Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Benteng Batu Kapur
Fajar menyingsing di kaki Pegunungan Kendeng. Jatmika dan rombongannya yang kelelahan akhirnya mencapai sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi oleh tebing-tebing kapur yang curam. Di tempat ini, terdapat jaringan gua alami yang luas—sebuah lokasi yang secara geologis sempurna untuk menyembunyikan aktivitas industri dari pantauan balon udara maupun patroli kavaleri.
"Tempat ini... angker, Raden," bisik Darman sambil menatap mulut gua yang gelap. "Orang-orang bilang ini tempat persembunyian para lelembut."
"Bagus," jawab Jatmika sambil mengusap butiran keringat di dahi. "Jika orang takut kemari, berarti itu keamanan gratis bagi kita. Darman, jangan takut pada hantu. Takutlah pada meriam Belanda yang bisa menghancurkan rumahmu dalam sekejap."
Jatmika segera melakukan survei lapangan. Matanya tidak melihat keindahan alam, melainkan potensi sumber daya. Pegunungan kapur berarti kalsium karbonat melimpah—bahan dasar semen dan fluks untuk peleburan logam. Di dekat sana juga terdapat aliran sungai bawah tanah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber tenaga.
"Suro, kumpulkan semua orang," perintah Jatmika. "Mulai hari ini, kita tidak lagi hanya bersembunyi. Kita akan membangun Pabrik."
"Pabrik? Di tengah hutan seperti ini?" Suro terheran-heran.
"Ya. Kita akan membuat baja kita sendiri. Kita akan membuat semen kita sendiri. Dan yang paling penting," Jatmika menatap ke arah jalan masuk lembah, "kita akan membangun pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh peluru meriam sekali pun."
Jatmika mulai merancang Beton Bertulang sederhana—sebuah penemuan yang belum dikenal luas di Nusantara pada masa itu. Ia mencampurkan kapur bakar (kalsium oksida), abu vulkanik yang banyak terdapat di sekitar gunung, dan pasir sungai. Sebagai penguat, ia menggunakan serat bambu yang sudah diproses secara kimiawi agar tidak membusuk.
Namun, saat Jatmika sedang meletakkan batu pertama untuk tungku peleburan besinya, Yusuf datang dengan kabar buruk dari jaringan pesantrennya.
"Jatmika! Van De Berg sudah gila!" Yusuf berteriak sambil memacu kudanya masuk ke lembah. "Karena dia gagal menangkapmu di muara, dia memerintahkan Letnan De Klerk untuk mengumpulkan seluruh warga desa nelayan—termasuk wanita dan anak-anak."
Tangan Jatmika yang sedang memegang cetakan semen seketika membeku. "Ke mana mereka dibawa?"
"Ke alun-alun Kendal. Van De Berg mengeluarkan maklumat: Jika 'Si Raden Sains' tidak menyerahkan diri dalam tiga hari, satu per satu warga desa akan digantung di depan umum."
Suasana di lembah mendadak hening. Para pengikut Jatmika, yang sebagian besar adalah warga desa tersebut, mulai saling pandang dengan raut wajah penuh ketakutan dan keputusasaan.
"Raden... ibuku ada di sana," bisik salah satu pemuda dengan suara bergetar.
Suro menggenggam hulu goloknya hingga buku jarinya memutih. "Ini bukan lagi perang, Jatmika. Ini pembantaian. Kita harus menyerbu alun-alun itu!"
"Jangan bodoh, Suro!" bentak Jatmika. "Itulah yang Van De Berg inginkan. Dia tahu kita punya senjata ledak. Dia pasti sudah memasang barisan meriam dan ratusan penembak jitu di setiap sudut alun-alun. Jika kita menyerbu secara frontal, kita semua akan mati tanpa sisa."
Jatmika membalikkan badan, menatap sketsa tungku peleburannya. Pikirannya berputar cepat, mensimulasikan ribuan kemungkinan. Ia butuh sesuatu yang bisa menjangkau alun-alun dari jarak jauh tanpa harus mengirimkan pasukannya ke dalam garis pembantaian.
"Tiga hari," gumam Jatmika. "Aku butuh Balistik."
Ia kembali ke mejanya, mengambil kertas dan mulai menghitung rumus lintasan parabola. $y \= x \tan(\theta) - \frac{gx^2}{2v_0^2 \cos^2(\theta)}$.
Jatmika memutuskan untuk membangun Mortir Kayu Berlapis Baja—sebuah senjata artileri jarak pendek yang bisa diluncurkan dari balik bukit. Ia akan menggunakan prinsip tekanan gas dari mesiu murni miliknya untuk melontarkan tabung-tabung gas air mata primitif dan bom asap guna menciptakan kekacauan masif.
"Kita tidak akan menyerahkan diri, dan kita tidak akan menyerbu," ucap Jatmika dengan tatapan mata yang dingin. "Kita akan membuat Van De Berg merasakan neraka yang jatuh dari langit. Suro, siapkan bambu-bambu paling tebal dan lempengan besi hasil jarahan dari benteng kemarin. Kita punya waktu 72 jam untuk menciptakan 'Hujan Badai' di alun-alun Kendal."
Malam itu, lembah batu kapur yang tadinya tenang berubah menjadi bengkel militer yang penuh keringat dan api. Di bawah arahan Jatmika, rakyat mulai belajar tentang sudut elevasi, daya ledak, dan aerodinamika.
Sementara di alun-alun Kendal, Van De Berg berdiri di atas panggung eksekusi, menatap jam besarnya dengan senyum sinis. Ia yakin bahwa Jatmika, dengan segala logikanya, tidak akan punya pilihan selain menyerah demi menyelamatkan orang-orang yang ia cintai.
Van De Berg melakukan satu kesalahan fatal: Ia meremehkan seorang insinyur yang telah kehilangan segalanya namun memiliki seluruh hukum fisika di tangannya.