Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Tekanan.
Karena Dharma sudah mulai curiga dengan hubungan Alea dengan Raidan. Alea benar-benar tidak diizinkan keluar dari rumah, jika ingin keluar dari rumah maka Dharma akan menemaninya.
Alea tidak pernah berkomunikasi dengan Raidan. Raidan pasti gelisah. Alea takut jika Raidan akan mendapatkan masalah. Walau Dharma memang tidak memiliki bukti yang kuat tentang hubungan keduanya.
Alea setiap hari hanya menghabiskan waktunya cukup membosankan, bahkan di tengah kehamilannya yang sudah 5 bulan dengan perutnya mulai kelihatan. Walau sama-sama di Jakarta, Alea tidak pernah sekalipun bertemu dengan Raidan disengaja bahkan tidak disengaja.
Alea saat ini sedang menikmati makan malam bersama dengan Dharma di Apartemen mereka.
"Sayang. Mama menyuruh kita lusa untuk menginap di rumah," ucap Dharma di tengah makannya.
"Aku tidak mau," jawab Alea.
Mendengar penolakan dari istrinya membuat Dharma mengerutkan dahi.
"Kenapa?" Tanya Dharma.
"Mama kamu selalu saja ikut campur dengan kehamilanku. Aku tidak nyaman dan apalagi perutku semakin hari semakin membesar," jawab Alea.
"Alea kenapa belakangan ini kamu suka sekali membangkang, jika Mama melakukan itu berarti Mama peduli dan perhatian kepada kamu!" tegas Dharma sampai menghentikan makannya.
"Aku yang mengandung dan aku lebih tahu apa yang diinginkan anak ini. Mas, makanya kenapa kenapa dan kenapa. Aku seorang wanita yang sedang hamil dan hormonnya berubah-ubah, kenapa Mas, tidak sedikit saja mencoba untuk memahami keinginan ku, anak ini bisa-bisa tidak akan ada lagi di kandungan aku!" tegas Alea.
Plakkk.
Dharma memukul meja cukup keras sampai membuat Alea tersentak kaget.
"Kamu tarik kata-kata kamu dan jangan mengancam dengan anak yang kamu kandung, Alea jika sampai terjadi sesuatu pada anak itu maka kau yang akan bertanggung jawab!" tegas Dharma.
"Jika, Mas, tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi yang aku kandung. Maka, beri aku kenyamanan dan jangan menekanku terus-menerus seperti ini. Mas, tidak sadar sikap semakin hari Mas semakin Arrogant!" tegas Alea menekan suaranya.
Dharma terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Dharma sudah pasti takut jika sampai kehilangan bayinya. Anak yang dikandung istrinya adalah harapan terbesar untuknya dengan hak waris keluarganya akan jatuh di tangannya.
"Aku tidak ingin bertengkar dengan kamu, aku semakin frustasi menghadapi kamu," desis Dharma melanjutkan makannya.
"Bagaimana kamu tidak frustasi, kamu terus berada di sampingku, sampai kamu tidak punya waktu untuk berkomunikasi dengan selingkuhanmu, kamu stress dan melampiaskan kemarahanmu kepadaku," batin Alea.
Karena takut kecolongan Dharma memang sengaja ditemani oleh Alea kemanapun dia pergi. Jika ada perjalanan jauh Alea akan ikut. Jadi Dharma sudah cukup lama tidak bertemu dengan Monica.
"Aku sudah membelikan gaun untukmu, besok malam kita akan hadir di acara ulang tahun perusahaan," ucap Dharma berdiri dari tempat duduknya dan menyelesaikan makannya.
Melihat kelakuan suaminya itu membuat Alea mendengus kasar.
"Hanya terus memerintah," ucapnya dengan kesal.
*******
Alea berada di dalam kamar terlihat cantik menggunakan dress panjang berwarna merah. Meski hamil, tetapi Alea masih tetap langsing.
Alea menata rambutnya dengan di bagian tengah diikat sedikit yang diberi pita berwarna merah.
"Sayang kamu sudah selesai?" tanya Dharma membuka pintu kamar.
"Iya sudah," jawab Alea.
"Kalau begitu ayo cepat keluar! nanti kita bisa terlambat ke acaranya," ucap Dharma.
"Baiklah," sahut Alea memasukkan ponselnya ke dalam tas dan kemudian ikut menyusul suaminya.
Alea dan Dharma menggunakan sopir yang tak lain adalah Daniel orang kepercayaan Dharma.
"Sayang kamu dengarkan aku, di acara perusahaan nanti banyak rekan-rekanku yang akan hadir, aku pasti memiliki kesibukan untuk menyapa mereka, tetapi bukan berarti aku tidak bisa mengawasi kamu, jadi jangan macam-macam denganku," ucap Dharma.
"Kenapa, sih. Mas, kamu terus saja mengancamku seolah-olah aku melakukan kesalahan di belakang kamu. Aku bisa stres dengan kelakuan kamu seperti ini," ucap Alea sensitif terdengar begitu kesal terhadap suaminya itu yang terus saja mencurigainya.
Daniel yang sejak tadi menyetir sudah pasti mendengar obrolan pasangan suami istri itu melihat dari kaca spion.
"Alea, wajar saja jika aku memiliki kecurigaan terhadap kamu, karena semenjak aku pergi ke Singapura, banyak kebohongan yang aku temukan, dan kamu selalu beralasan dengan ketidaksengajaan!" tegas Dharma.
"Singapur?" tanya Alea dengan mengerutkan dahi.
"Sejak kapan kamu ke Singapur, bukankah setiap berpamitan adanya perjalanan bisnis ke Luar Negeri, seingatku kamu tidak pernah ke Singapura," ucap Alea.
Ternyata pernyataan yang keluar dari mulut Dharma adalah jebakan untuk dirinya sendiri karena keceplosan.
"Pikiranku sedang kacau balau. Aku hanya asal bicara dan intinya aku mulai tidak mempercayaimu di saat itu!" tegas Dharma masih bisa memberi alasan.
"Terserah kamu menaruh rasa curiga kepadaku atau tidak, aku juga bisa curiga kepada kamu Mas apalagi dengan kata-kata kamu yang sudah melantur ke sana kemari," sahut Alea.
"Kenapa sekarang kamu jadi memutar balikan fakta seolah-olah aku yang salah," sahut Dharma.
"Apa kita akan terus bertengkar di sini?" tanya Alea.
Dharma menghela nafas, melihat situasi jika keduanya saat ini berada di dalam mobil ah dan sangat tidak lucu jika keduanya harus bertengkar tidak jelas.
Dharma tidak melanjutkan pertengkaran itu.
"Lama kelamaan kamu sendiri yang akan membongkar perselingkuhan kamu," batin Alea.
******
Alea dan Dharma sudah sampai di acara perusahaan, di depan perusahaan itu tampak mobil mewah terparkir dengan rapi. Banyak kalangan bisnis dan juga tokoh masyarakat yang hadir dalam acara perusahaan tersebut baik dari rekan-rekan Dharma maupun tekan kedua orang tuannya.
Daniel keluar mobil terlebih dahulu dengan membuka pintu mobil untuk Dharma dan kemudian Dharma dengan romantis membutuhkan pintu mobil untuk Alea. Tetapi tidak terlihat ekspresi senang dari wajah Alea saat mendapatkan perlakuan khusus dari suaminya.
Tampak terpaksa Alea menggandeng lengan suaminya itu dan kemudian keduanya terlihat menaiki anak tangga menuju pintu utama perusahaan.
Di dalam perusahaan yang terdapat salah satu area untuk acara ulang tahun perusahaan itu sudah dipenuhi dengan tamu undangan.
"Alea..." keduanya dihampiri Liana dan Wira suaminya.
"Ma, Pa," sahut Dharma.
"Ya ampun Alea, kenapa kamu pakai heels setinggi ini, bagaimana jika nanti kamu keseleo dan kamu bisa jatuh," ucap Liana terlihat langsung panik melihat menantunya itu.
"Baju kamu juga, apa baju ini tidak terlalu ketat, bayi kamu bisa terjepit di dalam perut," lanjutnya.
"Ma, sudahlah, Alea tidak kenapa-napa dan aku yang membelikan baju ini sudah pasti aman," sahut Dharma.
"Kamu harus memperhatikan istri kamu lebih lagi, jangan biarkan memakai heels seperti ini," ucap Liana memberi penegasan kepada Dharma.
"Ini tidak terlalu tinggi. Mama jangan terlalu berlebihan. Alea bisa tidak nyaman," jawab Dharma.
Alea merasa lega karena suaminya itu sekarang sudah mulai memahami dirinya bahwa sebenarnya tidak disuka diatur habis-habisan oleh ibu Dharma. Dharma melakukan hal itu memang takut jika Alea sampai tertekan dan stres, karena jika hal itu terjadi maka akan terjadi hal buruk pada bayinya.
"Sudahlah tidak perlu meributkan sesuatu. Liana, Alea adalah ibu dari bayi itu dan pasti dia lebih mengetahui apa yang baik dan tidak, kamu juga menegur tapi jangan terlalu berlebihan," ucap Wira.
"Wajar saja Mama seperti itu. Namanya juga Mama khawatir," ucapnya dengan sewot.
Bersambung.....