Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Masa lalu Kael
Di dalam salah satu kamar hotel bintang lima di Surabaya malam harinya.
"Lebih baik kita menikah, Arsa," pinta perempuan yang kini sedang dalam pelukan laki laki muda di tempat tidur.
Arsa tidak menjawab, malah mengeratkan pelukannya.
"Kesempatanku bersama Kael sudah ngga mungkin lagi. Jadi apalagi yang kamu tunggu." Suara Nafa penuh tuntutan.
"Sabarlah," bujuk Arsa.
"Sabar? Ini semua gara gara kamu, kan? Seandainya kamu tidak memaksa datang malam itu, aku pasti sudah jadi istri Kael. Kael juga tidak akan hilang seperti ini," dengus Nafa dengan suara tinggi. Dia mendorong tubuh kekasihnya dengan keras.
Arsa menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf." Dia mengaku salah. Malam itu dia sudah sangat stres karena beberapa lagi kekasihnya akan menjadi istri adik tirinya.
"Kita sama tidak menduga kalo Kael pulang malam itu," sesal Arsa membela diri.
Nafa mendengus. Dia yang memohon agar laki laki itu pulang karena.desakan maminya Arsa. Tapi waktu itu Kael tidak bisa mengabulkan keinginannya. Hingga dia tidak bisa menolak kedatangan Arsa kekasihnya.
"Maafmu tidak berguna," umpat Nafa tanpa mau melihat Arsa.
Arsa menghembuskan nafas kasar.
Adknya pulang tanpa memberi kabar. Adiknya benar benar sudah kecintaan berat dengan kekasihnya.
Dia tatap punggung polos yang merajuk itu. Kekasihnya memang memiliki tu buh yang luar biasa se ksoy.... Wajar saja adiknya drngan mudah tergila gila dengannya.
Maminya juga marah besar padanya karena semua rencana yang sudah disusun rapi sekian lama hancur berantakan karema ulah putra kandungnya yang tidak bisa menahan h@sratnya.
"Aku malah takut ketemu Kael. Sekarang hari hariku ngga tenang," keluh Nafa dengan suara lirih. Masih teringat perlakuan mengerikan Kael padanya. Dia masih merinding.
"Tenanglah. Aku dan mami akan membu nuhnya sebelum dia menemui papi," ucap Arsa menenangkan kekasihnya. Dia tentu saja tidak mau papi tau apa yang sudah terjadi.
Nafa tercekat mendengarnya. Dia tau obsesi maminya Arsa, juga Arsa. Arsa bahkan tega memintanya merayu Kael.
Mendengar Kael akan dibu nuh, sudut hatinya.memprotes.
Kenapa?
Seandainya saja tidak ketahuan Kael, dia rela mengkhianati Arsa dan maminya. Cinta Kael terasa sangat tulus. Laki laki itu terlalu memujanya. Tapi sekarang dia tidak bisa apa.apa, Kael pasti sangat membencinya.
"Masa Kael tidak bisa ditemukan?" tanyanya gusar.
Nafa menghela nafas. Agak mengherankan karena tidak ada yang tau dimana keberadaan Kael. Kael benar benar lenyap ditelan bumi. Seakan akan dia sudah m@ti. Hati kecil Nafa juga berharap begitu, karena kalo Kael masih hidup, pasti Kael akan langsung mencacinya saat bertemu. Bahkan meludahinya lagi. Nafa masih merasa terhina dengan perlakuan Kael padanya malam itu.
"Mungkin dia sudah m@ti?" cetus Arsa yang membuat Nafa berbalik menatapnya. Mata gadis itu mendelik.
"Mungkin saja, kan? Papi sudah mengutus banyak orang mencarinya, tapi gagal," lanjut Arsa lagi.
Nafa makin sulit untuk bernafas.
"Aku malah berharap begitu, dia m@ti dan tidak dikenali mayatnya. Jadi posisiku sebagai pewaris papi tidak bisa diganggu gugat."
Nafa menatap Arsa ngeri. Walau dia takut bertemu Kael, tapi ada ketakrelaan dari dalam hatinya kalo Kael benaran m@ti.
"Saat itu aku akan menikahimu," janji Arsa menenangkan Nafa.
Arsa semakin berharap itu yang terjadi, hingga dia dan maminya tidak perlu mengotori tangan mereka untuk melenyapkan Kael.
Selama ini dia dan Kael memang sering pukul pukulan kalo bertengkar. Tapi tidak seperti pada waktu malam itu. Kael benar benar ingin membu nuhnya..
Kalo Kael muncul tiba tiba, Arsa yakin, Kael akan membuka kedoknya di hadapan papi mereka. Selama ini bagi papinya, dia adalah anak baik baik, laki laki yang bertanggung jawab, tidak pernah menentang papinya dan selalu bekerja keras.
Yang papinya belum tau, Nafa adalah kekasihnya yang tidak direstui maminya karena berasal dari keluarga yang perekonomiannya biasa saja.
Yang papinya juga belum tau, Arsa terpaksa menerima rencana maminya agar kekasihnya dioper untuk adiknya.
Awalnya dia menolak mentah mentah tawaran maminya. Tapi ancaman maminya yang akan membuangnya sebagai pewaris papinya, membuat dia terpaksa harus mau
Lagi pula dia tidak percaya adiknya yang brengsek dan selalu melawan papinya akan dengan mudah dijerat oleh kekasihnya-Nafa.
Tapi ternyata pesona Nafa mampu menghipnotis adiknya. Semuanya tampak mudah. Jalannya sebagai pewaris papinya sudah terbentang luas karena papinya tidak menyukai Nafa. Tapi dia dengan bodoh menggagalkannya membuat maminya mengamuk hebat padanya.
*
*
*
Siang itu Kael terbangun karena telpon dari bagian resepsionis perusahaan. Ada ojol yang mengantar jasnya.
Ternyata memang diantar ojol, tawanya dalam hati.
Dia sudah meminta resepsionisnya menyimpan jas iti di ruangannya.
Baru saja dia meletakkan telponnya yang sudah terputus sambungannya, terdengar suara bel.
Jantungnya berdegup keras. Sedikit berharap kalo gadis itu yang akan datang.
Dengan langkah lebar dia berjalan ke arah pintu untuk melihat sekaligus memastikan dugaannya, siapa tamu yang datang.
Kael menyimpan rasa kecewanya ketika yang datang adalah Levi.
"Aku bawa makan siang sekaligus ingin melihat keadaanmu." Levi langsung saja melewati Kael yang masih berdiri di depan pintu.
Tanpa setau Levi, Kael tersenyum miring. Mengetawakan kehaluannya.
"Kelihatannya kamu baik baik saja." Levi memperhatikan perban kecil di kening Kael.
"Aku hanya menyerempet saja. Tidak perlu terlalu khawatir."
"Ya, bisa aku lihat. Memang begitu." Suara Levi terdengar lega.
"Aku bawa nasi padang saja." Levi mengambil dua buah piring dna menata nasi padang mereka di sana.
Kael tersenyum dan duduk di dekat Levi.
Mereka mulai menikm@ti rendang dan gulai tunjang.
"Kael, aku merasa kamu bukan berasal dari Jakarta." Levi membuka percakapan sensitif dengan nada suara hati hati.
Kael menghentikan suapannya sejenak sebelum melanjutkannya lagi.
Dia juga merasa begitu. Walau tidak merasa asing, tapi hatinya yakin, di sini bukan tempat asalnya.
Bayangkan saja, selama enam bulan di Jakarta, belum ada yang mengaku mengenalinya.
"Semarang juga bukan. Aku merasa kamu berasal dari Timur Jawa."
Kael mendongakkan kepalanya menatap Levi dengan praduga yang sama
"Aku akan kirim orang ke kota kota besar di Jawa Timur. Aku yakin keluargamu pasti sedang cemas menunggu kabar darimu," pungkas Levi.
Kael berharap yang dikatakan Levi benar adanya. Dia juga ingin bertemu dengan keluarganya.
Kyknya Kael ingat Adel deh