Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Yusallia kembali ke kamarnya dengan langkah pelan.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya menggenggam ujung selimut pelan.
Morning sickness.
Istilah itu muncul di kepalanya tanpa diminta.
Ia menggeleng kecil.
Tidak.
Belum tentu.
Banyak kondisi lain yang bisa menyebabkan mual di pagi hari.
Asam lambung.
Kelelahan.
Kurang makan.
Ia menarik napas pelan.
Namun kali ini, pikirannya tidak bisa sepenuhnya tenang.
Ia berbaring sebentar.
Menatap langit-langit kamar.
Kemungkinan itu terasa semakin nyata.
Dan justru karena semakin nyata, ia merasa harus memastikan.
Bukan besok.
Bukan minggu depan.
Hari ini.
Siang harinya, ia memutuskan keluar rumah.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Tanpa banyak pertimbangan.
Ia tidak memberi tahu siapa pun ke mana ia pergi.
Perjalanan menuju apotek terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tangannya menggenggam stir sedikit lebih erat.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Ia memarkir mobil di depan apotek.
Duduk beberapa detik di dalam mobil.
Menatap pintu masuk.
Lalu akhirnya turun.
Langkahnya masuk terasa sedikit lebih berat.
Rak berisi berbagai jenis test pack tersusun rapi.
Lebih banyak dari yang ia bayangkan.
Ia berdiri cukup lama di depannya.
Membaca satu per satu.
Akurasi tinggi.
Deteksi dini.
Sensitivitas hormon rendah.
Hasil cepat.
Digital.
Strip.
Midstream.
Tangannya mengambil satu.
Lalu satu lagi.
Lalu beberapa lagi.
Seolah semakin banyak pilihan bisa memberinya kepastian yang lebih kuat.
Ia tidak ingin ada kemungkinan salah.
Ia tidak ingin ada keraguan.
Ia membawa beberapa kotak ke kasir.
Membayarnya dengan cepat.
Lalu kembali ke mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak menyalakan musik.
Tidak membuka apa pun di ponselnya.
Pikirannya terlalu penuh.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar.
Mengunci pintu.
Langkahnya berhenti di depan kamar mandi.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin sebentar.
Menarik napas panjang.
Lalu membuka satu per satu kotak kecil di tangannya.
Ia membaca instruksinya dengan teliti.
Meskipun sebenarnya ia sudah tahu caranya.
Tangannya bergerak perlahan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia mencoba semuanya.
Beberapa menit berikutnya terasa jauh lebih lama dari biasanya.
Ia duduk di tepi bathtub.
Menunggu.
Tangannya saling menggenggam.
Pikirannya berusaha tetap kosong.
Namun jantungnya berdetak lebih cepat.
Satu per satu hasil mulai terlihat.
Garis pertama muncul.
Ia menatapnya tanpa berkedip.
Mungkin salah lihat.
Namun garis kedua perlahan terlihat.
Sangat jelas.
Ia meraih test pack kedua.
Dua garis.
Test pack ketiga.
Dua garis.
Semua menunjukkan hal yang sama.
Tangannya mulai terasa sedikit dingin.
Ia menatap semua hasil yang tergeletak di wastafel.
Seolah berharap ada satu saja yang berbeda.
Namun tidak ada.
Semuanya sama.
Positif.
Ia terduduk diam cukup lama.
Pikirannya terasa kosong.
Tidak sepenuhnya kosong.
Namun terlalu penuh hingga sulit memahami satu per satu.
Ia menyentuh pinggir wastafel pelan.
Berusaha memastikan dirinya tetap berdiri.
Napasnya terasa sedikit lebih berat.
Kemungkinan itu kini bukan lagi kemungkinan.
Melainkan kenyataan.
Ia hamil.
Kata itu terasa asing.
Terlalu besar.
Terlalu tiba-tiba.
Ia menutup matanya sebentar.
Namun justru bayangan tentang malam itu kembali muncul.
Tentang Rionegro.
Tentang semua yang belum sempat ia pikirkan sejauh ini.
Perasaannya bercampur menjadi satu.
Takut.
Bingung.
Tidak percaya.
Cemas.
Dan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
Ia terduduk di lantai kamar mandi.
Bersandar pada dinding pelan.
Tangannya gemetar kecil.
Ia tidak menangis.
Belum.
Namun dadanya terasa penuh.
Seolah ada sesuatu yang menekan pelan dari dalam.
Hidupnya baru saja berubah.
Dan ia belum tahu harus mulai dari mana.
Ia menatap test pack di tangannya sekali lagi.
Dua garis merah yang tidak bisa disalahartikan.
Ia menarik napas panjang.
Namun napas itu terasa berat.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak lagi bisa bersembunyi di balik kemungkinan.
Karena kenyataannya sudah ada di depannya.
Dan keadaan Yusallia…
tidak benar-benar baik-baik saja.