Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang bocah kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, bocah itu merupakan anak kesayangan seorang duda berpengaruh.
Sebelumnya, Jenna tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesayangan Papa
Setelah kecelakaan lima tahun lalu, keluarga Adiputra merasa malu dan langsung mengirimnya ke sebuah universitas di Amerika yang terkenal menerima anak-anak bermasalah dari keluarga elite.
Mereka meninggalkannya di sana begitu saja. Jenna keluar dari universitas itu, lalu mendaftar ulang ke University of Southern California. Ia belajar seperti orang gila, mempelajari berbagai hal tanpa henti. Karena ia ingin mengalahkan Maoy.
Ia ingin merebut kembali semua yang menjadi miliknya. Yang paling penting, akting adalah impian terbesar dalam hidupnya.
Setelah kembali ke tanah air, dengan wajah ini dan kemampuan akting yang kuat, ia dilirik oleh Luna dan berhasil masuk ke perusahaan hiburan terbesar di Jakarta, Royal Entertainment.
Seharusnya masa depannya cerah sejak saat itu. Namun Maoy juga ikut masuk ke Royal. Dengan menyuap Luna, wanita itu bisa menekannya dari segala arah.
***
Pada saat yang sama, di ruang resepsi Bar Dalton, suasana terasa sangat tegang.
Pemilik bar, para manajer, petugas keamanan, dan seluruh staf yang berkaitan berdiri berjajar dengan wajah pucat. Ekspresi mereka seakan bencana besar akan segera menimpa.
Putra kecil Keluarga Alamsyah, anak kesayangan mereka, Jules Alamsyah menghilang di bar.
Di sofa, Marco duduk dengan wajah dingin seperti biasa. Ekspresinya nyaris tidak menunjukkan emosi apa pun, seperti patung es. Namun tekanan dari aura otoritasnya membuat semua orang di ruangan itu hampir tak bisa bernapas.
Kaki mereka gemetar. Keringat mengucur deras. Tidak ada yang berani berbicara.
Seorang pria muda berlutut di depan Marco. Wajahnya penuh air mata dan ingus. “Kak, aku minta maaf! Ini semua salah aku! aku gak seharusnya bawa Juju ke bar! Kalau Juju kenapa-napa, aku juga—”
Belum selesai berbicara, sebuah tendangan menghantam dadanya. Suara tulang retak membuat semua orang merinding.
Xander Alamsyah memegangi dadanya sambil batuk keras. Setelah beberapa saat, ia segera merangkak kembali dan berlutut lagi dengan punggung tegak.
Orang tua mereka sedang berlibur di luar negeri dan belum tahu Juju hilang. Kalau sampai mereka tahu, hukuman yang menunggunya jelas bukan sekadar tendangan dari kakaknya. Ia bisa benar-benar dikuliti hidup-hidup.
Hati Xander saat ini sudah seperti abu. Ia dipenuhi rasa bersalah. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang resepsi.
Pemilik bar yang berdiri paling dekat dengan pintu segera membukanya. Ia melihat ke luar. Tidak ada siapa-siapa.
Saat ia menunduk dengan bingung, ia langsung tertegun.
“Tuan … Tuan muda kecil!!!”
“Juju …?” Xander langsung melonjak berdiri. “Ya ampun! Juju! Bayi kesayangan Paman! Ke mana aja kamu tadi?”
Ia memeluk bocah kecil itu erat-erat, begitu emosional sampai menangis. Semua orang di ruangan itu langsung menghela napas lega, seperti baru saja lolos dari maut.
Marco Alamsyah berjalan beberapa langkah ke arah pintu. Ia menarik kerah baju Xander dan melemparkannya ke samping.
Kemudian ia berjongkok di depan Juju. “Apa yang terjadi?”
Begitu akhirnya lepas dari pelukan ayahnya, Jules langsung meraih tangan Marco dan menariknya dengan cemas ke arah luar.
Saat Marco mendekat, ia mencium aroma alkohol yang kuat dari tubuh anak itu. Di antara bau alkohol itu, ada juga aroma samar yang lembut. Bukan bau parfum yang menyengat. Lebih seperti aroma bunga yang tumbuh di atas gletser. Wangi yang dingin dan bersih.
Anehnya, aroma itu terasa sangat familiar baginya, sampai membuat jantungnya berdegup aneh sesaat.
Melihat Pamannya tidak bergerak, Juju menunjuk ke satu arah sambil mengeluarkan suara serak dari tenggorokannya.
“Uh… uh…”
Marco mengangkat putranya dan berjalan lurus ke arah yang ditunjuk.
Orang-orang di belakangnya, termasuk Xander, saling bertukar pandang sebelum segera mengikuti. Lima menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah gudang di lantai paling atas.
Juju menggeliat turun dari pelukan ayahnya lalu memukul pintu gudang itu sekuat tenaga. Ia terlihat sangat panik.
“Juju, ada apa? Di dalam ada apa?” Xander bingung.
Marco berkata datar, “Buka pintunya.”
“Iya, iya!” pemilik bar segera mengangguk.
Ia menoleh dan memarahi manajer wanita di sampingnya. “Kamu nunggu apa lagi? Cepat buka! Mana kuncinya?”
“Ah … b-buka pintunya?” Manajer wanita itu tampak kaget.
Sial.
Wanita itu, Jenna, masih dikurung di dalam.
Manager itu sudah berjanji pada Luna untuk menahannya di sana setidaknya sampai audisi selesai.
Namun dengan dua orang dari Keluarga Alamsyah dan pemilik bar menunggu di sini, mana mungkin ia berani menolak?
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita terbaring pingsan di lantai.
“Apa yang terjadi? Kenapa ada wanita di dalam?” pemilik bar langsung marah.
“A … saya tidak tahu! Waktu terakhir saya periksa, tidak ada siapa-siapa!” Si Manajer menahan rasa bersalah di dalam hatinya sambil menjelaskan.
“Cepat! Selamatkan orang itu dulu!”
Namun ketika seseorang hendak mendekati Jenna, Juju tiba-tiba berlari dan langsung memeluk tubuh Jenna.
Wajah kecilnya berubah garang. Ia melindungi Jenna dan tidak membiarkan siapa pun mendekat.
“Tuan Alamsyah, ini … apa yang sebenarnya terjadi?” pemilik bar bertanya dengan wajah bingung, sama sekali tidak mengerti situasi di hadapannya.
Tatapan Marco menyapu ke arah manajer wanita yang wajahnya jelas dipenuhi rasa bersalah. Lalu ia melirik tangga yang tergeletak di lantai dan jendela kecil di langit-langit yang hanya cukup dilewati tubuh anak kecil.
Dalam sekejap, ia sudah bisa menebak sebagian besar yang terjadi. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua orang mundur.
Kemudian ia berjalan mendekat dan mengangkat wanita itu dengan tangannya sendiri. Aroma dingin dari tubuh wanita itu terasa lebih jelas ketika berada dalam pelukannya.
Melihat Marco menggendong wanita itu, Juju tidak menghentikannya. Namun wajah kecilnya terlihat enggan, seakan berkata dalam hati, kalau saja dia tidak sekecil ini, dia pasti sudah menggendong wanita itu sendiri.
***
Di rumah sakit.
Saat Jenna membuka mata, hari sudah pagi.
Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria yang duduk di kursi dekat jendela, tepat di seberang tempat tidurnya.
Kakinya yang panjang disilangkan santai. Ia mengenakan setelan jas yang pas di tubuh, memperlihatkan bahu lebar dan pinggang rampingnya. Kancing kemeja putihnya dikancing rapi sampai ke kerah.
Meski berada di bawah sinar matahari pagi, tubuhnya seakan diselimuti lapisan es. Ekspresinya dingin dan jauh, seperti raja di kastil abad pertengahan.
Seakan merasakan tatapannya, pria itu tiba-tiba mengangkat mata. Sepasang mata yang dalam seperti lautan langsung menatapnya.
Setelah beberapa saat mencoba mengabaikannya, Jenna akhirnya tidak tahan lagi dengan rasa tidak nyaman itu.
Ia bertanya dengan cemas, “Permisi… gimana aku bisa sampai di sini? Apa kamu lihat anak kecil? Umurnya sekitar empat atau lima tahun, jarang ngomong. Kulitnya putih lembut, mukanya agak polos tapi imut banget!”
Imut .…