes dari sang sahabat, karena ia malas sekali jika harus berdebat dengannya. Ia segera menarik tangan Mutia agar keluar dari ruangan bawah tanah dan mengikuti nya sampai teras depan rumah. Tak lupa ia juga telah membawa gunting dan juga kantong kresek bewarna hitam untuk meletakkan rambut yang sudah dipotong nya.
"Potong nya jangan terlalu pendek mut, sedikit dibawah bahu" ucap Hani ketika sudah berada diteras rumah dan Mutia sudah bersiap untuk memotong rambut panjang milik Hani.
"Iya iya, tapi jangan nyesel lo kalo potongan nya jelek. Lagian aku juga bukan tukang potong rambut." ujar Mutia.
"Iya gapapa, potong aja cepet" titah Hani.
Akhirnya Mutia pun memotong rambut Hani sesuai yang sahabat nya itu inginkan, walaupun tidak berpengalaman tapi Mutia tetap menjalankan keinginan dari sahabatnya.
Di saat sedang memotong rambut sang sahabat diiringi canda dan tawa, Mutia mengajukan sebuah pertanyaan yang Hani sendiri juga bingung akan menjawabnya.
"Ngomong ngomong setelah kamu balik ke dunia bayangan mu, kamu tetep kerja di perusahaan pak dika?" tanya Mutia, seketika membuat Hani bungkam, ia bingung harus menjawab apa.
Hani tampak berfikir sejenak mengambil keputusan, lalu ia menghela nafas dan berkata "Mungkin untuk 3 hari kedepan aku mau balik kerja ke kota, sekaligus urus surat pengunduran diri aku ke kantor. Setelah itu yaa... aku bakalan tinggal lagi dikampung ini kaya dulu, sambil asah keterampilan bela diri aku sama kemampuan fisik lainnya kali ya, biar sewaktu-waktu kalo aku udah siap aku bisa balas dendam." Ujarnya.
"Oh gituu, bagus deh aku jadi sering ada temen disini. Nah udah selesai nih potong rambutnya coba kamu liat dulu, nanti kalo ada yang ga rapi biar ku potong lagi" ucap Mutia.
Kemudian Hani melihat tampilan dirinya di kaca jendela depan rumah, tampak seperti bayang bayang bukan seperti cermin. "Di kaca ini bagus sih keliatan nya, tapi ga tau kalo di cermin. Coba kita masuk dulu, lihat hasil nya di cermin." ajak Hani.
Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kamar Hani yang memiliki nuansa putih dan baby blue dengan terdapat beberapa barang yang terlihat menggemaskan. Hani melihat tampilan dirinya di depan cermin yang terdapat pada kamarnya, ia tampak puas dan juga antusias, tampilan barunya memberikan efek fresh pada dirinya.
"Wah bagus juga, perfect memang sahabat aku bisa diandalkan ahahahah" ucap Hani seraya memberikan dua jempol nya kepada Mutia.
"Jelas dong Mutia nih bos" ucap Mutia membanggakan diri.
Hani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya akan tingkah sahabat nya yang sangat menghibur itu, kemudian ia bersiap siap untuk pergi kembali ke apartemen nya malam ini, karena ia memutuskan untuk bekerja besok.
"Yaudah deh aku pulang dulu, lagian ini juga udah sore, kayanya kamu juga sibuk beres beres." ucap Mutia.
"Iya besok kan aku udah kerja, jadi mungkin nanti malam aku mau balik ke kota, kamu hati hati pulang nya." jawab Hani.
"Okee, kamu juga hati hati nanti waktu berkendara ke kota, apalagi kamu perempuan." ujar Mutia lalu berlalu keluar rumah.
Hani pun ikut pergi mengantarkan sahabat nya sampai ke teras depan. "bye bestiee" ucap Mutia centil dengan melambaikan tangan dan berjalan menyusuri jalan kampung tersebut.
Hani hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Mutia, setelah sahabat nya itu menghilang dari pandangan barulah Hani masuk ke dalam rumah dan mulai membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk pergi ke kota malam ini.
...----------------...
Malam menggantung rendah di atas kota, seperti napas yang ditahan terlalu lama. Lampu-lampu jalan di gang sempit menuju apartemen berpendar redup, memantul di dinding beton yang lembap dan sunyi. Di antara kesenyapan itu, Lamborghini Huracán merah marun meluncur perlahan mesinnya tak meraung, hanya berdengung halus, seolah paham bahwa malam tak menyukai kebisingan. Kilau catnya menangkap sisa cahaya, memecah gelap menjadi garis-garis tipis yang cepat hilang. Kota tampak tertidur, namun di balik kaca gelap mobil itu, seseorang terjaga penuh, membawa rahasia yang lebih berat dari keheningan gang.
Hani tiba di apartemen studio nya, ia melangkah memasuki lift. Setibanya di dalam apartemen ia langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian nya dengan piyama bewarna soft blue warna kesukaan nya. Ia berniat untuk memasak terlebuh dahulu karena ia merasa lapar, ia memasak makanan yang simpel yaitu nasi goreng kampung, sebelum makan ia pergi keluar apartemen untuk membuang sampah dapur yang sudah penuh dari kotak sampah.
ting
Pintu lift terbuka, Hani melangkah ke arah timur apartemen yang sedikit gelap, ia melangkah pelan dengan sedikit takut, walaupun Hani tau disana hanya ada tempat pembuangan sampah penghuni apartemen tetapi ia sering kali takut untuk sekedar membuang sampah.
Hani meletakkan sampah tersebut di sana dengan hati yang was was takut ada yang berbuat jahat padanya. "Ini tempat sampah serem banget sih perasaan, padahal gaada apa apa" ucapnya setelah meletakkan sampah yang ia buang dan hendak melangkah pergi.
tiba-tiba ia mendengar rintihan seseorang dari tempat pembuangan sampah tersebut yang menghentikan langkah kaki nya.
"To-long a-ku" suara tersebut terdengar lirih namun nyata.
"Hah siapa itu, masa hantu sih?" ucap Hani, ia pun memberanikan diri untuk melihat di sebelah kanan sisi tumpukan sampah, alangkah terkejutnya ia dengan sebuah tangan besar tergeletak.
"E-eh itu tangan? tangan hantu apa tangan orang?" tanya Hani ntah pada siapa.
"Tolong a-ku" ucapan tersebut kembali terdengar. Hani pun melangkah maju ke arah suara dan melihat seseorang yang sedang tergeletak tak berdaya dengan banyak luka dan sebuah tancapan pisau kecil di perutnya.