NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Pesawat pribadi Aiden mendarat mulus di bandara pribadi Negara B. Udara dingin sore menyambutnya ketika ia menuruni tangga pesawat. Setelah seminggu penuh di Negara C, pikirannya tidak hanya dipenuhi dengan laporan proyek yang akhirnya aman, tapi juga satu hal lain-Liam.

Sejak kejadian Anne, Aiden tidak tenang. Ia tahu ia bukan tipe ayah yang paham dunia anak kecil. Ia terbiasa memimpin rapat jutaan dolar, bukan bermain mobil-mobilan. Kadang ia ingin mengajak Liam menghabiskan waktu bersama, tetapi setiap kali pulang, anak itu selalu terlihat ragu, seperti menahan diri. Lama-lama, jarak itu membeku menjadi kebiasaan.

Dan di sudut pikirannya, ada rasa bersalah.

Seharusnya aku lebih peka...

Mobil hitam panjang yang membawanya berhenti di depan gerbang utama mansion. Dua satpam membungkuk memberi salam, lalu pintu dibuka untuknya. Suara tawa terdengar bahkan sebelum ia masuk rumah. Tawa kecil yang riang... dan suara wanita.

Aiden melangkah ke dalam. Pemandangan pertama yang ia lihat membuat langkahnya berhenti. Di ruang tengah, Liam duduk di lantai, mencoba mengenakan mahkota mainan di kepala Thalia. Thalia, yang mengenakan gaun santai warna pastel, tertawa lepas, menundukkan kepala agar Liam bisa menjangkau.

"Mama, liat! Mama jadi latu!" Liam bersorak.

"Haha, kalau Mama ratu, berarti Liam jadi pangeran, kan?" jawab Thalia sambil mencubit pipinya.

Tawa mereka memenuhi ruangan. Aiden membeku. Ini... pertama kalinya ia melihat Liam sebahagia ini. Anak itu biasanya pendiam di rumah, tapi sekarang matanya berbinar.

Ia mulai melangkah. Sepatunya menyentuh lantai marmer, bunyinya membuat Thalia dan Liam menoleh bersamaan.

Tatapan Pertama

Thalia menatap pria yang baru masuk. Sial. Itu kata pertama yang muncul di kepalanya. Ia sudah mempersiapkan mental untuk berhadapan dengan "suami murahan"-nya. Ia sudah menyiapkan senyum sinis, tatapan meremehkan, bahkan rencana kalimat balasan jika pria itu mulai bicara dingin.

Tapi, tidak ada yang mempersiapkannya untuk ini. Pria itu luar biasa tampan. Bukan tampan biasa -tampan yang membuat aktor papan atas di kehidupan lamanya tampak seperti figuran. Garis rahang tegas, mata tajam, dan bibir tipis yang tertekuk dingin... semua seakan keluar dari lukisan.

Astaga, kalau begini caranya, apa aku tidak rugi kalau tidak dinikmati sedikit? pikir Thalia, tapi segera menepuk batinnya sendiri. Ingat misi! Dia brengsek. Dia penghancur hati pemilik tubuh ini. Fokus, Thalia!

Aiden dan Liam

Liam berdiri ragu. Matanya berbinar ingin berlari memeluk ayahnya, tapi kakinya tertahan. Ia ingin berkata "Papa" sejak tadi, tapi lidahnya kelu.

Aiden mendekat, berjongkok di hadapan Liam.

"Hei, pangeran kecil..." suaranya lebih lembut dari yang Thalia bayangkan.

Liam memandangnya, lalu tersenyum malu.

"Papa..." ucapnya pelan.

Aiden merentangkan tangan. Liam akhirnya berlari memeluknya. Pelukan kecil itu langsung dibalas erat. "Papa kangen kamu," kata Aiden sambil mengusap rambutnya. Liam memejamkan mata, merasakan hangat yang jarang ia dapatkan.

Thalia memperhatikan dari jarak dua meter.

Ada sesuatu di pemandangan itu-hangat, tulus. Tapi, ia tidak lupa siapa pria itu.

Aiden melepas pelukan Liam perlahan, lalu berdiri. Pandangannya beralih ke Thalia... dan di situlah ia tertegun.

Istrinya terlihat berbeda. Sangat berbeda.

Rambut hitamnya kini rapi terurai, kulitnya bercahaya sehat, dan gaun santai yang ia kenakan justru memancarkan aura elegan. Bukan Thalia yang ia kenal yang dulu selalu menunduk, wajah pucat tanpa riasan, dan bicara pelan.

Sekarang, Thalia berdiri tegak, menatap balik tanpa sedikit pun rasa takut. Ada tatapan menantang di matanya. Tatapan yang membuatnya waspada.

Apa permainan perempuan ini? pikir Aiden. Dulu ia nyaris tak bersuara di rumah. Sekarang... dia seperti orang lain. Apa ini trik untuk menarik perhatian? Mengubah penampilan agar terlihat menarik? Pura-pura percaya diri?

Aiden menyipitkan mata. Ia tidak suka permainan. Apalagi jika itu datang dari orang yang pernah ia nilai sebagai licik.

"Selamat datang, Tuan Maverick," kata Thalia datar. Nada bicaranya baku, tapi ada ironi tipis di ujungnya.

"Terima kasih...," balas Aiden, nada rendah tapi tajam.

Liam menoleh dari satu ke yang lain, seperti menonton pertandingan yang belum dimulai. "Mama, Papa lapal nggak?" tanyanya polos.

Aiden mengangkat alis, melirik Thalia. "Kalau Papa lapal... Mama punya menu khusus?"

Thalia tersenyum tipis. "Kalau Anda mau makan, dapur selalu terbuka. Tidak seperti dulu... ketika makanan hanya terbuka untuk orang tertentu."

Aiden menegang. Ia tahu Thalia sedang menyindir kasus Anne. "Itu sudah selesai," jawabnya singkat.

"Ya," sahut Thalia, lalu membungkuk sedikit ke arah Liam. "Pangeran, ayo kita rapikan mainannya. Papa pasti lelah."

Liam mengangguk, tapi sebelum pergi ia sempat menarik lengan Aiden. "Papa... Mama sekarang cantik, ya?" katanya lirih tapi jelas terdengar.

Aiden terdiam sepersekian detik, lalu menepuk kepala Liam. "Papa tahu."

Thalia berpura-pura sibuk merapikan mainan, tapi hatinya mencatat kalimat itu. Tahu, ya? Bagus. Biar kamu tahu perubahan ini bukan untukmu, tapi untuk aku sendiri.

tapi di Pikiran Masing-Masing

Aiden

Istri ini menyebalkan. Senyum tipis, tatapan berani... jelas ada niat tersembunyi. Tidak mungkin perubahan drastis ini hanya kebetulan. Aku akan mencari tahu apa yang dia rencanakan. Dan jika ini trik barunya, aku akan membongkarnya.

Thalia

Suami murahan ini... wajahnya memang karya seni, tapi hati tetap batu. Tidak akan ada yang berubah di antara kita kecuali aku yang mengubahnya. Dan itu berarti aku harus terus mengendalikan permainan ini.

Malamnya, makan malam terasa canggung.

Liam duduk di tengah, mencoba memulai percakapan. "Papa... Liam bikin kue sama Mama kemalin."

Aiden tersenyum kecil. "Kue apa?"

"Kue cokelat. Mama bilang enak," jawab Liam bangga.

Thalia menambahkan, "Kalau mau coba, masih ada di dapur. Tapi mungkin sudah tidak selezat kemarin."

Aiden menatapnya sekilas, lalu kembali ke piringnya. "Nanti saya coba."

Mata mereka bertemu sebentar-hanya sebentar -tapi cukup untuk memberi sinyal: ini baru permulaan.

Aiden masuk ke kamarnya. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tatapan istrinya tadi-berani, menantang-terus berputar di kepalanya.

Ia duduk di tepi ranjang, membuka dasi pelan, lalu menatap kosong ke lantai. Wanita itu berubah... terlalu cepat. Bukan hanya penampilannya, tapi juga sikapnya. Tidak mungkin ini kebetulan.

Aiden mencondongkan tubuh, menyandarkan siku di lutut. Apa yang sedang dia rencanakan? Apakah ini cara baru untuk menarik perhatianku? Atau... lebih buruk lagi, apakah dia orang kiriman dari lawan bisnis yang ingin mengelabuiku?

Wajahnya mengeras. Ia tidak pernah membiarkan siapapun bermain di wilayahnya. Dan istri yang tiba-tiba berubah adalah ancaman yang tidak bisa diabaikan.

Aiden meraih ponsel, menekan satu nama yang sudah ada di speed dial.

"Lucas," suaranya datar namun tegas.

Di seberang, suara pria muda tapi mantap menjawab, "Ya, Tuan Aiden."

"Aku ingin kau mencari tahu semua gerak-gerik Thalia kedepannya. Dengan siapa dia berbicara, ke mana saja dia pergi, apa saja yang dia lakukan. Jangan ada yang terlewat," perintah Aiden.

"Baik, Tuan. Apakah ini berarti saya harus membuntutinya secara langsung?"

"Tidak hanya membuntuti," Aiden menatap lurus ke depan, "Aku ingin setiap detailnya. Semua. Aku tidak mau ada celah."

Lucas terdiam sejenak sebelum menjawab, "Mengerti. Akan saya mulai besok pagi."

Aiden memutus panggilan, lalu menyandarkan punggung ke headboard. Kalau dia punya rencana busuk, aku akan jadi orang pertama yang mengetahuinya.

Di sisi lain mansion, Thalia berbaring miring di ranjangnya sendiri. Tirai kamar bergoyang pelan tertiup angin dari balkon. Tangannya memegang ponsel, tapi pikirannya melayang jauh.

Memang, sekarang ia hidup lebih nyaman.

Kartu banknya diisi nominal bulanan yang setara gajinya syuting satu episode drama di kehidupan lamanya. Tapi kenyataan bahwa pernikahan mereka tanpa cinta membuatnya sadar-masa depan ini tidak stabil.

Kalau suatu hari dia mengajukan cerai? pikir Thalia. Kalau dia memberi kompensasi melimpah, tidak masalah. Tapi kalau tidak sepeser pun... aku akan jadi janda miskin paling cantik di negeri ini.

Membayangkan kembali ke rumah orang tua kandung pemilik tubuh ini membuat darahnya mendidih. Ia bisa saja tanpa sadar-membunuh ibu tiri dan saudara tirinya kalau tinggal di sana. Lebih baik mati untuk kedua kalinya daripada itu terjadi.

Thalia menutup mata sebentar, lalu membukanya dengan tatapan penuh ide. Kenapa tidak kembali ke dunia entertainment?

Di kehidupan sebelumnya, ia sukses bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga kerja keras dan bakatnya. Kalau ia memulai lagi di sini, ia bisa menjadi mandiri, kaya, dan tidak bergantung pada suami murahannya itu.

Ia duduk, membuka ponsel dan mencari akun media sosial milik Thalia Anderson. Butuh waktu beberapa detik untuk menemukan password yang masih tersimpan di catatan. Begitu berhasil login, ia menatap layar dan... ternganga.

"Serius?" gumamnya.

Fakta yang Menyakitkan

Followernya hanya sembilan orang. Sembilan!

Delapan di antaranya akun bot dengan nama acak dan foto profil bunga plastik. Sisanya? Satu akun sahabat asli pemilik tubuh ini.

Thalia mengusap wajahnya. Astaga... di kehidupan asliku, aku tinggal di negara dengan 300 juta penduduk dan punya 180 juta follower. Aku bahkan manusia dengan pengikut terbanyak di sana.

Sekarang? Negara B ini punya 500 juta penduduk dan... ia hanya punya satu follower asli?

Siapa manajemen yang mau merekrut calon artis dengan satu follower?! pikirnya frustrasi. Rasanya seperti dicampakkan dari puncak piramida popularitas langsung ke lubang sumur.

Thalia menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur, menatap langit-langit sambil setengah tertawa, setengah hampir menangis. "Kalau begini terus, aku bisa gila..."

Ia mulai menghitung cepat dalam hati. Kalau ingin membangun citra dari nol, ia butuh tim, koneksi, dan tentu saja modal. Untungnya, untuk modal ia punya kartu dari Aiden. Setidaknya, uangnya bisa dipakai untuk investasi masa depanku... sebelum kita cerai.

Ia memejamkan mata. Rencana sudah mulai terbentuk di kepalanya: make over total, membangun citra baru, lalu masuk industri hiburan dengan cara yang tidak biasa. Tapi sebelum itu, ia harus mencari pintu masuk.

Di kamar berbeda, Aiden dan Thalia sama-sama merencanakan langkah mereka. Aiden sibuk memikirkan bagaimana mengawasi istrinya yang ia anggap licik. Sementara Thalia, di balik senyum tenangnya, sudah memikirkan masa depan di luar pernikahan mereka.

Tak ada yang tahu bahwa dalam beberapa minggu ke depan, rencana keduanya akan saling bersinggungan. Dan di tengah semua itu... Liam akan menjadi alasan yang membuat semuanya semakin rumit.

1
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!