NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

## **Bab 8: Sisa-Sisa Abu Penyesalan**

Gerimis tipis mulai membasahi aspal Tanjungbalai saat Arka memarkir motor Supranya di depan gerbang panti asuhan "Kasih Abadi". Jas hitam mahalnya kini tersampir di jok motor, tertutup plastik transparan agar tidak basah. Ia kembali mengenakan kaus oblong hitam dan celana jeans pudar—seragam yang jauh lebih jujur bagi jiwanya daripada setelan mahal yang ia pakai di ruang rapat tadi pagi.

Dinding panti yang kemarin penuh dengan coretan merah penggusuran kini telah dicat ulang oleh anak-anak panti. Kalimat yang Arka tulis semalam, *"Rumah ini tidak dijual dengan harga diri"*, masih samar terlihat di balik lapisan cat baru, seolah-olah menjadi fondasi tak kasat mata bagi bangunan tua itu.

Arka melangkah masuk ke teras, namun gerakannya terhenti.

Di sana, di bawah lampu teras yang temaram, duduk seorang wanita. Ia mengenakan terusan krem yang kini tampak lusuh dan kotor di bagian bawahnya, seolah-olah ia baru saja berjalan berkilo-kilometer menembus lumpur. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, dan matanya yang dulu selalu menatap Arka dengan penuh tuntutan, kini bengkak dan merah.

Sarah.

Mendengar suara langkah kaki Arka, Sarah mendongak. Bibirnya bergetar. Ia mencoba berdiri, namun kakinya seolah kehilangan kekuatan hingga ia harus berpegangan pada tiang kayu teras.

"Arka..." bisiknya. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar di antara rintik hujan.

Arka tetap berdiri di anak tangga terbawah. Ia tidak mendekat. Wajahnya sedingin batu nisan. "Kenapa kau di sini, Sarah? Bukankah tempatmu ada di samping Tuan Muda Wijaya?"

Sarah menggeleng cepat, air mata kembali meluncur deras di pipinya. "Dia sudah ditangkap, Arka... Ayahnya mengusirku dari kantor. Mereka menyalahkan aku atas kebocoran data itu. Aku... aku tidak punya tempat tinggal lagi. Kontrakanku sudah jatuh tempo karena Rian tidak pernah benar-benar membayar depositnya."

Arka terdiam. Ia meraba saku celananya, merasakan sudut tajam bros perak yang sudah bengkok. Rasa perih di telapak tangannya saat meremas logam itu mengingatkannya pada malam kelulusan—malam di mana Sarah membuang cintanya ke selokan demi janji manis seorang pewaris.

---

"Aku ke sini bukan untuk meminta uang, Arka," Sarah melangkah maju satu tindak, namun berhenti saat melihat tatapan tajam Arka. "Aku ke sini karena aku baru sadar... Ibu Fatimah dulu selalu bilang kalau kau adalah orang paling jujur yang pernah dia kenal. Dan aku... aku menghina kejujuran itu."

"Kau tidak menghina kejujuranku, Sarah," potong Arka dengan suara rendah yang menggetarkan udara. "Kau menghina perjuanganku. Kau bilang kecerdasanku mati di jalanan bersama jaket kurirku. Kau bilang cinta tidak bisa membayar tagihan rumah sakit ibumu."

Arka melangkah naik ke teras, memaksa Sarah mundur hingga terpojok ke dinding. "Dan kau benar. Cintaku memang tidak bisa membayar tagihan itu secepat uang haram Rian. Tapi tahukah kau? Uang yang kau pakai untuk operasi ibumu itu adalah uang yang Rian curi dari dana pemeliharaan panti ini. Kau menyelamatkan ibumu dengan cara membiarkan puluhan anak yatim kehilangan atap mereka."

Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah menjadi isakan yang menyayat hati. "Aku tidak tahu, Arka! Aku bersumpah aku tidak tahu kalau dia sejahat itu!"

"Ketidaktahuan bukan alasan untuk pengkhianatan, Sarah," Arka mengeluarkan bros perak itu dari sakunya dan meletakkannya di telapak tangan Sarah yang gemetar. "Ini adalah hasil tabunganku selama setahun dari setiap paket yang kuantar di bawah hujan dan panas. Bagimu, ini sampah. Bagi Rian, ini recehan. Tapi bagi aku... ini adalah seluruh harga diriku yang kau injak malam itu."

Sarah menatap bros perak yang sudah bengkok itu. Logam itu terasa sangat berat di tangannya, seolah membawa beban dosa yang tak termaafkan. "Maafkan aku, Arka... Tolong, maafkan aku..."

---

Tiba-tiba, penglihatan Arka berdenyut. Garis-garis data merah muncul di sudut matanya, tumpang tindih dengan wajah Sarah yang hancur.

**[Peringatan Keamanan: Gangguan Sinyal Terdeteksi pada Radius 50 Meter.]**

**[Sistem Analisis: Sinyal Terenkripsi Tinggi. Target: Perangkat Mobile Pengguna.]**

Arka menyipitkan mata. Ia memalingkan wajah dari Sarah, menatap ke arah kegelapan di luar gerbang panti. Di sana, di balik rimbunnya pohon kamboja, ia melihat sebuah van hitam tanpa plat nomor terparkir diam dengan mesin yang masih menyala halus.

**[Status: Serangan Malware Terdeteksi. Mencoba Menembus Firewall Sistem Sovereign.]**

**[Identitas Penyerang: Anonim (Protokol Black-Hat).]**

Arka menyadari sesuatu. Hendra Wijaya tidak akan menyerah begitu saja. Rian mungkin sudah di balik jeruji, tapi sang naga tua masih memiliki taring. Hendra tidak menyerang dengan fisik; dia menyerang jantung kekuatan Arka—Sistemnya.

"Pergilah, Sarah," ucap Arka tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sangat waspada.

"Arka, kumohon... biarkan aku menjelaskan—"

"PERGI!" bentak Arka. "Sekarang juga! Jika kau benar-benar menyesal, jangan pernah menoleh ke belakang. Pergilah ke rumah sakit, jaga ibumu, dan jangan pernah terlibat lagi dengan keluarga Wijaya atau aku."

Sarah tersentak, ketakutan melihat perubahan drastis pada sikap Arka. Ia melihat Arka kini memegang kepalanya seolah sedang menahan sakit yang luar biasa.

Tanpa kata lagi, Sarah berlari menembus hujan, meninggalkan panti dengan bros perak yang masih tergenggam erat di tangannya.

---

Arka jatuh berlutut di lantai teras. Kepalanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas. Di dalam kesadarannya, ia melihat dinding-dinding data emas milik Sistem Sovereign Architect mulai retak dan terbakar oleh kode-kode hitam yang masuk secara masif.

"Sistem... status..." erang Arka.

**[Peringatan: Integritas Data Menurun hingga 65%.]**

**[Serangan Hacker Terdeteksi. Hendra Wijaya telah menyewa tentara siber untuk menghapus keberadaan Anda.]**

**[Saran: Lakukan Reboot Manual. Risiko: Kehilangan Seluruh Saldo Digital dan Akses Analisis selama 24 Jam.]**

Arka menggertak gigi hingga rahangnya sakit. Jika ia melakukan *reboot*, ia akan kembali menjadi kurir miskin tanpa kekuatan apa pun selama sehari penuh. Dan di dunia bisnis, 24 jam adalah waktu yang cukup bagi Hendra Wijaya untuk menghilangkan semua barang bukti dan membebaskan Rian.

"Tidak," bisik Arka, matanya memerah. "Aku tidak akan lari ke dalam *reboot*. Aku adalah arsiteknya. Jika mereka merusak kodenya, aku akan membangunnya kembali secara *real-time*."

Jari-jemari Arka bergerak di udara, seolah sedang menyentuh layar virtual yang hanya bisa dilihat olehnya. Ia mulai melakukan *counter-hack*. Ia menggunakan logika bisnis yang ia pelajari dari jalanan—logika tentang bagaimana menipu lawan dengan umpan-umpan kecil.

Ia membiarkan *hacker* itu merusak database palsu yang ia siapkan, sementara ia menyembunyikan inti Sistemnya di dalam server rahasia milik Elina Clarissa yang memiliki tingkat keamanan militer.

Keringat dingin mengucur dari dahi Arka. Penalti fisik dari Sistem mulai terasa. Dadanya sesak, seolah ada beban berton-ton yang menindihnya. Inilah harga dari melawan kehendak mesin.

---

Di sebuah ruang bawah tanah yang dingin di pinggiran kota, Hendra Wijaya menatap deretan layar monitor yang dioperasikan oleh tiga pria misterius. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi garis-garis kemarahan yang dalam.

"Bagaimana?" tanya Hendra dingin.

"Dia lebih kuat dari yang kita duga, Tuan Hendra," jawab salah satu hacker. "Dia bukan sekadar menggunakan AI; dia seolah-olah menyatu dengan sistemnya. Setiap kali kami merusak satu jalur, dia membangun dua jalur baru."

Hendra meremas gelas kristal di tangannya hingga retak. "Hancurkan dia. Aku tidak peduli berapa biayanya. Jika dia tidak bisa dikendalikan secara digital, kita akan menggunakan cara lama."

Hendra meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor. "Bawa beberapa orang ke panti asuhan itu. Jika sistemnya tidak bisa mati, biarkan orang-orang di sekitarnya yang merasakan sakitnya."

---

Kembali di panti, Arka berhasil menstabilkan Sistemnya, namun tubuhnya lemas luar biasa. Ia bersandar pada tiang teras, menatap sisa hujan yang mulai berhenti.

**[Status: Serangan Terbendung. Integritas Sistem: 40%.]**

**[Peringatan: Pengguna mengalami kelelahan saraf tingkat 3. Disarankan istirahat total.]**

Arka tertawa lirih. Istirahat? Di dunia ini, istirahat adalah kemewahan bagi mereka yang sudah menang. Dan dia... dia baru saja memulai putaran pertama.

Ia melihat ke arah gerbang. Sarah sudah lama pergi. Panti asuhan kini aman untuk sementara, tapi ia tahu badai yang lebih besar sedang menuju ke arahnya. Ia telah memenangkan pertempuran di ruang rapat, tapi ia baru saja memicu perang terbuka dengan naga yang terluka.

Arka mengambil ponselnya yang layarnya retak, mengirim pesan singkat kepada Elina Clarissa: *"Naga itu mulai bergerak. Siapkan pengawal untuk panti. Aku akan mengurus sisanya."*

Ia berdiri dengan susah payah, menatap langit malam Tanjungbalai yang gelap tanpa bintang. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak seperti data streams yang menanti untuk diatur kembali.

"Kalian pikir bisa menghancurkan arsitekturnya?" bisik Arka, matanya berkilat tajam di kegelapan. "Kalian lupa... aku membangun ini dari puing-puing jalanan. Dan puing-puing tidak bisa dihancurkan lagi."

Arka melangkah menuju motornya. Malam ini, penyesalan Sarah dan kemarahan Hendra hanyalah abu dari api yang ia nyalakan sendiri. Dan dari abu itu, ia akan membangun menara kekuasaan yang tak akan bisa disentuh oleh siapa pun.

---

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!