update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaftaran Magang - 1
Lin Yinjia tidak pernah merasa kampus sebesar ini sebelumnya. Padahal ia sudah hampir dua tahun belajar di sana. Gedung yang sama, jalan yang sama, pohon-pohon yang sama di sepanjang jalur menuju fakultas ekonomi. Tapi pagi ini semuanya terasa berbeda. Mungkin karena pikirannya terlalu penuh.
Ia berjalan agak cepat melewati koridor fakultas, tas kanvasnya bergoyang di bahu. Di dalam tas itu ada beberapa lembar dokumen yang sudah ia cek berkali-kali sejak semalam: CV, transkrip nilai sementara, fotokopi kartu mahasiswa, dan formulir pendaftaran magang yang diunduh dari website universitas.
Tangannya agak dingin. Bukan karena gugup menghadapi wawancara. Tapi karena satu alasan yang jauh lebih sederhana. Ia benar-benar butuh uang.
Biaya rumah sakit adiknya terus berjalan. Mesin yang membantu pernapasan Yichen, obat-obatan, perawatan intensif—semuanya seperti angka yang tidak pernah berhenti bertambah. Ayahnya mencoba terlihat kuat, ibunya selalu bilang semuanya akan baik-baik saja, tapi Yinjia tahu tabungan keluarga mereka sudah terkuras jauh.
Magang ini bukan sekadar pengalaman kerja. Ini kesempatan. Kalau ia diterima di perusahaan besar, kemungkinan ada tunjangan magang. Bahkan sedikit pun akan sangat membantu.
“Yinjia!”
Suara itu datang dari belakang. Yinjia berhenti dan menoleh. Chen Luo berjalan cepat mengejarnya dari ujung koridor, satu tangan memegang ponsel, tangan lain menyelip di saku jaket kampusnya.
Chen Luo selalu terlihat santai. Rambutnya sedikit berantakan, kemeja putihnya tidak pernah benar-benar dimasukkan rapi ke celana, tapi entah kenapa tetap terlihat seperti mahasiswa yang terlalu populer untuk merasa gugup pada apa pun.
Begitu sampai di depannya, ia sedikit terengah. “Kamu jalan cepat sekali,” katanya.
Yinjia tersenyum kecil. “Aku pikir kamu masih di perpustakaan.”
“Baru keluar. Kamu mau ke aula karier, kan?”
Yinjia mengangguk.
Hari ini memang hari khusus. Fakultas ekonomi membuka pendaftaran magang besar-besaran. Banyak perusahaan datang bekerja sama dengan universitas. Mahasiswa semester empat ke atas bisa mendaftar langsung.
Chen Luo menatap map di tangan Yinjia. “Kamu serius sekali.”
“Aku harus serius,” jawab Yinjia jujur.
Chen Luo tidak langsung bercanda seperti biasanya. Ia hanya mengangguk pelan, seolah mengerti.
Mereka berjalan berdampingan menuju aula karier yang berada di gedung pusat kampus. Dari jauh saja sudah terlihat keramaian. Mahasiswa berkumpul di depan papan pengumuman digital yang menampilkan daftar perusahaan yang membuka posisi magang. Suasana seperti pasar kecil.
Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok membicarakan perusahaan mana yang paling bergengsi. Beberapa lainnya terlihat tegang memegang berkas seperti Yinjia. Begitu masuk ke aula, Yinjia langsung berhenti. “Banyak sekali…”
Meja-meja perusahaan berjajar di sepanjang ruangan. Setiap meja memiliki banner nama perusahaan. Ada perusahaan teknologi, bank, konsultan keuangan, sampai perusahaan logistik internasional.
Chen Luo melirik daftar di layar besar. “Kamu mau daftar yang mana?”
Yinjia ikut melihat. Matanya bergerak perlahan membaca nama-nama perusahaan. Lalu berhenti pada satu nama. Perusahaan itu tidak terlalu besar di tulisan layar, tapi cukup dikenal di dunia bisnis internasional.
Guo International Trade Group. Perusahaan ekspor impor yang memiliki cabang di berbagai negara. Chen Luo memperhatikan ekspresi Yinjia. “Kamu tertarik yang itu?”
Yinjia mengangguk pelan. “Ayahku pernah bilang perusahaan itu cukup stabil. Mereka sering bekerja sama dengan perusahaan luar negeri. Kalau bisa masuk sana, mungkin aku bisa belajar banyak.”
Chen Luo tersenyum tipis. “Kamu memilih yang sulit.”
“Sulit?”
“Perusahaan besar biasanya seleksinya ketat.”
Yinjia menatap lagi ke arah meja perusahaan itu di ujung ruangan. Beberapa mahasiswa sudah berdiri mengantre. Ia menarik napas. “Aku tetap mau mencoba.”
Chen Luo tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Lalu ia mengangguk. “Kalau begitu aku ikut antre juga.”
Yinjia langsung menoleh. “Kenapa?”
“Supaya kamu tidak sendirian.”
Jawabannya terdengar santai, tapi entah kenapa membuat Yinjia sedikit tersenyum. Mereka berjalan menuju antrean. Antrian itu tidak terlalu panjang, tapi bergerak lambat. Di depan meja duduk dua orang staf HR yang memeriksa dokumen pendaftar.
Saat berdiri di antrean, Yinjia melihat beberapa mahasiswa di depan mereka tampak gugup. Ada yang membuka kembali CV mereka, ada yang membisikkan jawaban wawancara pada diri sendiri.
Yinjia ikut memeriksa dokumennya lagi. Semua lengkap. Tapi tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat. Chen Luo memperhatikan itu.“Kamu gugup?”
“Sedikit.”
“Jangan.”
“Mudah bilangnya.”
Chen Luo tertawa pelan. “Nilaimu bagus. Kamu juga rajin. Kamu pasti lolos setidaknya tahap awal.”
Yinjia menatapnya.“Kamu terlalu percaya diri.”
“Bukan percaya diri. Aku realistis.”
Antrean bergerak satu langkah. Sekarang hanya tersisa dua orang di depan mereka. Di sisi lain aula, seseorang berdiri memperhatikan ruangan dari kejauhan.
Xu Yara.
Ia tidak ikut antre di perusahaan mana pun. Sejak tadi ia berdiri dekat pintu masuk bersama dua mahasiswi lain dari kelas mereka. Matanya tertuju pada satu arah.
Lin Yinjia.
Lebih tepatnya— Lin Yinjia yang berdiri bersama Chen Luo. Salah satu temannya menyenggol lengannya. “Yara, kamu tidak mau daftar juga?”
Yara tersenyum tipis, tapi matanya tetap ke arah antrean itu. “Aku masih melihat-lihat.”
Temannya mengikuti arah pandangnya. “Oh… itu Chen Luo lagi.”
Nada suaranya sedikit menggoda. “Dia sering dekat Yinjia akhir-akhir ini.”
Yara tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, “Mungkin hanya kebetulan.”
Tapi tangannya yang memegang ponsel sedikit mengencang. Di sisi lain aula, antrean Yinjia akhirnya sampai di depan meja. Staf HR perempuan mengambil dokumennya.
“Nama?”
“Lin Yinjia.”
“Mahasiswa semester empat?”
“Iya.”
Staf itu membaca CV-nya dengan cepat. Lalu mengangguk kecil. “Nilai akademismu bagus.”
Yinjia menunduk sedikit. “Terima kasih.”
Staf itu menuliskan sesuatu di formulirnya. “Kami akan melakukan seleksi dokumen terlebih dahulu. Kalau lolos, kamu akan dipanggil untuk tahap wawancara minggu depan.”
Yinjia mengangguk. “Saya mengerti.”
Staf itu mengembalikan mapnya setelah menambahkan tanda penerimaan. “Selesai. Silakan menunggu pengumuman.”
Yinjia menarik napas panjang setelah menjauh dari meja. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi bahunya tegang.
Chen Luo menyusul setelah menyerahkan dokumennya juga. “Selesai?”
Yinjia mengangguk. “Sekarang tinggal menunggu.”
Chen Luo melirik jam di ponselnya. “Kalau begitu kita makan siang?” Yinjia hampir menjawab ketika sebuah suara lain memanggil dari belakang.
“Yinjia.”
Ia menoleh. Xu Yara berdiri beberapa langkah dari mereka. Senyumnya terlihat sama seperti biasanya. Hangat. Ramah. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, Yinjia merasa ada sesuatu yang berbeda di balik senyum itu.