NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Puing-puing Janji di Bawah Langit Kelabu

Gubuk tua itu bergetar setiap kali kereta barang melintas di rel yang hanya berjarak beberapa meter. Suaranya memekakkan telinga, namun bagi Arga, kebisingan itu adalah tirai bunyi yang melindunginya dari sunyinya maut. Di dalam, bau apak jerami kering bercampur dengan aroma logam dari darah yang mulai mengering di jaketnya.

Arga duduk bersandar pada dinding kayu yang rapuh. Napasnya pendek, setiap tarikan udara terasa seperti ribuan jarum yang menusuk paru-parunya. Ia menatap tangannya; jemari yang biasanya kokoh memikul beban dermaga kini gemetar hebat. Efek rebound dari penggunaan Mustika di Sektor 7 telah menghancurkan sistem sarafnya secara perlahan.

Di depannya, Sari meringkuk. Gadis itu tidak lagi berada di dalam tabung kaca, namun pikirannya seolah masih tertinggal di sana. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah nyala lilin kecil yang bergoyang tertiup angin dari celah dinding.

"Sari..." suara Arga parau, hampir pecah.

Sari tersentak. Bahunya mencuat kaku, sebuah refleks trauma yang membuat hati Arga teriris lebih dalam daripada keris Kala Vira. Gadis yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum hangat setelah kerja lembur, kini memandangnya seolah Arga adalah orang asing yang menakutkan.

"Jangan... jangan masukkan aku kembali," bisik Sari. Suaranya tipis, nyaris hilang ditelan deru hujan di luar.

Arga mengeser tubuhnya mendekat, mengabaikan rasa sakit di pinggangnya yang berderit. Ia tidak langsung menyentuh Sari. Ia tahu, di dunia psikologis yang hancur, sentuhan bisa menjadi serangan. "Ini aku, Sari. Ini Arga. Kau sudah di luar. Tidak ada tabung, tidak ada cairan hijau. Hanya kita."

Sari perlahan menoleh. Cahaya lilin memantul di matanya yang berkaca-kaca. "Arga? Tapi... mereka bilang kau sudah mati. Mereka menunjukkan video... kau hancur dalam ledakan."

Arga tertegun. Manipulasi memori. Jagat Mahesa tidak hanya mencuri data dari otak Sari; dia menanamkan racun berupa kebohongan untuk menghancurkan satu-satunya jangkar emosional gadis itu.

"Itu bohong, Sari," Arga meraih tangan Sari dengan sangat hati-hati. Kulit gadis itu terasa dingin seperti es. "Lihat aku. Aku berdarah, aku terluka, dan aku masih bodoh seperti dulu. Apa mesin-mesin itu bisa meniru betapa berantakannya aku sekarang?"

Sebuah senyum getir yang sangat tipis muncul di sudut bibir Sari, sebelum akhirnya pecah menjadi tangis yang hebat. Sari menghambur ke pelukan Arga, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu yang masih terasa panas karena sisa energi Mustika. Isaknya bukan lagi sekadar tangisan, melainkan sebuah pelepasan dari horor yang tak terkatakan.

Arga mendekapnya erat. Ia tidak mengucapkan kata-kata pahlawan yang klise. Ia hanya diam, membiarkan air mata Sari membasahi kemejanya yang kotor. Di saat itulah, kemistri di antara mereka yang sempat membeku di laboratorium kembali berdenyut. Bukan sebagai sepasang kekasih dalam dongeng, tapi sebagai dua jiwa yang sama-sama hancur, mencoba saling merekatkan retakan masing-masing.

“Kau merasakan itu, Inang?” suara Macan Kencana kali ini sangat lembut, hampir empatik. “Kesedihan ini... adalah energi yang lebih murni daripada amarah. Ia tidak memberimu kekuatan untuk menghancurkan pilar, tapi ia memberimu alasan untuk tetap berdiri.”

"Arga," Sari mendongak, matanya merah. "Kenapa mereka melakukan ini pada kita? Kita hanya orang kecil. Kita tidak pernah meminta Mustika ini, kita tidak pernah meminta urusan keluarga elit itu."

Arga mengusap rambut Sari yang masih lembap oleh cairan kimia. Pertanyaan itu adalah logika yang paling jujur. "Karena bagi mereka, Sari, kita bukan manusia. Kita adalah variabel. Kita adalah angka di atas kertas saham mereka. Dan itu adalah kesalahan terbesar mereka."

Tatapan Arga berubah dingin saat ia menatap ke luar pintu gubuk yang gelap. "Mereka pikir mereka bisa mengambil segalanya dariku dan aku akan menyerah. Tapi dengan adanya kau di sini, mereka baru saja memberiku sesuatu yang tidak bisa mereka beli dengan uang: Kehendak untuk membalas dendam."

Sari mencengkeram lengan Arga. "Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku sendiri."

"Aku tidak akan pergi," janji Arga. "Tapi kita tidak bisa tinggal di sini. Hadiah seratus miliar di kepalaku akan membuat seluruh tikus di kota ini keluar dari lubangnya. Kita harus menuju ke pemukiman kumuh di bawah jembatan layang utara. Tempat itu dikuasai oleh 'Anak-Anak Aspal'. Mereka berhutang nyawa padaku, dan di sana, mata-mata Mahesa tidak akan mudah masuk."

Arga berdiri, membantu Sari bangkit. Gadis itu masih lemah, kakinya goyah, namun ia memegang tangan Arga seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia yang sudah gila ini.

Saat mereka melangkah keluar dari gubuk, sebuah bayangan muncul dari balik gerbong kereta. Arga refleks menarik Sari ke belakang punggungnya, tangannya mengepal, siap melepaskan gelombang energi.

"Tenang, kawan. Ini aku," suara itu feminin namun tegas.

Maya muncul dengan jaket hoodie gelap dan tas ransel besar. Wajahnya tampak pucat karena kurang tidur, namun matanya memancarkan tekad.

"Kau wartawan gila itu," gumam Arga, sedikit menurunkan kewaspadaannya.

"Dan kau adalah buronan yang paling tidak tahu cara bersembunyi," balas Maya sinis, namun ia segera mendekat dan memberikan sebuah tas berisi obat-obatan dan pakaian bersih. "Seluruh unit polisi dan pembunuh bayaran sedang menyisir Sektor 7. Berita tentang pelarianmu sudah tersebar. Linda Rajendra secara pribadi mengumumkan bahwa siapa pun yang membantumu akan dianggap sebagai kaki tangan teroris."

Maya menatap Sari, matanya sedikit melunak. "Jadi ini gadis yang kau pertaruhkan dengan nyawamu? Dia cantik, tapi dia terlihat seperti baru pulang dari neraka."

"Dia memang baru kembali dari sana," sahut Arga pendek. "Kenapa kau masih di sini, Maya? Kau bisa ikut terseret."

Maya mengedikkan bahu, mencoba terlihat acuh tak acuh meski tangannya sedikit gemetar. "Aku sudah terlanjur basah. Lagi pula, ayahku dulu adalah salah satu buruh di tambang Barata Adiraja yang tewas karena 'kecelakaan kerja' yang ditutup-tutupi. Aku tidak membantumu karena aku baik, Arga. Aku membantumu karena aku ingin melihat kerajaan mereka terbakar habis."

Sebuah aliansi yang tidak biasa terbentuk di tengah hujan rintik-rintik di pinggir rel kereta. Seorang pria dengan kekuatan dewa yang menggerogoti nyawanya, seorang gadis yang memorinya baru saja dirampok, dan seorang wartawan yang didorong oleh dendam masa lalu.

"Ayo," ajak Maya. "Aku punya mobil tua yang diparkir dua kilometer dari sini. Kita harus bergerak sebelum fajar, atau kita akan terjebak dalam pengepungan total."

Arga mengangguk. Ia menggendong Sari di punggungnya. Kali ini, bebannya tidak terasa berat. Bukan karena kekuatan Mustika, tapi karena ia tahu ke mana ia harus melangkah.

Saat mereka berjalan menyusuri rel, Arga bersumpah dalam hati: Jagat Mahesa, kau memberikan seratus miliar untuk kepalaku. Tapi aku akan memberikan kehancuran total untuk duniamu. Tanpa harga. Gratis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!