NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luar biasa

Pak Surya merasa dunianya seolah runtuh. Ruang rapat yang tadinya terasa megah kini berubah mencekam seperti ruang interogasi. Satu per satu anggota direksi menyalami Laila dengan hormat, sementara Pak Surya hanya bisa mematung, menatap dokumen pencabutan investasi yang baru saja ditandatangani Laila dengan goresan pena yang tegas.

​Setelah rapat ditutup, Zayn menghampiri Laila dan berbisik pelan, "Luar biasa, Queen. Kau membuat singa tua itu berubah jadi kucing rumahan dalam sepuluh menit."

​Laila hanya tersenyum tipis, lalu melirik Pak Surya yang masih terduduk lemas di kursinya. "Ini baru pemanasan, Zayn. Aku masih punya banyak daftar untuk diselesaikan."

​Zayn terkekeh. "Aku tunggu di kantin bawah. Aku tahu kau butuh kopi setelah akting sekeren tadi."

​Begitu Zayn dan direksi lain keluar, Pak Surya dengan tangan gemetar merogoh saku jasnya. Ia segera mendial nomor Sarah. Begitu panggilan tersambung, suara melengking Sarah langsung memenuhi indra pendengarannya.

​"Halo, Papa! Bagaimana? Papa sudah bicara pada Tuan Zayn? Bilang padanya, Gion sangat butuh dana itu agar proyek perumahannya tidak macet. Kalau perlu, Papa tekan sedikit Zayn itu, kan Papa senior di sana!" cerocos Sarah dengan nada manja sekaligus menuntut.

​Pak Surya menghela napas panjang, suaranya terdengar parau. "Sarah... semuanya sudah berakhir. Investasi untuk Wijaya Grup resmi dicabut detik ini juga."

​Di seberang telepon, Sarah terdiam sejenak sebelum berteriak, "Apa?! Kok bisa? Siapa yang berani mencabutnya? Bukankah Zayn yang pegang kendali?"

​"Ada Direktur Utama baru, Sarah. Dia pemilik saham warisan mendiang Pak Pradipta yang selama ini dikelola Zayn. Dia yang memutuskan semuanya dalam rapat tadi," jawab Pak Surya lemas.

​Sarah mendengus kesal, namun otaknya yang licik segera berputar. "Kalau begitu kita dekati saja Direktur Utama itu, Pa! Papa kan pintar mengambil hati orang. Ajak dia makan malam, atau tawarkan kerjasama lain. Kita harus ambil hatinya supaya dana Gion cair lagi. Siapa sih orangnya? Laki-laki tua yang haus hormat atau tante-tante kesepian?"

​Pak Surya memejamkan mata, merasa sesak di dadanya. "Dan kau tahu siapa Direktur Utama itu, Sarah?"

​"Mana aku tahu, Pa! Papa belum kasih tahu namanya!"

​"Dia adalah Laila. Laila Pradipta. Mantan istri Gion yang kemarin kau hina-hina itu," ucap Pak Surya dengan nada putus asa.

​Hening. Sunyi senyap menyelimuti sambungan telepon itu selama beberapa detik.

​"Gak mungkin! Papa bercanda, kan?" suara Sarah mendadak meninggi, penuh nada tidak percaya. "Laila itu cuma yatim piatu miskin! Dia cuma babu di rumah Gion selama ini! Mana mungkin dia punya saham di perusahaan raksasa sekelas Sinar Pradipta?"

​"Papa melihatnya dengan mata kepala sendiri, Sarah! Dia datang dengan Zayn, memakai pakaian yang harganya mungkin setara gaji manajer setahun, dan dia memegang dokumen legal yang tidak bisa diganggu gugat. Sepertinya kau dan kekasihmu itu sudah benar-benar menyinggung perasaan Tuan Zayn dan Laila."

​Sarah mendecih, masih berusaha menyangkal kenyataan. "Tidak mungkin, Pa. Mana mungkin aku berani pada Tuan Zayn? Aku selalu sopan kalau bertemu dia di pesta. Tapi kalau Laila... itu pasti salah paham! Dia pasti cuma simpanan Zayn!"

​"Jaga mulutmu, Sarah!" bentak Pak Surya. "Zayn memperlakukannya seperti ratu. Dan sekarang, karena ulahmu dan Gion yang mencampakkannya seperti sampah, posisi Papa di perusahaan ini di ujung tanduk! Laila baru saja mengumumkan evaluasi kinerjaku. Itu bahasa halus untuk pemecatan!"

​"Papa tenang dulu... aku akan bicara pada Gion. Kita harus cari cara," gumam Sarah, suaranya kini bergetar ketakutan.

​Sementara itu, di kantin eksekutif lantai dasar, Laila sedang menyesap latte hangatnya. Ia melepas blazer putihnya, menyisakan kemeja sutra tanpa lengan yang membuatnya terlihat lebih santai namun tetap elegan.

​"Bagaimana rasanya menjadi orang paling ditakuti di gedung ini dalam satu malam?" tanya Zayn yang duduk di hadapannya sambil mengunyah sandwich.

​Laila tertawa kecil, tawa yang terdengar tulus tanpa beban. "Rasanya... lega. Tapi juga sedikit lucu. Melihat wajah Pak Surya yang pucat pasi itu hampir membuatku ingin tertawa di tengah rapat."

​"Kau melakukannya dengan sangat baik," puji Zayn tulus. "Tapi ingat, Laila, ini baru awal. Gion pasti tidak akan tinggal diam begitu tahu sumber dananya diputus. Dia tipe pria yang akan mengemis kalau sudah terpojok."

​Laila meletakkan cangkir kopinya. "Biarkan saja dia mengemis. Aku ingin tahu setebal apa mukanya setelah apa yang dia lakukan padaku dan keluargaku. Oh, bicara soal Gion, apa kau sudah menyiapkan berkas yang aku minta kemarin?"

​Zayn merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map cokelat. "Daftar aset Wijaya Grup yang diagunkan ke bank, laporan audit internal mereka yang berantakan, dan satu hal bonus: bukti perselingkuhan Gion dan Sarah yang dimulai bahkan sebelum kalian resmi bercerai."

​Laila membuka map itu dan membacanya dengan teliti. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai. "Sempurna. Ini akan menjadi 'hadiah' penutup yang manis untuk mereka."

​"Kau tahu," Zayn mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Laila dengan intens. "Sifat dinginmu ini sebenarnya sangat seksi, tapi aku lebih suka Laila yang tadi malam. Laila yang kaget dicubit hidungnya."

​Pipi Laila mendadak merona merah. Ia berdehem canggung, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Zayn, ini masih jam kantor. Jangan mulai."

​Zayn tertawa renyah. "Oke, oke. Direktur Utama memang sangat disiplin. Jadi, setelah ini kita mau ke mana? Menghancurkan toko baju milik ibunya Gion atau langsung ke rumah mereka untuk menagih hutang?"

​Laila menutup mapnya dan berdiri. "Kita ke butik dulu. Aku butuh gaun baru untuk pesta peresmian proyek baru kita besok malam. Dan aku ingin memastikan Gion dan Sarah ada di sana untuk melihat betapa bersinar harinya tanpanya."

​"Siap, Tuan Putri," Zayn berdiri dan membungkuk hormat layaknya seorang pelayan setia, namun dengan binar mata yang penuh kasih sayang yang sulit disembunyikan.

​Saat mereka berjalan keluar kantin, semua mata tertuju pada mereka. Pasangan paling berpengaruh di kota itu kini siap mengguncang siapa saja yang pernah meremehkan mereka. Laila tahu, jalannya masih panjang, tapi dengan Zayn di sisinya, ia merasa tidak ada lagi badai yang tidak bisa ia lalui.

​"Zayn," panggil Laila saat mereka sudah di dalam mobil.

​"Ya?"

​"Terima kasih sudah percaya padaku, bahkan saat aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri."

​Zayn menggenggam tangan Laila erat sebelum menghidupkan mesin mobil. "Sudah kubilang, kan? Burung kecil itu sudah pulang ke sarangnya. Sekarang saatnya burung itu menunjukkan pada dunia betapa indahnya sayap yang dia miliki."

​Mobil mewah itu pun meluncur membelah kemacetan kota, meninggalkan bayang-bayang masa lalu Laila yang kelam dan menuju masa depan yang penuh dengan kemenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!