Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi
"Jemi, boleh aku ikut bersamamu?" tanya Ashley keesokan paginya.
Jemima menggeleng sungkan. "Maaf, tapi aku ingin memancing nenek Golda untuk bisa keluar dari cermin dan aku ingin memberimu peran penting di sini."
Kedua mata Ashley berbinar cerah. "Apa itu?"
Sepulangnya Jemima dari tempat Catherine, dia berpikir semalaman bagaimana cara mengeluarkan nenek Golda dari cermin.
Mengapa Lily bisa keluar, tetapi nenek Golda tetapi terkurung di sana?
Semalaman suntuk dia berpikir sehingga pagi hari itu dia kesiangan bangun dan Ashley harus membangunkan dirinya.
Setelah Jemima bercerita tentang pengalamannya di dalam ruangan ajaib yang baru saja dia kunjungi kepada Ashley, gadis itu mulai menyusun rencana dalam kepalanya.
"Aku akan menjelaskan padamu nanti. Sekarang kita harus segera berangkat kerja atau Tom akan memotong gaji kita," kata Jemima cepat-cepat.
Tak beberapa lama kemudian, mereka pun tiba di restoran Tom Hawk.
Jemima bekerja seperti biasa. Dia berusaha memusatkan perhatiannya pada para tamu di restoran tersebut.
"Tamu hari ini lebih banyak atau hanya perasaanku saja?" tanya Kai.
Jemima tidak segera menjawab. Kepala gadis itu celingukan mencari sesuatu.
Anehnya, Kai tahu apa yang dicari oleh Jemima. "Jemi, gelasmu. Minumlah dulu!"
"Oh, terima kasih," kata Jemima dan mengambil gelas miliknya.
Kai memerhatikan gadis itu sampai selesai minum, lalu dia bertanya kembali, "Apa rencanamu?"
Jemima mengangkat bahunya dan tak lama, Ashley datang menghampiri mereka dengan wajah lelah.
"Ah, apakah hari ini tamunya lebih banyak atau hanya perasaanku saja?" tanya Ashley seolah mengulang pertanyaan Kai.
Jemima hanya tersenyum. "Sepertinya lebih banyak. Restoran ini masuk di media sosial, wajar jika banyak tamu yang datang hanya untuk mencoba."
Baik Kai dan Ashley mengangguk sambil mengucapkan O bersamaan.
"Hei, Jemi. Bagaimana rencanamu?" tanya Kai lagi.
Jemima melepaskan kalungnya. "Kalian masih lelah? Kalau kalian masih punya energi ekstra, aku akan mengajak kalian masuk sekarang."
Lelah di wajah Ashley segera menghilang. Dia menegakkan tubuhnya dengan penuh semangat.
"Bagaimana denganmu, Kai?" tanya Jemima. Tatapan matanya menatap tajam ke arah Kai.
Pemuda itu mengangguk pasrah. "Terserah saja. Aku hanya tidak suka sensasi ditarik atau dihisap atau dikunyah seperti itu."
Mendengar jawaban Kai, Jemima tersenyum. "Kali ini tidak ada seperti itu. Kita mulai sekarang, ya? Waktu di sini akan berhenti, jadi kita masih punya waktu untuk istirahat setelah keluar dari sana."
"Kai, peranmu sangat penting di sini karena aku ingin kau mencoba segala cara untuk mengeluarkan nenek Golda dari sana," lanjut Jemima lagi.
Kai mengangguk. "Oke, aku akan mencoba sebisaku."
Setelah semua suara sudah bulat, Jemima menghela napas.
Dia mengetuk liontin oval pada kalungnya. "Hei, terbukalah untukku. Aku lelah dan ingin masuk."
Sesuatu yang ajaib terjadi sesuai dengan harapan Jemima.
"Ashley! Kai! Pegang tanganku!" tukas Jemima dan dalam hitungan detik, mereka sudah bisa mencium aroma manis di udara sekitar mereka.
"A-apa itu tadi? Bagaimana bisa kau seperti itu?" tanya Kai.
Jemima menyeringai kecil, lalu memberi isyarat pada kedua temannya untuk segera bekerja.
Kecepatan dan kekuatan mereka saat melayani tamu di kafe itu kini bertambah seolah ada yang menggerakkan mereka untuk bisa bergerak lebih cepat.
Setelah semua tamu selesai dilayani, Jemima meminta Kai untuk berdiri di depan cermin bulat miliknya.
"Panggil nenekmu, Kai," kata Jemima.
Kai pun menurut. "Nenek Golda, ini aku. Aku datang ingin bertemu denganmu."
"Ini aneh sekali," kata Kai berbisik kepada Jemima dan Ashley.
Namun, Jemima memintanya untuk tetap fokus kepada cermin bulat itu.
Sampai akhirnya, pantulan seorang wanita tua dengan pakaian yang sama muncul disertai cahaya putih.
Dia melambaikan tangan ke arah ketiga pemuda itu.
Mereka bertiga pun membalasnya. Jemima menyenggol lengan Kai untuk berkomunikasi dengan nenek Golda atau Florentia.
"Nek, bisakah Nenek keluar dari sana?" tanya Kai setengah berbisik.
Nenek Golda mengangkat kedua bahunya dengan tatapan sedih.
"Bagaimana ini?" tanya Kai pada Jemima.
Jemima mendekatkan dirinya ke arah Kai dan berbisik lembut di telinga pria itu. "Teruslah berbicara."
"Aku, eh kami bisa membantu Nenek keluar dari sana kalau Nenek mau. Apa Nenek mau?" tanya Kai lagi dengan terpaksa.
Wanita di dalam cermin itu tampak menangis dan mengangguk lemah.
"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Kai.
Lagi-lagi Jemima berbisik dan membuat wajah Kai semakin merah.
Ashley hanya tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Dia menangkap sesuatu dari Kai.
"Tempelkan tanganmu di cermin," bisik Jemima.
Kai pun menurut. Dia maju selangkah dan menempelkan telapak tangannya di cermin.
"Tunggu sampai nenekmu datang dan melakukan hal yang sama," desis Jemima lagi.
Kai mengangguk dan benar saja, nenek Golda datang dan menempelkan telapak tangannya di cermin.
Tiba-tiba saja sesuatu terjadi. Bukan sengatan seperti yang Jemima rasakan, tetapi sebuah tarikan halus dan cahaya putih itu perlahan keluar.
Jemima dan Ashley melihat kejadian itu dengan napas tertahan.
Akan tetapi, dalam hitungan detik, ketiganya sudah kembali ke restoran Tom Hawk.
"Kau lihat itu, Kai? Kau tidak tersengat, kan? Kau menarik nenek Golda keluar dari cermin!" kata Jemima penuh semangat.
Namun, Kai meragukannya. "Apa iya nenek Golda benar-benar keluar? Aku hanya merasakan sesuatu yang dingin di telapak tanganku dan cahaya itu membuatku tidak bisa melihat apa yang terjadi."
"Kalau menurutku, nenekmu sudah benar-benar keluar, Kai. Tugas kita, tinggal mencari ibu Jemi dan nenekmu di dalam ruangan itu," kata Ashley pelan.
Jemima mengangguk. "Ya, aku yakin seperti itu. Tapi, kenapa kita terlempar keluar?"
Ketiganya terdiam dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.
Keheningan selama beberapa menit menggelayuti ruang istirahat restoran Tom.
Sampai Jemima menepuk pundak Kai dengan kencang. "Aku tau! Ruangan itu tidak bisa menyimpan ... Sudahlah, lupakan saja!"
"Apa?" tanya Ashley dan Kai bersamaan.
Jemima menggelengkan kepalanya. "Ayo, kita coba sekali lagi besok."
Keduanya pun mengangguk setuju.
Keesokan harinya tepat jam istirahat, mereka bertiga kembali berkumpul di ruang istirahat. (Mereka sudah dilarang untuk berkumpul di ruang ganti karena terakhir ruang ganti itu berantakan).
"Kalian sudah siap?" tanya Jemima lagi.
Ketiganya mengangguk. Tetapi, tiba-tiba saja, Jemima berhenti.
"Ashley, aku rasa kau harus tetap tinggal di sini. Kau menjadi poin penentu misa kita kali ini," kata Jemima.
Ashley mengerutkan keningnya. "Bagaimana caranya?"
Jemima berpikir sesaat, lalu dia menunduk menjelaskan rencananya kepada Ashley dan Kai. "Oke, jadi begini, ketika aku bertemu ibu dan nenek Gol-, biasakan saja kita memanggilnya dengan Flo- ... Kau harus menarik mereka berdua dan kami dengan sangat cepat."
"Kau sanggup?" tanya Jemima bersungguh-sungguh.
Ashley menelan salivanya kasar. Tenggorokannya terasa kering. "Bolehkah aku saja yang ke dalam dan Kai yang menarik kalian?"
Jemima menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Ash! Karena hanya Kai yang bisa mengeluarkan nenek Flo dari sana."
"O-oke. Ta-tapi, bagaimana kalau aku gagal menarik kalian?" tanya Ashley. Suaranya terdengar panik dan takut.
Namun, Jemima meyakinkan Ashley untuk tidak boleh gagal. "No, Ashley! Kau harus berhasil atau kemungkinan terburuk akan terjadi. Kita harus bertarung dengan detik. Bukan menit atau jam."
Mau tidak mau, Ashley mengangguk. "B-baiklah, aku akan menarik kalian dengan sekuat tenaga."
Jemima dan Kai menarik napas panjang dan mengembuskannya.
"Kau siap?" tanya Kai pada Jemima.
Jemima mengangguk. "Aku siap, Kai."
***