Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.Bayangan Yang Mengintai
Malam semakin mengakar di pesisir Kota Karasu, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Api unggun yang dulu membara hangat kini hanya tersisa bara kemerahan yang sesekali mengeluarkan percikan kecil—seolah-olah mencoba bersaing dengan ribuan bintang yang bersinar di langit gelap tanpa bulan. Rin sudah terlelap dalam pelukan jaket tebalnya di dalam SUV milik Bu Keiko, napasnya teratur menggelegar pelan di dalam kabin yang sunyi.
Di luar, Yuki dan Hana masih bersandar satu sama lain di atas tikar warna biru tua. Mereka sedang mengingat masa kecil di desa asalnya, tertawa lembut saat berbagi cerita tentang bagaimana Hana pernah tersandung batu sambil mengejar kupu-kupu di halaman sekolah. Tawanya perlahan meredup seiring datangnya kantuk, mata mereka berkaca-kaca setiap kali mencoba tetap terbuka.
Ren berdiri beberapa langkah di luar lingkaran cahaya api, kaki kirinya terkubur sedikit di pasir pantai yang dingin dan lembab. Tangan kanannya memegang botol air mineral yang sudah sedikit menghangat karena suhu tubuhnya, namun pandangannya tidak pernah menyentuh lautan yang bergelombang tenang di depan mata. Matanya yang dalam hanya fokus menyisir deretan pohon bakau yang menjulang seperti penjaga besar di sekitar seratus meter sebelah barat—di mana dermaga kayu tua yang sudah lapuk dan rapuh berdiri terpencil, hampir tersembunyi dalam kegelapan.
[Ding! ] Pantulan cahaya tipis menyambar dari arah sana—cepat, tapi cukup jelas untuk terdeteksi. Ren menatap lebih tajam, mengendurkan otot lehernya tanpa mengubah posisi tubuhnya secara kasat mata. Ia bisa merasakan getaran kecil di udara, gerakan yang tidak seharusnya ada di tempat sepi seperti ini pada jam seperti ini.
Tanpa membuat suara, ia duduk perlahan di atas batang kayu hanyut yang sudah licin akibat ombak. Badannya rileks seolah-olah menikmati hembusan angin yang membawa aroma garam dan dedaunan basah, tapi setiap serat otot di tungkai bawahnya sudah siap bergerak dalam sekejap. Darahnya mengalir lebih cepat, pernapasannya menjadi lebih dalam dan terkontrol.
"Ren? Kenapa kamu jauh sendiri di sini?"
Suara lembut Bu Keiko memecah kesunyian. Guru itu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, kedua tangan menyelimuti tubuhnya untuk menghalau dingin malam. Ia berdiri tepat di sebelah Ren, pandangannya juga tertuju ke arah dermaga yang hampir tidak terlihat di kegelapan.
"Hanya melihat langit, Bu," jawab Ren dengan nada yang datar namun tidak kaku.
Keiko menghela nafas pelan, senyum kecil muncul di bibirnya. "Pembohong yang sangat tidak cakap, anak muda." Ia merogoh saku dalam mantel wolnya dan mengeluarkan senter kecil berwarna hitam—masih dalam keadaan mati. "Aku sudah melihatnya sejak lima puluh menit yang lalu. Mobil sedan warna abu-abu tua, terparkir di balik bukit di sana. Bodi mobilnya berbeda dengan yang biasa digunakan penduduk lokal di sini."
Ren melirik sebentar ke wajah Keiko. Cahaya bara api menerpa sisi kanan wajahnya, menyoroti kedalaman mata wanita itu yang penuh pengalaman. Ia memang tidak pernah melihat Keiko hanya sebagai seorang pengajar biasa—tidak mungkin seseorang bisa mengamati dengan begitu cermat tanpa latar belakang tertentu.
"Ibu tahu dari siapa mereka?"
Keiko mengangguk perlahan, napasnya sedikit terengah karena dingin. "Asuka Jaya bukan hanya perusahaan kuliner besar, Ren. Mereka punya divisi khusus yang mengawasi pesaing dan calon peserta kompetisi. Mereka menyebutnya 'tim pengembangan sumber daya manusia', tapi sebenarnya mereka lebih seperti mata-mata yang mencari celah untuk merusak atau merekrut orang berbakat." Ia menatap lurus ke arah dermaga. "Mereka mungkin ingin tahu bagaimana kita bekerja sebagai tim di luar dapur... atau mencari apa saja yang bisa mereka jadikan senjata untuk menghancurkanmu."
Ren berdiri perlahan, matanya tetap terpaku ke arah tempat ia melihat pantulan cahaya. "Kalau begitu, aku akan memberi mereka sesuatu yang layak untuk dilaporkan."
Tanpa menunggu tanggapan, ia berjalan menuju dermaga dengan langkah yang terlihat santai. Tapi setiap kontak kaki dengan pasir tidak mengeluarkan suara sama sekali—gerakan yang halus dan presisi, seperti yang pernah diajarkan ibunya saat ia masih kecil untuk bergerak tanpa terdeteksi di antara pepohonan hutan tempat mereka tinggal.
"Hai Ren! Mau kemana?" Hana berteriak dengan suara kecil, tiba-tiba terbangun dari kegelapan pikirannya.
"Cari kayu bakar tambahan! Kayu yang ada sudah basah sebagian!" balas Ren tanpa menoleh, tetap melangkah dengan irama yang sama.
Saat mencapai awal dermaga, bayangan besar dari pilar-pilar kayu tua langsung menutupinya. Ren bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, meluncur di antara pilar-pilar yang bergoyang karena hembusan angin. Ia menyelinap melalui semak-semak bakau yang menjalar di sekitar dasar dermaga hingga akhirnya berhenti tepat di belakang sosok yang sedang membungkuk di atas sebuah kamera dengan lensa tele panjang yang besar.
Orang itu sangat fokus mengatur bidikan kamera, jari telunjuknya siap menekan tombol rana. Layar kamera menampilkan gambar Hana dan Yuki yang sedang tertawa di dekat api unggun—sudut pandang yang jelas menunjukkan bahwa ia sudah mengintai mereka cukup lama.
"Sudut bidikan di sini memang lebih baik untuk mengambil gambar rahasia, bukan?" bisik Ren dengan nada yang tenang, tepat di sisi telinga orang tersebut.
Penyusup itu terpental ke belakang, tubuhnya bergetar karena kaget hingga kamera di tangannya hampir terjatuh ke pasir basah. Ia bereaksi dengan cepat, melayangkan pukulan kanan ke arah suara yang datangnya tiba-tiba. Tapi Ren sudah berpindah posisi sebelum tinjunya menyentuh udara. Tangan kanannya menyambar cepat, menangkap pergelangan tangan penyusup dengan erat lalu memutarnya dengan gerakan presisi yang membuat sendi bahu lawan mengeluarkan suara rengekan pelan.
"Agh! Lepaskan aku! Sialan!" orang itu merintih kesakitan, tubuhnya mulai gemetar. Ia mengenakan jaket taktis warna gelap dan masker hitam yang menutupi separuh wajahnya.
Ren mengambil kamera dari leher orang itu dengan tangan kirinya, jari-jarinya dengan cepat membuka galeri foto. Deretan gambar muncul di layar: Hana sedang menyiapkan bahan makanan, Yuki sedang tertawa sambil mengusap air mata, Bu Keiko sedang memeriksa kondisi Rin yang tidur—semua dalam pose candid yang jelas diambil tanpa sepengetahuan mereka. Ada rasa panas yang muncul di dada Ren, bukan karena marah, tapi karena rasa perlindungan yang begitu kuat hingga membuat tangannya sedikit menggigil. Orang-orang ini adalah orang-orang yang ia anggap keluarga; privasi mereka adalah batasan yang tidak boleh dilanggar.
"Siapa yang menyuruhmu? Apakah itu Ryuji?" suaranya terdengar rendah seperti desisan, tapi setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan ancaman yang nyata.
"A-aku tidak tahu siapa dia! Aku hanya diterima kerja melalui agensi di kota! Mereka bilang hanya mengambil beberapa foto saja!"
Ren sedikit menambah tekanan pada kuncian yang ia berikan, membuat penyusup itu terjatuh lutut di pasir yang membuat celana kakinya basah. "Hapus semua file ini sekarang juga. Kalau tidak, kamera ini akan hancur... dan aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi dengan tanganmu yang kamu gunakan untuk mengambil gambar itu."
Orang itu mengangguk tergesa-gesa, tubuhnya terus gemetar di bawah tekanan. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya dengan susah payah untuk menghapus setiap file foto satu per satu. Setelah beberapa saat, layar kamera menunjukkan bahwa tidak ada lagi gambar tersisa di dalamnya.
[Status: Semua file foto telah dihapus secara permanen]
Ren melepaskan tangannya dan mendorong bahu penyusup dengan lembut namun tegas, membuatnya tersungkur ke depan. "Kembalilah ke orang yang menyuruhmu. Katakan padanya: jika ingin tahu tentang timku atau tentangku, datanglah secara langsung ke sekolah kami. Datang dengan wajah terbuka dan bicara seperti orang dewasa. Jangan pernah lagi bersembunyi di balik lensa seperti orang yang tidak berani."
Penyusup itu tidak perlu diberitahu dua kali. Ia segera bangkit dan berlari dengan langkah goyah menuju arah bukit, menghilang dalam kegelapan dalam hitungan detik. Ren berdiri diam di sana, melihat ombak kecil yang menghantam dasar dermaga dengan suara yang menenangkan. Ia menarik kartu memori dari kamera, meremasnya dengan kuat antara dua jarinya hingga pecah berkeping-keping. Ia melemparkan potongan-potongan itu ke laut, menyaksikannya tenggelam perlahan ke dalam air hitam.
Ketika kembali ke lokasi api unggun, Bu Keiko sudah menunggunya tepat di tepi cahaya. Wanita itu melihat tangan kanan Ren yang sedikit kotor karena pasir dan lumut dari dermaga, tapi tidak berkata apa-apa sebelum Ren datang mendekat.
"Selesai?" tanyanya dengan nada yang tenang.
"Hanya masalah kecil yang sudah terselesaikan, Bu," jawab Ren sambil mengusap tangan kirinya ke celana untuk membersihkan pasir.
Hana langsung berlari menghampirinya, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kamu lama sekali! Kayu bakarannya mana? Dan... kenapa tanganmu seperti ini?" Gadis itu menatap tangan Ren dengan ekspresi khawatir, bibirnya sedikit menggigil karena dingin atau kekhawatiran—Ren tidak bisa pasti.
Ia menatap wajah Hana yang diterangi oleh cahaya bara api. Di bawah sinar itu, wajahnya tampak begitu murni dan penuh perhatian, sama sekali tidak menyadari bahwa baru saja ada orang yang mencoba menusuk diri ke dalam kehidupan mereka dengan cara yang tidak pantas. Ada keinginan yang kuat di dalam dirinya untuk menjaga kebaikan itu agar tidak pernah tercemar oleh dunia yang penuh intrik di luar sana. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangan kanannya yang sudah sedikit bersih, ragu sejenak sebelum secara perlahan mengusap kepala Hana, merapikan helai rambut coklatnya yang berantakan akibat angin laut.
"Semua kayu di sana basah karena terkena ombak. Tidak bisa dipakai untuk membakar api," ucap Ren dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya—suara yang hanya keluar ketika ia bersama orang-orang yang ia sayangi.
Hana terkejut, matanya membesar sebentar sebelum pipinya langsung memerah hingga ke telinga. Detak jantungnya menjadi cepat, membuatnya sulit bernapas dengan normal. Ia menundukkan kepala dengan cepat, menyembunyikan wajahnya yang panas sambil mengusap lembut bagian pipinya yang merah.
"Ka... kamu aneh sekali hari ini, Ren," gumamnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Ren hanya memberikan senyuman tipis yang lembut. Ia melihat Yuki yang sedang melihat mereka dengan ekspresi tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Di Kota Karasu yang kini mulai terasa semakin penuh dengan rahasia dan ancaman, satu hal sudah sangat jelas dalam benaknya: ia tidak hanya harus menjadi koki terbaik untuk memenangkan kompetisi nasional. Lebih dari itu, ia harus menjadi pelindung yang tak terkalahkan bagi orang-orang yang sudah menjadi "rumah" bagi hatinya yang dulu selalu terasing.