"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Senin pagi. Dunia tetap berputar seolah tidak ada hati yang baru saja hancur berkeping-keping di bangku taman kemarin sore.
Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku yang asing. Mataku sembap, namun ada sorot baru di sana: kekosongan yang membeku. Aku memulas bedak sedikit lebih tebal untuk menyembunyikan jejak tangis semalam. Hari ini, Afisa yang hangat dan gigih mengejar "kutub utara" itu sudah mati. Aku tidak akan membiarkan diriku terlihat menyedihkan di depannya.
Aku melangkah menyusuri koridor sekolah dengan punggung tegak. Suasana riuh rendah suara siswa lain terasa seperti dengungan lalat yang tak berarti. Hatiku sudah kukunci rapat-rapat.
"Fis! Tumben pagi banget?" sapa Kaila saat aku melewatinya di depan mading.
Aku tidak berhenti, hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. "Iya, banyak tugas," jawabku datar. Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku—dingin dan tanpa nyawa.
Lalu, momen yang paling kutakuti itu terjadi.
Di persimpangan koridor menuju kelasku, sosok itu muncul. Guntur berjalan dari arah kantin, masih dengan gaya santainya, tas tersampir di satu bahu. Jantungku sempat memberikan reaksi refleks—sebuah denyut perih yang menusuk—namun dengan cepat kupadamkan.
Kami berjalan berlawanan arah. Jarak kami semakin mengikis.
Dulu, di posisi ini, aku akan mencuri pandang, menyiapkan senyum paling manis, atau setidaknya berharap dia akan mengangguk padaku. Tapi hari ini, aku melakukan apa yang selalu dia lakukan padaku selama berbulan-bulan.
Aku berjalan lurus. Mataku menatap tajam ke depan, fokus pada pintu kelasku seolah-olah Guntur hanyalah partikel debu yang tak sengaja lewat. Aku bisa merasakan kehadirannya saat kami berpapasan, aku bahkan bisa mencium aroma parfumnya yang sangat kukenal. Namun, tidak ada satu inci pun otot wajahku yang bergerak untuk menoleh.
Aku melewatinya begitu saja. Dingin. Angkuh. Kosong.
Aku masuk ke kelas, duduk di bangkuku, dan langsung membuka buku tanpa benar-benar membacanya. Napas yang tadi kutahan akhirnya terlepas, terasa sesak dan panas di kerongkongan.
"Afisa?"
Suara lembut itu membuatku mendongak. Bintang sudah berdiri di samping mejaku, membawa sekotak susu cokelat kesukaanku. Tatapannya penuh kekhawatiran yang tulus—sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari Guntur.
"Kamu pucat banget. Belum sarapan?" tanya Bintang pelan sambil meletakkan susu itu di mejaku.
Aku menatap susu cokelat itu, lalu menatap Bintang. Di matanya, aku melihat pelabuhan yang tenang. Tapi di dalam hatiku, ada badai yang masih mengamuk.
"Makasih, Bin," ucapku singkat. Aku memaksakan sebuah senyum kecil, senyum yang tidak sampai ke mata.
Aku tahu aku sedang menggunakan Bintang sebagai pelarian. Aku tahu aku jahat karena menerima perhatian tulusnya saat pikiranku masih penuh dengan bayang-bayang laki-laki yang baru saja membuangku. Tapi aku butuh penawar. Aku butuh seseorang untuk membuktikan bahwa aku masih berharga, meskipun itu artinya aku harus mulai bermain api dengan perasaan orang lain.
Guntur ingin aku menemukan yang lebih 'hangat'? Baiklah. Aku akan melakukannya, meskipun aku harus membakar hati orang lain untuk menghangatkan diriku sendiri.
Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah kesunyian kelasku yang terasa mencekam sejak pagi. Teman-temanku mulai berhamburan menuju kantin, tapi aku justru bergerak ke arah berlawanan. Aku tidak ingin ke kantin. Aku tidak ingin mengambil risiko berpapasan dengan Guntur dan melihat wajah datarnya yang seolah tidak merasa berdosa sedikit pun.
"Fis, mau ke perpus?" tanya Bintang yang sejak tadi memperhatikanku.
Aku mengangguk singkat. "Iya, pengen tenang sebentar."
Bintang tidak banyak tanya. Dia berjalan di sampingku, menjagaku dari kerumunan siswa di koridor seolah aku adalah porselen yang mudah pecah. Sikap tulusnya seharusnya membuatku tersentuh, tapi hatiku yang sudah beku justru merasa... bosan.
Tiga bulan berlalu sejak hari itu. Aku dan Bintang resmi berpacaran. Dunia melihat kami sebagai pasangan ideal; laki-laki yang hangat bertemu perempuan yang butuh perlindungan. Bintang memberikan segalanya—waktu, perhatian, hingga kasih sayang yang tak pernah kudapatkan dari Guntur.
Namun, setiap kali Bintang menggenggam tanganku, aku justru membayangkan tangan kaku Guntur. Setiap kali Bintang memuji kecantikanku, aku justru teringat chat dingin Guntur yang dulu sanggup membuatku terbang.
Aku mulai merasa haus. Bukan haus akan cinta, tapi haus akan tantangan yang diberikan Guntur. Rasa sakit yang dia beri ternyata menjadi candu yang membuat perhatian tulus Bintang terasa tawar.
Hingga suatu sore, seorang laki-laki dari sekolah lain menyapaku lewat media sosial. Dia bukan Guntur yang dingin, bukan juga Bintang yang terlalu baik. Dia menawarkan sesuatu yang baru; percikan gairah yang membuatku lupa sejenak pada luka lama.
Aku membalas pesan itu. Lalu pesan lainnya.
"Afisa, kamu lagi apa? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri liat HP?" tegur Bintang saat kami sedang mengerjakan tugas kelompok.
Aku tersentak, cepat-cepat membalik ponselku. "Cuma grup kelas kok, Bin. Lucu aja."
Bintang tersenyum, percaya sepenuhnya. Dan di detik itu, aku merasakan sensasi aneh. Rasa bersalah yang bercampur dengan kepuasan karena berhasil menyembunyikan sesuatu. Aku mulai sadar, aku sedang merusak diriku sendiri. Aku berselingkuh bukan karena aku mencintai laki-laki baru itu, tapi karena aku ingin menyakiti "versi diriku" yang dulu pernah begitu setia pada Guntur.
Aku mendua sekali, dua kali, hingga berulang kali. Aku mencari kehangatan di banyak pelukan laki-laki yang berbeda, hanya untuk membuktikan bahwa aku tidak butuh Guntur.
Tapi kenyataannya, setiap kali aku selesai dengan mereka, aku pulang ke rumah dan menangis di bawah bantal. Aku masih hancur.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2