Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Instruksi sang malaikat maut
Malam itu, suasana di kamar Laura terasa ganjil. Cahaya bulan menyusup melalui celah tirai beludru, menyentuh permukaan gaun hitam pesta yang tergeletak di lantai. Di atas meja rias, kini telah tertata rapi seragam pengasuh anak berwarna abu-abu pucat yang sangat kontras dengan aura gelap yang kini terpancar dari tubuh Laura.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Marco melangkah masuk, gerakannya setenang bayangan. Ia melihat Laura sedang duduk di tepi tempat tidur, jemarinya mengusap permukaan sebuah botol kecil berbahan kristal hitam yang akan menjadi wadah "persembahan" pertamanya.
Marco berdiri di hadapannya, melipat tangan di dada. Tatapannya tidak lagi memuja seperti di klub malam, melainkan tajam dan penuh instruksi.
"Sudah kau pelajari rincian tata letak rumah di kota kecil itu? Keluarga itu sangat disiplin. Kau punya jendela waktu yang sempit antara jam dua pagi hingga subuh."
Laura Menoleh perlahan, pendar emas di matanya kini tampak lebih redup, tertutup oleh lapisan dingin
"Aku sudah menghafalnya, Marco. Kamar bayi itu ada di lantai dua, ujung lorong. Ibunya selalu tidur setelah menyusui di jam satu malam. Itu waktu yang sempurna."
"Bagus. Ingat, Laura, kau bukan ke sana untuk menyakiti. Kau ke sana untuk 'memetik'. Darah itu adalah frekuensi murni yang dibutuhkan altar kita untuk Black Sabbath. Jika kau ragu meski sedetik saja, detak jantungmu akan membangunkan bayi itu, dan mantra penutup auramu akan hancur."
Laura Terkekeh hambar, suara yang dulu lembut kini terdengar getir
"Ragu? Kau sendiri yang bilang padaku bahwa manusia-manusia ini hanyalah materi biologis. Aku sudah mematikan bagian diri yang merasa kasihan itu di saat aku belajar dari Satanik Bible kemarin."
Marco mendekat, berlutut di depan Laura agar mata mereka sejajar. Ia menggenggam tangan Laura yang terasa sedingin es.
"Gunakan jarum perak yang sudah diberkati Elena. Hanya butuh tujuh tetes tepat dari pembuluh di tumitnya. Jangan lebih, jangan kurang. Setelah itu, usapkan minyak Mandrake ini pada bekasnya agar tidak meninggalkan jejak merah."
"Dan jika mereka terbangun? Jika penyamaranku sebagai pengasuh yang lugu ini terbongkar sebelum tugas selesai?"
Mata Marco berkilat gelap
"Maka kau harus menggunakan mantra 'Senyap' yang kau pelajari dari Satanic Bible. Kau harus melenyapkan saksinya, Laura. Tidak boleh ada kegagalan dalam tugas pertamamu sebagai Pusaka. Ingat, dunia luar sudah menganggapmu mati. Jika kau tertangkap, tidak ada jalan pulang ke Oma."
Mendengar nama Oma, jemari Laura sedikit berkedut. Namun, ia segera mengepalkan tangannya, memendam rasa sakit itu jauh di bawah lapisan doktrin yang telah merusak pikirannya.
"Aku mengerti. Besok sore, saat aku mengetuk pintu rumah itu dengan senyum paling manis yang kupunya, Laura yang lama benar-benar tidak akan ada di sana. Hanya ada alat milik kalian."
Marco berdiri dan mengusap rambut Laura dengan kasar namun protektif.
"Tidurlah. Besok sore, aku akan mengantarmu sampai ke kota kecil itu. Jadilah predator yang paling tenang yang pernah mereka temui."
Pagi buta di di rumah besar itu terasa mencekam. Di atas meja jati besar di ruang tengah, berbagai perlengkapan "duniawi" berserakan: ijazah palsu, pakaian pengasuh yang disetrika kaku, hingga tas perlengkapan bayi yang terlihat sangat normal. Namun, di sela-sela itu, Elena sedang sibuk mengisi botol-botol kosmetik Laura dengan cairan pembius dan minyak ritual yang telah diberkati kegelapan.
Marco membentangkan denah rumah target di atas meja. Ia menunjuk sebuah titik di lantai dua dengan pena perak.
"Dengar baik-baik, Laura. Waktumu hanya tujuh hari. Satu minggu menuju malam Black Sabbath. Kau harus masuk ke rumah itu bukan sebagai predator, tapi sebagai malaikat penolong. Majikan barumu adalah keluarga Hardianto."
Laura memperhatikan foto pasangan muda yang tampak bahagia di denah itu.
"Mereka terlihat sangat... damai. Apa latar belakang mereka?"
Marco tersenyum sinis.
"Mereka adalah penganut Kristen yang taat. Rumah itu penuh dengan simbol-simbol yang dulu kau sembah. Salib di setiap pintu, Alkitab di atas nakas, dan doa-doa yang mereka rapal setiap malam sebelum tidur. Bagi kita, itu adalah kebisingan, tapi bagi penyamaranmu, itu adalah pelindung terbaik. Polisi tidak akan pernah mencari 'siswi hilang' di rumah seorang diaken gereja.
Elena menyerahkan sebuah botol kecil berisi parfum mawar yang sangat lembut.
"Semprotkan ini setiap kali kau akan masuk ke kamar bayi. Baunya akan menetralkan sisa-sisa aroma dupa dari tubuhmu. Jika mereka mengajakmu berdoa bersama, tundukkan kepalamu. Jangan biarkan mereka melihat pupil matamu yang kini sering berkilat emas. Biarkan mereka mengira kau sedang khusyuk, padahal kau sedang merapalkan mantra penutup aura."
"Tujuh hari untuk mendapatkan tujuh tetes darah itu? Itu waktu yang cukup lama." "Bukan hanya darah, Laura. Kau harus mengamati frekuensi rumah itu. Lucifer sang pembawa cahaya, membutuhkan darah yang diambil di puncak rasa percaya. Jika kau mengambilnya di malam pertama saat kau masih dianggap orang asing, kekuatannya akan hambar. Kau harus membuat ibu bayi itu mencintaimu, menganggapmu sebagai bagian dari keluarga mereka, baru kemudian kau 'memanennya'."
Kata salah seorang anggota lain yang juga ada di ruangan itu.
Marco menarik Laura menjauh dari kerumunan, memegang kedua lengannya dengan tatapan yang sangat intens.
"Majikanmu akan mencoba 'menyelamatkan' jiwamu jika mereka tahu kau tidak punya keluarga. Mereka akan membawamu ke gereja. Jangan melawan. Ikuti permainan mereka. Tapi ingat, setiap kali kau menyentuh air suci atau mendengar nyanyian mereka, bisikkan nama Sang Leluhur di dalam hatimu. Jangan biarkan nuranimu yang lama bangun karena melihat salib-salib itu."
Laura menatap Marco dengan tatapan yang kini kosong namun tajam
"Jangan khawatir, Marco. Salib bagi mereka adalah keselamatan, tapi bagiku sekarang itu hanyalah kayu yang mati. Aku akan menjadi pengasuh paling sempurna yang pernah mereka miliki."
Mobil hitam sudah dipanaskan di halaman. Laura memakai kacamata beningnya, seketika wajahnya kembali terlihat seperti siswi SMA yang lugu dan pemalu. Ia membawa koper kecilnya, siap menuju kota kecil yang akan menjadi saksi bisu pengkhianatan terbesarnya.
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah kabut tipis sisa hujan semalam. Di dalam kabin yang kedap suara, aroma kulit jok yang mewah bercampur dengan bau dupa samar yang menempel di pakaian Marco. Laura duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela ke arah deretan pohon nyiur yang berlalu cepat.
Kacamata bening yang ia kenakan sebagai bagian dari penyamaran terasa berat di hidungnya, seberat beban yang tiba-tiba muncul di ulu hatinya.
Marco menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama musik klasik yang diputar pelan. Ia melirik Laura dari spion tengah.
"Kau terlalu diam, Laura. Biasanya kau sibuk menghafal bait Satanic Bible. Apa kau sedang merapalkan mantra penutup aura?"
Suaranya terdengar jauh, hampir seperti bisikan
"Marco... rumah itu. Keluarga Hardianto. Kau bilang mereka orang Kristen yang taat. Mereka akan berdoa setiap kali makan, bukan? Mereka akan mendoakan keselamatan bagi siapa pun yang masuk ke rumah mereka."
Marco terkekeh dingin.
"Ya, doa-doa kosong yang hanya sampai ke langit-langit rumah. Kenapa? Apa kau takut telingamu berdenging?"
Laura meremas tas kecil di pangkuannya. Di dalamnya ada botol kristal hitam dan jarum perak. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah denyutan yang tidak nyaman di dadanya—sebuah sisa nurani yang seolah-olah baru terbangun dari bius yang sangat kuat.
"Bukan itu. Tapi... bagaimana jika mereka benar-benar tulus? Bagaimana jika kehangatan yang mereka berikan nanti bukan 'semu' seperti di rumah tempat kita?Sebagian dariku merasa... ini salah, Marco. Mengambil darah bayi yang didoakan setiap malam... rasanya seperti meludah ke wajah Oma."
Marco mendadak menginjak rem sedikit lebih keras, membuat mobil tersentak.
"Hati-hati dengan bicaramu, Laura. Oma adalah masa lalu yang lemah. Ingat apa yang kau pelajari?keluarga adalah rantai, dan agama adalah penjara. Kau bukan lagi cucu seorang wanita tua yang malang. Kau adalah Pusaka."
Laura menatap tangannya yang sedikit gemetar.
"Tapi bayinya, Marco... dia tidak punya dosa apa pun terhadap kita. Kenapa harus darahnya? Kenapa bukan darah seseorang yang memang pantas dihukum?
Marco meminggirkan mobil di bahu jalan yang sepi, lalu berputar menghadap Laura. Matanya berkilat, mematikan sisa-sisa kelembutan yang ia tunjukkan di klub malam. "Karena kemurnian adalah bahan bakar terbaik untuk kegelapan, Laura! Jangan biarkan 'penyakit' moralitas itu menjangkitimu lagi. Jika kau gagal, Black Sabbath akan berantakan, dan Pimpinan tidak akan segan-segan menjadikan kau sebagai tumbal penggantinya. Apa kau ingin berakhir di dalam kotak peti mati?"
Laura: Menelan ludah, mencoba menekan rasa mual yang muncul.
"Aku... aku hanya merasa aneh. Mungkin karena aku sudah lama tidak berada di lingkungan 'normal'."
Marco mencengkeram dagu Laura dengan tegas.
"Normal adalah ilusi. Kau akan masuk ke sana, kau akan tersenyum, kau akan menggendong bayi itu, dan kau akan mengambil apa yang menjadi hak malaikat sang pa pembawa cahaya. Pikirkan tentang tahta yang menantimu, bukan tentang rasa bersalah yang tidak berguna."
Laura memejamkan matanya sejenak. Ia mencoba membayangkan wajah Elena, mantra-mantra dalam Satanic Bible, dan rasa berkuasa yang ia rasakan di klub malam. Perlahan, pendar emas di ujung jarinya memudar, digantikan oleh rasa dingin yang membeku.
"Jalankan mobilnya, Marco. Aku akan melakukan tugas itu. Perasaan tadi... itu hanya sisa-sisa kelemahan terakhirku. Aku tidak akan membiarkannya muncul lagi."
Marco tersenyum puas, lalu kembali memacu mobil menuju kota kecil tujuan mereka. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Laura tahu bahwa nuraninya tidak benar-benar mati—ia hanya sedang bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk meledak.