NovelToon NovelToon
Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Anak Genius / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:40.9k
Nilai: 5
Nama Author: Byiaaps

“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Saat melihat kembar, Khale semakin giat kembali mencari anak-anaknya setelah sekian lama berputus asa dan mencoba mengikhlaskan, tak peduli jika kini Syafira sudah menikah lagi. Bagaimana pun, anak kembar yang dikandung mantan istrinya dulu juga adalah haknya. Setidaknya, ia harus bisa bertemu dan menafkahi anak-anak kembarnya. Ia pun mulai menyebar anak buahnya untuk kembali mencari keberadaan Syafira dan anak-anaknya.

Tok..tok..tok..

“Permisi, Pak. Hari ini jadwal Bapak untuk bertemu dengan Pak Putra terkait penandatanganan perjanjian. Beliau ingin bertemu di kantor ini dan akan segera ke mari setelah mendapat konfirmasi dari saya atas izin Bapak.” Sania memasuki ruangan bosnya yang tengah melamun itu.

Mengangguk, Khale mempersilakan koleganya itu untuk datang menemuinya di kantor.

Hingga 30 menit kemudian, Putra datang bersama Agnes menemui Khale di ruangan rapat eksklusif.

“Bapak Khale, saya hanya ingin menyampaikan bahwa karena satu dan lain hal, cabang baru ini harus segera dibuka. Jadi, saya ingin proyek ini segera rampung secepatnya. Saya percayakan pada perusahaan Anda,” ujar Putra menyampaikan maksud kedatangannya.

Menyetujui permintaan Putra, Khale tak keberatan untuk segera menggarap proyek ini, justru ia memberikan tenggang waktu yang lebih singkat dari yang Putra harapkan.

Beberapa tim dan sekretaris para CEO ini pun bergegas menyiapkan beberapa surat perjanjian untuk segera ditandatangani.

Hingga saat pertemuan telah selesai, sembari mengantarkan menuju lobi, Khale mengajak Putra berbincang di luar persoalan pekerjaan.

“Tadi pagi saya bertemu dengan anak kembar Pak Putra di sekolahnya, kebetulan saya sedang mengantarkan anak teman saya. Mereka satu sekolah hanya beda jenjang.”

Mengerutkan dahinya, Putra dengan cepat mengingat momen ketika partner bisnisnya itu bertemu dengannya dan kembar di playground kala itu.

“Kha-Khayra, ya, namanya. Kata pengasuhnya tadi, dia sedang ngambek dengan bundanya. Jadi, saya sempat membujuknya sebentar agar mau masuk kelas,” lanjut Khale sembari mengingat nama Khayra.

“Oh, iya. Terima kasih, Pak Khale. Ya, namanya juga anak-anak,” ujar Putra tersenyum singkat dan datar.

Mendengar respon Putra, Khale pun jadi menduga, bahwa anak-anak kembar itu memang benar anak Putra entah dari pernikahan yang disembunyikan atau bisa saja mengangkat anak dari panti asuhan. Ia berpikir mungkin saja pernikahan koleganya itu sengaja tidak dipublikasikan sehingga tak banyak yang tahu. Apalagi jika mengingat ucapan Sania kala itu tentang Putra yang sedang ada fair dengan salah satu karyawatinya, mungkin memang Putra sengaja menyembunyikan kehidupan pribadinya. Tak ingin ikut campur terlalu dalam, Khale merasa tak profesional jika ia menilai seseorang hanya dari kisah percintaan dan kesetiaannya saja.

***

“Kamu tahu dari mana kalau Khayra ngambek sama saya?” tanya Syafira saat berada di jalan pulang bersama Putra petang ini.

Tersenyum, Putra lega karena kini Syafira tak lagi memanggilnya Bapak saat di luar kantor.

“Ya, tadi kolegaku ada yang bertemu kembar. Dia juga sedang mengantarkan anaknya di sana,” jawab Putra masih penuh dengan senyuman karena ini kali pertama Syafira memanggilnya dengan sebutan “kamu”.

“Oh iya, sebenarnya saya sudah pikirkan baik-baik soal tawaran itu. Bahwa saya…” Belum selesai Syafira berbicara, Putra memotongnya.

“Aku. Saya terlalu formal, Syaf,” sahut Putra membenarkan ucapan Syafira.

“Ya, maksudnya aku. Aku sudah memikirkan matang-matang kalau aku tidak bisa menerima tawaran kamu karena…” Lagi-lagi kalimat Syafira harus terpotong.

“Ini perintah dan amanah, bukan penawaran. Jadi, tidak ada penolakan. Amanah ini diberikan oleh pimpinanmu. Kecuali kalau kamu memang sudah bosan bekerja di kantorku,” celetuk Putra.

Menghela nafasnya perlahan, bunda si kembar itu meminta Putra tak memotong ucapannya sebelum ia selesai berbicara. Ia pun menyatakan alasannya bahwa jika ia menerima amanah ini, ia takut akan menjadi bahan gosip karyawan lainnya. Kedekatannya dengan Putra selama ini saja sudah cukup menimbulkan suara sumbang beberapa karyawan, contohnya saat mereka beberapa kali berangkat dan pulang bersama.

“Biarkan saja orang mau bicara apa. Kalau tahu kenyataannya ‘kan juga bungkam sendiri. Toh, sah-sah saja ‘kan kalau kita dekat,” ucap Putra.

Tak setuju dengan ucapan bosnya itu, Syafira meminta Putra menjaga jarak dengannya jika masih ingin ia menerima amanah itu, dan sebaliknya, ia akan dengan tegas tetap menolak amanah itu jika Putra masih berdekatan dengannya.

“Jangan bersikap begini, Syafira. Kamu tahu aku tidak akan mau memecatmu, tapi bukan berarti kamu bisa mengancamku. Sekali lagi aku katakan, kalau pun kita dekat bahkan sampai menikah, itu bukan hal yang menyalahi hukum di negara ini. Aku mau kamu tetap menerima amanah ini, juga tak memintaku untuk menjaga jarak denganmu. Tenang saja, selama ini aku bisa menjaga kesopanan saat denganmu, ‘kan? Tak pernah sekali pun aku bersikap kurang ajar padamu, karena aku menghargai kamu sebagai seorang wanita terhormat,” terang Putra tegas namun lembut.

Syafira pun terdiam tak berkutik, karena apa yang Putra ucapkan ada benarnya juga, meskipun dalam hatinya masih tak sepenuhnya menerima.

***

“Ehm, ada yang mau naik kelas nih,” sindir salah seorang teman satu ruang kerja Syafira pagi ini.

Yang lain seketika saling sahut, seakan sengaja membuat ibu dari kembar itu tak nyaman. Bukan hanya iri, tapi karyawan lain seolah cemburu karena Syafira dianggap anak emas oleh sang CEO. Tak hanya itu, fitnah pun muncul tenggelem tentang Syafira yang dinilai mendekati Putra hanya demi harta.

“On the way janda kaya raya. Eh, atau istri pengusaha? Ups, kalau dinikahi sih. Karena biasanya yang begini cuma disimpan,” celetuk yang lain.

Seakan sudah biasa dengan suasana tak menyenangkan seperti ini, Syafira tak ambil pusing meski ia kepikiran.

Belum selesai suasana hatinya yang merasa dipojokkan, ponselnya berdering.

“Apa? Pentas budaya di Bogor?” tanya Syafira shock dalam panggilan telepon ketika Ria memberitahukan agenda sekolah kembar yang membutuhkan pengeluaran.

“Iya, Bu. Khayra dan Khale harus memakai baju adat beserta riasannya yang tidak difasilitasi sekolah. Pihak sekolah juga tidak memfasilitasi transportasi untuk Bogor, jadi kita harus ke sana masing-masing, karena acaranya akan didakan di sana,” jelas Ria.

Menghela nafas panjangnya, Syafira memijat kepalanya yang pusing. Akhir bulan begini, bisa bertahan dengan sisa uang yang ada sudah syukur. Tentu, ia tak ada lagi pos keuangan untuk membayar biaya seperti ini, apalagi ia juga harus memikirkan dengan apa ia akan membawa anak-anaknya ke Bogor.

“Padahal dulu waktu membayar uang pangkal yang sudah mahal itu, pihak sekolah bilang tidak akan ada biaya tambahan seperti ini,” gumamnya menggerutu.

Terpaksa, ia pun mau tak mau harus menggunakan uang tabungan yang seharusnya tak boleh diutak-atik, karena tabungan itu untuk masa depan kembar.

Saat suasana masih hening, tiba-tiba Agnes masuk ke dalam ruangan kerjanya.

“Mbak Syaf, dipanggil Bapak ke ruangannya,” ujar Agnes.

Mendengar ucapan Agnes, sontak seisi ruangan saling lirik satu sama lain seakan mata mereka saling bicara.

Tak memedulikan teman-teman kerjanya, Syafira bergegas menuju ke ruangan Putra.

“Ada apa Bapak memanggil saya?” tanyanya setelah dipersilakan masuk.

“Tadi Ria menghubungiku, Syaf, aku bersedia membantumu,” ujar Putra berdiri ke arah karyawatinya itu.

Semakin pusing dibuatnya, juga kesal karena Ria telah lancang menghubungi Putra, Syafira menolak bantuan Putra dan memintanya untuk tak ikut campur.

“Plis, Syaf, ini demi kembar. Kesampingkan egomu, aku hanya ingin membantu mereka,” bujuk Putra.

“Saya memang bawahan Bapak, tapi bukan berati Bapak bisa mengatur hidup saya. Saya jadi bingung, apakah Pak Putra sengaja membantu saya agar Bapak bebas memerintah, bahkan mendekati saya? Sebenarnya, apa mau Pak Putra? Andai bukan karena untuk membiayai kembar, rasanya saya sudah ingin pergi dari kantor ini dan pindah ke kantor lain!” tegas Syafira membalikkan badannya menutup pintu ruangan Putra cukup kencang.

...****************...

1
sunaryati jarum
Jangan luluh dulu,itu kesalahan terbesar Khale.Sudah istri kabur gara- gara dirinya nyamperin Karina,malah rajin mendatangkan bahkan membantunya.Jangan cepat luluh Syafira,biarkan dia benar - benar menyesal dan berjuang,selama perjuangan mendapatkan kamu mudah banget,bahkan masih bertemu dengan masih masih terus berhubungan dengan Karina,walau diakhir mencari bukti,Jangan terlalu mudah mendapatkan kamu walau akhirnya jika bersatu
sunaryati jarum
Semoga berhasil melawan Putra dan keluarganya serta dapat bukti pembakaran Gudang perusahaan Khale
cinta semu
,makin tegang dahhh...putra vs khale
JasmineA
kok udah end aja?
Happy Kids
ya benny ga salah. khale nya aja tuman. nyamperin tiap hari
Happy Kids
heleh tp uda ngapain aja sama karina 😅
Masitoh Masitoh
ya buka hatimu Syafira demi kembar
sunaryati jarum
Saatnya Putra dan keluarganya hancur , karena selama ini sudah menang dengan uang dan kekuasaan,tapi sekarang punya lawan yang tangguh, disertai fakta.Ayo Karina dan Helena keluarkan juga bukti kejahatan mereka.
sunaryati jarum
Jika kau menangani kasus Putra ,semakin hancur firma kamu Helena
sunaryati jarum
Berjuang untuk mendapatkan kepercayaan Syafira jika ingin rujuk ,Khale.
sunaryati jarum
Nah kehancuran Putra dan Karina otw , kutunggu.Kamu juga bodoh Khale jika kamu tidak langsung menemui Karina.Syafira tidak akan pergi.Itu kesalahan terbesarmu bahkan kau selalu disampingnya dan membantu membuatkan toko untuknya.
Eridha Dewi
buat ada cowok yg lebih segalanya dari khale
sunaryati jarum
Walau apa yang dilakukan Khale akhir - akhir hanya untuk mengorek dan memberikan kepercayaan Karina,namun perkataan di awal dan perlakumu yang langsung menemui Karina serta selalu menjalin hubungan layaknya kekasah selama Syafira pergi itu masih sulit memaafkan mu
sunaryati jarum
Terserahlah emak sedikit tahu Khale melakukan itu untuk mengetahui kelemahan Putra, dari bukti yang dimiliki Karina
penyukapink
tenang pemirsa, pegangan yg kuat, tarik nafas dalam2, harap tenang dulu yaaa🤣
Dewi Natasha
khale ini Bodoh atau apa ya..... gue klu jadi syafira jgk bakal ga mau sama laki2 kayak khale, bilangnya cinta sm istri tapi Masih aja meladeni mantannya..... Kase aja syafira sm damar, khale nya Bodoh amat.
Eridha Dewi
terlalu bertele tele menurutkan lebih baik hadirkan cowok yg lebih segalanya dari khale yg mencintai Syafira tanpa syarat
Happy Kids
ewh. ngomong ga ada hubungan tp slalu interaksi. bahkan pernah intim skali 😅 standar temen versi khale ini kaya gimana 🙏
sutiasih kasih
khale... km itu nmpel" mm si kmbar mulu... pdahal dlu saat kalian cerai... km pun mnikmati prhatian karina... bhkn km sll ada untuk karina dan anknya.... bhkn km pun mnikmati setiap kali kalian brcumbu...
dasar laki" emang buaya🙄🙄
sunaryati jarum
Dengan menangani Kasus putra dan Syafira merupakan awal meredupnya karirmu Helena
sutiasih kasih: sepertinya iya....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!