Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Musim dingin di Kerajaan Swantipura seolah tidak memiliki ujung. Salju terus turun menutupi atap-atap benteng granit hitam, menciptakan ilusi kedamaian yang membeku. Namun di dalam dinding-dinding keraton, badai yang sesungguhnya baru saja mulai dirajut dalam diam.
Kemenangan Pandawa di Tegal Kurusetra membawa gelombang kekayaan yang luar biasa bagi Swantipura. Kereta-kereta yang ditarik oleh lembu-lembu kutub berdatangan setiap hari, membawa berti-peti emas, sutra, dan perhiasan rampasan perang dari kubu Astina—pembayaran atas darah kavaleri utara yang gugur. Pangeran Mahkota Jayantaka berpesta nyaris setiap malam di balairung utama. Ia mabuk oleh anggur, kekuasaan, dan puji-pujian dari para bangsawan muda yang menjilat di bawah kakinya.
Di tengah hiruk-pikuk pesta pora itu, Dewi Pregiwa duduk di samping suaminya layaknya sebuah arca dewi yang turun dari kahyangan.
Gaun sutra merah darahnya—warna yang sengaja ia pilih untuk mengingatkan dirinya sendiri pada kawah pembantaian Kurusetra—membalut tubuhnya dengan keanggunan yang absolut. Ia tersenyum. Ia bersulang. Ia mendengarkan ocehan mabuk Pangeran Jayantaka dengan tatapan yang memancarkan pemujaan palsu yang begitu sempurna, hingga tak ada satu pun manusia di balairung itu yang menyadari bahwa sang permaisuri sedang menghitung urat leher mereka satu per satu.
Pregiwa mengangkat piala peraknya, menyesap anggur manis sembari matanya yang tajam menyapu ke seluruh penjuru ruangan.
Di matanya, balairung ini bukanlah ruang perayaan. Ini adalah sebuah papan catur raksasa, dan ia sedang memetakan posisi setiap bidak. Ia melihat para menteri yang serakah, para panglima muda yang arogan, dan... ia menemukan apa yang ia cari di sudut ruangan yang paling gelap dan paling dingin.
Di sana, jauh dari meja perjamuan utama, duduklah Panglima Haryasuta.
Ia adalah komandan veteran dari Pasukan Penjaga Perbatasan Utara—pasukan infanteri berzirah kulit beruang yang paling sering menumpahkan darah melindungi Swantipura dari serangan suku-suku biadab, jauh sebelum kavaleri berkuda besi Jayantaka dibentuk. Usianya telah lewat setengah abad. Wajahnya dipenuhi parut luka cakaran beruang dan tebasan pedang. Malam ini, ia minum dalam diam, menatap muak ke arah para bangsawan muda yang memamerkan kalung emas rampasan Kurusetra, sementara pasukannya sendiri di perbatasan utara harus menjahit ulang sepatu bot mereka yang jebol dimakan es.
Pregiwa meletakkan piala peraknya. Ujung bibirnya melengkung sangat tipis. Sebuah target telah terkunci. Hati yang dipenuhi rasa ketidakadilan adalah tanah yang paling subur untuk menanam benih pemberontakan.
"Kanda Pangeran," bisik Pregiwa lembut, menyentuh lengan Jayantaka yang sedang tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon kasar seorang menterinya.
Jayantaka menoleh, matanya sedikit berkabut karena efek anggur, namun hasratnya selalu menyala setiap kali menatap wajah cantik istrinya. "Ada apa, Permaisuriku yang jelita? Apakah anggurnya kurang manis? Atau kau bosan dengan musik ini?"
"Musik ini sangat indah, Kanda. Namun udara di balairung ini terasa terlalu pengap bagi hamba," jawab Pregiwa, memasang raut wajah sedikit pucat dan rapuh—senjata utamanya untuk memanipulasi ego suaminya. "Jika Kanda berkenan, hamba ingin undur diri sejenak ke pelataran sayap barat. Hamba ingin membagikan sisa-sisa kain wol hangat dari Amarta kepada beberapa prajurit jaga malam. Ayahanda Arjuna mengajarkan hamba bahwa seorang ratu harus menjadi kehangatan bagi prajurit keraton di musim dingin."
Jayantaka mendengus geli, menganggap permintaan itu hanyalah kebodohan sentimental seorang wanita tropis yang terlalu lembut.
"Kau terlalu memikirkan hal-hal kecil, Istriku. Biarkan saja urusan selimut dan wol itu diurus oleh para pembantu," ucap Jayantaka, menepuk tangan Pregiwa dengan sikap merendahkan. "Tapi baiklah, jika bermain sebagai dewi penolong bisa membuatmu senang malam ini, pergilah. Jangan terlalu lama di luar, udara malam bisa merusak kulit pualammu."
Pregiwa menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilat kemenangan yang memancar dari matanya. "Terima kasih atas kemurahan hati Kanda."
Sang permaisuri bangkit berdiri. Diiringi oleh dua emban setianya, ia melangkah keluar dari balairung. Gemerisik gaun sutra merahnya menarik perhatian banyak mata, namun ia melenggang pergi tanpa menoleh, meninggalkan hiruk-pikuk pesta menuju lorong keraton yang sepi dan membeku.
Alih-alih pergi ke pelataran sayap barat tempat para prajurit jaga biasa berkumpul, Pregiwa justru memerintahkan emban-embannya untuk berbelok ke arah lorong pilar batu menuju paviliun persenjataan—jalur yang ia tahu pasti akan dilewati oleh Panglima Haryasuta jika pria tua itu memutuskan untuk meninggalkan pesta lebih awal. Dan intuisi politik Pregiwa yang baru mekar ini terbukti sangat tajam.
Hanya berselang belasan menit menunggu dalam dinginnya lorong yang hanya diterangi obor redup, suara langkah sepatu bot berat yang diseret terdengar menggema.
Panglima Haryasuta berjalan tertatih, tangan kanannya menekan bekas luka lama di pinggangnya yang selalu nyeri saat musim dingin tiba. Ia menggerutu pelan dalam bahasa utara yang kasar, menyumpahi para bangsawan muda di balairung yang bahkan tidak tahu cara memegang gagang pedang dengan benar.
Saat ia berbelok di sudut lorong, langkah jenderal tua itu terhenti mendadak. Matanya yang rabun menyipit.
Di tengah lorong batu yang suram itu, diterangi oleh cahaya obor yang menari-nari, berdirilah Sang Ratu Swantipura. Pregiwa berdiri sendirian—kedua embannya telah ia perintahkan mundur menjauh. Ia mengenakan jubah beludru tebal yang menutupi gaun merahnya, menatap lurus ke arah sang panglima tua dengan keanggunan absolut yang membuat Haryasuta tanpa sadar merapikan letak kerahnya yang kusut.
"Gusti Permaisuri," Haryasuta buru-buru menjatuhkan dirinya dengan satu lutut di atas lantai batu yang dingin, menundukkan kepalanya. "Ampunkan hamba karena kelancangan hamba melintas di hadapan Gusti. Hamba tidak menyangka Gusti Permaisuri berada di luar balairung di malam yang membekukan ini."