NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Cahaya matahari menyusup paksa melalui celah gorden yang tipis, melukis garis-garis emas di atas lantai kayu yang kusam.

Di luar sana, suara kicau burung gereja bersahutan, seolah sedang melakukan gladi bersih untuk simfoni pagi.

Bagi kebanyakan orang, itu adalah alarm alami untuk memulai rutinitas yang membosankan.

Namun bagi Liana, itu adalah ketukan metronome yang memanggil jiwanya untuk bangun.

Liana membuka matanya perlahan. Tubuhnya yang berisi terasa berat di atas kasur yang sudah melesak di bagian tengah, namun semangatnya seringan bulu.

Ia tidak langsung mencari ponsel atau mengucek mata.

Ia terdiam sejenak, merasakan ritme jantungnya sendiri yang berdegup tenang.

Satu, dua, tiga...

Ia bangkit dengan sentakan tiba-tiba. Begitu kakinya menyentuh lantai, Liana tidak berjalan dan malah melakukan gerakan kecil.

Geduk! Geduk! Geduk!

Tumitnya menghantam lantai dengan sengaja, menciptakan bunyi perkusi yang mantap.

Ia memutar tubuhnya, membiarkan daster katun longgarnya mengembang seperti kelopak bunga yang mekar prematur.

Rambutnya yang sedikit berantakan ikut bergoyang mengikuti gerakan kepalanya.

Di dalam kepalanya, ada musik yang tidak didengar orang lain—sebuah melodi bebas yang membuatnya merasa seolah-olah berat badannya tidak lagi membumi.

"Liana, putriku yang cantik sekali! Ini masih pagi-pagi buta, Nak!"

Teriakan melengking itu menembus pintu kamar, berasal dari arah dapur yang terhubung langsung dengan ruang tengah.

Suara gesekan sutil dan aroma bawang goreng mulai memenuhi udara, bersaing dengan bunyi hantaman kaki Liana ke lantai.

"Berhenti menggeduk-geduk lantai atau langit-langit dapur kita bisa rontok!" sambung Mama lagi, meski nada bicaranya lebih terdengar seperti omelan sayang daripada amarah sungguhan.

Liana tertawa kecil. Tawa yang renyah dan penuh rahasia.

Ia tidak berhenti; justru gerakannya semakin lebar. Dengan langkah-langkah jazz yang jenaka, ia keluar dari kamarnya, melintasi ruang tamu yang sempit, dan muncul di ambang pintu dapur.

Mama sedang berdiri di depan kompor, membelakangi Liana, sibuk dengan penggorengan.

Tanpa aba-aba, Liana merayap maju dan menyergap pinggang ibunya.

"Ayo, Ma! Satu putaran saja!" seru Liana riang.

"Eh, eh! Liana! Mama lagi pegang sutil panas, Sayang!" Mama memekik kaget, namun tak bisa menahan senyum saat Liana menarik tangannya dan memaksanya melakukan gerakan putaran canggung di antara meja makan dan kulkas.

Di dapur yang sempit itu, Liana membawa dunianya sendiri.

Ia mengajak Mamanya berdansa kecil, mengubah rutinitas pagi yang biasa menjadi sebuah panggung sederhana.

"Lekas mandi dan ayo kita sarapan dulu sebelum kita jualan di pasar!" seru Mama sambil kembali mengarahkan sutilnya ke penggorengan, berusaha mengendalikan napasnya yang sedikit tersengal akibat dansa dadakan tadi.

Liana menganggukkan kepalanya dengan patuh. Senyum lebar masih menghiasi wajahnya yang bulat dan segar.

Ia memberikan satu tepukan ringan di bahu Mamanya sebelum melangkah menuju kamar mandi di bagian belakang rumah.

Meski tubuhnya terasa lelah karena gerakan enerjik tadi, ada kepuasan tersendiri yang mengalir di nadinya.

Baginya, pagi hari adalah satu-satunya waktu di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya Liana si penari, sebelum ia harus memakai "topeng" sebagai Liana si penjual di pasar.

Sambil berjalan, jemari tangannya masih bergerak mengikuti irama imajiner, seolah-olah udara di sekitarnya adalah tuts piano yang harus ia sentuh satu per satu.

"Jangan lama-lama mandinya! Nanti nasi uduknya dingin!" teriak Mama lagi dari dapur.

"Iya, Maa!" sahut Liana riang.

Di balik pintu kamar mandi, ia sempat melirik cermin kecil yang sudah agak buram. Ia menarik napas dalam, membusungkan dada, dan melihat bayangan wanita yang kuat di sana.

Pasar adalah panggung yang berbeda; panggung yang penuh sesak, bising, dan kadang melelahkan. Namun, selama ia memiliki irama di dalam hatinya, Liana tahu ia akan baik-baik saja.

Selesai mandi, Liana bergabung dengan ibunya di meja makan kecil yang terletak di sudut dapur.

Uap mengepul dari nasi uduk hangat, aromanya bercampur dengan sambal kacang yang menggugah selera.

Mereka sarapan dengan tenang, sebuah ritual harian yang penuh kehangatan sebelum menghadapi keriuhan dunia luar.

Liana makan dengan lahap, mengumpulkan energi karena ia tahu hari ini akan menjadi hari yang panjang di pasar.

"Sudah siap, Liana?" tanya Mama sambil merapikan sisa sarapan mereka.

Liana mengangguk mantap. Ia segera membantu ibunya mengangkat beberapa karung berisi pakaian ke atas motor tua mereka.

Perjalanan menuju pasar tidaklah jauh, namun debu jalanan dan klakson kendaraan yang bersahutan mulai menggantikan kicau burung pagi tadi.

Sesampainya di pasar, suasana sudah sangat kontras dengan kedamaian di rumah.

Bau keringat, teriakan para pedagang, dan tawar-menawar yang sengit menjadi latar belakang kehidupan mereka.

Liana dengan cekatan menata gantungan baju, sesekali menyapa pelanggan dengan senyum ramahnya yang khas.

Di sini, ia adalah Liana sang penjual pakaian yang gigih, menyembunyikan rapat-rapat kaki yang sebenarnya ingin terus melompat dan berputar.

Sementara itu, di sebuah gedung pertunjukan mewah di pusat kota, suasana terasa mencekam dengan cara yang berbeda.

Adrian berdiri mematung di tengah barisan kursi penonton yang kosong.

Matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah panggung besar di depannya.

Di atas sana, belasan penari profesional sedang mandi keringat, melakukan gerakan koreografi yang rumit dan teknis.

"Berhenti!" teriak Adrian tiba-tiba. Suaranya menggema, seketika mematikan musik yang sedang berdentum.

Para penari terengah-engah, menatap Adrian dengan cemas.

Sang produser ambisius itu melangkah maju, tangannya masuk ke dalam saku celana kainnya yang mahal.

Ia menggelengkan kepala dengan raut wajah tidak puas.

"Teknik kalian sempurna. Gerakan kalian presisi," ujar Adrian dengan nada datar yang menusuk.

"Tapi kalian kosong. Kalian menari seperti robot yang diprogram. Saya tidak butuh gerakan yang dihafal, saya butuh kebebasan! Saya butuh jiwa yang seolah-olah tidak peduli jika dunia ini runtuh besok pagi!"

Asistennya mendekat dengan ragu. "Tapi Pak, ini adalah penari-penari terbaik dari akademi—"

"Berarti akademi kalian gagal," potong Adrian tajam.

Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Proyek besar ini butuh sesuatu yang mentah, sesuatu yang murni. Dan yang kulihat sekarang hanyalah plastik."

Adrian memutar tubuhnya, meninggalkan panggung yang penuh dengan penari yang kebingungan.

Ia tidak tahu di mana harus mencari "aura" itu, tapi ia tahu ia tidak akan menemukannya di tempat yang penuh dengan aturan seperti ini. Ia butuh sesuatu yang nyata.

Liana sibuk menawarkan tumpukan pakaian yang tertata rapi di lapaknya.

Suaranya yang ramah terdengar di antara riuhnya pasar, "Baju-bajunya, Bu! Silakan dilihat, model terbaru, bahan adem, harga damai!"

Sesekali ia memberikan senyum termanisnya kepada setiap orang yang melintas.

Meskipun pikirannya penuh dengan irama yang menari di kepalanya, Liana tetap fokus pada pekerjaannya, membantu sang ibu menjaga kelangsungan hidup mereka.

Tiba-tiba, suara dentuman musik keras terdengar dari kejauhan.

Sekelompok pengamen dengan peralatan musik lengkap berjalan menyusuri lorong pasar, memecah kesunyian dengan lagu yang energik. Irama musik yang ceria itu langsung menggelitik jiwa menari Liana yang terpendam.

Tanpa sadar, kaki Liana mulai mengetuk-ngetuk lantai pasar yang berdebu.

Jemarinya mengikuti ketukan musik, dan perlahan, tubuhnya mulai bergerak.

Ia melangkah keluar dari lapaknya, bergabung dengan kerumunan yang mulai berkumpul di sekitar para pengamen.

Liana mulai menari. Gerakannya mengalir bebas, penuh ekspresi dan sukacita.

Ia tidak peduli dengan tatapan mata yang tertuju padanya, ia hanya larut dalam melodi yang merasuki jiwanya.

Tubuhnya yang berisi bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, setiap putaran dan lompatannya memancarkan energi positif yang menular.

Para pembeli di pasar yang tadinya sibuk dengan aktivitas mereka, kini terhenti dan terpaku melihat penampilan Liana.

Mereka terpesona dengan bakat alaminya, dengan bagaimana ia mengubah pasar yang bising menjadi panggung pertunjukan yang meriah.

Beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel mereka dan merekam aksi Liana.Mereka takjub dengan tarian yang begitu hidup dan penuh perasaan, tarian yang lahir dari hati, bukan dari teknik yang dipelajari di akademi.

Liana terus menari, semakin bersemangat dengan antusiasme penonton.

Ia melupakan kelelahan, lupakan beban hidup, lupakan segalanya kecuali irama musik yang membawanya terbang.

Di bawah sinar matahari pagi yang menembus atap pasar, Liana menemukan panggungnya yang sebenarnya, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya, Liana si penari yang bebas.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!