NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Temu di Matrial

​Suasana di depan rumah Karno malam itu benar-benar kacau. Bau pesing dari celana Karno bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang dioleskan warga ke pelipis pria yang terus meracau itu. Pak RT, seorang pria paruh baya bernama Hardo yang memiliki pengaruh besar namun menyimpan kebusukan di balik seragamnya, berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ada guratan kecemasan yang mendalam di dahinya, bukan karena kasihan pada Karno, melainkan karena permintaan maaf bahkan ampunan ,secara tidak langsung mengingatkan nya kepada kejadian dua tahun silam.

​"Sudah, sudah! Jangan dibiarkan di sini, malah bikin gaduh desa. Bisa-bisa warga lain ikut ketakutan," seru Pak RT Hardo sambil mengibaskan tangan, mencoba menenangkan kerumunan yang semakin sesak.

​"Tapi Pak RT, ini Mas Karno kesurupan demit ladang! Harus dipanggilkan dukun," sahut salah seorang warga dengan wajah pucat.

​"Dukun apa? Ini sarafnya kena! Mungkin dia terlalu banyak tekanan. Lastri, pakai mobilku di depan. Bawa dia ke rumah sakit di kota sekarang juga. Ajak pamanmu untuk memegangi dia, jangan sampai dia lompat dari mobil," perintah Pak RT dengan tegas.

​Lastri, yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdebat, hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan bantuan beberapa warga, tubuh Karno yang lemas namun sesekali masih kejang itu diangkat ke atas mobil. Karno terus bergumam, suaranya parau seperti gesekan amplas. "Anjing itu... dia bawa giginya... giginya di dalam... ampun..."

​Suara mesin mobil menderu, memecah kesunyian malam yang mencekam. Mobil itu bergerak menjauh, meninggalkan kepulan asap dan tanda tanya besar di benak warga. Setelah mobil itu hilang dari pandangan, bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering.

​"Kalian dengar tidak? Dia meminta ampun terus-terusan,apakah itu setannya Ratri yang kita perkosa tempo lalu dan kita bakar gubugnya" bisik seorang pria dengan kumis tipis, salah satu dari sepuluh orang yang dulu ikut di ladang jagung. Wajahnya tampak gelisah.

​"Ah, paling cuma igauan. Kan dulu kita memang... ah, sudahlah. Mungkin dia cuma merasa bersalah saja," jawab temannya, mencoba menenangkan diri sendiri meski tangannya gemetar saat menyulut rokok.

​"Tapi kenapa di ladang jagung itu? Kenapa baru sekarang? Jangan-jangan Ratri kirim santet dari tempat persembunyiannya, kalaupun dia masih hidup" sahut yang lain.

​Pak RT Hardo berdeham keras, mematikan spekulasi liar itu. "Sudah! Bubar semua! Jangan bikin gosip yang tidak-tidak. Besok masih banyak kerjaan. Masuk rumah masing-masing!"

​Warga pun bubar dengan perasaan tidak tenang. Mereka tidak tahu bahwa di kegelapan Hutan Weling, sepasang mata merah sedang mengawasi mereka, dan seorang wanita sedang menghitung mundur waktu kehancuran mereka.

_______

​Esok paginya, matahari terbit dengan cahaya yang tampak terlalu pucat. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan aspal yang menghubungkan Desa Karang Jati dengan desa tetangga. Di perbatasan desa, terdapat sebuah Toko Material "Maju Jaya" yang menjadi satu-satunya tempat warga membeli kebutuhan bangunan.

​Pagi itu, suasana toko cukup ramai. Beberapa pelaku pemerkosaan Ratri kebetulan sedang berada di sana. Ada Bambang yang sedang memesan semen, dan Sugeng yang sedang duduk di atas tumpukan bata sambil menggoda pelayan toko. Mereka sedang menertawakan kejadian Karno semalam, mencoba menganggapnya sebagai lelucon agar ketakutan mereka sendiri sirna.

​"Si Karno itu memang lemah. Baru diganggu bayangan saja sudah gila. Harusnya dia bangga, sudah mencicipi wanita kota gratisan, malah jadi gila," tawa Sugeng meledak, diikuti kekehan Bambang.

​Namun, tawa itu tiba-tiba terhenti secara mendadak. Seperti ada tangan ghaib yang mencekik tenggorokan mereka hingga suara mereka hilang ditelan udara.

​Sebuah mobil sedan hitam mengkilap, jenis mobil yang jarang masuk ke desa pelosok seperti ini, berhenti tepat di depan toko material. Debu jalanan beterbangan, menciptakan tirai tipis saat pintu mobil terbuka.

​Seorang wanita turun dari mobil itu.

​Ia mengenakan terusan kain batik sutra yang jatuh dengan indah di lekuk tubuhnya. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya yang mancung, namun ia kemudian membukanya dengan gerakan anggun. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih bersih putih yang tidak wajar, seolah-olah ia memancarkan cahaya sendiri di tengah debu toko material.

​Dia adalah Ratri.

​Bambang hampir menjatuhkan nota semennya. Sugeng yang tadi duduk santai, kini berdiri dengan kaku, mulutnya menganga. Jantung mereka berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Ini bukan Ratri yang mereka kenal. Ini bukan wanita yang dulu mereka seret dan mereka injak-injak kehormatannya. Wanita di depan mereka adalah sosok yang memiliki aura kekuasaan yang sangat dominan, sangat cantik, namun memberikan sensasi dingin yang merambat hingga ke tulang belakang.

​Ratri melangkah maju. Setiap langkah kakinya yang mengenakan sandal berhak tinggi terdengar seperti detak jam kematian di telinga mereka. Tak... tak... tak...

​Aroma melati yang sangat kuat dan segar tiba-tiba memenuhi area toko material, mengalahkan bau semen dan debu kayu. Aroma itu begitu memabukkan, membuat para pria yang ada di sana tanpa sadar menarik napas dalam-dalam, terpesona sekaligus merasa ngeri.

​"Selamat pagi, Bapak-bapak," suara Ratri mengalun merdu, namun ada nada sarkasme yang tajam seperti sembilu.

​Bambang menelan ludah dengan susah payah. "Ra... Ratri? Kamu... kamu kembali?"

​Ratri menoleh ke arah Bambang. Matanya berkilat aneh. Di mata Bambang, sesaat ia melihat bayangan hitam besar berdiri di belakang Ratri, namun saat ia berkedip, bayangan itu hilang. "Kenapa, Mas Bambang? Kelihatannya kaget sekali melihat saya. Seperti melihat hantu saja."

​"Bukan... bukan begitu. Kamu... makin cantik," sahut Sugeng dengan suara yang bergetar karena nafsu yang tiba-tiba bangkit.

​Ratri tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Namun bagi siapa pun yang melihat dengan batin yang peka, senyum itu tampak seperti seringai pemangsa. "Terima kasih. Saya kembali untuk mengurus beberapa hal yang tertinggal. Saya ingin merenovasi rumah saudara suami di desa sebelah, jadi saya butuh banyak material."

​Warga desa lainnya yang sedang berbelanja mulai berbisik-bisik. "Itu kan Ratri? Istrinya si Bayu yang dulu diusir?"

"Loh, kok jadi seperti nyonya besar begitu? Cantik sekali, sampai-sampai aku tidak berani menatap matanya."

​Ratri mengabaikan bisikan itu. Ia mendekati meja kasir, melewati Bambang dan Sugeng begitu saja. Namun, saat ia melewati mereka, Ratri sengaja menyentuhkan ujung jemarinya yang dingin ke lengan Sugeng.

​Sugeng tersentak. Rasa dingin itu seperti sengatan listrik yang membekukan darahnya. Sesaat, ia merasa seolah ada sesuatu yang merayap masuk dari pori-pori kulitnya, menuju ke arah bawah perutnya.

​"Saya butuh semen lima puluh sak, besi pondasi, dan beberapa perlengkapan lain. Kirim ke alamat ini," ucap Ratri sambil meletakkan selembar kartu nama berwarna emas di atas meja.

​Pemilik toko, seorang pria tua, mengangguk dengan gemetar, terhipnotis oleh tatapan mata Ratri. "Ba... baik, Nyonyah. Segera kami siapkan."

​Setelah menyelesaikan urusannya, Ratri berbalik. Ia kembali menatap Bambang dan Sugeng yang masih berdiri mematung. Kali ini, Ratri mendekat, memperpendek jarak hingga aroma tubuhnya membuat kepala kedua pria itu pusing.

​"Bagaimana kabar yang lain? Mas Karno, Mas Agus... dan tentu saja, Pak RT Hardo?" tanya Ratri dengan nada santai, seolah menanyakan kabar teman lama.

​"Karno... Karno sedang sakit. Dia dibawa ke rumah sakit kota tadi malam," jawab Bambang dengan suara serak.

​Ratri menunjukkan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Oh, sayang sekali. Padahal saya baru saja kembali. Sampaikan salam saya untuknya kalau dia sudah... sadar.

​Ratri kemudian beralih menatap Sugeng. Ia menatap tepat ke arah mata Sugeng, lalu turun ke arah selangkangannya dengan tatapan yang penuh arti. "Dan kamu, Mas Sugeng... jaga kesehatanmu ya. Kangen tubuh gagah mu ini lagi ."

​Ratri tertawa kecil .​Tanpa menunggu jawaban, Ratri berjalan kembali ke mobilnya. Sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah jalanan desa yang mulai ramai. Di sana, beberapa warga berdiri terpaku menonton pemandangan itu. Ratri memberikan lambaian tangan yang anggun kepada mereka semua, seolah ia adalah seorang ratu yang sedang menyapa rakyatnya.

​Begitu pintu mobil tertutup dan mesin menderu pergi, Bambang dan Sugeng seperti baru saja dilepaskan dari sebuah cengkeraman yang mencekik. Mereka berdua terengah-engah, keringat dingin membanjiri kaos mereka.

​"Geng... kamu rasa tidak?" tanya Bambang dengan wajah pucat.

​"Rasa apa?" Sugeng mencoba mengatur napasnya.

​"Wanita itu sudah sangat jauh berbeda dengan wanita yang kita pakai ramai-ramai dulu."

​Kembalinya Ratri bukan sekadar kepulangan seorang wanita yang pernah tersakiti. Kemunculannya hari ini adalah sebuah deklarasi perang. Sebuah teror resmi yang dimulai di bawah terang matahari, di depan mata semua orang, untuk menunjukkan bahwa dia tidak lagi bersembunyi.

​Teror itu kini bukan lagi bisikan di ladang jagung, melainkan sebuah sosok nyata yang terlalu cantik untuk menjadi manusia, dan terlalu dingin untuk memiliki hati. Desa Karang Jati baru saja menerima tamu yang akan mengubah setiap kenikmatan mereka menjadi siksaan yang abadi.

​Sementara itu, di dalam mobil, Ratri menatap spion. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, dan di sampingnya, tampak sosok samar makhluk berbulu hitam dengan gigi bergerigi yang sedang menjilati darah imajiner di cakarnya. Ratri tersenyum tipis. "Sabar, Suanggi... setelah ini, giliran mereka yang paling berisik yang akan kita bungkam."

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!