Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTAR HALUAN
Tanpa tangan Mama dan mendiang Papa yang menarikmu masuk ke rumah ini, kamu mungkin hanya akan menjadi pria biasa yang membusuk di luar sana. Mama memberimu pendidikan terbaik, menjadikannya dokter yang dihormati, dan menyematkan harga diri di pundakmu yang dulu rapuh.
Arya. Kamu itu anak laki-laki Papa yang paling mengerti di rumah ini. Papa gak minta apapun dari kamu. Papa hanya minta... tolong jaga Ibu dan Kakak kamu. Karena mereka adalah dua wanita yang Papa cintai di dunia ini.
Arya menyapu wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir rasa pening yang mendadak menghantam pelipisnya. Frustrasi itu nyata, mencekik setiap kata yang ingin ia lontarkan. Matanya menatap kosong ke arah balkon luas di luar sana, sebuah hamparan kemewahan yang ia anggap sebagai istana, namun kini terasa seperti penjara berlapis emas.
Angin malam yang berembus masuk tidak mampu mendinginkan gejolak di dadanya. Di satu sisi, ada bayang-bayang Hendra, mendiang ayahnya, yang wajahnya seolah hadir kembali di sela-sela gorden yang tertiup angin. Arya masih bisa merasakan genggaman tangan ayahnya yang melemah saat itu, dan suara serak yang membisikkan pesan terakhir—sebuah wasiat yang kini menjadi beban ribuan ton di pundaknya.
Ia pun tak bisa memungkiri kebaikan Maura dan Hendra. Mereka adalah sauh yang menariknya dari ketidakpastian masa lalu. Tanpa mereka, ia hanyalah pria tanpa nama, tanpa gelar dokter yang kini ia sandang dengan bangga. Janji yang ia ucapkan di depan sakratulmaut ayahnya kini meluncur kembali di benaknya seperti kaset rusak, sebuah sumpah setia untuk menjaga keutuhan rumah dan keluarga ini. Ia merasa berutang budi, merasa tak layak berdiri tegak jika harus mengkhianati amanah sang ayah.
Namun, di sisi lain... ada Yasmin.
Arya melirik wanita di sampingnya yang masih tertunduk, meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Mencintai Yasmin adalah satu-satunya hal yang terasa paling jujur dalam hidupnya yang penuh dengan protokol keluarga. Ia merasa tak bisa, dan tak akan pernah sanggup, melepaskan rasa terhadap Yasmin. Baginya, semenjak mengenal Yasmin, wanita itu adalah napas di tengah sesaknya aturan Maura.
Arya menoleh pada Yasmin, matanya yang biasa tajam kini meredup oleh kebingungan yang mendalam. Ia ingin membawa Yasmin lari, membangun dunia kecil di mana hanya ada mereka berdua. Tapi bayang-bayang wajah ayahnya dan tatapan dingin Maura seolah menjadi rantai tak kasat mata yang menariknya kembali ke lantai marmer ini.
Apa aku harus memilih antara baktiku pada Ayah... atau cintaku padamu, Yasmin? batin Arya dalam hati, sebuah pertanyaan yang ia sendiri takut untuk mencari jawabannya.
"Mas."
Suara itu lembut, nyaris seperti bisikan angin, namun cukup kuat untuk menarik Arya kembali dari jurang kekosongan yang baru saja ia tatap. Arya menoleh, matanya yang biasa tajam kini meredup sayu, menyimpan beban ribuan ton yang tak sanggup ia suarakan.
Di dekatnya, Yasmin sedang menatapnya. Wanita itu tidak menangis, ia justru menyunggingkan sebuah senyum tipis yang begitu tulus hingga membuat dada Arya sesak.
"Aku nggak apa-apa," ucap Yasmin pelan, seolah ia bisa membaca setiap bait kegelisahan yang sedang berperang di kepala Arya. "Kita tetap di sini."
Kalimat itu adalah sebuah kebohongan yang manis. Di dalam lubuk hatinya, Yasmin merasa hancur. Kata-kata Maura yang merendahkan asal-usulnya tadi masih terngiang, menusuk-nusuk harga dirinya bagai sembilu yang disayat di atas luka lama.
Ia tahu, tinggal di rumah ini berarti menyerahkan diri masuk ke dalam kandang singa yang siap menerkamnya setiap saat.
Namun, ketika ia menatap mata Arya, rasa sakit itu mendadak kehilangan taringnya.
Bagi Yasmin, Arya bukanlah sekadar dokter terpandang atau pewaris harta melimpah yang sedang dipuja-puja. Bukan kemewahan rumah ini yang membuatnya bertahan, melainkan sosok pria yang dulu datang sebagai pahlawan di saat dunianya gelap gulita. Arya adalah satu-satunya orang yang berhasil membawanya lari dari rasa takut yang mencekam saat itu, sosok yang dengan sabar memunguti kepingan kesedihannya dan mengembalikannya menjadi utuh kembali dengan ketulusan yang ternyata tak bisa ia temukan pada siapa pun.
Arya tertegun, tenggorokannya mendadak kaku. Ia meraih tangan Yasmin, menggenggamnya begitu erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Ia tahu Yasmin sedang berkorban demi baktinya pada wasiat sang ayah.
"Kamu yakin, Yasmin?" bisik Arya, suaranya parau oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
Yasmin mengangguk mantap, meski hatinya menjerit perih. "Selama ada Mas di sini, aku nggak butuh rumah lain. Rumahku itu... adalah kamu."
Yasmin menggeleng perlahan. "Aku tidak mau menjadi alasan Mas mengkhianati wasiat terakhir orang yang Mas sayangi. Biarlah aku di sini. Biarlah aku menghadapi Mama. Selama Mas Arya ada di sampingku, rumah ini tidak akan pernah terasa seperti penjara."
Arya terdiam. Kalimat Yasmin bagaikan embun di tengah api amarahnya yang membara. Ia menarik Yasmin ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah ingin menyembunyikan wanita itu dari seluruh kekejaman dunia, termasuk dari anggota keluarganya sendiri.
"Aku janji, Yasmin," bisik Arya tepat di telinganya, sebuah sumpah yang ia ucapkan dengan seluruh jiwanya. "Aku tidak akan membiarkan satu helai rambutmu pun disakiti. Jika Mama mencoba melewati batas, aku sendiri yang akan meruntuhkan rumah ini sebelum dia sempat menyentuhmu."
****